Search and Hit Enter

TENTANG GARIS DEMARKASI ANTARA SAINS DAN FILSAFAT DAN KEMATIAN METAFISIKA

Beberapa hari belakangan ini, kita membaca di halaman facebook lalu lintas pertukaran pikiran yang bersemangat mengenai sains. Picu yang melatuk diskusi ini adalah pernyataan Mas GM mengenai permasalahan-permasalahan sains dalam sebuah seminar online yang berjudul “Berkhidmat kepada Sains”. Pertanyaan ini kemudian ditanggapi oleh AS Laksana. Kemudian sejumlah tulisan tanggapan lainnya bermunculan meramaikan pertukaran pikiran tersebut.

Sebelum seminar tersebut, perbedaan pendapat tentang hubungan antara sains dan filsafat atau metafisika serta agama juga sebenarnya telah terjadi dalam sebuah diskusi online pada 16 Mei 2020 lalu. Perbedaan pendapat tersebut melibatkan Nirwan Arsuka dan Hamid Basyaib di satu sisi dan Mas GM, Romo Lili dan saya sendiri di sisi lain. Secara singkat, Nirwan dan Hamid berada pada posisi yang mengagungkan sains dan menganggap filsafat dan agama tidak relevan lagi, sementara Mas GM, Romo Lili dan saya berpendapat bahwa sekalipun sains memang menghasilkan kemajuan yang luar biasa dan berjasa besar bagi umat manusia bukan berarti filsafat dan agama menjadi tidak relevan.

Hal menarik dari pernyataan-pernyataan dan tulisan-tulisan yang muncul dalam pertukaran pikiran ini adalah munculnya klaim yang mengagungkan sains sedemikian rupa dan menganggapnya sebagai satu-satunya cara untuk memperoleh deskripsi yang paling baik mengenai realitas. Klaim ini kemudian diikuti dengan pernyataan bahwa bidang-bidang lainnya, seperti filsafat atau metafisika dan teologi, menjadi tidak relevan karena tidak mampu menghasilkan pengetahuan yang ketepatan dan kepastiannya sama dengan sains. Klaim irrelevansi filsafat atau metafisika dan agama ini sama dengan frase populer yang mengatakan bahwa sekarang filsafat atau metafisika, dan juga agama, telah mati. Dengan keunggulan metodenya dan dengan cerita kesuksesannya kita dapat mengandalkan diri semata-mata pada sains. Bahkan sudah pantas pula kalau sains menyombongkan diri, demikian tulisan Nirwan Arsuka di Facebook.

Tapi, di sisi lain, ada juga tulisan yang melihat sains dengan lebih realistis. Posisi ini mengatakan bahwa sains memang menghasilkan banyak kemajuan dan memberikan sumbangan yang sangat besar bagi umat manusia, namun ini tidak berarti bahwa sains tidak mengandung kelemahan atau keterbatasan. Sains bukanlah segala-galanya. Sains hanyalah salah satu cara dalam menyingkapkan realitas. Dan oleh karena itu, kita masih tetap membutuhkan filsafat, metafisika, agama, dan lain-lain.

Di tengah-tengah keriuhan pembicaraan yang diwarnai dengan klaim-klaim tersebut saya melihat ada hal yang masih luput dari perhatian, dan itu membuat pertukaran pikiran ini belum begitu produktif. Yang luput itu adalah belum jelasnya batas-batas antara sains, filsafat/metafisika dan agama.
Seandainya batas-batas ini jelas, maka menurut saya kita tidak lagi menganggap sains sedemikian hebat atau agung, sedemikian agungnya, sehingga ia dianggap pantas membuat metafisika dan agama menjadi tidak relevan. Seandainya batas-batas ini jelas, maka kita akan sadar bahwa, dengan segala keberhasilan dan kesuksesannya yang memang tidak dapat disangkal, sains tetaplah sains, ia tidak mungkin melampaui hakikatnya sekalipun ia sedemikian gemilang; dan sejalan dengan itu filsafat tetaplah filsafat, dan agama tetaplah agama. Masing-masing memiliki wilayah, metode, epistemologi dan tugasnya sendiri-sendiri.

Tulisan ini berusaha memperlihatkan garis demarkasi antara sains, filsafat atau metafisika. Upaya itu saya lakukan dengan memperlihatkan karakter-karakter keduanya. Di sini yang saya maksud dengan sains adalah semua jenis ilmu pengetahuan, dan secara lebih khusus ilmu pengetahuan alam. Saya juga tidak membedakan secara ketat antara filsafat dan metafisika, sekalipun di dalam diskursus filsafat, kedua disiplin itu harus dibedakan.

Obyek material dan obyek formal
Untuk memperlihatkan demarkasi tersebut, saya akan mulai dengan apa yang dalam filsafat ilmu disebut obyek formal dan obyek material ilmu. Apakah yang membedakan sebuah ilmu dari ilmu lainnya? Apa yang membedakan ilmu kedokteran dari ilmu psikologi dan dari ilmu anatomi? Ketiga ilmu ini sama-sama meneliti tubuh manusia. Tapi mengapa mereka berbeda sebagai ilmu? Apa yang membedakan ilmu ekonomi dan ilmu politik? Keduanya sama-sama meneliti masyarakat, tapi mengapa mereka berbeda?

Setiap ilmu memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah obyek yang diteliti oleh ilmu tersebut, sementara obyek formal adalah sudut pandang atau perspektif yang digunakan oleh ilmu itu dalam meneliti obyek materialnya. Obyek material ilmu-ilmu itu bisa sama, tapi obyek formalnya pasti berbeda. Ilmu kedokteran, ilmu psikologi, dan ilmu anatomi memiliki obyek material yang sama, yakni tubuh manusia, namun mereka memiliki obyek formal yang berbeda dalam meneliti tubuh manusia. Ilmu kedokteran meneliti sistem-sistem mekanis dalam tubuh manusia, ilmu psikologi meneliti kejiwaan, ilmu anatonomi meneliti struktur tubuh manusia.

Masyarakat juga merupakan obyek material bagi banyak ilmu. Ilmu politik melihat masyarakat dari perspektif penataan kehidupan bersama, ilmu ekonomi  melihatnya dari perspektif cara-cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka, ilmu kriminologi melihat fenomena kejahatan dalam masyarakat, dan lain-lain. Jadi, obyek formal itulah yang membedakan sebuah ilmu dari ilmu lainnya.
Metode yang digunakan oleh setiap ilmu kemudian tergantung dari obyek formal ini. Nah, sekarang apakah obyek material dan obyek formal sains dan filsafat?

Sains
Obyek material sains atau ilmu alam adalah dunia pengalaman empiris, sementara obyek formalnya adalah keterukuran obyek-obyek empiris tersebut. Sains meneliti alam dengan tujuan agar fenomena-fenomena alam itu dapat dikontrol, dijelaskan, dikendalikan atau diprediksi. Dan untuk itu, sains berusaha mencari hukum-hukum yang dapat menjelaskan fenomena-fenomena alam yang diteliti. Upaya mencari hukum tersebut dilakukan melalui metode eksperimen, observasi, percobaan, perumusan teori dan pengujian kembali teori tersebut ke dunia pengalaman empiris itu sendiri.

Berdasarkan karakter di atas, kita dapat menentukan beberapa ciri yang terdapat dalam semua ilmu, yang membedakannya dari filsafat.

Pertama, sains itu bersifat empiris, artinya, obyeknya adalah bagian tertentu dari dunia pengalaman empiris (empirische Erfahrungswelt). Empiris artinya berada di dalam ruang dan waktu. Kata „bagian tertentu“ ini perlu digaris bawahi. Bagian tertentu berarti bahwa yang diteliti hanyalah salah satu aspek dari dunia pengalaman empiris itu. Misalnya, mengenai virus, mengenai gravitasi, mengenai gempa bumi, planet-planet, dan lain-lain. Bahkan penelitian mengenai planet pun harus terfokus pada aspek tertentu dari planet tersebut, misalnya strukturnya, dan bukan keseluruhan hal ikhwal mengenai planet tersebut. Ilmu pengetahuan tidak mampu meneliti keseluruhan totalitas dunia pengalaman empiris yang sedemikian luas.

Keterbatasan sains ini diakui oleh para raksasa sains itu sendiri. Teori Relativitas Khusus Einstein (1905) memperlihatkan bahwa tidak ada konsep mengenai keseluruhan (das Ganze) yang dapat dioperasionalkan karena tidak ada sistem referensi yang serba mencakup dan sempurna; yang ada hanya relasi-relasi dalam sebuah sistem yang otonom.

Prinsip Ketidakpastian Heisenberg (1927) bahkan mengatakan bahwa kita tidak mungkin memperoleh pengetahuan yang lengkap mengenai sebuah sistem, sebab keterfokusan pada dimensi yang satu telah menyebabkan pengetahuan pada dimensi yang lain menjadi tidak mungkin.

Teorema Ketidaksempurnaan Gödel (1931) juga mengatakan hal yang kurang lebih sama, yakni bahwa isi kebenaran sistem-sistem formal tidak pernah dapat seluruhnya ditangkap. Teorema Gödel ini telah memvonis ketidakmungkinan mencapai sebuah sains universal yang dapat menjelaskan seluruh semesta dengan model matematika (mathesis universalis). „Ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat memahami sebuah totalitas; semua pengetahuan selalu limitatif, terbatas“ (Philosophie und Wissenschaft, Hg. Willi Oelmüller, 1988, hal. 120 dst).

Kedua, sains itu secara tematis reduktif. Artinya obyek itu dilihat atau diteliti dari sudut pandang tertentu (objek formal) yang terbatas, sedangkan sudut pandang lainnya diabaikan. Sosiologi misalnya melihat manusia dari sudut pandang keberadaannya dengan dengan manusia lain, dan mengabaikan aspek-aspek psikologis, mental atau ekonomis dari manusia-manusia tersebut. Sama hanya, sekalipun dewasa ini penelitian mengenai neuron-neuron di dalam otak sudah sedemikian maju, hal itu tidak dapat menjelaskan keseluruhan fenomena kesadaran (consciousness); fenomena mental tidak dapat diindentikkan sepenuhnya dengan realitas fisikal-natural.

Ketiga, sains itu secara metodis abstrak. Artinya, sains hanya meneliti obyek sejauh itu diizinkan oleh metode yang digunakannya; metode itu mengabaikan (mengabstrasikan) bidang-bidang lain yang berada di luar cakupannya. Ini karena sebelum sains meneliti obyeknya, ia harus lebih dulu menentukan metode penelitiannya. Bila kita misalnya meneliti kejiwaan manusia dengan metode psikoanalisis, maka kita memberikan perhatian pada dimensi-dimensi bawah sadar yang terdapat dalam diri orang tersebut, dan tidak memperhatikan aspek-aspek lain dari kejiwaannya. Atau bila kita menganalisis masyarakat dengan metode Marxis, maka kita memusatkan perhatian pada faktor-faktor ekonomis atau pertentangan/perbedaan kelas dalam masyarakat itu, dan mengabaikan faktor-faktor lainnya.

Ungkapan „secara metodis abstrak“ dan „secara tematis reduktif“ di atas dapat diperjelas dengan contoh ilmu alam itu sendiri. Ilmu-ilmu alam dapat mencapai kemajuan luar biasa pada zaman modern berkat penerapan metode baru, yakni matematisasi fenomena alam. Artinya, fenomena alam ditangani secara matematis. Dengan metode ini, para saintis berusaha mengkonversi dimensi-dimensi kualitatif menjadi kuantitatif, sehingga dapat diukur. Misalnya, panas adalah sebuah dimensi kualitatif. Dalam ilmu alam modern, panas diukur secara kuantitatif melalui termometer dan kemudian dapat diungkapkan dalam bentuk angka-angka. Panas, yang tadinya kualitatif, menjadi kuantitatif.

Ini sesuai dengan prinsip G. Galileo (1564-1642) yang mengatakan: „semua yang dapat diukur, diukur secara kuantitatif, dan apa yang belum dapat diukur, diusahakan untuk dapat diukur“.

Metode matematisasi obyek material ini membawa jenis observasi dan pengujian eksperimental yang baru: ilmu pengetahuan modern hanya mengenal alam dari sudut ke-dapat-diukur-annya (die Meßbarkeit, measurability); alam dilihat dalam bentuk yang telah selalu diukur. Inilah maksudnya bahwa sains melihat alam secara abstrak dalam bentuk yang telah direduksi secara metodis ke dalam sebuah model matematika. Alam dilihat dalam bentuk angka-angka.
Tapi, jangan lupa, alam itu sendiri bukan model matematika, bukan model angka-angka. Alam itu sangat kompleks. Tapi justru dengan itulah ilmu pengetahuan modern dapat berkembang dengan luar biasa, menghasilkan banyak temuan baru, yakni ketika ia melihat alam secara abstrak dalam model matematika (Anno Anzenbacher, Einführung in die Philosophie, 1981, hal 22-26).

Jadi, keterbatasan ilmu itu bukanlah sebuah kelemahan; justru itu adalah adalah kekuatannya. Dan justru karena sains terbatas dalam mendeskripsikan realitas maka kita juga harus menerima kompetensi bidang-bidang (ilmu pengetahuan) lainnya dalam melakukan hal yang sama.

Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa cerita sukses ilmu-ilmu alam ini juga mempengaruhi bidang ilmu lainnya. Metode kuantitatif ilmu alam kemudian diterapkan untuk ilmu-ilmu lainnya, termasuk ilmu sosial dan ilmu humaniora.

Keberhasilan itu juga membuat sains menjadi sedemikian percaya diri, seakan-akan ia berhak untuk berjalan sendiri, dengan logikanya sendiri, dengan mengabaikan konteks sosial di mana ia berdiri. Sains menjadi tercerabut dari dunia kehidupan (Lebenswelt). Ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kritik terhadap sains, antara lain dari seorang ahli matematika dan filsuf, yakni Edmund Husserl. Ini juga disinggung oleh Mas GM dalam tulisannya.

Kritik Husserl terhadap sains
Anehnya, krisis sains itu bersumber justru dari hal yang memberikan dia keunggulan. Sains berkembang karena bantuan matematika, terutama geometri.

Di atas kita sudah melihat bagaimana Galileo menekankan bahwa segala sesuatu harus dapat diukur. Galileo meyakini bahwa satu-satunya jenis kepastian yang bisa diandalkan dan dipercaya sepenuhnya hanyalah matematika. Karena itu, ia memisahkan secara definitif antara ilmu fisika dan filsafat; dan sejalan dengan pemisahan itu, ia juga memisahkan secara tegas antara kualitas-kualitas obyektif-primer dan kualitas subyektif-sekunder. Yang penting hanyalah kuantitas primier seperti ukuran, bentuk, bilangan dan kecepatan, sementara kualitas sekunder seperti warna, suara, bau tidak relevan.

Galileo juga menolak otoritas apapun sebagai kriteria kebenaran, selain observasi, eksperimen dan rasio matematis. Galileo yakin bahwa kompleksitas alam nyata yang berubah-ubah dan kontradiktif bisa dipahami berdasarkan hukum fisika-matematik yang sederhana. Tanpa matematika, orang akan terlunta-lunta dalam labirin gelap, katanya.

Menurut Galileo, geometri memungkinkan manusia mengatasi relativitas interpretasi subyektif yang sangat mendasar dalam dunia empiris. Dengan geometri kita memperoleh kebenaran yang identik, mutlak dan dapat diterima oleh setiap orang yang mengerti dan dapat menggunakan metode tersebut. Sejalan dengan konsep Plato mengenai adanya dunia ideal, Galileo mengatakan bahwa matematika akan membebaskan pikiran dari sensasi, dan mengakrabkannya dengan dunia pikiran murni serta membawa jiwa ke dalam ketinggian dunia idea. Geometri adalah pengetahuan mengenai hal-hal yang abadi. Dan kebenaran geometri itu sah secara absolut untuk semua manusia, untuk semua zaman, semua orang, dan bukan hanya menyangkut hal-hal faktual historis, tapi juga bagi segala sesuatu yang bisa dipahami. (lihat “Asal-Usul Gemoteri” dalam die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie, hal. 18 dst)

Ilmu berkembang karena bantuan matematika atau lebih tepat geometri. Dengan geometri, maka sains melakukan geometrisasi dunia kehidupan, semua diukur dalam kategori-kategori matematis. Namun kolaborasi antara sains, matematika dan geometri ini kemudian menimbulkan transformasi lebih jauh lagi, yang disebut Husserl dengan aritmetisasi geometri. Dengan kolaborasi tersebut, segala proses kerja geometri tidak lagi dilakukan secara geometris (melalui konsep-konsep spasio-temporal), melainkan secara aritmetis, yakni dengan simbol-simbol matematis. Bila sebelumnya terjadi proses geometrisasi dunia kehidupan, kini meningkat menjadi aritmetisasi geometri, bahkan aritmetisasi dunia kehidupan.

Bila dalam geometri, misalnya, bumi digambarkan sebagai benda bulat (dan kebulatan bumi di sini tentu sangat ideal, sesuai dengan ide tentang kebulatan bumi), dengan aritmetisasi geometri, bumi cukup digambarkan dalam angka-angka. Tinggi sebuah gunung tak perlu lagi digambarkan, cukup dikatakan dalam angka. Benda panas tidak lagi dilihat sebagai benda panas, melainkan cukup dalam skala sekian derajat, suara diukur dengan satuan tertentu. Ini tak lain dari  aritmatisasi dunia kehidupan. Singkatnya semua kualitas subyektif atau mental dimatematisasi dan direduksi  ke dalam simbol-simbol numerik. Formalisasi universal inilah yang mengakibatkan sains terasing dari dunia dan yang kelak mengakibatkan hilangnya makna kehidupan (Sinnentleerung). Sains mereduksi dunia kehidupan ke dalam angka-angka, dan tercerabut dari dunia kehidupan. Inilah krisis yang dimaksud oleh Husserl. (Die Krisis, hal. 45)

Di sini saya tidak berbicara mengenai kritik filsuf Martin Heidegger terhadap sains dan ilmu pengetahuan. Cukuplah dikatakan bahwa sekarang ini tak ada lagi bagian dunia kehidupan sekarang yang tidak dipengaruhi atau ditentukan oleh sains dan teknologi. Dulu teknisisasi dunia kehidupan itu berlangsung melalui sains (Technisierung durch Wissen), tapi sekarang yang terjadi adalah teknisisasi sains itu sendiri (Technisierung des Wissen selber). Artinya, sains berkembang sedemikian rupa untuk melayani kepentingan teknologi; sains menjadi pelayan teknologi, dan bukan lagi melayani manusia. (Philosophie und Wissenschaft, hal. 65).

Filsafat
Bagaimana dengan filsafat? Berbeda dari sains, filsafat tidak bersifat empiris, tidak reduktif secara tematis dan juga tidak abstrak secara metodologis. Filsafat memang bertolak dari pengalaman empiris, tapi ia justru menantang dan melampaui pengalaman empiris. Filsafat juga bertolak dari akal sehat tapi ia bergerak melampau akal sehat. Pengetahuan akal sehat adalah pengetahuan yang kebenarannya kita terima begitu saja, tanpa dibuktikan dan tanpa dipertanyakan, berdasarkan kebiasaan atau pengalaman sehari-hari. Filsafat menyadari bahwa pengetahuan akal sehat itu sering tidak sehat.

Obyek material filsafat adalah keseluruhan kenyataan, bukan hanya bagian tertentu dari kenyataan, sebagaimana sains. Filsafat mempertanyakan dan menjadikan apa saja sebagai bahan refleksinya. Heidegger berfilsafat tentang alat-alat. Hegel dan Kant berfilsafat tentang Tuhan (Filsafat Ketuhanan). Semua hal dapat menjadi obyek refleksi filsafat. Bahkan ketiadaan (nothingness) itu sendiri. Leibniz, Heidegger dan Hegel misalnya merefleksikan ketiadaan dengan mendalam. Di Kyoto, Jepang, bahkan ada Kyoto School of Nothingness. Mereka meneliti segala hal mengenai ketiadaan, termasuk struktur ketiadaan itu sendiri. Dan ini kemudian menimbulkan pertanyaan khas filsafat: kalau ketiadaan memiliki struktur, dan bahkan dapat diteliti, apakah ketiadaan itu masih ketiadaan? Apa itu ketiadaan. Tapi ya itulah kekhasan filsafat, sesuai dengan obyek materialnya.

Apa obyek formal filsafat? Tidak lain dari sudut pandang yang sedalam-dalam dan seradikal-radikalnya. Filsafat merefleksikan obyek materialnya secara sangat mendalam dan radikal. Jadi, kalau sains bertolak dan berhenti pada pengalaman empiris, filsafat bertolak dari pengalaman empiris dan melampaui pengalaman empiris itu. Filsafat tidak puas hanya di permukaan, ia ingin mencapai struktur terdasar dari sesuatu (ontologi).

Filsafat juga tidak reduktif dari segi tema. Sebelumnya telah dikatakan bahwa filsafat selalu berusaha memahami segala sesuatu secara mendalam dan total. Oleh karena itu, filsafat selalu mencari jawaban hingga ke wilayah non-empiris. Tidak seperti sains yang mau tidak mau terbatas pada pengalaman empiris, filsafat itu tidak pernah puas hanya dengan mengetahui aspek tertentu saja, melainkan harus keseluruhan dari aspek yang diteliti itu, termasuk syarat-syarat kemungkinannya. Itu yang membuat filsafat menjadi ilmu yang mendalam dan menyeluruh. Karena itu, filsuf Jerman Karl Jasper pernah berkata secara agak  paradoksal bahwa filsafat memiliki die Spezialität des Allgemeinen, artinya, bahwa spesialisasi filsafat adalah yang umum.

Filsafat juga tidak abstrak secara metodologis. Kalau sains hanya meneliti apa yang dimungkinkan oleh metode yang digunakannya, tidak demikian halnya dengan filsafat. Bagi sains, metode itu seperti alat yang digunakan untuk menganalisis obyek yang ditelitinya; alat itu membatasi apa yang diteliti dan bagaimana penelitian itu berlangsung.

Sebaliknya, filsafat tidak asbtrak karena ia tidak mengandaikan metode. Filsafat langsung merefleksikan secara rasional obyek yang ditelitinya dan kemudian menentukan metode yang digunakan untuk menganalisis obyek itu. Yang lebih berperan dalam filsafat adalah kekuatan argumentasi. Justru karena filsafat tidak dibatasi oleh metode maka ia dapat melahirkan metode-metode refleksi yang baru, misalnya fenomenologi, kritisisme (Kant) atau dialektika. Metode-metode ini kemudian sering dipinjam oleh sains. (Tentu dalam refleksi filosofis yang biasa, orang dapat mengikuti metode tertentu).

Contoh-contoh pertanyaan sains:
Berapakah gigi beruang es? Dalam kondisi bagaimana tembaga melebur? Siapakah penemu benua Australia? Seberapa cepatkah benda padat jatuh? Seberapa berbahayakah tenaga atom? Bagaimana cara meraih kekuasaan politik? Zat apakah yang dikandung oleh jamur? Apakah bahasa Indonesia termasuk rumpun bahasa Melayu? Berapakah diameter bumi? Bagaimana virus corona berkembang biak? dst

Contoh-contoh pertanyaan filsafat:
Mengapa ada Ada (Sein) dan bukan Ketiadaan (Nichts)? Apakah itu pengetahuan? Apa itu kebenaran? Apa itu manusia? Apakah kebebasan memungkinkan determinasi-diri? Apakah manusia bebas? Apa itu yang baik secara etis? Apakah sejarah mempunyai makna dan tujuan? Apa itu keindahan? Apakah manusia memiliki jiwa? Apakah Tuhan bereksistensi? Ke mana saya setelah mati? Mengapa harus saya yang kena covid-19? Apakah makna hidupku? Apa itu hidup yang baik? Apa itu adil? Bagaimana aku harus hidup? Dst

Pertanyaan-pertanyaan filsafat ini tentu tidak dapat dijawab oleh sains sebab pertanyaan itu sendiri tidak menyangkut pengalaman dunia empiris. Tapi jangan katakan bahwa pertanyaan itu tidak sah. Pertanyaan itu sah karena menyangkut makna kehidupan atau realitas ultim kehidupan itu sendiri. Sains, justru karena mereka bersifat khusus dan empiris, tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai makna eksistensial manusia itu sendiri. Dan tidak ada sains atau ilmu pengetahuan yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial demikian.

Bagaimana hubungan sains dan filsafat?
Kemajuan sains tidak jarang membawa mereka pada sebuah titik di mana mereka terbentur pada masalah-masalah yang tidak dapat dijawabnya sendiri. Ada banyak contoh mengenai hal ini.

Perkembangan bioteknologi dan ilmu genetika misalnya memungkinkan manusia melakukan cloning atas manusia. Tapi apakah cloning itu dapat dibenarkan secara etis? Sampai sekarang ini masih menjadi bahan perdebatan. Dan anehnya yang terlibat dalam perdebatan itu bukanlah para ahli yang mengetahui ilmu cloning, melainkan para ahli bidang etika, filsafat manusia dll. Ilmu cloning itu sendiri tidak dapat lagi menjawab pertanyaan “apakah kloning manusia itu boleh?” karena hal itu sudah berada di luar wilayah kompetensinya. Kita juga melihat bahwa kemajuan teknik informatika telah memungkinkan manusia menghasilkan inteligensi buatan. Pikiran manusia bisa dibentuk sedemikian rupa sehingga ia misalnya menjadi sangat cerdas atau sangat berani. Tapi apakah ini dapat dibenarkan? Apakah Anda setuju kalau ilmu pengetahuan menciptakan manusia-manusia seperti robot? Ilmu pengetahuan mampu melakukan itu, tapi apakah itu boleh, dan apakah itu perlu? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh ilmu-ilmu tersebut.

Banyak sekali masalah etis yang sangat serius yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu yang sedemikian cepat dan maju dewasa ini. Apakah cangkok jantung dengan menggunakan organ jantung hewan tertentu misalnya dapat dibenarkan secara etis manusiawi? Ilmu kedokteran mampu melakukan euthanasia, tapi apakah itu dapat dibenarkan? Pertanyaan ini tidak dapat lagi dijawab oleh ilmu kedokteran tu sendiri. Sekarang telah ada ilmu yang mampu melakukan campur tangan kepada otak manusia, sehingga dengan mentrigger bagian tertentu dari otak, kita dapat menciptakan manusia-manusia seperti yang kita inginkan, misalnya menjadi sangat pintar, sangat religius, sangat rajin, sangat jahat atau sangat destruktif. Apakah ini dapat dibenarkan? Kalaupun dapat dibenarkan, apakah itu perlu dilakukan?

Di sinilah filsafat turun tangan membantu menjawab masalah yang berada di luar kompetensi ilmu-ilmu khusus tersebut. Ilmu-ilmu pengetahuan itu tidak dapat menjawab pertanyaan: apakah kita dapat melakukan apa yang mampu kita lakukan? Sampai sejauh mana kita dapat dan perlu melakukan apa yang mampu kita lakukan itu? Apa kriterianya? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kompetensi ilmu filsafat. Filsafat juga memberi jawaban misalnya mengenai kesahihan etis dari metode-metode yang digunakan oleh ilmu tertentu. Filsafat juga berguna untuk memberikan penjelasan atas implikasi-implikasi yang disebabkan oleh ilmu-ilmu itu. Tentu filsafat tidak dapat sendirian. Ia juga harus bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya itu.

Oleh karena itulah jamak terjadi, seorang saintis yang tidak puas terhadap pendekatan ilmunya sendiri, kemudian belajar filsafat, dan memperoleh wawasan yang lebih luas dan dapat melihat ilmunya sendiri dengan lebih kritis. Saintis macam ini kemudian sering menghasilkan gagasan inovatif dalam bidang ilmunya. Ke dalam kelompok saintis ini kita dapat memasukkan Thomas Kuhn, Paul Feyerabend, Imre Lakatos, Karl R. Popper, dan lain-lain.

Kematian metafisika?
Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata filsafat belum mati, dan tidak mungkin mati. Sekalipun sains sudah sedemikian maju filsafat tetap memiliki alasan untuk hidup. Sains tidak pernah dapat menggantikan tugas dan fungsi filsafat dan agama.

Hidup kita akan terlalu dangkal bila semuanya dijelaskan dengan penjelasan empiris-ilmiah. Naturalisme tidak pernah dapat memuaskan manusia. Manusia adalah mahluk yang selalu ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti di atas akan selalu dilontarkan oleh manusia, sehebat apapun kemajuan yang telah dicapai oleh sains. Sains mungkin dapat menjelaskan asal usul alam semesta dengan teori Big Bang. Tapi siapa yang dapat menghentikan akal budi manusia untuk tidak bertanya: sebelum Big Bang ada apa? Kalau sains memberikan jawaban untuk itu, manusia juga akan bertanya: sebelum itu ada apa?

Manusia tidak akan pernah berhenti menciptakan sistem-sistem metafisika yang membantunya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ultim menyangkut eksistensinya. Karena itu Heidegger benar ketika ia mengatakan bahwa selama manusia merupakan animal rationale, ia sekaligus merupakan animal metaphysicum (as long as man remains the animal rationale he is also the animal metaphysicum). (The Way Back into the Ground of Metaphysics, hal. 209).

Benar, Habermas berbicara mengenai postmetafisika. Namun, yang dimaksud Habermas dengan frase itu bukanlah bahwa di masa depan tidak ada lagi metafisika. Ciri metafisika menurut Habermas adalah pemikiran identitas, idealisme, paradigma filsafat kesadaran dan prioritas teori atas praktik. Itulah yang sudah berlalu menurut Habermas. Postmetafisika dalam pengertian Habermas adalah post-idealisme, post-platonisme. Dengan kata lain, era sekarang tidak lagi mengakui adanya kebenaran tunggal, seperti Ide Plato, yang mesti menjadi acuan bagi semua.

Metafisika, demikian Kant, adalah hakikat manusia (Metaphysik als Naturanlage). Mengapa? Jawaban atas pertanyaan ini diberikan Kant pada kalimat pertama bukunya, Kritik der reinen Vernunft: karena manusia selalu dibebani oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dihindari tapi yang sekaligus tidak dapat dijawab, karena pertanyaan-pertanyaan itu telah melampaui pikiran kognitifnya, dan untuk itulah manusia menciptakan sistem-sistem metafisika.
Saya pikir uraian di atas sudah cukup memperlihatkan bahwa metafisika merupakan keniscayaan eksistensial bagi manusia itu sendiri.

Kesimpulan
Sains itu terbatas. Itu sudah jelas. Tapi itu bukan kelemahan, justru keterbatasan itulah kekuatan sains. Dengan keterbatasan itu, sains dapat melakukan penelitian yang sedemikian mendalam pada obyek tertentu sehingga dengan demikian kita memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai obyek tersebut. Goethe pernah mengatakan, „barang siapa ingin menjadi besar, ia harus mampu membatasi dirinya“. Pembatasan diri ini bukan hanya terjadi pada sains. Pada filsafat juga itu terjadi. Sekarang orang tidak lagi berbicara mengenai filsafat sosial, misalnya, karena wilayah itu terlalu luas. Filsafat sosial kemudian dibagi ke dalam wilayah lebih spesisik, misalnya filsafat politik, filsafat ekonomi, dll.

Karena itu, menurut saya, sikap yang mengagungkan bidang sendiri tidak akan membawa kita ke mana-mana. Uraian saya di atas juga bukanlah sebuah pengagungan filsafat. Itu adalah sebuah upaya untuk memperlihatkan garis demarkasi dan tugas serta fungsi kedua disiplin ilmu tersebut. Sainstisme, sebagaimana  diusahakan oleh para filsuf neopositivis Lingkaran Wina, adalah buah dari kebanggaan berlebihan terhadap sains. Saintisme sama dengan naturalisme, menganggap manusia semata-mata sama dengan realitas fisik, seperti batu atau pohon. Karena itu, saintisme adalah fundamentalisme sains. Saintisme adalah dehumanisasi. Saintisme adalah kedunguan.

Saya yakin, sebagaimana ilmu alam maju karena berkolaborasi dengan matematika, kita juga akan maju melalui kerja sama antar-ilmu. Inilah menurut saya salah satu kunci kemajuan ilmu pengetahuan di negara-negara Eropa. Saintis, filsuf, dan teolog duduk bersama membicarakan tema Tuhan dan Big Bang. Para teolog dan saintis berdiskusi mengenai bagaimana Tuhan bertindak di dunia ini. Rekaman atau teks mengenai diskusi-diskusi seperti ini dapat dengan mudah kita temukan di Youtube atau media-media sosial. Di Jerman, misalnya, filsuf Otfried Höffe termasuk dalam anggota komisi ahli yang dibentuk oleh pemerintahan negara bagian NRW untuk membantu pemerintah menangani dampak covid-19. *****

No Comments

Leave a Reply