Search and Hit Enter

Update Toko Buku Bajakan

Seperti saya sudah tulis di tulisan sebelum ini, semalam saya mengirim pesan ke pemilik toko di marketplace untuk menghapus buku saya yang jelas-jelas bajakan (sila baca tulisan itu lebih lengkapnya).

KABAR BAIK:
Saya berhasil membuatnya menurunkan semua buku saya. Dia melakukannya tanpa bantahan atau perdebatan.

KABAR BURUK:
Dia masih menjual buku bajakan karya penulis lain, dan mungkin akan terus melakukannya, mengumpulkan keuntungan dari sana sambil merampas hak ekonomi banyak penulis.

KENAPA?
Di sinilah saya rasa “kelemahan” undang-undang hak cipta kita. Banyak orang bertanya-tanya, kenapa polisi tak banyak bergerak. Ini juga salah satu alasannya. Pelanggaran undang-undang hak cipta seperti pembajakan buku, bersifat delik aduan. Hanya kalau korban (artinya pemilik hak cipta yang dibajak) mengadukan/komplen, bisa diproses (dengan kemungkinan lain tak diproses juga). Kalau korban tidak mengadu, ya polisi tak akan bergerak. Toko/marketplace/pelaku juga merasa tak ada ancaman.

Ini berbeda dengan perampokan biasa. Misalnya kamu melihat orang lain merampok rumah, meskipun bukan rumahmu, kamu bisa lapor. Polisi juga bisa langsung menangkap perampoknya, meskipun tak ada pengaduan. Ini delik biasa, bukan delik aduan.

Kenapa bisa begini? Ada ceritanya memang kenapa berubah dari delik biasa ke delik aduan di undang-undang hak cipta terbaru. Hint: agar ACAB tak main peras, cuma dapat duit tapi pembajak bebas aja setelah bayar uang damai.

OPSI SOLUSI?

Penulis bisa saja mengubek-ubek marketplace dan menyurati setiap toko seperti percobaan yang saya lakukan. Itu akan membuang banyak waktu sang penulis, dan hanya efektif untuk bukunya sendiri.

Tak ada pilihan, penulis dan penerbit harus punya komitmen jalan bareng. Organisasi macam IKAPI sudah mencoba, tapi entah bagaimana hasilnya, kenyataannya masih marak. Saya tak akan (belum) menyarankan organisasi baru. Saya tahu betapa susahnya mengorganisir penulis.

Saya menyarankan untuk satu usaha bersama yang lebih longgar: bersama-sama mengirimkan pengaduan kepada beberapa marketplace untuk menutup toko-toko yang menyediakan buku-buku ilegal (termasuk ebook), juga menyediakan sarana pelaporan yang gampang jika menemukan indikasi semacam itu. Tentu disertai bukti-bukti. Setiap penulis/penerbit yang menjadi korban diminta untuk mengirim tautan2 yang menunjukkan di mana buku-buku ilegal miliknya bisa ditemukan. Penulis/penerbit yang belum menemukan tautan buku ilegalnya, tetap disarankan ikut.

Kita tandatangani bersama.

Jika tertarik dengan cara ini, sila komentar. Kalau cukup banyak yang tergerak, kita bisa membuat group khusus untuk menampungnya.

No Comments

Leave a Reply