Search and Hit Enter

ALI AUDAH SASTRAWAN KESAYANGAN TUHAN dan SAYA

Saya terkagum-kagum ketika Sdr. Oyon Sofyan bercerita di  (Pusat Dokumentasi Sastra) HB. Jassin  bahwa Pak Ali Audah sudah berusia 90 tahun dan masih makan sate kambing. Hati kecil saya berkata Pak Ali Audah adalah sastrawan kesayangan Tuhan. Semoga umur saya sampai 90 tahun seperti Pak Ali Audah. Saya sendiri ketika ke Kupang mengambil Academy Award dan menonton karya drama saya berjudul Ratu Balonita dan sebuah monolog, balas dendam tiap hari makan daging se’i (smoked beef), sehingga begitu pulang ke Jakarta, tiba-tiba lidah saya kaku beberapa detik, kena stroke ringan. Beruntung Tuhan masih menyayangi saya, sehingga hasil scanmenunjukkan urat-urat syaraf di otak saya tak ada yang rusak. Tuhan masih menyayangi saya tampaknya dan tentulah hati kecil saya berkata semoga Tuhan menyayangi saya sehingga meberi usia sejauh 90 tahun seperti Pak Ali Audah. Amin.

Puluhan tahun yang lalu ketika TIM baru di bentuk beliau duduk sebagai anggota Dewan Kesenian. Ketika itu dengan gaya akrab beliau ngobrol sebentar dengan saya tentang kemungkinan saya disuruh ngobrol-ngobrol di gelanggang remaja yang ada beberapa di Jakarta. Timbul kesan di hati saya bahwa Pak Ali Audah adalah seorang sastrawan Indonesia yang toleran seperti Ayip Rosidi, H.B.Jassin, Takdir Alisyahbana, dan lain-lain.

Kekaguman saya terutama ketika suatu hari saya diminta orang untuk menulis esei filosofis dan teologis berjudul Terrorism No, Peace Yes. Saya segera mengumpul antaral ain beberapa buku filsafat, teologi dan sejarah. Di antaranya buku karangan Muhammad Husain Haekal berjudul Sejarah Hidup Muhammad. Kekaguman saya menjadi-jadi karena buku tebal yang ditulis dalam bahasa Arab itu diterjemahkan oleh Pak Ali Audah. Buku tebal itu mengingatkan saya pada kelakuan bebal saya ditahun 60-an. Waktu blusukan di pinggir jalan kawasan Senen, saya tertarik pada buku-buku yang digelar tukang loak di pinggir jalan. Saya beli sebuah buku tebal ditulis dalam bahasa asing mungkin bahasa Portugis atau apa, anggap saja bahasa kuda. Namun yang saya kagumi adalah tebalnya. Lalu saya menulis dikulitnya: Demi Tuhan. Saya berjanji akan menulis novel setebal buku ini, bukan memakai bahasa kuda yang saya tak mengerti seperti dalam buku ini, tapi dalam bahasa Indonesia! Kawan akrab saya Satyagraha Hoeripmembaca tulisan saya itu sambil mengangguk-angguk. Namun sampai Tua keparat di usia 83 tahun, tidak pernah saya menulis buku tebal kecuali sampai 300 halaman, kecuali kalau ada penerbit yang menerbitkan antoloji.
Siang malam saya menulis buku TERRORISM NO, PEACE YES. Hanya judulnya dalam bahasa Inggeris. Seluruh isinya dalam bahasa Indonesia. Bukan hanya filsuf Barat yang saya jadikan bahan permenungan, tetapi juga penulis-penulis Islam yang terkenal yang mengguncang dunia, seperti Qutb dan lain-lain. Dari buku Sejarah Hidup Nabi Muhamad saya kutip seperti berikut ini.

Islam-Kristen dan Jalan Tengah

Bukan maksud saya membanding-bandingkan Islam dan Kristen, karena kedua agama tersebut sejalan dan tidak berbeda. Biasanya membanding-bandingkan demikian itu hanya akan berakhir pada perdebatan dan pertentangan yang tidak menguntungkan. Akan tetapi apa yang saya perhatikan ialah bahwa sejarah hidup Isa a.s. dengan ajaran Stoaisme dan hidup menahan diri berlebihan yang dihubungkan kepada agama Kristen, terdapat perbedaan yang jelas sekali. Almasih bukan penganut ajaran Stoa. Bahkan mujizatnya yang utama ialah mengubah air tawar menjadi anggur pada pesta perkawinan di Kana, Dia juga tidak menolak makan bersama di pesta pora kaum Farisi. Stoa adalah filsafat Yunani yang didirikan oleh Zeno 336-264. Kaum Stoa percaya bahwa  segala kejadian harus diterima dengan tenang dan sabar dan bebas dari perasaan benci, suka, sedih dan gembira.(SHM.h.664).

Sejarah sastra Indonesia tidak terlepas dari toleransi pada pihak dari sastrawan Balai Pustaka dan Pujangga Baru yang tergambar dalam karya mereka. Tokoh-tokoh dalam novel mereka bergulat melawan kendala adat istiadat. Itu terjadi pada novel-novel Balai Pustaka. Pujangga Baru tampak mulai terbuka pada geliat pemikiran Barat melalui sastrawan Belanda yang rasanya belum sehebat penulis dan pemikiran yang lahir dari filsuf Jerman, Prancis juga Inggris. Baru pada era sastrawan angkatan 45 (versi HB Jassin) terdengar Sitor Situmorang dan Iwan Simatupang tuduhan bahwa keduanya terpengaruh oleh filsafat eksistensialisme. Ketika Sitor mementaskan karya dramanya yang katanya berbau eksistensialisme, Sudjatmoko mengatakan Indonesia tidak memerlukan eksistensialisme. Indonesia memerlukan rasionalisme. Maka cuaca sastra Indonesia kedatangan percampuran pemikiran (filsafat. Akan tetapi itu sudah dimulai pada tahun 45, bahwa Pujangga Baru telah menukik ke kedalamanan filafat estetika eksistensial yang ditunjuk oleh penggalan puisi Tatengkeng:

Gerakan Sukma
Yang berpancaran dalam mata
Menjelma ke indah kata

Penggalan puisi ini menyerempeti filsafat estetika Jacques Maritain walaupun dalam esei-esei sastrawan pujangga baru tampak kurang dekat dangan filsuf estetika eksistensialis Prancis itu.
Akan tetapi yang menggurat riwayat dalam hati saya adalah adanya toleransi besar pada tokoh Pujangga Baru itu. Demikian pula tokoh Angkatan 45, H.B. Jassin dalam surat-suratnya kepada J.E. Tatengkeng, tampak sekali toleransinya itu. Bagi saya H.B.Jassin besar sekali toleransinya kepada saya. Kalau tak ada H.B. Jassin yang pertama kali memuat karya-karya saya di majalah Mimbar Indonesia, saya tak jadi apa-apa. Mungkin saya jadi preman NTT, karena sejak masa kecil saya suka berkelahi. Hidup keseharian saya di masa kecil sampai masa anak sekolah rendah, tidak terlepas dari toleransi. Di masa kecil saya, kalau di rumah tak ada makanan enak, saya datang ke kerabat saya, pegawai gubernemen yang bergaji besar, mewah, yang beragama Islam. Sang Kakak (isteri pegawai itu) memberikan makanan enak dan ketika melihat pakaian saya ke sekolah lusuh, ia memberi pakaian baru. Kalau saya lapar saya datangi rumahnya dan kebetulan ia perlu orang menyembelih ayam. Ayam diserahkan bersama pisau kepada saya dan kata-kata, “Bismilah dulu baru potong ya!” Saya dimarahi kerena sebelum sembelih, saya berkoar, “Bismilah bis bengkok, makan sisa tinggal besok!”

Tahun 1953 saya dan seorang teman bernama Abussalim Enga, lulus SGB (Sekolah Guru Bawah) di Timor Tengah Selatan. Saya lulus dengan predikat nomor satu, Abusalim nomor dua. Kami di kirim ke SGA (Sekolah Guru Atas) Kristen, Jl. Pirngadi, Bubutan, Surabaya. Waktu kami untuk pertamakali melihat Jembatan Merah, bukannya indah seperti dalam lagu tetapi di kiri dan kanan berjejer orang buta, kaki buntung, kurus kering, buncit keparat. Saya habiskan uang di kantong saya untuk mereka karena terpikir, besok ada asrama dan uang ikatan dinas. Besoknya bagai di sambar petir saya mendengar: Tidak ada asrama! Uang ikatan dinas tiga bulan baru turun (dari langit). Dalam sehari semalam saya tak makan. Lapar dan haus harus ditahan. Kalau mau minum cari kran air di pasar. Tidur satu malam di emperan. Tiba-tiba terpikir datang ke asrama tempat si Abu nginap. Kepada Ibu asrama saya katakan “Saya murid ikatan dinas di SGA, Bu. Bisakah habis bulan baru saya bayar? Sang ibu mengatakan bisa tapi tak ada tempat tidur. Saya jawab: si Abu sudah setuju tidur satu dipan dengannya.” Maka saya pun jadi anak asrama dan makan teratur sebelum datang uang ikatan dinas (dari langit birokrasi sompret negeri ini).

Ketika itu, rasanya Surabaya adalah kota yang sangat toleran sehingga bisa melahirkan seorang sastrawan asal NTT. Semua itu telah saya tulis dalam sebuah naskah berjudul Aku dan Surabaya, sebuah novel otobiografi masa muda, tentang anak muda yang tangguh mengatasi kendala absurd dalam hidup ini, sebuah riwayat kehidupan toleransi di sebuah kota pahlawan. Saya punya banyak kenangan. Saya tak pernah lupa Pak Muhamad Ali. Ketika saya terdampar di Sanggar Aksera, badan diserang demam, Pak Muhamad Ali mengirim obat dan makanan. Muhammad Daryono, Amang Rahman, adalah teman yang lebih dari teman, mereka bagaikan saudara sejati buat saya.

Di Malang ada aktris teater Tatiek Malyati yang ikut dalam Festival Drama Surabaya 1956. Saya menang sebagai aktor penopang terbaik. Ada sastrawan/penulis naskah teater dan film produktif Emil Sanossa. Semuanya teman yang tak terlupakan. Tanpa guru dan dosen, kami bergerak naik tangga kehidupan pendidikan otodidak (luar sekolah) yang menentukan kami sebagai seniman yang bersatu, toleran di tanahair tercinta. Bilamana seniman dan para ilmuan bersatu dalam cuaca toleransi maka negara ini akan cepat menjadi negara adidaya. Toleransi yang benar telah dibuktikan oleh Ali Audah, H.B, Jassin, Takdir Alisyahbana, Tatengkeng, Panji Tisna, Ayip Rosidi, Muhamad Ali dan lain-lain. Hanya dengan toleransi, mayoritas dan minoritas di negeri bisa menemukan kualitas dalam membangun Indonesia menjadi negara adidaya.***

Riwayat Hidup: Lahir tanggal 16 Juni 1931 di Ba’a (Pulau Rote, NTT). Pernah jadi guru SMP Negeri di Ternate dan Bima 1956 sampai 1963. Pertengahan 1963 jadi wartawan Sinar Harapan sampai dengan tahun 1970. Sejak tahun 1963, jadi penulis lepas dan pernah mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa city, USA. Tahun 1985 dan 1986 meraih Hadiah Adinegoro. Meraih South East Asia Write Award dari Bangkok dan Anugerah Kebudayaan (kategori seni) dari Pemerintah RI. Lifetime Achievement Award dari Harian Kompas dan Academy Award dari Forum Academy NTT.

No Comments

Leave a Reply