Search and Hit Enter

PENULISAN SEJARAH SASTRA (3)

Apa pun keadaannya – baik kelebihan maupun kekurangannya atau baik teori maupun metodologinya – kita meyakini ada usaha penulisan sejarah sastra Indonesia. Secara awam kita meyakini ada historiografi sastra Indonesia. Bahkan kadang dengan keyakinan membabi buta, dalam arti mencampurkan begitu saja antara peristiwa sejarah, fakta sejarah, sumber sejarah, dan historiografi sastra Indonesia.

Pada umumnya kita berpendapat bahwa penulisan sejarah sastra Indonesia sudah relatif lama dipikirkan dan dikerjakan oleh para pakar sastra atau guru sastra Indonesia. Hasilnya yang berupa historiografi sastra Indonesia sudah relatif banyak. Beberapa yang kita anggap penting adalah (1) Kesusastraan Baru Indonesia oleh Zuber Usman, (2) Pokok dan Tokoh dalam Kesu-sastraan Indonesia I dan II (1959) oleh A. Teeuw yang kemudian diperbaiki dengan judul Sastra Baru Indonesia I dan II (1982), (3) Sejarah Sastra Indonesia Modern (1964) oleh Bakri Siregar, (4) Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia oleh Ajib Rosidi, (5) Sastra Indonesia Sebelum Perang oleh Sapardi Djoko Damono, (6) Lintasan Sastra Indonesia Modern oleh Jakob Sumardjo.

Secara aspektual dan berupa sejarah kecil dapat disebut tulisan-tulisan HB Jassin tentang berbagai aspek sejarah sastra Indonesia, misalnya Kesusastraan Indone-sia Zaman Jepang, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45, dan Angkatan 66. Di samping itu, masih ada buku-buku sejarah sastra Indonesia yang digunakan di sekolah-sekolah yang umumnya merupakan perpanjangan pikiran, gagasan, dan pandangan yang sudah ada. Tulisan-tulisan ringkas dan lepas tentang berbagai segi sejarah sastra Indonesia, misalnya tulisan Umar Junus, Nugroho Notosusanto, dan Korrie Layun Rampan, serta Abdul Hadi W.M. juga bi-sa dikatakan sebagai sosok historiografi sastra Indonesia walaupun aspektual.

Tak berarti penulisan sejarah sastra Indonesia sudah tuntas. Dalam banyak hal justru masih mengundang dan mengandung masalah rumit, rawan, dan pelik. Historiografi sastra Indonesia yang ada ternyata belum memuaskan banyak pihak sehingga timbul perdebatan dan ko-mentar ketidakpuasan. Misalnya, banyak pihak mempersoalkan dan menyatakan ketidakpuasan atas ihwal konsepsi sastra Indonesia, rentangan isi dan waktu sejarah sas-tra Indonesia, dan ruang lingkup atau jangkauan bahan sejarah sastra Indonesia.

Demikian juga masalah pendekatan dan teori serta metode penulisan sejarah sastra Indonesia. Bakri Siregar pernah menyatakan bahwa sejarah sastra Indonesia belum ditulis secara objektif dan konsisten. Pada awal 1980-an hal itu dipertegas oleh Ariel Heryanto bahwa penulisan sejarah termasuk sejarah sastra Indonesia tidak pernah objektif dan netral. Pada pengujung tahun 1980-an Goenawan Mohamad menyatakan bahwa sejarah sastra Indonesia merupakan perkembangan yang tidak pernah mengagetkan. Ditegaskannya, “Periodisasi yang dilakukan orang selama ini salah… juga membuat kontinuitas dalam sejarah sastra Indonesia tak terli-hat”. Akhirnya, dalam buku monumental,Teeuw berkesimpulan  bahwa ” … belum ada penulisan sejarah tentang sastra Indonesia modern yang sungguh ilmiah dan memuaskan dari segi teori sastra” serta “jalan ke sejarah sastra Indonesia modern masih jauh…”.

Sebab itu, kajian dan tinjauan ulang terhadap sejarahsastra Indonesia masih perlu dilakukan. Dikemukakan Teeuw bahwa sastra Indonesia masih banyak memerlukan kajian pendahuluan dan kajian bagian dalam rangka penulisan sejarah sastra Indonesia secara ilmiah dan memadai. Ariel Heryanto malah menyatakan perlunya perombakan penulisan sejarah sastra Indonesia. Arief Budiman pun menegaskan perlunya sejarah sastra Indonesia dikaji dan ditulis lagi. Sementara itu, pada awal 1980-an BakriSiregar menekankan perlunya reinterpretasi atau penafsiran kembali dan peninjauan kembali terhadap sejarah sastra Indone-sia karena historiografi sastra Indonesia yang ada sekarang belum objektif dan konsisten, masih dilandasi oleh rasa dengki dan cinta berlebihan terhadap satu angkatan, golongan atau kelompok.

Itu sebabnya, setidak-tidaknya perlu ada dua kajian utama harus dilakukan di dalam rangka penulisan sejarah sastra Indonesia yang memadai dan sesuai dengan zaman. Pertama, kajian terhadap sastra Indonesia sebagai bahan dan sumberpenulisan sejarah sastra Indonesia. Kedua, kajian terhadap historiografi sastra Indonesia untuk mengetahui seperti apakah wajah historiografi sastra Indonesia. Kajian terhadap sastra Indonesia sudah banyak dikerjakan oleh banyak ahli meskipun mungkin belum memuaskandalam rangka penulisan sejarah sastra. Paling tidak, bisa disimpulkan bahwa kajian terhadap sastra Indonesia sudah dikerjakan.

Sementara itu, kajian terhadap historiografi sastra Indonesia yang telah ada belum banyakdilakukan. Secupet ingatan saya, yang ada hanya komentar-komentar ringkas, sepintas, dan singkat. Kajian secara mendalam dan khusus terhadap historiografi sastra Indonesia yang telah ada tampaknya belum dilakukan sehingga belum diketahui secara jelas dan gamblang sosok historiografi sastra Indonesia yang telah ada dan kurang memuaskan banyak pihak itu. Itulah sebabnya, diperlukan sekali suatu kajian terhadap historiografi sastra Indonesia.

#ndlemingpagi

No Comments

Leave a Reply