Search and Hit Enter

PENULISAN SEJARAH SASTRA: PEMBABAKAN SEJARAH SASTRA (8)

Dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (ISSI), Ajip Rosidi membuat pembabakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia berbeda dengan Zuber Usman dalam KBI dan Bakri Siregar dalam SSIM. Meskipun demikian, isinya tidak dapat dikatakan sangat berbeda, maksudnya isinya atau bahannya ada kemiripan dengan pembabakan sejarah dan angkatan sastra dalam KBI dan SSIM. Dalam hubungan ini, Ajip dalam ISSI tidak menggunakan istilah angkatan atau generasi, melainkan period yang lebih didasarkan atas satuan waktu, bukan nama peristiwa kesastraan dan kebudayaan.

Dijelaskan oleh Ajip dalam ISSI sebagai berikut. “Beberapa orang penelaah sastra Indonesia telah mencoba membuat babakan waktu (periodisasi) sejarah sastra Indonesia. Meskipun di antara para ahli dan sarjana itu ada persamaan-persamaan yang  menyolok dalam membagi-bagi babakan waktu sejarah sastra Indonesia, namun kalau diteliti lebih lanjut maka akan nampak bahwa masing-masing periodisasi itu menunjukkan perbedaan-perbedaan yang menyolok juga, baik istilah maupun konsepsinya”. Lebih lanjut, Ajip membagi babakan sejarah sastra Indonesia menjadi (1) masa kelahiran atau penjadian dengan rentang waktu 1900—1945, (2) masa perkembangan dengan rentang waktu 1945—1961. Babakan sejarah yang disebut Ajip dengan istilah “period” itu didasarkan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi masing-masing zaman, sedang perbedaan angkatan yang satu dengan yang lain sering ditekankan pada adanya perbedaan konsepsi masing-masing angkatan. Jadi, pembabakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia yang dibuat Ajip didasarkan aspek-aspek di luar sastra dan satuan-satuan waktu yang mempengaruhi sastra Indonesia.

Periode Kelahiran oleh Rosidi dibicarakan dalam bagian pertama buku ISSI(lihat hlm. 15-87). Bagian per-tama ini dipilah ke dalam tiga bab, yaitu Bab I membicarakan periode 1900-1933, Bab II membicarakan periode 1933-1942, dan Bab III membicarakan periode 1942-1945. Dalam Bab I yang diberi judul Period 1900-1933 dibicarakan ihwal bacaan liar dan Commisie vorr de Volkslec-tuur (Komisi Bacaan rakyat atau Balai Pustaka), sajak-sajak Muhammad Yamin dan Rustam Effendi, Balai Pustaka dan roman-romannya (yaitu Azab dan Sengsara, Muda Teruna dan lain-lain.), dan Sanusi Pane. Semua pembicaraan ini terfokus pada aspek-aspek sosial yang mempengaruhi sastra, isi (aspek tematik) karya sastra, dan pikiran tokoh-tokoh.

Bab II bagian pertama dengan judul Period 1933-1942 mendapat porsi pembicaraan relatif besar (lihat hlm. 35-70). Yang dibicarakan dalam periode 1933-1942 ini ialah masalah lahirnya majalah Pujangga Baru, tokoh-tokoh Pujangga Baru, para pengarang Balai Pustaka, para pengarang wanita, cerpen, drama, roman-roman dari Medan dan Surabaya, dan para penyair dari Sumatra. Tokoh Pujangga Baru yang dibicarakan adalah St. Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Amir Hamzah, J.E. Tatengkeng, Asmara Hadi, A.M. Thahir, Mozaza, dan M.R. Dajoh. Para pengarang Balai Pustaka yang dibicarakan adalah Nur St. Iskandar, A. A. Pandji Tisna, Tulis Sutan Sati, Paulus Supit, Aman Dt. Madjoindo, Suman Hs., Habib St. Mahara-dja, Haji Daeng Said Muntu, dan Sutomo Djauhar Arifin. Para pengarang wanita yang dibicarakan adalah Selasih, Hamidah (Fatimah H. Delais), Adlin Affandi, Sa’adah Alim, dan Maria Amin. Cerpen-cerpen yang dibicarakan adalah karya M. Kasim, Suman Hs., HAMKA, Sa’adah Alim, dan Armijn Pane. Drama yang dibicarakan adalah karya Roestam Effendi, Muhammad Yamin, Sanusi Pane, dan Armijn Pane. Pembicaraan yang ada lebih banyak menyoroti aspek-aspek di luar sastra dan aspek tematis karya sastra. Kebanyakan pembicaraan juga terpusat pada sejarah tokohnya, bukan sosok karya yang dihasilkannya.

Bab III bagian pertama diberi judul Period 1942-1945 membicarakan situasi sosial politik yang mempengaruhi sastra dan berbagai karya sastra (lihat hlm. 79-89). Secara ringkas dibicarakan masalah situasi sosial politik yang mempengaruhi produksi dan aspek tematis sastra, penyair-penyair yang menulis pada periode 1942-1945, cerpen-cerpen yang ditulis, dan drama-drama yang ditulis. Penyair-penyair yang dimasukkan pada periode ini ialah Usmar Ismail, Amal Hamzah, dan Rosihan Anwar, Anas Ma’ruf, M.S. Ashar, Maria Amin, dan Nursjamsu. Cerpenis yang dibicarakan Usmar Ismail, Rosihan Anwar, H.B. Jassin, Bakri Siregar. Penulis drama yang dibica-rakan adalah Armijn Pane, Usmar Ismail, Abu Hanifah, Idrus, dan Inu Kertapati. Semua pembicaraan ini lebih terpusat pada sejarah kepengarangan daripada pembahas-an karya-karya pengarang atau sastrawan. Karya sastra hanya diperkenalkan aspek tematiknya dan situasinya da-lam kaitannya dengan pengarangnya.

Periode perkembangan dibicarakan dalam bagian dua dengan judul Period Perkembangan (1945 – kini) (lihat hlm. 90-205). Periode perkembangan ini dipilah menjadi 3 periode, yaitu periode 1945-1953 yang dibicarakan da-lam Bab IV (lihat hlm. 91-133), periode 1953-1961 yang dibicarakan dalam Bab V (lihat hlm. 135-175), dan periode 1961- sampai dengan sekarang yang dibicarakan da-lam Bab VI (lihat hlm. 177-205). Penentuan periode ini didasarkan atas perubahan atau pergeseran orientasi dan arah sastra dengan tandanya peristiwa kesastraan yang dipandang menonjol. Dalam penentuan ini diperhitungkan faktor-faktor di luar karya sastra yang mempengaruhi.

Periode dan generasi 1945-1953 yang dibicarakan dalam Bab IV dengan judul Period 1945-1953 dimulai de-ngan munculnya Chairil Anwar. Dikatakan Ajip, “Munculnya Chairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia memberikan sesuatu yang baru. Sajak-sajaknya tidak seperti sajak-sajak Amir Hamzah yang betapapun masih mengingatkan kita kepada sastra Melayu, meskipun sajak-sajak Amir itu memang indah dan bernilai tinggi…. Dengan munculnya kenyataan itu, maka banyaklah orang yang berpendapat bahwa suatu angkatan kesusastraan telah lahir…. (ISSI, 1982:91). Babakan sejarah dan angkatan sastra ini ditutup dengan terjadinya isu krisis sastra Indonesia; dan dengan demikian muncul babakan sejarah dan angkatan sastra berikutnya.

Dalam Period 1945-1953 ini dibicarakan masalah angkatan ’45, tokoh-tokoh ang-katan ’45, pengarang-pengarang wanita, dan pengarang-pengarang lain yang beraktivitas selama periode 1945-1953. Masalah angkatan ’45 yang dibicarakan ialah masalah latar belakang dan semangat angkatan ’45 dan Surat Kepercayaan Gelanggang. Tokoh angkatan ’45 yang dibica-rakan adalah Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin, Idrus, Achdiat K. Mihardja, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Utuy T. Sontani, Sitor Situmorang, Aoh K. Hadimadja, M. Balfas dan Rusman Sutiasumarga, Trisno Sumardjo, dan Mh. Rustandi Kartakusuma. Riwayat, kepengarangan, dan ciri-ciri karya tokoh-tokoh ini dibi-carakan secara memadai. Sementara itu, pengarang-pengarang wanita yang disinggung sekilas riwayat, kepengarangan, dan karyanya adalah Ida Nasution, Waluyawati, S. Ruki-ah, St. Nuraini, dan Suwarsih Djojopuspito. Pengarang-pengarang lain yang dibicarakan riwayat, kepengarangan, dan karyanya ialah P. Sengodjo, M. Ali, Dodong Djiwapradja, dan Harijadi S. Hartowardojo.

Dalam Bab IV dengan judul Period 1953-1961 dibi-carakan masalah krisis sastra Indonesia, sastra maja-lah, pengarang-pengarang (novelis dan cerpenis) penting dan penyair-penyair penting dalam periode dan generasi 1953-1961. Dalam krisis sastra Indonesia dibocarakan berbagai kegiatan kesastraan yang memberikan sinyalemen terjadinya berbagai krisis, di antaranya krisis akhlak, krisis ekonomi, dan krisis sastra Indonesia yang disebabkan oleh kurangnya novel berbobot. Dikemukakan juga pandangan dan pendapat berbagai ahli yang menduga adanya krisis sastra Indonesia, antara lain pendapat Rama-dhan KH, H.B.Jassin, dan Sitor Situmorang. Dalam sastra majalah dibicarakan ihwal merebaknya majalah sastra dan karya-karya sastra yang dimuat di dalamnya baik cerpen maupun puisi. Kemudian pengarang-pengarang (novelis dan cerpenis) penting yang dibicarakan ialah Nugroho Notosusanto, A. A. Navis, Trisnojuwono, Iwan Simatupang, Toha Mohtar, Subagio Sastrowardojo, dan Motinggo Busje. Pengarang-pengarang ini dibicarakan riwayat, kepenga-rangan, dan karyanya secara jelas. Pengarang-pengarang yang secara sekilas dibicarakan riwayat dan karya-karyanya ialah Rijono Pratikto, S.M. Ardan, Soekanto SA, Alex Leo, Bokor Hutasuhut, Alex L. Tobing, Ali Audah, Suwardi Idris, Djamil Suherman. Sementara penyair-penyair yang dibicarakan riwayat, kepengarangan, dan karyanya adalah Toto Sudarto Bachtiar, W.S. Rendra, Rama-dhan K.H., dan Kirdjomuljo. Penyair lain yang dibicarakan sekilas ialah Hartojo Andangdjaja, M. Hussyn Umar, Odeh Suardi, Sugiarto Sriwibawa, Surachman R.M., dan Ayatrohaedi. Selanjutnya disinggung secara sekilas be-berapa pengarang drama, yaitu Motinggo Busje, M. Jusa Biran, dan Nasjah Djamin. Disinggung pula secara seki-las seorang pengarang wanita, yaitu N.H. Dini.

Selanjutnya babakan sejarah dan angkatan sastra 1961 – sampai sekarang (bac: buku diakhiri) dibicarakan dalam Bab VI yang berjudul Period 1961-sampai Sekarang. Dalam bab Period 1961-sampai Sekarang ini dibicarakan ihwal sastra dan politik, mani-fes kebudayaan dan konperensi karyawan pengarang se-Indonesia, pengarang-pengarang Lekra yang penting, para pengarang keagamaan yang penting, sajak-sajak perlawanan terhadap tirani, beberapa penulis drama dan prosa, beberapa penyair penting, para pengarang wanita, drama, dan esei. Masalah sastra dan politik yang dibicarakan adalah masalah seputar pertentangan antara kubu realis-me sosial dan kubu manifes dengan menelusuri hubungan sastra dan politik dalam sejarah sastra Indonesia awal.

Sesudah itu dibicarakan riwayat, pandangan, dan konteks keberadaan manifes kebudayaan dan berlangsungnya konferensi karyawan pengarang se-Indonesia, yang sebenarnya merupakan kelanjutan persoalan kaitan sastra dan politik. Kemudian dibicarakan tentang keberadaan Lekra dan pengarang-pengarang di bawah Lekra, yaitu A.S. Dharta, Bachtiar Siagian, Bakri Siregar, Hr. Bandaharo, F.L. Risakota, Zubir A.A., A. Kohar Ibrahim, Amarzan Ismail Hamid, S. Anantaguna, Agam Wispi, Kusni Sulang, B.A. Simandjuntak, Sugiarti Siswadi, Hadi S, dan Sobron Aidit. Pembicaraan pengarang-pengarang ini hanya sepintas-sepintas, sama sekali tidak mendalam.

Selanjutnya dibicarakan pengarang-pengarang lawan Lekra yang menekankan nafas keagamaan baik Kristen maupun Islam. Beberapa pengarang Kristen dan Katolik yang disebut sekilas ialah Soeparwata Wiraatamadja, Gerson Poyk, dan Fridolin Ukur, Dick Hartoko, M. Poppy Hutagalung, Andre Har-jana, Satyagraha Hurip, Bakdi Soemanto, J. Sijaranamual. Beberapa pengarang Islam yang disinggung sekilas ialah Djamil Suherman, M. Saribi Afn, delapan penyair dalam kumpulan sajak Manifestasi, A. A. Navis, Abdul Hadi WM, M. Abnar Romli, B. Jass, M. Jusa Biran, dan Mohammad Diponegoro. Dalam kaitan ini dibicarakan secara sekilas sajak-sajak yang secara tematis merupakan perlawan terhadap tirani politik.

Selanjutnya beberapa pengarang prosa yang dibicarakan adalah B. Soelarto, Bur Rasuanto, A. Bastari Asnin, Satyagraha Hurip, Ger-son Poyk, dan Poernawan Tjondronegoro; disinggung juga nama Umar Kayam, Danarto, dan Zulidahlan. Dalam pada itu, beberapa penyair yang dibicarakan adalah Taufik Ismail, Goenawan Mohamad, Saini KM, Sapardi Djoko Damono, Wing Kardjo, dan Budiman S. Hartojo. Secara sekilas disinggung pula pengarang wanita, yaitu Isma Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susy Aminah Asis, Bipsy Soenharjo, Toeti He-raty Noerhadi, Rita Oetoro, dan Titi Said. Disinggung sepintas juga aktivitas drama dan beberapa penulis nas-kah, yaitu Moh. Diponegoro, Saini K.M., B. Soelarto, dan Arifin C Noor. Selanjutnya disinggung sekilas beberapa penulis esei, yang semuanya penulis tahun 1960-an. Keadaan, aktivitas, dan situasi sastra dan kepengarangan tahun 1970-an sampai dengan tahun 1980-an (saat buku ini diterbitkan kembali) tidak dibicarakan sama sekali.

Masih akan dilanjutkan, entah kapan….

#ndlemingpagi

No Comments

Leave a Reply