Search and Hit Enter

PURI ROSENAU

(Tulisan ini kudedikasikan kepada Iksaka Banu)

Menjelang berangkat ke Belanda, Banu berpesan serius: “Tolong ambil foto detail interior Puri Rosenau. Raden Saleh pernah tinggal di puri itu, berpesta dan berdansa dengan para bangsawan Jerman.”

Saat akhirnya aku tiba di sana pada Kamis 24 Agustus 2017, dengan mengendap-endap melewati tangga samping dari tepi hutan… justru dilumuri rasa jeri. Aku menyentuh dinding bangunan itu. Memotret dengan cemas, karena aku melakukannya tanpa izin. Aku nekad saja, mengingat ini sebuah kesempatan langka. Belum tentu secara legal diperbolehkan. Tujuanku jauh-jauh ke Coburg hanya untuk melihat Schloss Rosenau dari dekat dan beberapa saat menjadi bagian darinya.

Aku mengelilingi gedung yang memang tidak sebesar yang kubayangkan semula. Ia sungguh kastil yang wajar untuk sebuah keluarga bangsawan tanpa banyak kerabat ikut tinggal di dalamnya. Aku mencari jarak yang pantas untuk mengambil gambar, entah itu tampak depan atau justru belakang, dengan menginjak rerumputan. Yang membatasi bukit rumput dan halaman puri adalah selarik taman bunga mawar merah dengan ribuan kelopak sedang mekar.

Ada benteng yang menempel gedung, setelah masuk di dalamnya, itu merupakan tempat tangga putar ke lantai dua, dan mungkin ke atap. Di bagian terpisah ada juga benteng berikut semacam pos, kukira itulah benteng (seperti bentuk benteng pada permainan catur) penjagaan. Tetapi sunyi-sunyi saja. Aku tidak menghabiskan waktu hanya untuk tertegun takjub oleh kenyataan ini. Aku memotret dengan lekas semua bagian yang memungkinkan. Di taman depan (atau di belakang puri) terdapat air mancur dan dinding yang membatasi halaman puri dengan (mungkin) tebing yang rimbun oleh pepohonan. Saat aku melangkah dimik-dimik ke arah sana, kudengar bunyi jendela dibuka. Dan… di lantai dua tampak figur perempuan lebih separuh baya memandangku.

Darahku tersirap. Secepat yang kumampu aku berbalik badan, sehingga hanya punggungku yang akan tampak olehnya. Selekas yang aku bisa, kumasukkan kamera DSLR ke dalam wadahnya dan melekatkan di dada agar tak terlihat olehnya. Ya ampun… aku telah melakukan pelanggaran! (1) Memasuki puri milik Frederick II (Franz Friedrich Anton) tidak lewat jalan yang benar (2) Memotret tanpa izin.

Sebelum berangkat, aku tahu, bahwa tidak diperkenankan mengambil gambar bagian dalam kecuali mendapat izin resmi. Untuk tujuan jurnalisme atau yang lain, disarankan mengirim email 10 hari sebelumnya. Sudah mustahil kulakukan. Jadi kukirim saja email tetapi ya tak mungkin mendapatkan jawaban cepat karena aku berangkat keesokan harinya. Akhirnya aku mindhik-mindhik menuruni jalan ke luar gerbang sembari memasang kewaspadaan pada seluruh saraf punggung, siapa tahu ada peluru dari senapan berperedam terlepas dari jendela itu.

Setelah melewati gerbang, aku melihat beberapa bangunan dengan satu-dua mobil parkir. Ah, sudah kembali memasuki tahun 2017, kukira. Kudengar bunyi pemotong rumput, petunjuk peradaban elektrik. Sebuah bangunan melebar dengan jendela2 kaca, pastilah itu terbuka untuk umum sebab ada sejumlah meja bundar dengan kursi-kursi yang masih tertangkup. Oh… tampaknya masih terlalu pagi meski sudah lewat pukul 9.

Kumasuki bangunan yang kuduga kafe dan ternyata lebih cocok sebagai toko souvenir. Luas. Tertempel sejumlah poster yang menetap dan juga yang bersifat programa. Bertumpuk-tumpuk brosur dari berbagai istana di Jerman. Tentu, terpamer souvenir yang dimulai dari kartu pos, mug, pena, buku, dan aneka benda keramik yang patut dibeli dengan harga lumayan. Maka aku mengobrol dengan satu-satunya perempuan penjaga yang merangkap kasir. Kusebutkan tujuanku. Dia bilang jam 10 Schloss Rosenau baru dibuka. Bisa masuk dengan membeli tiket 4 Euro. Okelah tak terlalu mahal. Dia mengatakan tak bisa personal, jadi mesti ada rombongan karena tersedia guide yang mungkin ingin efisien. Alhamdulillah ada 3 pasang orang tua (sebaya denganku) yang ingin masuk ke sana. Maka kami ber-7 menjadi “kloter” paling pagi.

Waktu kubilang mau beli beberapa cindera mata, sang petugas menyarankan sesudah tur saja daripada berat membawa-bawa barang. Karena aku nggak mudeng bahasa Jerman, si ibu menelepon ke puri agar menyediakan teks Inggris buatku.

Kami bertujuh dipersilakan masuk (ternyata) lewat pintu samping gedung, bukan depan atau belakang. Begitu di dalam, ransel dan kamera harus masuk loker, tak boleh memotret. Alamak! Jadi… maafkan aku, Banu, sungguh tak berdaya. Jadi kuambil buku dan pena. Aku akan menggambar dan mencatat. Masalahnya, hanya ada 7 orang, tak mungkin nyolong2 jepret pakai HP. Urusan pelanggaran di luar negeri jauh lebih membuat khawatir. Kepadaku memang diberikan 6 halaman teks berbahasa Inggris. Itu pun aku minta izin untuk dicopy, untungnya boleh.

Ada seorang perempuan dalam rombongan yang menebak aku dari Amerika Latin. Kujelaskan bahwa aku datang dari Indonesia, berkunjung ke puri ini untuk bahan menulis tentang seorang pelukis besar yang pernah tinggal di sini beberapa waktu di abad 19.

Begitulah, kami pertama kali diajak ke Ruang Marmer (Marmorsaal, Marble Hall). Pak Guide ngomong dengan bahasa Hitler, aku membaca teks sekilas dan menggambar benda2 yang kuanggap penting. Tetap saja kalah cepat walau dalam setiap ruangan mungkin sekitar 10-15 menit, mas guide ngoceh. Apalagi, seluruh bagian ruangan didesain spesial: langit-langit, lantai, dan dindingnya. Luar biasa lagi: setiap ruangan memiliki gambar dan motif yang berbeda. Ampuuun! Pantas Raden Saleh tergiur habis-habisan. Sejak tahun 17 sekian, puri itu direnovasi dengan sentuhan Gothic.

Kami diminta mengenakan sandal kain yang disediakan karena khawatir sol sepatu akan menggores lantai kayu orisinal. Kudapati meja, kursi, tempat tidur, lampu gantung, tempat lilin, jendela, tiang, tempat penyimpan barang, perangkat minum, dan lukisan-lukisan yang dibuat pada sekian abad silam. Ada surat dari Leopold pada abad 18. Apakah ada lukisan Raden Saleh? Ternyata ada dan baru kuketahui melalui bukunya.

Dari jendela2 yang disingkap gordennya, kami dapat melihat bentangan alam di luar. Taman, air mancur, lembah, pepohonan, langit biru, ah… mungkin dulu Madam Victoria pernah mengintai kedatangan para tamu undangan pesta turun dari kereta kuda.

Sesungguhnya aku merasa belum puas di dalam puri, tapi ruang demi ruang sudah dijelaskan. Aku ingin selonjor, anguk-anguk di jendela, mendengarkan musik, minum anggur… tapi tak mungkin. Ada ruang resepsi, ruang tidur, ruang bayi, ruang gambar, ruang makan… paling luas memang ruang pualam itu, yang plafonnya menakjubkan. Tampaknya pesta dansa dan jamuan diselenggarakan di situ.

Saat kembali ke toko souvenir, barulah kutemukan buku tentang Schloss Rosenau berbahasa Jerman. Ini pasti akan menjadi oleh2 paling berharga buat Banu, pengganti gambarku yang awut2an. Soal bahasa dipikir belakangan saja. Selepas dari kompleks Rosenau yang luas (termasuk hutan, sungai, bangunan restoran, dan tempat parkir yang 1 kilometer sebelum puri), aku jalan kaki lagi menuju Stasiun Rodental. Hari masih siang, tapi aku tak ingin ambil risiko terlalu sore tiba di Bamberg. Bisku menunggu di sana.

Eh, di saat mau mengambil kembali ransel dan kamera di loker, aku berjumpa dengan seorang wanita yang kuduga memergokiku dari lubang tingkap lantai dua. Tapi aku tak berani memandang matanya, dia pun tampaknya tidak mengadukan perbuatanku. Ia segera masuk ke semacam ruangan gudang.

Nah, Mbah Raden Saleh, dikau berbulan-bulan di tempat indah ini, sedangkan aku hanya sekitar dua jam.

No Comments

Leave a Reply