Search and Hit Enter

PENULISAN SEJARAH SASTRA: Jangkauan Sejarah Sastra Indonesia (13)

Jangkauan sejarah (waktu dan isi) sastra Indonesia dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (ISSI) karyaPENULISAN SEJARAH SASTRA:
Jangkauan Sejarah Sastra Indonesia (13)

Ajip Rosidi berbeda dengan KBI dan SSIM. Dalam ISSI jangkauan waktu sejarah sastra Indonesia lebih panjang dan lama. Namun, jangkauan isi (bahan) sejarah sastra Indonesia relatif lebih sempit dan terbatas dibandingkan dengan SSIM walaupun dapat dikatakan relatif lebih luas dan banyak dibandingkan dengan KBI. Isi (bahan) sejarah sastra Indonesia dalam ISSI malah dapat disimpulkan lebih dalam dan banyak daripada KBI dan SSIM. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan konsepsi mengenai sastra Indonesia dan perspektif penglihatannya.

Dalam ISSI, titik permulaan waktu sejarah sastra Indonesia pada tahun 1900. Hal ini setidak-tidaknya terlihat nyata pada judul Bab I: Period 1900 – 1933 yang ada di bagian pertama buku ISSI (lihat hlm. 16). Penetapan tahun 1900 sebagai titik permulaan waktu sejarah sastra Indonesia didasarkan atau dihubungkan dengan berdirinya Balai Pustaka atau Commissie voor de Volkslectuur, yang kemudian mendorong munculnya surat kabar dan atau majalah yang memuat karya sastra (lihat hlm. 16). Dikemukakan dalam ISSI bahwa “… sepanjang tahun yang sudah diketahui sampai sekarang, baru tahun 1900 ada suratkabar yang memuat karangan yang bersifat sastra atau yang dapat digolongkan kepada karya sastra (…) (ISSI, 1982, 16).

Titik akhir waktu sejarah sastra Indonesia dalam ISSI  pada tahun 1968, saat pertama kali ISSI diterbitkan. Hal ini setidak-tidaknya terlihat dari judul Bab VI, yaitu Period 1961 – sampai sekarang (baca: pada tahun 1968 saat pertama kali buku terbit. Dengan demikian, dalam ISSI waktu sejarah sastra Indonesia memiliki jangkauan 68 tahun, satuan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan satuan waktu dalam KBI dan SSIM.

Berkenaan dengan hal tersebut, bisa dikatakan bahwa jangkauan isi (bahan) sejarah sastra Indonesia dalam ISSI tergolong banyak dan dalam daripada dalam KBI dan SSIM. Bisa demikian karena beberapa hal. Pertama, rentangan waktu sejarah Indonesia yang diikuti lebih panjang dan lama. Kedua, tokoh-tokoh dan karya-karya sastra yang dibicarakan relatif lebih banyak dan detail. Kemudian ketiga, aspek-aspek sosial, budaya, dan politik yang menjadi konteks dan memberikan gambar-an lebih jelas tentang situasi babakan tertentu dibicarakan relatif jelas.

Jangkauan isi (bahan) yang dibicarakan dalam kerangka sastra Indonesia mencakup berbagai aspek peristiwa sosial-budaya-politik  yang menentukan, membingkai, dan melatari kegiatan kesastraan dan karya sastra, peristiwa-peristiwa kesastraan, berbagai genre karya sastra, dan biografi sastrawan (novelis, cerpenis dan penyair) dan karakteristik karya-karyanya (meliputi puisi, prosa, dan drama) serta pandangan-pandangan sastrawan atas kondisi sastra, seni, dan budaya. Hal ini dapat disimak pada pembicaraan tentang babakan sejarah dan angkatan sastra 1933-1945 dan babakan sejarah dan angkatan sastra 1942-1945 (lihat hlm.35-88).

Selanjutnya dalam Sastra Baru Indonesia I dan II (SBI) karya A. Teeuw, jangkauan (waktu dan isi) sejarah sastra Indonesia berbeda dengan yang di dalam KBI, SSIM dan ISSI meskipun terdapat kemiripan-kemiripan di antaranya. Berdasarkan pengamatan dapatlah dikatakan bahwa jangkauan waktu sejarah sastra Indonesia tergolong panjang dalam SBI, lebih panjang daripada dalam KBI, SSIM, dan ISSI. Dalam SBI disebutkan bahwa sastra Indonesia lahir sekitar tahun 1920 (lihat hlm.15) sehingga titik permulaan waktu sejarah sastra Indonesia pada sekitar tahun 1920-an. Dikemukakan dalam SBI bahwa “Kesusastraan Indonesia lahir pada sekitar tahun 1920. Pada ketika itulah para pemuda Indonesia untuk pertama kali mulai menyatakan perasaan dan ideyang pada dasarnya berbeda (…). (SBI, 15)

Adapun titik akhir sejarah sastra Indonesia dapat dikatakan pada tahun 1978 sebab dalam SBI (Jilid II) dibicarakan perkembangan sastra sampai dengan tahun 1878 sebagaimana dikemukakan oleh pengarangnya. “Sastra Indonesia Modern II ini meliputi periode yang berakhir pada 31 Desember 1978. Batas waktu ini ditetapkan begitu saja, dengan alasan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembabakan dalam sastra Indonesia modern.(SBI II, vii)”. Dengan demikian, dalam SBI jangkauan waktu sejarah sastra Indonesia sekitar 58 tahun, mulai tahun 1920 sam-pai dengan tahun 1978. Jangkauan waktu ini jelas lebih lama daripada jangkauan waktu dalam KBI, SSIM, dan ISSI sebagai sudah dipaparkan di atas.

Sementara itu, berdasarkan pembacaan dapat dikatakan bahwa jangkauan isi (bahan) sejarah sastra Indo-nesia dalam ISSI tergolong luas, banyak, dan dalam. Luasnya, banyaknya, dan dalamnya isi (bahan) yang dicakup dalam ISSI tak hanya karena dibicarakan aspek-aspek sosial, politik, budaya, seni, dan bahasa, tetapi karena pembicaraan tentang karya-karya sastrawan demikian mendalam, dan genre sastra mencakupi puisi, novel dan drama. Luasnya isi karena pembicaraan mencakup teks karya sastra, biografi kepengarangan, dan konteks yang melingkunginya. Banyaknya isi (bahan) karena jangkauan waktu sejarah sastra Indonesia yang dicakup, genre sastra yang dicakup, pikiran-pikiran eseis sastrawan yang dicakup, dan konteks (sosial, budaya, politik, dan la-in-lain) yang dicakup.

Dalam pada itu, dalamnya isi (bahan) karena teks sastra tidak hanya dibicarakan aspek tema-tisnya saja (isinya), tetapi juga aspek-aspek semiotis atau struktural lainnya. Hal ini, misalnya, dapat dilihat dalam pembicaraan tentang kesusastraan sebelum perang (lihat hlm. 15-146). Dalam pembicaraan ini kar-ya-karya sastra yang penting dibicarakan secara dalam aspek-aspek strukturnya, biografi kepengarangan dan pikiran-pikiran sastrawan diulas lebih mendalam dengan kekayaan informasi, dan konteks sosial, politik, budaya, dan bahasa yang melingkungi karya sastra dibicarakan secara jelas (lihat hlm. 15-146).

Lebih lanjut, dalam Lintasan Sejarah Sastra Indonesia Modern I (LSIM) karya Jakob Sumardjo, jangkauan sejarah sastra Indonesia juga tergolong luas dan panjang meskipun tidak mendalam terinci pembicaraannya. Berdasarkan pembacaan dapat dikatakan bahwa jangkauan waktu sejarah sastra Indonesia termasuk panjang dalam LSIM, seperti dalam ISSI dan SBI. Mirip dengan ISSI, dalam LSIM titik permulaan sastra Indonesia ditentukan pada menje-lang tahun 1900-an awal dengan ditandai oleh munculnya berbagai-bagai karya sastra Melayu, Jawa,dan Sunda. Dijelaskan dalam LSIM bahwa “Gejala munculnya sastra Indonesia modern terlihat keras dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Melayu Rendah. Ini disebabkan karena ketiga golongan masyarakat tersebut paling dahulu berkenalan dengan pendidikan Barat. Corak sastra baru yang muncul pertama kali berupa penceritaan kembali kisah-kisah lama dengan bahasa yang hidup dalam masyarakat pada waktu itu. Pada tahun 1844 seorang ahli bahasa Jawa, T. Roorda menulis buku setebal 197 halaman berjudul Raja Pirangon, dalam bahasa Jawa berbentuk prosa…(LSIM, 2-3)”.

Hal tersebut menandakan bahwa sastra Indonesia bermula pada tahun-tahun menjelang masuk Abad XX atau akhir Abad XIX. Dan, dalam LSIM titik akhir sastra Indonesia dapat diduga pada dasawarsa 1960-an. Meskipun tidak dikemukakan secara tersurat dan jelas, setidak-tidaknya hal ini da-pat ditafsirkan dari penjelasan Jakob Sumardjo tentang babakan sejarah dan angkatan sastra Horison (lihat hlm. x-xi). Apakah tafsiran ini benar atau salah masih perlu dibuk-tikan sebab Jakob Sumardjo belum menulis LSIM jilid II; sedangkan LSIM jilid I hanya membicarakan sastra beserta konteks yang terkait sampai dengan yang muncul dan berkembang pada tahun 1950-an. Meskipun sementara, dapat dikatakan bahwa jangkauan waktu sejarah sastra In-donesia yang dibicarakan dalam LSIM 60 tahun.

Berkaitan dengan itu, jangkauan isi (bahan) sejarah sastra Indonesia dalam LSIM juga dapat dikatakan luas dan banyak, seperti dalam SBI. Akan tetapi, tidak dapat dikatakan mendalam berhubung pembicaraannya hanya sekilas-sekilas. Dalam LSIM ini dibicarakan berbagai karya sastra Melayu Rendah (baik Tionghoa maupun bukan) be-serta pengaruhnya dalam sastra Indonesia yang kemudian di samping karya-karya sastra penting (baik asli maupun terjemahan;baik puisi, prosa maupun drama) sepanjang 60 tahun, konteks sosial, budaya, politik, dan sastra yang melingkungi peristiwa kesastraan, pikiran-pikiran dan pandangan-pandangan sastrawan penting, dan biografi kepengarangan berbagai sastrawan penting. Meskipun demikian, pembicaraan semua hal ini sekilas saja, tidak semendalam pembicaraan dalam SBI. Misalnya, pembicaraan tentang karya sastra umumnya terbatas pada tema dan pa-ham atau aliran yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat pada pembicaraan babakan sejarah dan angkatan sastra Balai Pustaka (lihat hlm. 31-62).

No Comments

Leave a Reply