Search and Hit Enter

WS RENDRA: PENYAIR YANG MEMBERONTAK

Masa Kecil W.S Rendra

W.S. Rendra Saat Masih Kecil/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

W.S Rendra, sang Burung Merak, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo tahun 7 November 1935. Putra dari R Cyprianys Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah.

Ayah Rendra adalah guru bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia di sekolah Katolik, Solo. Sedangkan ibunya seorang penari serimpi di Keraton Surakarta.

Sejak kecil hingga remaja, Rendra banyak menghabiskan waktunya di kota kelahiranya. W. S. Rendra memulai pendidikannya di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, Solo pada tahun 1942. Lulus dari TK, W. S. Rendra kemudian menyelesaikan pendidikan dasar sampai SMA dan lulus tahun 1952 di Sekolah Katolik, St. Yosef, Solo. (Sumber: tribunnewswiki)

Sumber: Pusat Dokumentasi H.B. Jassin
W.S. Rendra kecil ketika aktif di Pramuka (Rendra jongkok kedua dari kanan)/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

 

Sejak kecil, Rendra tergila-gila pada wayang kulit. Demi memburu pertunjukan wayang, ia tidak jarang keluyuran malam. Sebagai imbalan kenekatannya yang gembira itu, ia kerap dimarahi bahkan dipukuli ayahnya. Bukan karena sang ayah tidak suka wayang kulit, melainkan lantaran seorang anak kecil keluyuran malam untuk menonton wayang bukanlah laku yang bisa dibenarkan dalam pola hidup priayi di rumahnya.

W.S. Rendra Sudah Mencintai Dunia Pertunjukan Semenjak Kecil/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Kenangan Rendra tentang masa kecilnya itu, antara lain, tersurat dalam sajak ”Kebun Belakang Rumah Tuan Suryo”, yang terdapat dalam kumpulan Sajak-sajak Sepatu Tua (1972). Bait terakhir sajak ini berbunyi: // Melihat tanah di sini yang kelabu// dan mendengar daun berisik di dahan-dahan// aku terkenang lagi// Willy yang kecil// menangis tersedu. // Tapi menyenangkan juga dikenangkan// bahwa akhirnya satu demi satu// berpuluh kesedihan// telah terkalahkan//.

Ia memang berapi-api sejak kecil. Perseteruannya yang berkepanjangan dengan sang ayah, Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, adalah pemberontakannya yang pertama. Rendra yang dididik dalam tradisi Katolik menganggap sang ayah yang seorang guru sekolah Yayasan Kanisius dan penganut Katolik Roma yang saleh sebagai simbol keotoriteran.

W.S. Rendra Bersama Adiknya/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Awal mulanya, karena kegairahan Rendra akan berbagai fantasi sejak usia empat tahun selalu dijegal sang ayah, yang menganggap cerita-ceritanya tidak rasional. Baginya, segala hal harus mengikuti kaidah rasionalitas dan ilmiah. Sedangkan ibunya, Raden Ayu Catharina Ismadillah, di mata Rendra adalah lambang kasih dan kebebasan karena pengertiannya yang besar. (Sumber: arsipgatra)

 

Masa Remaja W.S. Rendra

Selesai SMA Rendra meninggalkan Solo dan sempat pergi ke Jakarta untuk bersekolah di Akademi Luar Negeri. Namun, takdir berkata lain yang membawa seorang Rendra berbelok ke Yogyakarta untuk memperdalam sastra Barat di Fakultas , Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Di kampusnya ini Rendra tidak menyelesaikan kuliahnya, namun hal tersebut bukan berarti ia berhenti belajar.

Potret W.S. Rendra di Tahun 1955/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Pada tahun 1954 Rendra berhasil mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Di sana ia memperdalam pengetahuannya khusus dalam bidang drama dan tari. Ia pun ikut serta mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra yang dimiliki oleh Rendra sudah mulai terlihat ketika ia masih SMP. Ketika itu ia sudah mulai mempertunjukkan kemampuan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolah.

Pada tahun 1950, di usia 15 tahun, Rendra menulis cerita pendek pertama berjudul Drama Pasar Pon. Sebuah cerita detektif yang dimuat di majalah Pembimbing Putera.

Pada 1952, naskah drama Goncangan Pertama lahir dalam bentuk stensilan. Sejak itu, ia membulatkan hati untuk menjalani hidup sebagai penyair dan melupakan cita-cita masa kecilnya menjadi jenderal.

(Sumber: arsipgatra)

Bakat yang dimiliki Rendra di dunia Sastra bisa dikatakan lengkap, tidak hanya pandai menulis puisi ia pun lihai ketika berada di atas panggung. Ia mementaskan drama dan tampil sebagai pembaca puisi.

Di waktu yang sama, pada tahun 1952 ia mempublikasikan puisinya di Majalah Siasat. Setelah itu puisi-puisi Rendra lainnya lancar mengalir di aneka majalah seperti Kisah, Basis, Seni, Konfrontasi serta Siasat Baru. Hal ini terus berlanjut sampai di Era tahun 60-an serta tahun 70-an.

Kolase Foto Masa Remaja W.S. Rendra di Rentang Waktu Sekitar Tahun 1955 – 1970an/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

 

Kaki Palsu adalah drama yang dibuat pertama kali oleh Rendra. Drama ini dipentaskan ketika ia masih SMP. Kemudian “Orang-orang di Tikungan Jalan”, drama pertamanya yang mendapat penghargaan serta hadiah dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat Rendra sudah duduk di bangku SMA penghargaan-penghargaan yang didapat ketika SMP itu membuatnya semakin bersemangat untuk berkarya.

Kisah Tentang Bengkel Teater dan Bengkel Teater Rendra

Pada tahun 1967 sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan Bengkel Teater. Melalui Bengkel Teater ini Rendra memberi suasana baru dalam kehidupan teater di Indonesia.

Mengutip dari Kompasiana.com/rumahmusikdennysakrie, “gaya teater Rendra yang ditampikan bersama Bengkel Teater memang agak menyimpang dari kelaziman, sarat improvisasi dan cenderung nyeleneh. Bengkel Teater tak hanya menjadi semacam kelompok teater, tapi berkembang sebagai sarang seni budaya yang bahkan berlanjut ke ranah religi.”

“Rendra mengatakan, kenapa dirinya menamakan Bengkel Teater, “Maksud saya adalah memperbaiki pribadi sehingga bisa kreatif dan berguna bagi kehidupan, seperti halnya reparasi mesin di bengkel” (Aktuil No. 182 edisi Desember 1975 hal. 9).

Potret W.S. Rendra di Tahun 1975/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Beberapa seniman yang pernah tergabung dalam Bengkel Teater antara lain: Azwar A.N., Putu Wijaya, Syu’bah Asa hingga Arifin C Noor yang kemudian membentuk grup-grup teater modern seperti Teater Alam, Teater Mandiri dan Teater Ketjil.

Bengkel Teater terus bertahan dan berkembang. Tetapi sejak tahun 1977, Rendra mengalami kesulitan untuk mempertunjukkan karya dramanya maupun membacakan puisinya di hadapan publik. Kelompok teaternya pun mulai goyah dan sukar untuk bertahan. Dalam rangka mengatasi masalah ekonomi, Rendra kemudian hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok.

Tahun 1985 dicatatakan menjadi saat bersejarah, pada tahun inilah Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Bengkel Teater Rendra berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar, terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari.

Di lahan tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman yang dirawat secara asri. Sebagian besar merupakan tanaman pohon berkayu keras dan pohon buah yang sudah ada sejak lahan tersebut dibeli.

Mengutip dari Kompasiana.com/benkebenke, “tidak berlebihan jika Sitok Srengenge menyebut W.S. Rendra adalah “Guru yang dahsyat” dan keberadaan Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok, Jabar, pada sebuah masa pernah menjadi Universitas Kesenian dan Kehidupan yang tiada duanya. Otig Pakis pun sepakat dengan Sitok, meski tidak mengerti benar sejarah bengkel itu ketika masih berada di Yogyakarta, namun persinggungannya yang sudah 23 tahun di BTR Citayam, tak ternilai harganya. Otig yang “diwisuda” bersama Sitok, Amil Kamil, Dewi Pakis, Bramantyo, Radar Panca Dahana dan beberapa nama lainnya tahun 1986 seusai pementasan Panembahan Reso, ingat betuk ketika menguncapkan janji Prasetya di hadapan Rendra.”

“Janji Prasetya hanya diberikan dan diucapkan para angota tetap yang telah dilantik menjadi anggota BTR oleh Rendra, Isi janji Prasetya, sebagaimana juga dikatakan Sitok, biasanya melekat luar kepala dan menjadi panduan amalan semua anggota tetap BTR. Bunyi janji Prasetya itu: (1) Aku ini milik Tuhan dan hanya mengabdi pada kehendak Tuhan. (2) Aku tidak ingin memiliki yang berlebih, segala yang berlebih akan aku kembalikan kepada Tuhan melewati alam dan kebudayaan. (3) Aku setia kepada hati nuraniku. (4) Aku setia pada jalannya alam dan (5) Aku menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.”

Rendra: Laras Senjata dari Suara Kritis Hati Nurani Rakyat Indonesia

Terhitung dari tahun 1968 hingga 2005, Rendra dan Bengkel Teater telah mementaskan 23 naskah: 15 naskah asing/adaptasi, 7 naskah sendiri dan sebuah naskah di luar karya Bengkel Teater.

Sejak dasawarsa 1970 rasanya tak berlebihan jika kita menyebut Rendra sebagai laras senjata dari suara kritis hati nurani rakyat Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada karya naskah drama Mastodon dan Burung Kondor yang menyindir kediktatoran dan kesewenangan militer.

Kemudian Lysistrata sebuah karya terjemahan dari Aristophanes yang mengisahkan kaum perempuan yang membawa semangat feminisme ditengah ancaman perang Athena dengan Sparta yang menyindir mental militer yang kaku.

Panembahan Reso yang menyoroti perihal megalomaniak poros-poros kekuasaan dengan durasi pertunjukan mendekati 7 jam. Karya Rendra lainnya yaitu Kisah Perjuangan Suku Naga yang merupakan cerita satir terhadap kediktatoran rezim ketika itu. Satir dan sindiran yang menggelakkan tawa juga terlihat pada lakon Sekda yang berakhir pada pembredelan oleh pihak berwajib dan ini menjadi semacam rutinitas dari setiap pementasan Bengkel Teater yang selalu di cap mengkritik pemerintah. (Sumber: kompasiana.com/rumahmusikdennysakrie)

 

Kisah Cinta Sang Burung Merak 

Potret Pernikahan W.S. Rendra dengan Sunarti Suwandi/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

W.S.Rendra pertama kali menikah dengan Sunarti Suwandi, 31 Maret 1959.

Wanita yang hidup dan besar dalam lingkungan masyarakat Jawa ini lahir dari pasangan musikus Soewandi dengan guru Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK), Johanna Suminem di Yogyakarta pada tahun 1940.

Lahir dari lingkungan keluarga seniman dan guru, Sunarti tumbuh sebagai perempuan dengan bakat seniman yang kuat. Terbukti, kelak, sebagai seniman, Sunarti berhasil menjadi Bintang radio RRI pada tahun 1958 dan 1959.

Di dalam puisi berjudul “Surat Kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya”, Rendra menggambarkan sosok Sunarti, berikut petikan bait pertamanya:

Mama yang tercinta
Akhirnya kutemukan juga jodohku
Seseorang yang bagai kau
Sederhana dalam tingkah dan bicara
Serta sangat menyayangiku

(Sumber: nusantaranews.co)

Perkawinan W.S. Rendra dengan Sunarti melahirkan lima orang anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta.

W.S. Rendra Bersama Sunarti dan Sitoresmi, Beserta anak-anaknya/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Rendra kemudian menikah dengan muridnya di Bengkel Teater, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Ia melamar putri bangsawan Kraton Yogyakarta itu dengan ditemani Sunarti. Perkawinan Rendra dan Sitoresmi berlangsung 12 Agustus 1970, disaksikan budayawan Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Usai menikah dengan Sitoresmi dan memeluk agama Islam, nama Rendra berubah menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Buah pernikahan dengan Sitoresmi, Rendra mendapatkan empat anak yaitu Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Potret Ken Zuraida/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Kehidupan Rendra seatap dengan dua istri inilah yang membuatnya mendapat julukan `Si Burung Merak`. Berawal ketika ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, “Itu Rendra! Itu Rendra!” Sejak itu, julukan Burung Merak melekat pada dirinya.

Pada tahun 1974, Sang`Burung Merak` mempersunting Ken Zuraida. Bersama dengan perempuan kelahiran Salatiga, Jawa Tengah ini Rendra dikaruniai dua anak, Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Setelah menikah selama 3 tahun dengan tiga istri, Rendra bercerai dengan Sitoresmi (1979). Dua tahun kemudian, 1981, Rendra juga berpisah dengan Sunarti.

(Sumber: surabaya.tribunnews.com)

Rendra Di mata Anak dan Cucunya

Potret W.S. Rendra Bersama Puterinya/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Tedy, anak tertua dari Rendra yang sejak kecil sudah ikut bergulat kesenian melalui Bengkel Teater menyebutkan, “Menemani papa menjalani titah untuk mati adalah judul panggilan kesenimanan Bengkel Teater yang membuatku datang ke Jakarta waktu itu.” Ia menambahkan, “Itu merupakan pelajaran terindah mengenai sikap seorang abdi membela cintanya pada kedaulatan bangsa.”

Potret Clara Sinta, Puteri dari W.S. Rendra/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Sedangkan bagi Clara Sinta, Rendra adalah seorang pujangga. Buah pikirannya yang dituliskan menembus waktu ke depan dengan kata-kata padat, luas dan sarat makna serta relevan sepanjang masa. “Rendra, bagi saya lengkap dan penuh warna. Ia seorang guru laku hidup,” ujarnya.

(Sumber: serikatnews.com)

 

Rendra di Mata Pengamat Sastra, Sahabat, dan Dunia 

Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya: Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern, Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan ’60-an, atau Angkatan ’70-an. Melalui karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra juga memikat pengamat seni dan sastra mancanegara seperti Profesor Harry Aveling, dari Australia yang menaruh minat terhadap dunia sastra Indonesia. Ia telah membahas dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisan yang berjudul A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974. Karya Rendra juga dibicarakan oleh ahli sastra Jerman, Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957 – 1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977. (Sumber: kompasiana.com/rumahmusikdennysakrie)

Kekaguman pada sosok Rendra diungkapkan mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang juga mantan aktivis mahasiswa, Mulyana W Kusumah. “Kemampuan Rendra dalam berpidato juga sangat luar biasa. Saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato selama 15 menit, almarhum berpidato hingga 45 menit tanpa membuat jenuh,” katanya.

Di mata Mulyana, dalam hal budaya Rendra belum ada tandingannya. “Dia mempunyai visi dalam hal kebudayaan dan sangat menarik pikiran-pikirannya, bahkan hingga akhir hayat masih berkarya dan berpartisipasi dalam memikirkan negara,” ungkap Mulyana. (Sumber: surabaya.tribunnews.com)

Syub’ah Asa juga mengungkapkan kekagumannya kepada Rendra, ”Rendra sudah menginfakkan sebagian umurnya –dengan karya-karyanya– untuk berjuang melawan penindasan, menjadikan teater dan sajaknya sebagai senjata di kuping despot dan kepalan tinju di hidung para badut politik. Menyiram semangat dan menyertai para mahasiswa di kampus-kampus, serta menjadikan teater dan puisi begitu terkenal sampai ke tingkat yang rasanya belum pernah ada presedennya dalam sejarah,”.

Sementara itu, penyair Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa beberapa sajak Rendra yang terbit dalam kumpulan Balada Orang-orang TercintaBlues untuk Bonnie, dan Orang-orang Rangkasbitung adalah karya-karya yang ”tidak tertandingi dalam perkembangan mutakhir penulisan puisi naratif di negeri ini”. (Sumber: arsip.gatra.com)

Beberapa hari sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rendra masih meninggalkan wasiat berupa puisi. “Dia meninggalkan satu puisi. Puisi itu menyebutkan masih banyak keinginannya tetapi dia tidak bisa. Jadi daya masih ada tapi dia tidak bisa mengatasi kelelahannya,” kata sahabat Rendra, sastrawan Jose Rizal Manua. Puisi itu dibuat Rendra sekitar 3-4 hari lalu saat dia masih dirawat di rumah sakit. Dari sekian banyak tulisan yang dibuat Rendra, Jose ingat betul isi keinginannya. Puisi tersebut disampaikan seorang putri Rendra. “Saya waktu itu ada di dalam kamar (rumah sakit), saya melihat puisi itu saya baca dalam hati. Menyentuh,” paparnya. (Sumber: surabaya.tribunnews.com)

Emha Ainun Nadjib, di saat-saat terakhir mendampingi sahabatnya mengungkapkan,

”Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Rendra. Malam Jum’at, di bawah cahaya bulan purnama. Orang besar itu telah pergi dengan gagah sebagaimana ajarannya: “gagah dalam kemiskinan”. Istrinya, Ken Zuraida, menyatakan “ia sangat bahagia”, meskipun pasti bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam “derita manusiawi” yang membungkusnya.”

“Ini adalah puncak dari tangis mengguguk-guguk seorang pecinta yang airmatanya tumpah di ufuk kesadaran tentang “nyawiji”. Selama sakit di pembaringan Rendra selalu spontan menyebut “Ya Lathif”, wahai Yang Maha Lembut. Di saat-saat paling menderita oleh sakitnya ia meneguhkan hatinya dengan “Qul huwal-Lahu Ahad, Allahus-Shamad….”. Setengah sadar sambil saya genggam tangan kirinya saya minta ia menambahi, “Mas, ucapkan juga Qul Huwal-Lahu Wahid…”

“Ia berbisik, “apa bedanya Ahad dengan Wahid, Nun”, saya jawab “Mas, Ahad itu Allah yang Tunggal, Yang Satu, yang gagah perkasa dengan maha eksistensi-Nya. Wahid itu Allah yang Manunggal, yang Menyatu, yang integral, yang merendahkan diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya, nyawiji…”. Meledak tangis Rendra dalam rasa dan kesadaran bahwa ia tak berjarak dengan-Nya dan Ia tak berjarak dengan dirinya. Tatkala mereda gejolak hatinya, Rendra menorehkan puisi yang diakhiri dengan kalimat “Tuhan, aku cinta pada-Mu”.

Potret Kebersamaan W.S. Rendra Bersama Emha Ainun Nadjib, 12 Mei 1995/Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

“Maka Rendra tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Rendra memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya, karena kita meletakkan diri semakin jauh dari titik “nyawiji” yang Rendra sudah lama menikmatinya.”

“Tapi sudah pasti kemudian terdengar suara dari seluruh penjuru: “Kita sangat kehilangan”, “Bangsa kita ditinggalkan lagi oleh salah seorang putra terbaiknya”, atau “Tidak. Rendra tak pernah pergi. Orang besar tak pernah mati”.”

(Sumber:  Caknun.com)

Kamis, 6 Agustus 2009 di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara., Rendra meninggal dunia di usia 73 tahun.

Berikut dua puisi W.S. Rendra berjudul “Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang” dan “Aku Tulis Pamflet ini” untuk mengenang semangat dan spirit Rendra :

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM PERANG

Tuhanku,
Wajah-Mu membayang di kota terbakar
dan firman-Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara

Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan napasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
biarpun bersama penyesalan

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
Sementara ku lihat kedua lengan-Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati-Mu

Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

(W.S. Rendra)

 

Aku Tulis Pamplet Ini

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.

Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.

Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.

Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.

Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.

Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

(W.S. Rendra)

Pejambon Jakarta 27 April 1978

 

Lutfi Dananjaya
Penulis Lepas. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

 

No Comments

Leave a Reply