Search and Hit Enter

MENDEDAH YANG TERDALAM DARI SASTRA BERNAFASKAN TASAWUF (3)

Setiap usaha dedah atau kajian senantiasa sastra memerlukan topangan teori sastra dan metode kajian baik ditampilkan secara tersirat maupun tersurat. Pertanyaan kita: teori sastra dan metode kajian apakah yang cocok dan tepat atau paling tidak dapat dipakai untuk mendedah makna sastra yang spiritual-transendental baik sastra klasik maupun sastra modern? Apakah dapat digunakan teori-teori sastra yang sekarang berkembang di dunia modern dan diterima oleh sebagian besar kalangan sastra di dunia? Apakah dapat digunakan metode-metode kajian yang sekarang didaulat ilmiah yang didasarkan pada logika-hipotetika-verifikatif atau nalar Cartesian-Baconian-Newtonian dan notabene banyak dikuasai oleh nalar kuantifikasi dan komputasi?

Menurut hemat saya, teori-teori sastra dan metode-metode kajian yang sekarang menjadi arus utama dalam dunia sastra dan dunia kajian tidak selalu cukup atau mencukupi untuk mendedah makna sastra dan transendental dan spiritual. Formalisme, dekonstruksi, feminis, fantasi, dan strukturalisme yang dianggap sebagai grand theory dan (di)berlaku(kan) universal tidak sepenuhnya memadai untuk mendedah makna sastra yang spiritual-transendental karena teori-teori tersebut memang tidak memusatkan perhatian pada makna spiritual atau transendental. Demikian juga metode-metode kajian kualitatif yang positivistis dan empiristis tidak tepat dipakai.

Hal tersebut karena tiga hal. Pertama, makna sastra merupakan objek fenomenologis, hermeneutis atau interpretatif, penghayatan, dan pemahaman, bukan objek positivistis, empiristis, dan penjelasan. Kedua, makna sastra merupakan gejala ideografis dan hermeneutis, bukan nomologis atau nomothetis. Selanjutnya, ketiga, teori-teori sastra dan metode-metode kajian tersebut mengabdi atau memfokuskan pada bentuk sastra, makna sastra [spiritual atau transendental] kurang memperoleh perhatian dan porsi yang memadai.

Teori-teori sastra yang seyogyanya digunakan untuk mendedah makna sastramyang spiritual-transendental ialah teori yang memberi tempat pada penghayatan dan intuisi, penafsiran dan emosi, bukan semata-mata pemahaman dan intelek. Ini karena makna sastra yang transendental dan spiritual tercipta berkat peranan penghayatan dan intuisi atas kehidupan, penafsiran dan emosi, mengatasi pemahaman dan intelek. Berhubung penghayatan dan intuisi, penafsiran dan emosi atas kehidupan selalu terikat kebudayaan dan peradaban tertentu, maka teori kecil-kecil yang kontekstual lebih memadai dipakai daripada grand theory yang didaulat berlaku universal. Hal ini dapat digali dari bumi tempat karya sastra tumbuh dan berkembang. Pada tahap pertama barangkali perlu dikembangkan konstruks-konstruks teoretis yang mampu menampung kerja penghayatan dan intuisi peneliti atau penafsiran dan emosi peneliti sewaktu meneliti makna transendental dan spiritual suatu karya sastra.

Di samping itu, metode kajian yang dipakai sebaiknya metode kualitatif yang selaras dengan teori kecil yang kontekstual. Metode tematik, hermeunetika keruhanian (bukan keraguan), arkeologi pengetahuan, metode sosiologi pengetahuan, dan etnopuitika tampaknya bisa dicoba untuk kajian makna sastra yang transendental dan spiritual. Menurut hemat saya, metode mawdhui’iy untuk tafsir Al-Qur’an bisa juga dicoba untuk mendedah makna sastra yang transendental dan spiritual ini sebab kita tahu metode mawdhui’iy. Demikian juga metode-metode ta’will ada baiknya dicoba karena makna transendental dan spiritual sering dibungkus oleh perlambangan dan metafora, dan kita tahu bahwa metode ta’will berupaya menafsirkan qur’an secara simbolis dan metaforis.

Selanjutnya, teori atau metode etnopuitika perlu diarusutamakan dalam kajian sastra terutama sastra Inddonesia yang menampakkan keragaman lokal yang luar biasa. Kedalaman dan kepekatan wajah spiritual, mistis atau tasawuf dalam sastra Indonesia yang bersukma lokalitas atau yang memiliki sensibilitas lokal kuat dapat didedah atau digali dengan etnopuitika karena etnopuitika tak hanya terkesima pada bentuk sastra, tetapi juga entitas makna sastra mulai entitas filosofis sampai dengan entitas spiritual.Buku Kadarisman bertajuk Mengurai Bahasa, Menyibak Budaya (2010) yang mendemonstrasikan dengan canggih dan jelas tentang keandalan etnopuitika dapat dijadikan titian memasuki kajian-kajian etnopuitika terhadap sastra bernafaskan tasawuf.

#Ndlemingpagi

No Comments

Leave a Reply