Search and Hit Enter

“Empati untuk Para Penafsir dan Pencari Makna”

(Esai ringan untuk mereka—Goenawan Mohamad dan lain-lain—yang menilai sains sebagai saintisme, panglima, pongah, dogmatis, atau bigotri)

Narasi membenturkan antara sains, filsafat dan agama tak perlu diteruskan. Kita paham, sebenarnya tidak ada perselisihan pada esensi tiga paradigma ilmu ini. Yang berselisih adalah orang-orang yang memilih satu paradigma ketimbang yang lain, dan merasa paradigma tertentu itu mengancam yang lain. Jika saya memilih paradigma sains, ketimbang dua yang lain, itu semata-mata karena dalam keterbatasan energi dan waktu, saya ingin fokus mendapat pengetahuan melalui referensi sains. Bukan berarti saya mengabaikan, atau menilai agama dan filsafat sebagai metode inferior

Sains memberikan banyak informasi dan pengetahuan baru, dalam upaya saya untuk memaknai, menafsirkan dan memahami dunia. Itu alasan saya menyukai sains. Dalam perspektif saya, yang tentu subyektif, sains adalah kontinuasi dari evolusi paradigma metode pengetahuan manusia. Semua hal di dunia, kita tahu, berproses dan berevolusi. Ilmu pengetahuan juga berevolusi, berproses dari mitologi, agama, filsafat, dan sains. Metode sains muncul belakangan dari proses panjang cara memaknai,  menafsirkan, dan memperoleh kejelasan.

Bukan kebetulan metode sains muncul terakhir dari proses evolusi panjang itu. Ia muncul ketika akumulasi pengetahuan manusia semakin komplek. Kompleksitas menuntut pendekatan yang berbeda. Tidak cukup mengandalkan keyakinan, asumsi, intuisi atau spekulasi. Penjelasan ini sudah saya uraikan dalam tiga tulisan sebelumnya: “Kepastian Sains dan Pencarian Kebenaran”; “Trilema Sains, Filsafat, Agama”; serta “Sains, Filsafat, dan Storytelling.”

Kali ini saya menulis sebagai rasa empati pada Anda yang berkhidmat pada agama dan filsafat. Saya mencoba melihat perspektif dari sudut Anda. Saya tahu tidak akan mudah, namun mohon diijinkan. Bagi saya, agama, filsafat, dan sains sebenarnya mencoba mengisahkan cerita yang sama, dengan bahasa yang berbeda. Ketiganya ingin menjawab keberadaan manusia  dalam misteri alam semesta. Ketiganya adalah wujud keterpukauan dan ketakjuban pada alam semesta. Agama ingin memaknai, filsafat berupaya memafsirkan, dan sains mencoba menjelaskan. Agama adalah pengabdian (devotion), filsafat pemikiran (reason), dan sains penyelidikan (investigation).

Tiga model pendekatan ini (devotion, reason, investigation) menghasilkan output pengetahuan yang berbeda. Bagi masing-masing penganutnya yang memahami substansi, mustinya tidak akan membenturkan dogma (agama), spekulasi (filsafat), atau deskripsi (sains). Perselesihan, jika ada, cuma soal semantik dan temperamen manusianya. Bukan substansi paradigmanya. Perlu lebih kejernihan dan kejelasan berpikir untuk memahami proses evolusi sejarah paradigma manusia mencari makna, menafsirkan dan memahami dunia—sebagai satu rangkaian pemikiran yang berkorelasi. Sebelum menyampaikan empati, ijinkan saya menguraikan, secara ringkas, sejarah evolusi paradigma itu, di bawah ini.

****

Manusia pada fajar peradaban terpana dan takjub pada alam semesta, khususnya pada sejumlah fenomena yang—pada masanya—tak sepenuhnya dimengerti. Kenapa ada hujan, banjir, gunung meletus, badai, wabah, penderitaan, kematian. Untuk menjelaskan misteri ini manusia menyusun cerita tentang adanya kekuatan tersembunyi, yang lebih besar dari manusia, dan mengatur alam di sekitarnya. Muncullah kisah-kisah dewa-dewi sebagai tafsir dan penjelasan.

Apa saja yang tidak dimengerti manusia, dilimpahkan ke dewa-dewa. Apakah hujan itu, mengapa ada badai, bagaimana gunung meletus, manusia tidak tahu. Bagaimana menjelaskan ketidakberdayaan manusia vis a vis keperkasaan alam itu? Para kepala suku, tetua adat, atau shaman menyusun cerita yang dikisahkan kepada anak-anaknya. Upaya awal, dalam kesederhanaan cara berpikir, manusia memanusiawikan (anthropomorphize) kekuatan alam sebagai ulah para dewa.

Begitulah, pada masanya, cara termudah untuk menjelaskan hal-hal yang tak dipahami adalah menciptakan “agen” berkekuatan besar yang bisa melakukan berbagai hal di luar kemampuan manusia. Mengalihkan penjelasan sebab-musababnya ke dewa  adalah jawaban termudah. Manusia bingung memahami, mengapa ada wabah penyakit? Tak perlu repot memaknai atau menafsirkan, cukup dengan penjelasan: para dewa lah yang membuatnya. Begitulah bahasa dunia era politeisme

Agama adalah kelanjutan cara berpikir mitologis politeistik itu. Upaya untuk menjelaskan segala sesuatu, dengan mengalihkan ke entitas supranatural sebagai jawaban. Alih-alih beragam dewa politeistik, yang gemar berantem antar mereka sendir, kemudian penjelasan dipampatkan menjadi cukup satu Maha-Dewa: Tuhan yang maha kuasa. Tuhan adalah penggabungan dan penyatuan (merger) berbagai kekuatan dewa-dewa. Begitulah bahasa dunia era monoteisme.

Saat itu, 2000 tahun lalu. Ibarat komputer, sistem operasi dan kapasitas memori otak manusia masih sangat terbatas (bayangkan awal-awal komputer pada 1970-an). Operating system otak manusia belum mampu memproses secara baik begitu banyak informasi kehidupan alam di sekitar.

Pertanyaan sulit tentang apa, bagaimana, mengapa, tentang fenomena alam yang dihadapi sehari-hari (soal-soal yang sekarang terasa sepele), lebih mudah diserahkan pada Tuhan, sebagai sumber segala pengetahuan. Dan Tuhan selalu menjawab, antara lain dengan menurunkan wahyu dan malaikatnya untuk membimbing manusia. Tuhan juga menurunkan 10 perintah, agar diikuti manusia (yang ternyata boleh juga tidak diikuti). Segala sesuatu terjadi semata-mata karena kehendak Tuhan, melalui  konsep takdir. Tapi, tentu, manusia boleh melawan takdir, karena  sepertinya Tuhan Maha-Demokratis.

Dengan turunnya agama, pertanyaan esensial, dari mana asal manusia dan kemana tujuannya, telah terjawab dengan pasti. Makna hidup “telah ditemukan” melalui agama. Hidup lebih mudah dipahami dan dijalani dengan hadirnya Tuhan selaku  penentu takdir jalan hidup manusia. Agama menuntut keyakinan (faith) tanpa ada pertanyaan, itulah kebutuhan manusia umumnya pada masa itu, mendapat penjelasan yang memuaskan.

Namun bersamaan dengan turunnya agama dan hadirnya Tuhan, sebagian manusia menolak keyakinan dan memilih pemikiran. Sebagian manusia, yang menamakan diri “para pecinta kebijaksanaan”, memilih memakai penalaran, untuk menjelaskan hal-ihwal. Ketika manusia pada umumnya meyakini adanya kekuatan Tuhan monotheis yang menentukan segala hal, di satu wilayah yang bernama Yunani (juga di China dan India), sejumlah orang berpikir keras untuk mencari penjelasan alternatif. Mereka menebak-nebak tentang apa hakekat dunia, apa sebenarnya alam semesta, dan tersusun dari apa. Mereka adalah para filsuf yang menggunakan metode filsafat.

Para filsuf klasik Yunani berspekulasi, memperdebatkan, apa esensi dibalik keberadaan alam semesta. Menurut mereka, alam semesta tersusun dari empat elemen tanah, air, api, dan udara. Thales menyebut air; Anaximenes menganggap udara; Empedokles menggabungkan api-udara-air-tanah;  Anaxagoras menyebut pikiran; dan Phytagoras memilih angka (matematika0 sebagai esensi dunia. Begitulah filsafat, masing-masing filsuf bersikukuh dengan kebenaran spekulatifnya, yang terus terbawa hingga  sekarang.

Sampai kemudian, sekitar 300 tahun lalu, muncul sains sebagai metode menguji fakta yang diperdebatkan para filsuf. Sains melanjutkan tradisi mempertanyakan, untuk  mendapat penjelasan yang lebih pasti terkait dengan keyakinan (agama) dan keraguan (filsafat). Sains modern lahir dari pemikiran filsuf seperti Francis Bacon, Rene Descartes, David Hume, Immanuel Kant, Auguste Comte, dan lain-lainnya, yang sering disebut Era Pencerahan.

Prinsip sains adalah melanjutkan rasa keterpukauan dan pertanyaan, yang diinisiasi oleh agama dan filsafat. Namun keterpukauan bukan lagi pada hal-hal yang agung (seperti hakekat dan esensi alam semesta), melainkan pada hal-hal yang “remeh-remeh.” Sains modern muncul dari kegemaran para filsuf menyelidiki hal-hal yang bisa membantu sebagainpengetahuan praktis. Francis Bacon ingin mengawetkan daging agar tidak cepat membusuk, yang kemudian melahirkan teknologi lemari es pendingin modern. René Descartes bertanya-tanya mengapa lalat terbang masuk ke kamarnya tidak tersesat. Dengan mengamati lalat, Descartes merumuskan  analisis geometri dan merumuskan metode sains modern awal.

Albert Einstein kecil tertarik pada sains karena terpukau dengan kompas, pemberian ayahnya sebagai hadiah ulang tahun. Einstein begitu girang mendapat hadiah, dan merasa ada “misteri” yang aneh dengan kompas. Kemanapun digerakkan, jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara. Einstein kecil menduga, pasti ada hal tersembunyi yang bisa dijelaskan dibalik fenomena aneh jarum kompas. “Something deeply hidden”, pikirnya. Hasrat Einstein untuk memecahkan misteri kompas ini terbawa hingga ia dewasa. Ia ingin memahami apa yang menggerakkan jarum kompas.

Pertanyaan filsuf untuk “hal-hal yang sepele” kemudian melahirkan para pemikir jenis baru (para saintis) dan obyek penelitiannya menjadi cabang ilmu spesifik. Para saintis tekun meneliti dan bersinergi saling melengkapi (beda dengan tradisi filsafat yang “saling berbantah”). Misalnya teori dan hukum  elektromagnetik ditemukan oleh penyelidikan terpisah banyak saintis, dalam waktu yang berbeda, Faraday, Maxwell, Gauss, Lorentz, dan masih banyak lagi. Temuan-temuan kecil hasil kolaborasi banyak saintis ini kemudian ber-efek domino melahirkan berbagai temuan baru yang berguna. Dari teknologi listrik, optik, lensa, gelombang radio, komunikasi nirkabel, radar, dan sebagainya, yang berguna memudahkan hidup manusia.

Obyek penelitian sains yang “sepele dan remeh-temen”, sesungguhnya rumit (tentu tidak serumit memaknai dan menafsir alam semesta, atau kehendak Tuhan). Rumit dalam arti  bagaimana menjelaskan cara kerjanya secara ilmiah, merumuskannya dalam persamaan matematis yang konsisten, dan bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan praktis.

Berbeda dengan wacana dan bahasa filsafat yang rumit, penjelasan sains mirip cara agama memberikan uraian: sesederhana mungkin. Penjelasan agama merujuk pada prinsip “kehendak Tuhan”. Sedangkan sains berprinsip “penjelasan paling masuk akal adalah yang sederhana”. Dikenal sebagai prinsip Occam’s Razor: “rumuskan teori dan hipotesismu sesederhana mungkin dalam menguji dan meneliti fakta yang teramati.” Prinsip epistemologi dan metode sains, kemudian terbukti mampu menjelaskan atau melengkapi berbagai keyakinan atau keraguan. Menjadikan dunia dan kehidupan lebih mudah dijalani, sebagaimana yang kita rasakan saat ini.

*****

Cukup rasanya menjelaskan sejarah korelasi agama, filsafat, dan sains dalam ilustrasi yang ringkas, seperti terurai di atas. Kini ijinkan saya menyampaikan tujuan penulisan artikel ringan ini, yaitu menyampaikan rasa empati pada Anda, “para penafsir dan pencari makna”, yang gelisah dan cemas pada perkembangan sains. Ada “lima poin empati” (Panca-empati):

Pertama:
Maafkan sains yang fokus mengamati, meneliti, dan mengukur alam natural yang hanya bisa diobservasi. Sains tidak mengutik-utik (tinkering) dengan urusan yang besar, agung, metafisik, dan mistik. Itu biarlah tetap menjadi wilayah keyakinan agama atau spekulasi filsafat Anda. Silahkan terus menikmati keyakinan Anda, jika itu membuat hidup Anda lebih bermakna. Silahkan lanjutkan berspekulasi menafsirkan yang ada (“das ding an sich”). Sains bukannya mengabaikan hal-hal supranatural atau menganggap spekulasi tidak bermanfaat. Sains hanya tidak tahu bagaimana caranya mengobservasi keajaiban atau keghaiban. Sains juga tidak ingin berlarut-larut dalam kebingungan spekulatif. Ketika sains tidak tahu, maka ia akan bilang: “tidak tahu.”

Kalau saja fenomena keajaiban itu bisa diundang atau terjadi berulang, sehingga bisa diidentifikasi polanya, kemungkinan sains bisa menyusun penjelasannya. Namun selama hal-hal (kisah) supranatural cuma pernah sekali terjadi, di masa lalu, dan tidak meninggalkan jejak bukti, maka mustahil sains bisa menjelaskan—selain menganggapnya sebagai “storytelling”. Kalau saja keajaiban meninggalkan jejak fosil, sebagaimana dinosaurus, tentu sains bisa membantu menjelaskan karakteristiknya.

Lagi pula, bagi Anda yang berkeyakinan, tentu tidak terlalu soal jika tidak ada penjelasan atau kejelasan. Karena esensi keyakinan, toh, meyakini sesuatu tanpa perlu ada penjelasan. Dan sains juga tidak berniat memaksakan penjelasan. Buktinya setelah 300 tahun era sains modern, mayoritas manusia masih memeluk keyakinan agama. Dalam dunia yang semakin demokratis, Anda bebas memilih, mau yakin atau mau jelas. Silahkan suarakan pilihan Anda. Pilihan itu pasti bukan sejenis “kepongahan”, sebagaimana penghayat Islam Liberal (tadinya), Ulil Abshar Abdalla, sering kemukakan. Manusia, mahluk dhaif, seperti Ulil, bisa pongah. Namun metode sains—sebagaimana agama atau filsafat—lazimnya tidak punya karakter antroposentrik; seperti pongah, misalnya.

Kedua:
Supaya adil dan tidak terus berselisih—sehingga terkesan kurang adab—abaikan saja temuan dan teori sains yang mungkin menyinggung keyakinan atau penafsiran anda. Sains tidak pernah memaksakan, agar Anda mengubah keyakinan untuk bertaklid pada penjelasan sains. Anda dipersilahkan mengabaikan, menjauhi, atau membuang (sejauh tidak melarang) informasi atau buku-buku terkait dengan teori sains. Karena, bagi sains, sikap dan opini personal Anda tidak akan ada pengaruhnya. Prinsip dan temuan sains tetap berfungsi, baik anda yakin atau tidak. Teori gravitasi, teori relativitas dan teori evolusi tetap berlaku baik anda percaya atau tidak.

Anda boleh terusik atau tersinggung dengan opini, tapi menjadi lucu jika Anda terganggu dengan fakta. Sains tidak pernah bermaksud mengusik keyakinan dan keraguan Anda, selain sekedar mengungkap fakta. Jika karena satu hal, Anda bertemperamen mudah tersinggung, saran saya hindari tempat atau sumber informasi yang kental bernuansa sains (seperti buku pengetahuan, internet, komputer, televisi, radio, perpustakaan, museum, sekolah, universitas). Hindari berbincang dengan saintis dan penyuka sains, jangan baca ulasan sains, jangan ikut berpolemik tema sains. Dan jika Anda merasa “ada yang salah” dengan modernitas hidup manusia—akibat produk sains—Anda bisa mulai berhenti menggunakan teknologi modern. Di Amerika, misalnya, ada masyarakat yang bergaya hidup tegas menolak sains dan teknologi. Mereka, “Komunitas Amish”, menginginkan  dunia berhenti pada abad 17. Itu pilihan sah dan menarik, sebagai satu eksentrisitas gaya hidup. Komunitas Amish setidaknya menarik sebagai atraksi turis.

Ketiga:
Jika Anda tidak berniat bergaya hidup eksentrik ala Komunitas Amish atau komunitas lain yang anti-sains. Silahkan manfaatkan pengetahuan dan teknologi hasil kerja keras sains. Gunakan komputer untuk mengakses informasi dan berkomunikasi, pakai smartphone dengan berbagai aplikasinya; televisi dengan beragam acara. Namun, tetap waspada dengan pilihan informasi, jangan tergoda info yang menggusik keyakinan (abaikan dan segera matikan saja gajet Anda jika anda info sains masuk). Manfaatkan sarana transportasi darat, laut dan udara, untuk memudahkan mobilitas dari satu tempat ke tempat lain.

Manfaatkan juga sains terkait dengan kesehatan, saat sakit jantung, gagal ginjal, sakit hati, dan berbagai penyakit terkait organ tubuh, dengan transplantasi organ. Temuan sains di bidang kesehatan telah banyak membantu manusia, sejumlah penyakit degeneratif seperti kanker, Alzheimer, Parkinson, cepat atau lambat akan bisa diobati dengan sains nano-technology. Namun jika tidak yakin dengan kemajuan dan resep ilmu kesehatan, silahkan lanjutkan memilih obat tradisional, mengkonsumsi herbal, konsultasi dengan “orang pointer” (dukun atau cenayang)

Keempat:
Jika Anda termasuk orang beriman yang memanfaatkan pengetahuan dan produk sains modern untuk memudahkan hidup. Anda tetap bisa menjalankan keyakinan; atau sebagai filsuf terus meragukan sains. Namun, sedikit mengingatkan, sains dihasilkan oleh proses panjang pengamatan, penelitian dan pengujian hasil kolaborasi saintis dari berbagai penjuru dunia. Sains dan teknologi bukan hadir secara ajaib dari alam ghaib (sains bukan sulap kelinci yang bisa sekonyong-konyong-konyong muncul dari topi pesulap) atau hasil renungan spekulatif belaka.

Akan lebih mudah bagi hidup Anda, setidaknya secara pemahaman kognitif, jika selain menggunakan teori atau produk sains, anda juga menerima metode dan paradigmanya. Anda akan selalu menjadi orang yang mengalami “kebingungan paradigmatis”, jika getol menggunakan produk sains-teknologi tapi mempersoalkan metodenya. Gemar memakai aplikasi media sosial, sekaligus mengecam sains yang menghasilkannya. Berpretensi kritis-filosofis, mempertanyakan epistemologi sains, baik-baik saja jika jelas bidikannya. Bermaksud membawa sains ke “tempat yang bersih, dan terang lampunya,” seperti Goenawan Mohamad, tentu satu niat yang mulia. Tapi, sekadar mengingatkan, pastikan tempat yang bersih itu ada aliran listriknya, agar lampu (produk sains) menyala. Karena lilin atau obor, pasti kurang efektif untuk penerangan.

Kelima:
Seperti fatwa: “ketidaksukaan tidak boleh membuat kita tidak adil.” Kritis pada sains tentu baik dan penting. Komunitas sains menjadikan sikap kritis bukan cuma sebagai slogan, wacana, atau kotbah, namun memakai sebagai metode. Berpikir kritis inheren dalam metode sains, bagian dari metode ilmiah saat merumuskan, menyimpulkan hingga menguji teori sains. Jadi kritisisme yang proporsional dan tepat sasaran pasti disambut dengan baik dan diperlukan. Sains mustahil menjadi “dogma atau panglima”, karena “dogmatisme dan panglimaisme” justru dipersoalkan dan ditolak oleh sains.

Sangat penting Anda mampu secara jernih membedakan sains, saintisme, dan saintologi (“science, scientism, dan scientology”). Anda pasti sedang bingung atau ragu, jika bersikap “kritis” pada sains, namun yang anda serang dan persoalkan adalah saintisme. Anda cocok menjadi penganut Scientology (yang menjadikan novel sains-fiksi L. Ron Hubbard sebagai ajaran agama) jika gagal memahami perbedaan science dengan scientism. Dan gemar menggunakan diksi keagamaan, seperti “dogmatis” atau “bigotry” untuk memberi label pada sains. Poin ini penting untuk diperhatikan “Men of faith” seperti Budhy Munawar-Rahman, F Budi Hardiman, dan Haidar Bagir.

Kebingungan yang fatal, tapi bisa dipahami secara empati. Bagi mereka yang cara berpikirnya terbiasa dengan dogmatisme agama, maka kegemaran menggunakan diksi agama, seperti “dogmatisme”, “bigotry”, tentu harus dimaklumi. Sikap superficial dalam melihat sains, seperti kegemaran mempermainkan label istilah ketimbang substansi, perlu dimaklumi secara empati. (Majalah Tempo, misalnya, dua kali menggelar diskusi online dengan memilih tema “saintisme”, ketimbang “sains”. Boleh diduga panitia penggagas diskusi di Tempo adalah para penganut Scientology, mereka pasti mengidolakan Tom Cruise)

******

Demikian pernyataan empati saya, untuk para “Penafsir dan Pencari Makna”. Saya mendukung penuh, bersimpati, sekaligus berempati pada upaya menafsirkan dan memaknai dunia. Saya berharap upaya Anda menafsir dan memaknai dunia akan menemukan kejelasan, baik  Anda memakai atau mengabaikan sains.

Sekali lagi, saya ingin menegaskan, seperti agama  dan filsafat, sains adalah juga produk intelegensia manusia. Sains bukan produk setan, delusi, atau halusinasi yang perlu ditakuti. Sudah sepantasnya sains, filsafat, dan agama dapat bersama-sama memperkaya pemahaman kognisi kita (tanpa menganggap yang satu panglima yang lain prajurit atau pramuwisma). Saya berharap, semoga Anda dapat menikmati hidup di dunia, yang begitu luas dan indah, dengan lebih tenang dan bahagia, tidak terganggu dan terusik sains. Semoga poin-poin empati saya ini dapat mengurangi satu kecemasan Anda yang tidak perlu: cemas pada sains.

No Comments

Leave a Reply