Search and Hit Enter

*THE NEW LIFE — ORHAN PAMUK*

Akhir pekan kemarin, memutuskan untuk “tak bekerja” dalam arti tak menulis dan terutama tidak membuka laptop. Selama pandemi sulit sekali membuat batas-batas kapan kerja, kapan mager. Setiap hari serasa liburan, tapi juga serasa harus mengerjakan sesuatu. Seringkali karena tak juga punya kesadaran hari. AKhirnya saya coba untuk mendisiplinkan diri, akhir pekan adalah waktunya mager. Mari membaca novel saja dengan santai.

Novel “The New Life” karya Orhan Pamuk saya pilih secara acak saja. Bukunya sudah lama ada di rak, di antara deretan karya-karya Pamuk yang lain. Sebagian sudah saya baca. Jika tak salah hitung, ini novel Pamuk kelima yang saya baca. Memerhatikan fisik bukunya, segera saya tahu bukunya saya beli di toko buku bekas, tapi saya lupa di mana.

Sekilas baca, tak salah jika orang menganggap buku ini sedikit “Borgesian”. Semua karya yang berhubungan dengan buku, memang dengan mudah dihubungkan dengan Borges. Novel ini sendiri dibuka dengan sang narator yang hidupnya berubah setelah membaca sebuah buku. Buku tersebut “melemparkannya” ke realitas baru. Tidak, ia tak berpindah dunia. Ia masih di rumahnya, masih tinggal bersama ibunya, masih kuliah arsitektur di universitas. Tapi jiwanya dan cara dia melihat dunia tiba-tiba berubah, dan segala yang awalnya akrab kini terasa asing. Hidupnya jadi jungkir balik. Lebih misterius lagi, dia bukan satu-satunya yang hidupnya dikacaukan oleh buku tersebut.

Saya sendiri lebih melihat “buku” tersebut sebagai perkakas plot, sebagaimana bisa kita bandingkan dengan “lubang kelinci” di novel “Alice’s Adventures in Wonderland”, atau “lemari” di novel “The Chronicle of Narnia”. Sebuah perkakas plot yang melemparkan si karakter ke dunia yang berbeda, ke petualangan yang tak disangka-sangka, sehingga segalanya menjadi mungkin dan kita tak lagi berpikir dengan logika sehari-hari.

Bisa juga “buku” tersebut merupakan metafora bagi segala jenis buku. Bukankah banyak buku (atau bahkan seluruh buku), besar atau kecil telah mengubah kehidupan seseorang. Berapa banyak orang berubah setelah membaca “Manifesto Komunis”, misalnya?

Seperti di novel-novelnya yang lain, Pamuk memakai perjalanan si narator untuk memotret masyarakat dan sejarah Turki. Bagaimana rel kereta api dibangun, bagaimana bangsa tersebut dipotret melalui permen (yang seperti di kita, di satu masa pernah berlaku seperti mata uang yang bisa dipakai untuk kembalian di warung), menyisipkan di sana-sini tentang konflik dengan kaum islamis, marxis, kurdi. Pengamatannya tentang perjalanan dengan bus menjelajahi pelosok-pelosok Turki, barangkali juga bisa mengingatkan bus-bus di negeri kita.

Dan tentu saja kisah cinta. Dibandingkan novel-novelnya yang lain, meskipun sama-sama seringkali getir, kisah cinta di novel ini merupakan yang paling sedih. Setidaknya buat saya, yang memang suka baper kalau baca novel ada cinta-cintaannya

No Comments

Leave a Reply