Search and Hit Enter

75 Merdeka: Akhirnya Profesi Penulis Diakui di Indonesia!

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: DR Nasir Tamara, Ketua Paguyuban Asosiasi Penulis Indonesia: Satu Pena.

Catat angka ini. Selama 75 tahun Kemerdekaan para penulis Indonesia menerbitkan berbagai buku yg ikut mencerdaskan bangsa Indonesia.

Padahal profesi penulis dianggap tidak ada karena tidak masuk dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia KBLU yg diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik ( BPS) RI.

Berkat perjuangan tanpa lelah akhirnya sejak awal tahun ini masuk KBLU.

Sah sudah kehadiran penulis diakui pemerintah.

Ini sebuah perjuangan berat di mana asosiasi SATUPENA  hadir di garis depan. Memprotes ketidakadilan ini namun selalu ikut rapat dg berbagai kementerian & BPS.  Tak pernah lelah memberi masukan tertulis.

Tanpa memiliki status saja mereka yg suka menulis sudah menunjukkan karya-karya hebat mereka.

Apalagi setelah masalah status ini ada.

Saya lega.

 

Minggu ini, dua hari saya ikut kegiatan bersama Kemen Parekraf & Deputi Gubernur DKI etc. yg cukup melelahkan.

Yang pertama menjadi peserta FGD secara pro bono. Lalu hadir pada acara resmi penandatangan dokumen dukungan di DKI.

Acara dilakukan mengikuti protokol di hotel bintang lima di Jkt meski pun ruang rapat yg kecil dipenuhi terlalu banyak orang padahal acara dari pukul 09.00 sampai magrib.

Acara penandatanganan juga mundur 1 1/2 jam karena pejabat terlambat datang.

Semua itu mesti ditelan untuk sesuatu yg lebih penting.

Peserta yg hadir diundang urun rembug meyakinkan  UNESCO untuk menjadikan Jakarta untuk menjadi Unesco City of Literature.

Meskipun cemas karena acara di hotel di masa pandemi saya datang secara fisik karena ini inisiatif yg sangat layak untuk didukung oleh semua penulis termasuk asosiasi SATUPENA.

Semoga bila Jkt terpilih, dunia penulisan & penerbitan akan lebih bergairah. Akhirnya bangkit dari mati suri di Indonesia.

 

Hasil gambar untuk satu Pena

Keterangan foto: Para Penulis Satu Pena berfoto seusai audensi dengan Dirjen Pajak membahas mengenai pajak buku.

Terus terang ini perjuangan berat karena banyak praktek buruk terus terjadi seperti pembajakan, plagiasi, tak ada bantuan untuk penulis, pajak yg memberatkan.

Termasuk banyak orang termasuk institusi resmi yg masih menerbitkan banyak karya penulis tanpa izin.

Bahkan tidak sedikit perpustakaan milik pemerintah & universitas yg lebih memilih memilih buku bajakan karena murah.

Juri akan menilai apakah DKI bersahabat dg para penulis & mendukung eko sistim industri penerbit.

Banyak lagi faktor yg  akan dinilai oleh dewan juri Unesco di Paris.

Berat memang persyaratannya

Tapi usaha ini harus dilakukan.

Indonesia harus meningkatkan mutu penulisan & menambah jumlah penulis di Tanah Air sehingga perlu kehadiran dunia akademis. Dengan membuka prodi creative writings di mana calon penulis bisa menimba ilmu secara ilmiah. Universitas juga dapat memberikan  gelar dari S1 s/d S3 bagi mahasiswa yg lulus.

Universitas Gadjah Mada tampaknya akan mempelopori.

Saya diminta untuk bicara besok. Semua diundang. Semoga disempatkan kehadiran para sahabat penulis.

 

No Comments

Leave a Reply