Search and Hit Enter

Dosa Dawkins dan Kelimpahan Iman

(Tanggapan untuk F. Budi Hardiman. Bagian pertama dari dua tulisan)

Apresiasi perlu disampaikan kepada F Budi Hardiman (FBH) untuk artikel panjang “Dawkins dan Kemelaratan Ateisme”. Artikel ini dengan baik merngupas buku lama Richard Dawkins “The God Delusions”, terbit 2006. Ia cermat dan jernih memilih poin-poin penting argumen Dawkins yang laris terjual lebih dati tiga juta kopi. Resensi FBH menunjukkan “kelimpahan imannya” yang begitu besar dalam mengapresiasi pemikiran Dawkins.

Bagi yang sudah membaca buku Dawkins, empat belas tahun lalu ketika baru terbit, mencermati artikel FBH serasa megalami “deja vu”. Muncul kembali nuansa nostalgik gairah berpikir, terpicu oleh argumen provokatif Dawkins yang jernih, jelas, dan jenaka. Ia mengusik keyakinan dogmatis agama, menyingkirkan irasionalitas, dan mengajak berpikir rasional. Tema lama yang menjadi menarik pasca tragedi 9/11 serangan teroris berlatar fanatisme agama.

Dawkins mengajukan “teori” tentang Tuhan, menguji  karakteristik Tuhan versi agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam). Ia membongkar konsep “delusional” adanya sang pencipta dan menunjukkan praktek buruk fanatisme agama. Memaparkan narasi historis dan argumen logis. Buku “The God Delusions” mengajak pembaca untuk mengevaluasi keyakinan pada Tuhan sekaligus menawarkan atheisme sebagai alternatif paradigma. Mengajak mengapresiasi keagungan alam semesta tanpa delusi keyakinan.

Soal delusi Tuhan, Dawkins mengajukan “tujuh spektrum kemungkinan”.  Sebuah gradasi yang berujung pada dua kubu ekstrim: sangat yakin atau sangat atheis. Tujuh gradasi keyakinan dan ketidakyakinan itu dirinci sebagai berikut:
1. Sangat yakin: Tahu Tuhan ada dan hidup untuk mengabdi pada-Nya
2. De-facto Yakin: Sangat yakin Tuhan ada dan hidup di jalan Tuhan.
3. Cukup yakin: Tidak terlalu pasti, tapi cenderung percaya adanya Tuhan.
4. Agnostik: Ada atau tidaknya Tuhan sama-sama mungkin, tak perlu dipikirkan.
5. Atheis ragu: Tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak, memilih skeptis.
6. De-facto atheis: Mungkin saja ada, tapi hidup dengan asumsi Tuhan tidak ada.
7. Sangat atheis: Yakin 100 persen, Tuhan tidak ada.

Dari “tujuh spektrum kemungkinan” yang ia buat itu, Dawkins mengategorikan dirinya pada spektrum keenam, de-facto atheis. “Saya ada di spektrum keenam. Bukan karena saya yakin Tuhan pasti tidak ada, saya tahu karena saya tidak tahu.”

Dengan tujuh spektrum  itu, Dawkins ingin menyatakan kompleksitas paradigma keyakinan atau ketidakyakinan. Artinya, meskipun di kenal sebagai salah satu pengusung dan juru bicara “new atheism” yang vokal, argumen Dawkins dalam soal delusi Tuhan cukup bernuansa. Ia tidak berpikir biner.

FBH mengupas “The God Delusions” dengan menggunakan pendekatan biner: baik atau buruk, beriman atau atheis. Pada separuh bagian awal tulisan, FBH mengapresiasi pemikiran Dawkins, ia bahkan menganjurkan agar buku ini dibaca para rohaniawan. Namun separuh bagian akhir tulisan, ia mengecam Dawkins. FBH memainkan narasi “Dr. Jeckyli and Mr. Hide” dalam memahami Dawkins. Ia terbelah antara memahami Dawkins yang baik atau Dawkin yang jahat.

Resensi FBH memang terkesan “berimbang,” secara hitam putih. Namun, berpikir biner, protagonis vs antagonis, ala plot skenario film Hollywood jelas tidak memadai untuk mengupas satu buku yang dimaksudkan untuk mengajak berpikir serius. Berpikir biner lazim dipakai untuk memancing kontradiksi, mengajak memihak, atau menebar sentimen. Itu sebabnya, judul tulisan yang dipilih bernada insinuatif: “Dawkins dan Kemelaratan Ateisme”.

Dawkins, dalam alur logika FBH, mendadak “melarat” hanya karena sebagai saintis dia adalah atheis. FBH Memvonis: “empirisme sains tidak bisa dijadikan prinsip hidup yang jauh lebih kaya.” Bagi FBH, ketidakmauan Dawkins melihat dunia dari sisi non-empiris, dan memilih menjadi atheis, membuat Dawkins, “tidak lagi bersikap sebagai seorang ilmuwan, melainkan sebagai seorang pembela agama yang menganggap keyakinan-keyakinan lain omong kosong.”

FBH menegaskan di paragraf akhir tulisannya, secara dramatik menuduh Dawkins: “Sama seperti fundamentalis agama, dia tidak ingin mencoba melihat dengan cara lain karena memang tidak punya cara lain selain mereduksi kompleksitas dunia ke model ketatnya. Itulah kemelaratan ateismenya.”

Ada dua kekacauan logika FBH dalam paragraf terakhir tulisannya yang over-dramatik ini: (1) Saintis yang “makmur” adalah yang tebal imannya, saintis atheis pasti “melarat”; (2) Karena atheis, Dawkins tidak bersikap ilmuwan, melainkan pembela keyakinan. Dua kekacauan logika ini menjadi kesimpulan tulisan, setelah ia memaparkan tujuh poin argumen Dawkins yang ia anggap lemah dan “berantakan”.

Tujuh poin kelemahan argumen Dawkins, versi FBH ini, segera mengingatkan saya pada jargon agama Kristen: “The seven deadly sins.” Tujuh dosa utama kebiasaan buruk manusia (“capital vice, cardinal sins”), yaitu: sombong, serakah, amarah, dengki, nafsu, rakus, dan malas.

Bukan satu kebetulan rasanya jika FBH memilih tujuh poin, sebuah simbolik yang kuat perlunya memerangi kejahatan dan dosa kaum atheis. Apakah ini sejenis panggilan untuk “perang salib” (crusade) kah? Tentu bukan, karena perang salib, kita tahu, adalah untuk memerangi agama lain. Bukan untuk berargumen dengan orang yang mempertanyakan agama.

Tulisan ini akan fokus membahas tujuh poin, “The Seven Deadly Sins”, yang diuraikan FBH untuk memvonis “kemelaratan” dan “sikap ketidak-ilmuwanan” Dawkins. Menjadi semacam pledoi, agar vonis bernuansa “judgement day” pada Dawkins itu bisa divindikasi dan penilaian dikembalikan secara proporsional dan rasional. Khususnya agar argumen tetap berada di jalur pemikiran sains, sekurangnya filsafat, dan bukan karena sentimen dogmatis keagamaan.

Pertama, Demarkasi NOMA

Menurut FBH, Dawkins telah “menerjang” NOMA (non overlapping magisteria), melanggar dunia makna subyektif dengan kaidah sains yang meneliti dunia obyektif. Bagi FBH, demarkasi epistemis itu “real” sehingga, terjangan Dawkins adalah bukti sikap reduksionistis-nya. Ateisme Dawkins adalah interpretasi miskin makna untuk bisa bersaing dengan agama yang kaya makna. Dawkins dianggap oleh FBH “tidak mampu berpikir metafisis” karena berani melawan argumen theo-filosofis Thomas Aquinas dan Anselmus.

Logika FBH menafsirkan NOMA sebagai “pembatas real” ini bisa dianalogikan dengan “Dinding Donald Trump”. Trump secara naif mengira bisa mencegah warga Meksiko memasuki wilayah Amerika dengan membangun dinding. NOMA yang dirumuskan Stephen Jay Gould, alih-alih dipahami harfiah sebagai dinding pemisah, sebaiknya dilihat sebagai upaya diplomatis untuk berempati pada kerisauan komunitas religius pada kemajuan dunia sains. NOMA adalah sopan santun epistemis; bukan sebuah batas nyata yang memisahkan wilayah agama dan sains.

Dalam realitas, penyelidikan sains selalu bersinggungan dengan dunia makna subyektif. Sains lebih dari sekadar formula teori atau persamaan matematis. Sains adalah keterpukauan untuk memahami bintang di langit, senja di pelabuhan, hembusan angin rerumputan, deburan ombak lautan, kepakan sayap Colibri, denyutan detak jantung, aliran adrenalin, dan segala gerak kehidupan dan alam semesta.

Sains adalah rasa ingin tahu untuk mengungkap misteri, ini yang membuat sains kaya imajinasi. Beda dengan agama yang hanya takjub dan berserah pada misteri, sains ingin mengungkap dan mendapat penjelasan juga maknanya. NOMA bukan dinding api suci metafis atau spiritual  yang akan bisa membatasi laju penyelidikan sains.

Kedua, Reduksionisme Sains.

FBH menganggap Dawkins, dan paradigma sains, bersifat reduksionis. Menurutnya,  agama Abrahamistik telah mengalami institusionalisasi dan rasionalisasi yang kompleks sehingga tidak dapat dijelaskan dengan realitas biologis. Dawkins dalam pemahaman FBH mirip Freud, dalam menjelaskan asal-usul agama pada totemisme tribal, dengan contoh munculnya Cargo Cult di Vanuatu. FBH berargumen, meskipun ada keserupaan, harapan Kristiani akan kedatangan Yesus tidak dapat disejajarkan dengan penduduk Vanuatu yang takjub dengan pesawat dan munculnya sang pilot. “Analisis seperti itu, jika bukan candaan, adalah sebuah kekeliruan,” tulisnya.

Boleh jadi penjelasan Freud dan Dawkins soal asal muasal kultus agama becanda, atau bahkan keliru. Namun bagaimana kita tahu itu “keliru” jika tidak ada penjelasan lain yang lebih otentik, logis dan valid sebagai argumen. Kita sulit mencari eviden, atas satu-satunya klaim penjelasan munculnya agama, yaitu  “pewahyuan”, sebagaimana tertulis dalam kitab suci.

Dalam perspektif agama Abrahamik, Tuhan menurunkan kitab suci sebagai sumber pengetahuan yang “absolut kebenarannya”. Namun kita tahu kitab suci bukanlah sumber pengetahuan. Banyak hal elementer yang tidak dijelaskan di kitab suci. Terkait geografi misalnya, kitab suci hanya menjelaskan tingkah polah manusia yang tinggal di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

Kitab suci tidak sedikitpun menyinggung dan tidak peduli dengan peristiwa atau problem manusia yang tinggal di benua Amerika, Australia, atau kepulauan Pasifik . Kitab suci hanya fokus mengamati dan mengulas tingkah polah orang di kawasan Timur Tengah, keturunan bangsa Semit, Yahudi, Filistin, Arab dan sekitarnya. Jadi ilustrasi Cargo Cult di Vanuatu, untuk menjelaskan asal-usul agama  cukup logis sebagai alternatif di luar penjelasan dogmatis-metafisis.

Penjelasan sains sering dinisbikan secara peyoratif sebagai “reduksionis”. Namun bukankah pengetahuan yang valid adalah yang mampu menjelaskan secara terinci dan detil. Sains memang harus reduksionis, untuk melawan asumsi, intuisi, atau klaim sembarangan yang dilontarkan orang yang merasa memiliki otoritas pengetahuan. Otoritas agama-agama Abrahamik juga penuh kontradiksi, antara satu dan lain agama, untuk bisa disebut sumber pengetahuan bagi seluruh umat manusia.

Dalih bahwa kitab suci bukan ensiklopedia, sehingga tidak perlu menyinggung atau merinci semua hal, memang betul. Itu sebabnya kitab suci tidak bisa dipakai sebagai rujukan pengetahuan. Lantas, apa yang bisa didapatkan dari kitab suci? Soal moralitas, tentu [selain soal sejarah bangsa Yahudi dan Arab]. Bagaimana harus beriman pada Tuhan, berbuat baik, dan menghindari keburukan. Segala doa dari bangun sampai mau tidur lengkap. Soal dosa terinci, soal haram dan halal cukup eksplisit. Soal alam kubur dan alam antah berantah cukup detil. Dalam hal-hal metafisis dan supranatural, kitab suci cukup reduksionis.

Ketiga, Hipotesis Dawkins

Dosa ketiga Dawkins, menurut FBH, adalah menggunakan “hardcore hypothesis” biologi untuk menjelaskan fenomena munculnya agama. Dawkins mengamati perilaku ngengat dan memakainya sebagai analogi untuk menjelaskan evolusi psiko-biologis munculnya agama. FBH mempersoalkan Interpretasi Dawkins, bahwa agama lahir sebagai manifestasi “salah target” ketakutan infantil manusia pada otoritas yang berkepanjangan. Sebagaimana ngengat salah target memaknai nyala lilin atau cahaya lampu sebagai cahaya bulan.

FBH menganggap ada jurang dalam yang memisahkan analogi perilaku ngengat dan perilaku religius manusia. Ia menyebut, selama teka teki asal-usul kesadaran belum dapat dipecahkan oleh sains, selama itu pula dunia makna tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dengan ilmu alam. “Ada gap yang lebar antara otak dan kesadaran.”

Terkait dengan kesadaran (religiusitas), uniknya, FBH mengutip  pendapat Sam Harris, dan Douglas Rushkoff untuk mendukung interpretasi pemahamannya tentang kesadaran. Asal tahu saja, Harris dan Rushkoff adalah penganut atheis, kalaupun mereka menyebut kesadaran sebagai “semacam mukjizat”, pasti maksud mereka bukan sebagaimana mukjizat yang dipahami FBH. Sebagaimana Dawkins menulis buku berjudul “The Magic of Reality”, bukan berarti Dawkins mengamini “magic” dalam perspektif religius.

FBH bermonolog, “Ke manakah arah evolusi kesadaran, termasuk di dalamnya evolusi bahasa, peradaban, teknologis, dst.? Banyak yang belum terjawab.” Ia merasa, subyektivitas manusia merupakan dunia tersendiri, yang berbeda dengan dunia material. Subyektivitas manusia dapat dieksplorasi bagai perjalanan ke perut bumi sampai lapisan-lapisan asing yang tidak terduga. Ia melanjutkan, interioritas manusia  bukan obyek ilmu-ilmu alam, melainkan ilmu-ilmu kemanusiaan, seperti psikologi, sosiologi, komunikasi dan semacamnya. “Agama muncul bersamaan dengan revolusi kesadaran yang sampai hari ini asal-usulnya masih enigmatis,” tulisnya.

Dari monolog dan perenungan itu, FBH mempertanyakan hipotesis berbasis-biologi Dawkins. Ia bertanya, (saya kutip lengkap), “mengapa doa harus dianggap inefisiensi dalam seleksi alam? Mengapa bukan ungkapan kesadaran tertinggi manusia? Bukankah anjing peliharaan kita tidak berdoa? Dawkins enggan masuk ke interioritas manusia itu dan buru-buru menyegel pintu masuknya dengan papan peringatan “Awas delusi!”. Kalaupun seleksi alam ikut berperan dalam asal-usul agama, proses biologis pasti tidak bekerja sendirian dan tidak dengan cara seperti dijelaskan Dawkins.”

Gugatan FBH terhadap “dosa besar Dawkins” ketiga ini merupakan esensi argumennya yang cukup filosofis. Satu tema perdebatan filosofis lama tentang “mind-body dualism”. Pandangan filsafat pemikiran yang menegaskan fenomena mental adalah non-material, pikiran dan tubuh, spiritual dan material, subyek dan obyek adalah entitas yang berbeda dan terpisah. Filsafat dualisme bisa ditelusuri sejarahnya sejak era Plato dan kemudian ditegaskan oleh Descartes, populer sebagai konsep “Cartesian dualisme”, dengan ungkapan “Cogito ergo sum”

Akan sangat panjang jika dibahas secara terinci sejumlah asumsi FBH tersebut. Neurosains masih terus meneliti fenomena kesadaran ini. Sejumlah buku sains bisa menjadi referensi untuk memahami penelitian terbaru soal kesadaran dan perilaku manusia. Misalnya, buku Antonio Damasio “Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human” (1994). Karya seminal Damasio ini mengeksplorasi “rasionalitas manusia melalui neurobiologi”, dan menemukan fungsi otak yang bisa dikompartementalisasi menjadi area-area spesifik dengan fungsi spesifik. Dalam otak manusia terdapat  area yang didedikasikan untuk dimensi berpikir personal dan sosial.

Damasio mengupas neuroanatomi dan neurokimiawi area prefontal dan limbic yang kini diketahui sebagai area untuk pikiran dan emosi. Bagaimana pikiran manusia bekerja dan menghasilkan pemikiran tertentu ia jelaskan melalui eksperimen dan bukti-bukti yang mendukung, termasuk implikasi moral dan filosofi-nya. Bahwa pikiran (reason) bergantung pada emosi, yang erat terkait dengan proses Teori Evolusi Darwin “survival of the fittest”.

Dalam buku terbaru, “The Strange Order of Things” (2019), Damasio menguraikan mengapa perasaan (feeling) adalah pendorong utama pikiran. Apa yang dirasakan tubuh sama pentingnya dengan apa yang dipikirkan oleh pikiran (proses kerja kesadaran di otak). Buku ini menguraikan secara gamblang bagaimana emosi dan perasaan mempengaruhi tumbuh berkembangnya kesadaran dan kebudayaan manusia. Termasuk munculnya agama, sebagai produk kebudayaan.

(Bersambung ke tulisan kedua)

No Comments

Leave a Reply