Search and Hit Enter

Satupena, Kongres dan Masa Depan Penulis

Kondisi nyata dunia kepenulisan hingga kini tetap akan memunculkan pertanyaan, sampai mana peran Satupena bagi penulis dan anggotanya. Padahal organisasi ini sudah empat tahun berdiri bahkan sedang mempersiapkan kongresnya.

Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) sudah sampai mana agendanya, bagaimana hasil dan perjuangannya, sudah berapa anggota, adakah kebijakannya mempengaruhi karya dan masa depan penulis, dapatkah mempengaruhi kebijakan pemerintah atau pun payung hukum untuk perlindungan kepenulisan, perbukuan dan penerbitan.
Pertanyaan semacam ini tercetus di kalangan netizen yang berprofesi sebagai penulis. Inilah yang terjadi ketika rilis Kongres II Satupena yang akan digelar di Jakarta 15-16 Agustus mendatang, disebarkan. Respon dari beberapa anggota grup media sosial. Rangkaian pertanyaan pun mendonder organisasi yang baru lahir ini.
Organisasi ini menghadapi pil pahit kenyataan yang kerap ditelan oleh banyak penulis. Sungguh, selain keberadaan festival dan lomba, beberapa event yang diciptakan oleh lembaga berskala nasional dan internasional, dukungan terhadap dunia kepenulisan dan dunia perbukuan memang masih minim.
Jauh sebelum pandemi pun, berbagai isu yang tak memihak dunia kepenulisan sudah bergentayangan. Dimulai dari pertanyaan tentang jumlah royalti penulis yang hanya sepersepuluh dari total penjualan hardcopy buku, pajak di mata rantai perbukuan, pencurian hak cipta, mahalnya harga kertas, fase peralihan minat pembaca dari dunia cetak buku ke digital, misteri royalti e-book pada beberapa pengarang, plagiarism, juga banyak hal lainnya.
Penulis adalah profesi yang selama ini berada di luar jalur sistemik, agak beda dengan para jurnalis, dokter, pengacara atau profesi lainnya. Padahal, selain berada di jalur profesi yang unik ini, mereka membawa beban yang teramat mulia, visi-misi karya dan pandangan dunia yang diharapkan bervitamin untuk sejarah masyarakat pembaca kini dan masa depan.
Penulis di masa digital saat ini pun mengalami tantangan yang jauh lebih rumit lagi, membawa karyanya ke tengah arena pasar digital, membaca selera masyarakat digital di tengah banyaknya fakta dan data melesat-cepat serupa kilat, tak ada tokoh yang dikenang lebih dari sebulan, semua informasi bersemburatan, begitu pun karya dan penulisnya, lintas-melintas serupa petir dan guruh di langit.

Satupena dan Masa Depan
Sebagai bayi yang baru berusia empat tahun, kuk yang ditanggungkan di pundaknya sangatlah banyak. Beberapa saksi sejarah Kongres I Satupen
a di Solo, 26-29 April 2017 ketika organisasi ini baru digagas dan diinisiasi, bahkan beberapa di anggotanya telah berpulang menghadap Sang Pencipta, pun mimpi ini banyak yang belum terwujud. Saya ingat ketika itu, Kongres I Satupena pertama ini berhasil mengumpulkan sekitar seratus lebih penulis dari berbagai bidang. Barulah pada 4 Oktober 2017, Kemenkumham mengeluarkan SK berdirinya Satupena. Tujuan utamanya, meningkatkan kesejahteraan penulis, peningkatan kapasitas, penguatan profesi, perlindungan hak atas karya dan kebebasan menulis.
Beberapa isu kongkret lainnya untuk langkah ke depan pun tercuat, stermasuk mendirikan secretariat, cabang-cabang di tiap provinsi, kabupaten atau pun kota. Di dunia teknologi, tercetus gagasan membuat directory, aplikasi, atau website untuk karya-karya tulis para anggota, website organisasi yang efektif, jaringan kepenulisan internasional dan banyak hal lainnya.
Selain pembagian wilayah anggotanya, sebenarnya Satupena dapat juga melakukan pembagian berdasarkan bidang kepenulisan, antara lain dunia kepenulisan sastra, arsitektur, medis, kuliner. Banyak lagi yang dapat dilakukan di dalam divisi-divisi organisasi ini sebelum akhirnya setiap permasalahan dan agenda dirapatkan di forum utama.
Pandemi dan Teknologi Digital
Teknologi digital seakan menjadi jalan alternatif pemecah kebisuan para creator di dunia kepenulisan. Menghubungkan profesi ini dengan dengan publik, dengan dunia pembaca. Dari sumbatan isolasi mandiri, rantai protokoler, kesunyian kreatif, para penulis terasa semakin membutuhan kelihaian berada di padang luas teknologi. Lalu, Satupena, ai, ai, bagaimanakah derak roda organisasi ini sekarang?
Pertanyaan ini jauh dari beban politis, apalagi menjadi isu menjelang kongres. Bagaimana pun, bertahannya organisasi ini wajib disyukuri, telah menapak, memberikan semangat kebersamaan untuk para anggota, memperkuat agenda dengan cara gotong-royong, seberapa pun hasilnya, seberapa pun banyak anggotanya, seberapa pun orang telah mengetahui organisasi ini dan kiprahnya.
Tak melulu membongkar problem organisasi di kepengurusan sebelum dan ke depannya, namun kembali jalin-menjalin, kerjasama membaca tantangan teknologi digital mendatang. Yang terpenting adalah, bagaimana nasib karya para penulis ini ketika direntangkan di masa depan, dengan gerbong media apa saja, termasuk membaca tantangan alih wahana apa yang dapat dilakukan, agar menyejahterakan anggota juga memajukan semangat para pembacanya.
Mikke Susanto, anggota Satupena yang didaulat menjadi Ketua Kongres Satupena II mengusung tema “Kemerdekaan Literasi” itu mengatakan, kualitas dan kapasitas anggota harus terus ditingkatkan. Dalam pertemuan daring melibatkan pengurus antara lain Kanti W. Janis, Imelda Akmal, Wien Muldian, Hikmat Darmawan, Wina Armada dan Dewi Lestari itu dia memaparkan kondisi pandemi ini semakin menguji sikap dan kreativitas penulis. “Termasuk adaptasi yang menjadi dasar revolusi digital. Ranah teknologi adalah cara untuk menopang hidup para penulis saat ini,” tambahnya kepada anjangsana.id, Sabtu (29/5).
Sebelumnya, Kamis (20/5), Ketua Umum Nasir Tamara mengungkapkan, jumlah anggota Satupena cukup pesat, dari 110 peserta kongres di Solo empat tahun silam, kini telah mencapai ratusan anggota. Dia juga melihat pandemi tidak akan menyurutkan langkah Satupena di dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan penulis. Setiap anggota Satupena akan terus berekspresi dan mendapatkan penghargaan tinggi di dalam kreativitas dan [email protected]

*) Penulis adalah anggota Satupena.

No Comments

Leave a Reply