Search and Hit Enter

PENULISAN SEJARAH SASTRA (1)

/1/
Banyak pakar sudah menjelaskan pengertian sejarah sebagai istilah keilmuan. Gottschalk (1985:27) bilang bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lampau makhluk manusia yang sudah terjadi. Sama dengan hal ini, Abdullah (1985:ixxiv) juga bilang bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lampau yang terikat oleh waktu, pelaku, dan tempat tertentu dan didasarkan atas fakta sejarah sebagai ujud pembuktian.

Sementara itu, Kartodirdjo (1992:14) menjelaskan bahwa istilah sejarah sering digunakan untuk menunjuk cerita sejarah, pengetahuan sejarah, gambaran sejarah, yang semuanya sebenarnya merupakan sejarah dalam pengertian subjektif. Dikatakan demikian sebab sejarah memuat unsurunsur dan isi subjek (pengarang atau penulis). Baik pengetahuan maupun gambaran sejarah merupakan hasil penggambaran atau rekonstruksi yang dilakukan pengarang. Dengan demikian, dalam pengertian subjektif sejarah merupakan konstruk atau bangunan yang disusun oleh pengarang atau penulis sebagai suatu uraian atau cerita yang menyatupadu.

Dalam pengertian objektif, kata Kartodirdjo (1992:15), sejarah menunjuk pada kejadian atau peristiwa, yaitu proses sejarah dalam aktualitasnya. Kejadian atau peristiwa itu hanya sekali terjadi, tidak dapat diulang atau terulang lagi. Karena itu, imbuh Gottschalk, totalitas kejadian atau peristiwa sukar diikuti dan dipahami. Bagi orang yang berkesempatan mengalami suatu kejadian atau peristiwa pun sebenarnya hanya dapat mengamati dan mengikuti sebagian dari totalitas kejadian sehingga tidak mungkin mempunyai gambaran umum seketika. Keseluruhan proses itu berlangsung terlepas dari subjek manapun; jadi, objektif dalam arti tidak memuat unsurunsur subjek. Proses kejadian yang bebas subjek inilah yang kemudian direkonstruksi berdasarkan faktafakta sejarah dan pembuktian sehingga terciptalah sejarah. Dengan demikian, dalam pengertian objektif sejarah adalah rekonstruksi faktafakta sejarah yang didasarkan atas pembuktianpembuktian teoretis dan metodologis.

Itu sebabnya, sejarah sastra merupakan sejarah tentang sastra, bukan sejarah berdasarkan sastra. Ringkasnya, sejarah sastra merupakan sebuah rekonstruksi hari lampau sastra yang berdasarkan fakta kejadian atau peristiwa sastra sebagai bahan pembuktian dan perenungan. Di sinilah Hartoko dan Rahmanto pernah menyatakan bahwa sejarah sastra merupakan penelitian diakronis (dari zaman ke zaman) mengenai sejumlah karya sastra baik dalam karya sendiri maupun kelompok karya. Lantas Wellek dan Werren (1989:43) menyatakan bahwa sejarah sastra merupakan sebuah rekonstruksi makna karya sastra yang didasari oleh kemampuan imajinasi dan ketinggian empati.

Jadi, dalam pengertian objektif sejarah sastra adalah rekonstruksi tentang hari lampau sastra yang didasarkan atas fakta sastra dan ditunjang oleh kemampuan imajinasi dan ketinggian empati. Fakta sastra di sini ibarat tembok, dan imajinasi dan empati merupakan semennya sehingga dapat dibangun sebuah gambaran mengenai hari lampau sastra.

/2/
Ada ketaksaan kedudukan sejarah sastra. Apakah sejarah sastra diletakkan dalam kerangka sejarah umum ataukah dalam kerangka pengajian sastra? Ketaksaan ini menimbulkan kesulitan penulisan sejarah sastra. Apakah penulisan sejarah sastra mengikuti prinsipprinsi ilmu sejarah umum atau mengikuti prinsip ilmu sastra saja? Apakah penulisan sejarah sastra perlu mengikuti keduaduanya, yaitu perpaduan ilmu sejarah umum dan ilmu sastra? Apakah sejarah sastra perlu ditulis dengan mengikuti ilmu sejarah sastra, padahal selama ini tidak berkembang ilmu sejarah sastra?

Jika sejarah sastra diletakkan dalam kerangka sejarah umum, tampaknya juga menjadi persoalan. Sebabnya, di dunia sejarah umum dan di kalangan sejarahwan belum pernah dibicarakan dan dikembangkan hal-ihwal sejarah sastra, selain sejarah politik, sejarah sosial, sejarah intelektual, dan sejarah kebudayaan. Apakah sejarah sastra dimasukkan dalam sejarah intelektual atau sejarah kebudayaan? Dalam khazanah sejarah intelektual dan kebudayaan rupanya halihwal sejarah sastra juga belum disinggung. Kalau sejarah sastra dianggap sebagai salah satu bidang kajian sejarah umum, tampaknya masih perlu dikembangkan segisegi teoretis dan metodologisnya.

Akan tetapi, jika sejarah sastra dimasukkan dalam kerangka ilmu sastra atau pengajian sastra juga mengundang persoalan tersendiri. Selama ini dalam ilmu sastra atau pengajian sastra belum berkembang semacam ilmu sejarah sastra sehingga perangkat teoretis dan metodologis (penulisan) sejarah sastra tidak berkembang dengan baik. Dalam ilmu sastra pengajian sastra, pada umumnya sejarah sastra disangkutkan dengan teori sastra dan kritik sastra sehingga sejarah sastra amat bergantung pada teori sastra dan kritik sastra. Dalam konteks ini, Wellek dan Werren berpendapat bahwa sejarah sastra tidak bisa dilepaskan dari teori sastra dan kritik sastra; bahkan sejarah sastra kadangkadang disamakan dengan kritik sastra. Teeuw (1984) bahkan menyatakan bahwa sejarah sastra harus ditulis berdasarkan kerangka teori sastra tertentu sehingga terdapat sejarah sastra berdasarkan strukturalisme, terdapat sejarah sastra berdasarkan semiotika, dan lain-lain.

Berdasarkan hal tersebut kita memperoleh dua kesan pokok. Pertama, terdapat pandangan yang menempatkan sejarah sastra dalam kerangka sejarah umum sehingga tunduk pada ketentuan-ketentuan sejarah umum meskipun relatif belum mendapat perhatian semestinya dari sejarahwan. Kedua, terdapat pandangan yang menempatkan sejarah sastra dalam kerangka teori sastra dan sebagai salah satu pengajian sastra (di samping teori sastra dan kritik sastra) sehingga memiliki ketentuan sendiri yang perlu dipedomani meskipun pada kenyataannya sejarah sastra selalu di bawah bayang-bayang teori sastra dan kritik sastra. Jadi, setakat ini sejarah sastra (i) dipandang sebagai salah satu bidang kajian sejarah umum, dan (ii) dipandang sebagai salah satu bidang kajian sastra.

/3/
Apa sajakah yang terdapat dan perlu dimasukkan ke dalam sejarah sastra? Pertanyaan ini berhubungan dengan ihwal jangkauan atau ruang lingkup sejarah sastra. Luxemburg dkk. pernah menyatakan, dalam sejarah sastra dibahas periode kesusastraan, aliran jenis, pengarang, dan dewasa ini juga reaksi dari pihak pembasastra. Semua ini dapat dihubungkan dengan perkembangan di bidang luar sastra, misalnya perkembangan sosial dan filsafat. Karena itu, bagi Luxemburg, sejarah sastra menjangkau penulisan perkembangan sastra dalam arus sejarah dan di dalam konteksnya.

Berkaitan dengan itu, Hartoko dan Rahmanto menyatakan bahwa sejarah sastra merupakan penelitian historis mengenai sejumlah karya sastra dengan berbagai cara. Dapat diteliti, misalnya, evolusi dalam karyakarya seorang pengarang tertentu (gaya, motif, dan lainlain) atau mengenai sekelompok pengarang pada periode tertentu (aliran Pujangga Baru misalnya) atau mengenai suatu jenis sastra (sejarah soneta misalnya). Hal ini menunjukkan bahwa sejarah sastra menjangkau bahanbahan karya sastra beserta konteks sosial, budaya, dan teoretisfilosofisnya. Terkait hal ini, Teeuw pernahmenyarankan agar sejarah sastra berisi pokok dan tokoh secara berimbang.

Sebenarnya tidak ada kesepakatan tentang apa yang dijangkau oleh sejarah sastra karena jangkauan sejarah sastra selalu berubah. Sebabnya, teori sastra dan pandangan-pandangan filosofis yang memengaruhinya selalu silih berganti. Misalnya, sejarah sastra Abad XIX banyak berisi biografi pengarang karena pengaruh filsafat positivisme. Formalisme, strukturalisme, semiotika, dan estetika resepsi juga memengaruhi jangkauan sejarah sastra. Dengan demikian, jangkaun sejarah sastra selalu berubah karena pengaruh faktor terkait sehingga historiografi sastra pun berbedabeda jangkauannya.

/4/
@ Tradisi Penulisan Sejarah Sastra
Meskipun tidak berkembang perangkat teoretis dan metodologisnya, penulisan sejarah sastra sudah lama dikerjakan oleh orang. Penulisan sejarah sastra malahan semarak pada Abad XIX Dalam Abad XIX ini penelitian-penelitian sejarah sastra banyak dikerjakan. Meskipun demikian, perhatian pada pengembangan teori dan metodologi penulisan sejarah tidak banyak berkembang karena penelitian sejarah sastra pada waktu itu lebih banyak didorong oleh filsafat positivisme dan aliran romantisme.
Walaupun sempat mengalami masa surut, penulisan sejarah sastra tetap semarak pada Abad XX. Kesemarakan ini disebabkan oleh dorongan teoriteori sastra yang banyak bermunculan pada Abad XX ini. Formalisme, strukturalisme, semiotika, estetika resepsi telah mendorong perubahanperubahan dan memberikan dinamika penulisan sejarah sastra. Setakat ini penulisan sejarah sastra terus dikerjakan oleh pakar meskipun tidak diperhatikan secara memadai. Perhatian para pakar setakat ini lebih tercurah pada teori sastra dan kritik sastra.

Penulisan sejarah sastra Indonesia juga sudah relatif lama dikerjakan. Pada tahun 1950-an sudah terjadi perbincangan tentang penulisan sejarah sastra Indonesia dan usahausaha penulisan sejarah sastra Indonesia. Sejak dasawarsa 1950an sudah dihasilkan dan disebarluaskan pelbagai buku historiografi sastra Indonesia meskipun tidak ditulis berdasarkan teori dan metodologi yang memadai dan cocok-gayut. Penulisan sejarah sastra Indonesia masih dilakukan sampai sekarang.

Akan halnya penulisan sejarah sastra Indonesia sebenarnya dapat dikatakan dibengkalaikan. Dewasa ini yang semarak diperbincangkan dan ditulis oleh pakar sastra ialah kritik sastra dan teori sastra (khas) Indonesia. Selain itu, hinggasekarang belum muncul suatu historiografi sastra Indonesia yang membawa nafas baru yang menampung perkembangan sastra Indonesia yang demikian pesat dewasa ini. Tidak heran,sejarah sastra Indonesia merupakan sejarah yang terputus-putus dan tidak mengagetkan. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi penulisan sejarah sastra Indonesia belum berkembang dalam dunia sastra Indonesia. Penulisan sejarah sastra Indonesia ibarat anak tiri di dalam gegap gempita perbincangan teori dan kritik sastra Indonesia.

@ Pendekatan (Penulisan) Sejarah Sastra
Dalam penulisan sejarah sastra terdapat berbagai pendekatan yang pada umumnyadigunakan. Dalam buku monumentalnya, Teeuw menyebut empat macam pendekatan penulisan sejarah sastra, (i) pendekatan yang memasukkan sejarah sastra sebagai bagian sejarah umum, (ii) pendekatan yang mengambil kerangka karya atau tokoh agung atau gabungan keduanya, (iii) pendekatan yang memusatkan perhatian pada motif atau tema yang terdapat dalam karya sastra sepanjang zaman, dan (iv) pendekatan yang menggunakan pengaruh asing sebagai kriteria untuk pembabakan sejarah sastra. Pendekatanpendekatan ini memiliki varian.

Pada pendekatan pertama sering sejarah sastra ditaklukkan pada sejarah umum sehingga karya sastra dan penulisnya ditempatkan dalam rangka yang disediakan ilmu sejarah umum. Salah satu varian pendekatan ini yang cukup menonjol mempergunakan kerangka universal sejarah kebudayaan, yang ternyata hanya sejarah kebudayaan Eropa, sehingga sastra dibagi ke dalam babakan waktu menurut gambaran sejarah kebudayaan Barat, misalnya dengan membedakan sastra Renaisans, Barok, Klasikisme, Rasionalisme, Romantik, dan seterusnya. Pendekatan semacam ini, tentu saja, biasanya melampaui batas bahasa dan bangsa. Akan tetapi, pada Abad XIX sejarah makin bersifat nasional akibat munculnya nasionalisme sebagai ide ologi sehingga muncul pula sejarah sastra yang nasional sifatnya. Dalam hal ini kerangka kebudayaan umum dapat dipakai untuk membingkai wujud nasional.

Pendekatan keduamencoba mengambil kerangka karya atau tokoh agung atau gabungan keduanya. Contoh penggunaan pendekatan ini dapat dilihat dalam buku Kalangwankarya Zoetmulder) terutama bagian utamanya tentang sigi kakawin Jawa Kuno. Pendekatan ini termasuk praktis dan mudah untuk tujuan pengajaran sastra. Akan tetapi, tampaknya belum dapat dikatakan sebagai sejarah sastra yang sesuai dengan sifat khususnya objek penelitiannya. Penulisan sejarah sastra dengan pendekatan ini belum dapat disebut penulisan sejarah sastra yang sungguhsungguh;hanya dapat disebut sebagai kerangka pendahuluan hipotetis urutan karya atau tokoh agung. Apalagi kalau yang diambil sebagai patokan utama biografi penulis, bukan isi atau struktur karya, sebab biografi pelis tidak dapat dijadikan pegangan sejarah sastra.

Pendekatan ketiga sangat populer pada Abad XIX dan banyak membawa hasil gilanggemilang disebut sejarah bahanbahan dengan penulusuran sumbersumber. Dalam bahasa Jerman pendekatan ini dikenal dengan nama Stoffgeschichte. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada tema dan motif karya sastra. Dalam penelitian dan sejarah sastra yang menggunakan pendekatan ini ditelusuri asalusul, perkembangan, dan pemanfaatan anasir tertentu, misalnya tema Panji, Oedipus, Malin Kundang, dan lainlain dalam karyakarya sastra yang mengandung anasir itu, yang sering melewati batasbatas bahasa dan kebudayaan. Penelitian dengan mempergunakan pendekatan ini banyak membuahkan hasil gemilang. Akan tetapi, dari segi sejarah sastra pendekatan ini sering memperlihatkan kelemahan utama, yaitu bahwa tema dan motif dilepaskan dari karya yang bersangkutan sehingga sejarah sastra sebagai gejala yang bermakna menghilang di belakang sejarah tema dan motif.

Pada pendekatan keempat, yaitu pendekatan yang menggunakan pengaruh asing sebagai kriteria untuk pembabakan sejarah sastra, asalusul karya sastra memperoleh perhatian utama daripada struktur dan fungsinya. Pengaruhpengaruh asing dijadikan dasar untuk melakukan pembabakan waktu sejarah sastra. Sebagai contoh, karya Winstedt mengenai sastra Melayu berjudul A History of Malay Literature menggunakan pembabakan waktu sebagai berikut: Malay Folk Literature, The Hindu Period, A Javanese Element, From Hinduism to Islam, The Coming of Islam and Islamic Literature. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh asing menjadi pusat perhatian daripada fungsi dan struktur karya. Hal ini juga menunjukkan bahwa yang ditulis adalah sejarah pengaruh asing terhadap sastra, bukan sejarah sastra.

Keempat pendekatan tersebut, bagi A Teeuw, belum memuaskan. Bahkan disebutnya belum mampu mendasari penulisan sejarah sastra yang ilmiah dan memuakan dari segi teori sastra. Itu sebabnya, dalam bagian akhir buku monumentalnya Teeuw mengusulkan pendekatan semiotika untuk penulisan sejarah sastra. Dengan pendekatan semiotika, dalam kaitannya dengan penulisan sejarah sastra Indonesia, setiap penulisan sejarah sastra harus mempertimbangkan (i) dinamika sistem sastra, (ii) pengaruh timbal balik antara jenis sastra, (iii) intertekstualitas karya individual, (iv) kaitan sejarah umum dan sejarah sastra, (v) penerimaan pembaca atas karya sastra, (vi) tautan sastra lisan dan sejarah sastra, dan (vii) tautan sejarah sastra Indonesia dan sejarah sastra dalam bahasa Nusantara.

#bersambungentah

No Comments

Leave a Reply