Search and Hit Enter

Menilik Perjuangan Ayatullah Khomeini dalam Revolusi Iran

Kompasiana, 18 Februari 2018

Ketika nama Iran disebut, barangkali banyak dari kita yang akan langsung mengasosiasikannya dengan Syiah. Atau bagi para pemerhati masalah perang, nuklir, dan hubungan luar negeri, maka akan langsung mengingatkan mereka pada konfrontasi negeri tersebut dengan Amerika ataupun bangsa Eropa.

Hal itu tak bisa dimungkiri. Iran hari ini memang merupakan negara yang cukup konfrontatif terhadap hegemoni Amerika, terutama soal nuklir. Begitu pun soal Syiah, sampai sekarang negara tersebut memang merupakan pusat perkembangan Syiah.

Namun Iran hari ini tidak bisa hanya dilihat sebagai hari ini saja. Karena negara yang telah berusia puluhan ribu tahun tersebut telah melampaui berbagai dinamika politik dan kepemimpinan yang juga harus dicermati. Transformasi Iran dari negara-kerajaan menjadi negara republik juga patut untuk disoroti secara tajam dalam melihat Iran dalam kaca mata kontemporer.

Sampul Buku Revolusi Iran [via gramedia.com]
Sampul Buku Revolusi Iran [via gramedia.com]

Sebagai prolognya, Nasir mengajak pembaca untuk masuk dalam “Revolusi Iran” melalui pintu  yang sangat emosional. Dengan menggunakan gaya penulisan jurnalisme sastrawi, ia menggambarkan ketegangan-ketegangan yang mengiringi kepulangan Khomeini ke Iran pada akhir Januari 1979 itu. Baik yang dirasakannya sendiri maupun orang lain.

 

Dalam bab pembukanya yang diberi judul “Mengikuti Khomeini Pulang” itu, Nasir juga telah cukup berhasil mengenalkan Khomeini sebagai tokoh utama dalam debut revolusi Iran. Terus terang, narasi dalam bab pertama tersebut membuat simpati saya terhadap Khomeini dan Iran bangkit dan berekspektasi bahwa buku catatan sejarah ini akan cukup menyenangkan untuk dibaca.

Dan benar saja, hal itu berlanjut sampai dengan ketika saya sampai pada bab kedua. Bab ini memuat jawaban pengantar tentang mengapa sosok Khomeini begitu berpengaruh dan dielu-elukan pada saat itu.

Hal ini disebabkan oleh kondisi politik di Iran pada saat itu, di bawah kepemimpinan Shah, sangatlah tidak demokratis. Shah memimpin Iran dengan gaya yang otoriter, congkak, dan senang dipuja. Shah pun beranggapan bahwa dinasti Pahlavi merupakan penerus tradisi kerajaan yang berusia tak kurang dari 25 abad itu.

Di sini terlihat sekali, Shah berusaha melegitimasi kekuasaanya dengan klaim sejarah atas Raja Cyrus. Hal itu ditegaskan melalui pidatonya di depan makan Raja Cyrus—Raja paling besar dalam sejarah Iran- pada 13 Oktober 1971. Ia mengatakan,

 

“Kami bersumpah tradisi kemanusiawian yang menjadi dasar kekaisaranmu yang besar tetap akan menjadi tujuan hidup kami dan rakyat kami.”

 

Meski demikian, menurut Nasir, pada saat itu semua orang yang hadir dan tahu akan mencemooh pidatonya karena kontradiktif dengan kenyataan sebenarnya. Pemerintahan Shah dijalankan dengan sangat diktator, yang itu diakuinya sendiri karena sebagai “Bapak negeri” tersebut.

Nasir Tamara, wartawan muda Sinar Harapan di Prancis kala itu, adalah sosok yang beruntung karena menjadi satu-satunya wartawan Indonesia yang memperoleh kesempatan menyaksikan langsung jalannya revolusi Iran dari jarak yang begitu dekat. Hingga kemudian ia menelurkan sebuah buku bertajuk “Revolusi Iran”. Secara garis besar, buku ini mencatat perubahan kekuasaan berbentuk kerajaaan  selama tak kurang dari 3000 tahun, ke sebuah negara republik Islam.

Di sinilah kemudian, munculnya sosok Khomeini sebagai sosok yang menentang keras kekuasaan Reza Shah dan kemudian Shah mendapatkan sorotan rakyat Iran.

Sejarah Singkat Iran

Iran pada mulanya bernama kerajaan Persia. Nama Iran baru dipakai secara resmi pada 1935. Dalam buku ini, Nasir membagi sejarah Iran menjadi dua fase. Masing-masing berusia 12 dan 13 abad. Dua belas abad pertama berakhir dengan datangnya Islam tahun 640 Masehi.

 

 

Pada waktu itu, terdapat dua periode pertama: Achemenide dan Sassanide. Pada fase pertama ini, Iran telah mengalami percampuran darah dan budaya, di antaranya dengan Yunani, Roma, Inggris, dan Cina. Tingkat literasi masyarakat saat itu juga sudah terbilang tinggi. Begitu juga penguasaan mereka terhadap kesenian.

Pada fase pertama ini pula, Raja Cyrus Agung memimpin Persia. Pada tahun 539 SM, ia berhasil menaklukkan Babylona tanpa menumpahkan darah setetes pun, melainkan melalui jalan diplomasi. Raja Cyrus dikenal sebagai sosok raja yang jujur, toleran, dan cinta damai. Ia kemudian menjadi raja yang paling disukai oleh umat Islam Iran hingga saat ini (hal. 24).

Pada fase kedua, Iran sudah mulai menerima kedatangan Islam. Masuknya Islam ke tanah Iran melewati pintu kerajaan, yakni pernikahan Husin dengan putri keturuan kerajaan Sassanide. Dalam sejarah Islam, hal seperti itu memang kerap dilakukan untuk misi dakwah.

Di Jawa, Wali Songo juga menerapkan metode dakwah semacam itu. Kerajaan menjadi “sasaran utama” para pendakwah karena secara politik memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap rakyatnya. Sehingga penerimaan terhadap Islam oleh kerajaan, akan sangat berpengaruh terhadap jalannya dakwah pada masyarakat tingkat bawah.

Namun demikian, penguasaan Islam terhadap Iran tidak berlangsung lama, sejalan dengan runtuhnya kekuasaan Khalifah. Pada pertengahan abad ke-12, Iran dipimpin oleh cucu Jenghis Khan yang bernama Hulagu. Meskipun berada di bawah kekuasan Raja Budha, agama Islam pada saat itu tidaklah dilarang untuk hidup di lingkungan kerajaan. Malah keturunan Hulagu banyak yang kemudian memeluk agama Islam syiah.

Iran dalam Perebutan

Pada pertengahan abad ke-19, Iran menjadi wilayah perebutan antara kerajaan Rusia dan kerajaan Inggris. Penyebabnya apa lagi kalau bukan sumber daya alam. Ya, Iran memang memiliki cadangan sumber daya alam yang berlimpah pada saat itu. Pada 1870, ekonomi Iran menurut Nasir telah dikuasai oleh orang-orang asing. Rusia menguasai minyak, perikanan, jalan kereta api dan jalan raya, bank, dan angkatan militer. Sedangkan Inggris menguasai telegraf, bank Imperia Persia, jalur laut, kayu, tambang, dan jalur irigasi (pertanian).

Hegemoni Rusia dan Inggris terus berlanjut sampai dengan permulaan abad 20. Karena raja saat itu sama sekali tidak menghiraukan keadaan negaranya dan lebih memilih untuk hidup berfoya-foya. Kondisi tersebut keruan saja memicu perlawanan dari rakyat sehingga kemudian dibentuklah dewan perwakilan rakyat untuk pertama kalinya pada 1905. Dua tahun kemudian, Iran mulai mengenal konsep pemerintahan trias politica; eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Pada tahun 1918, Inggris menguasai Iran seorang diri seiring dengan runtuhnya kerajaan Rusia dalam Revolusi Oktober. Inggris kemudian menjadikan Iran sebagai daerah protektorat. Hal ini mengakibatkan administrasi, keuangan, dan tentara Iran kemudian berada dalam kekuasaan Inggris.

Perjuangan Khomeini

Sebagaimana telah saya katakan di muka, buku ini berhasil menarik simpati saya terhadap sosok Khomeini dan kiprahnya terhadap revolusi Iran. Khomeini menjadi garda terdepan dalam revolusi Iran karena, menurut keterangan yang dihimpun Nasir melalui sebuah wawancara kepada seorang anggota Feedayen, Khomeini adalah satu-satunya tokoh Iran yang tak pernah mundur alam menentang Shah. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk menumbangkan monarki. Ia juga terkenal jujur,bersih, ulet, dan tak seorang pun meragukan pribadinya.

Pria kelahiran tahun 1902 itu memiliki sejarah kelam dalam hidupnya, terkait dengan perjuangan menentang penguasa. Ayahnya dibunuh karena menentang dinasti Qajar ketika ia berusia 9 bulan. Khomeini berjuang menentang rezim Shah melalui tulisan dan pidato-pidato agitasi massa. Jiwa nasionalismenya yang tinggi, membuat ia menentang pemerintahan saat itu yang hanya menjadi boneka kaum imperalis Amerika. Hal itu pula yang membuatnya kenal pada sosok Soekarno, yang di matanya merupakan nasionalis sejati.

Perlawanannya terhadap pemerintah saat itu, membuat Khomeini sering diasingkan. Di antaranya di Irak, Turki, dan Perancis. Berada dalam pengasingan, tak membuatnya berhenti berjuang. Ia merekam pidato-pidatonya melalui kaset dan mengirimkannya ke Iran. Bahkan ancaman pembunuhan terhadap para penentang pemerintah tak pernah menciutkan nyalinya untuk terus memberontak dan mendorong terjadinya revolusi Iran.

Dalam buku tersebut, tak lupa Nasir juga menceritakan sebab utama terjadinya revolusi Iran.

Pertama ialah keinginan untuk menjadi negara yang tidak bergantung pada negara mana pun. Karena pada saat itu, Iran hanya, di bawah kepemimpinan Shah, hanya menjadi negara boneka kerajaan Rusia dan kerajaan Inggris, serta kemudian Amerika. Kondisi itulah yang kemudian juga membuat kondisi politik Iran menjadi tidak demokratis.

Pada pertengahan abad ke-19, Iran menjadi wilayah perebutan antara kerajaan Rusia dan kerajaan Inggris. Penyebabnya adalah besarnya potensi sumber daya alam di negara tersebut. Iran memang memiliki cadangan sumber daya alam yang berlimpah pada saat itu.

Namun sejak 1870, ekonomi Iran telah dikuasai oleh orang-orang asing. Rusia menguasai minyak, perikanan, jalan kereta api dan jalan raya, bank, dan angkatan militer. Sedangkan Inggris menguasai telegraf, bank Imperia Persia, jalur laut, kayu, tambang, dan jalur irigasi (pertanian).

Hegemoni Rusia dan Inggris terus berlanjut sampai dengan permulaan abad 20. Karena raja saat itu sama sekali tidak menghiraukan keadaan negaranya dan lebih memilih untuk hidup berfoya-foya. Kondisi tersebut keruan saja memicu perlawanan dari rakyat sehingga kemudian dibentuklah dewan perwakilan rakyat untuk pertama kalinya pada 1905. Dua tahun kemudian, Iran mulai mengenal konsep pemerintahan trias politica; eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Pada tahun 1918, Inggris menguasai Iran seorang diri seiring dengan runtuhnya kerajaan Rusia dalam Revolusi Oktober. Inggris kemudian menjadikan Iran sebagai daerah protektorat. Hal ini mengakibatkan administrasi, keuangan, dan tentara Iran kemudian berada dalam kekuasaan Inggris.

Selain itu, salah satu faktor lain yang menjadi sebab terjadinya revolusi Iran adalah dibuangnya atau diperkosanya kebudayaan Iran sebagai negara yang berpenduduk 95 % beragama Islam.

Shah pada saat itu menginginkan negerinya seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Eropa yang modern dan konsumtif. Sehingga kemudian ia mengimpor kebudayaan-kebudayaan modern melalui program-program pembangunan dan industrialisasi, yang ternyata selain sangat bertentangan dengan kondisi masyarakat Iran pada saat itu, juga tidak mampu memberikan keadilan pada rakyat Iran.

Orang Iran dipaksa menerima nilai-nilai orang lain, dipaksa menjadi rakyat di suatu negara industri tanpa pernah ditanyakan pendapat mereka: setuju atau tidak. Uang dijadikan sebagai ukuran, bukan untuk syarat hidup, tetapi sebagai tujuan hidup.

 

 

Darul Azis

 

No Comments

Leave a Reply