Search and Hit Enter

PERBEDAAN SAINS DAN SAINTISME

Sedang ramai diskusi di fb soal sains dan saintisme terutama dari AS Laksana, Goenawan Mohamad, dan para penanggapnya seperti Ulil Abshar Abdalla, Taufiqurrahman, F. Budi Hardiman, dan masih banyak lainnya.

Saya dalam status ini, ingin secara tidak langsung ikut diskusi tersebut, dengan membawa isu bahwa saintisme itu adalah pandangan yang menyempitkan sains. Sains hanyalah salah satu cara manusia mengerti realitas. Ada banyak cara lain manusia bisa mengetahui realitas, misalnya bisa melalui filsafat, teologi, mistisisme dan seterusnya. Ketika seseorang mengatakan bahwa realitas hanya bisa diketahui melalui sains, itu adalah “saintisme”.

Menurut saya, sains itu mempunyai dua muka. Jika kita menganggap bahwa apa yang kita saksikan dalam fenomena sains itu adalah “sebuah kenyataan yang sempurna,” maka kita akan melihat sains sebagai hanya kebenaran indrawi. Sains pernah mengukuhkan bahwa kebenaran mutlak adalah yang didasarkan pada panca-inderawi saja. Pandangan ini disebut “saintisme.” Karena itu,  pertanyaannya adalah, “Apakah ada sesuatu hakikat yang berada di luar sains?” Saintisme akan menjawab tidak ada. Kebenaran hanyalah kebenaran material yang bisa dideskripsi¬kan melalui hukum-hukum sains saja.

Melawan pandangan saintisme itu, yang sekarang mulai ditinggal¬kan orang, sangatlah menarik, kalau kalau kita  bisa  melihat pada “tanda-tanda”, bahwa sains bisa membawa kita  kepada suatu hakikat yang ada di seberang sains. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh saintisme.
Kita akan melihat “tanda-tanda” yang merupa¬kan petunjuk kepada adanya realitas di seberang sains. Kita catatkan terlebih dahulu “tanda-tanda” itu, melalui “tesis-tesis”  perjalanan kita untuk menunjukkan adanya realitas di seberang sains (Tesis-tesis berikut saya ambil dari Huston Smith, Forgotten Truth, The Common Vision of the World’s Religions, pada bab “The Place of Science,” [New York: Harper San Francisco, 1992], h. 96-117). Tesis-tesis itu kita coba dalami dalam rangka untuk menyangkal pandangan saintisme.

1.  Sesuatu  itu  tidaklah  seperti apa yang  kita  lihat  pada lahiriahnya.
2.  Selain dari yang kita lihat pada sisi lahiriahnya, terdapat “sesuatu yang lebih dari itu”.
3.  “Sesuatu yang lebih” itu, tidak dapat diketahui dengan  cara yang biasa dilakukan.
4. Walaupun  begitu, ia bisa diketahui dengan  cara-cara  yang memadai untuk itu, cara yang luar biasa.
5.  Cara-cara tersebut memerlukan penyuburan (cultivation) atau penyemaian.
6.  Dan cara itu, juga memerlukan alat.

Tesis 1: Sesuatu Itu tidaklah seperti apa yang  kita  lihat pada lahiriahnya

Salah satu dari tugas sains adalah  menunjukkan hakikat dari kenyataan. Apa yang paling menakjubkan dari sains modern,  adalah kemampuannya dalam menunjukkan  bahwa  kenyataan tidak seperti apa yang dapat kita lihat secara  langsung. Jika kita mengatakan bahwa meja ini bersifat pejal, maka sains  akan mengatakan bahwa, pada hakikatnya tidak begitu. Sebab, jika kita bisa melihat atau mengecilkan meja sampai kepada tingkat elektron, maka yang akan  kita  lihat adalah  ruang  kosong,  rasio ruang dan materi  di  situ  adalah, seperti  bola  dan  ruang permainannya (lapangan bola). Begitu  juga, jika  kita mengatakan meja itu statis. Itu tidak benar, kata sains, karena kita akan melihat di dalamnya, ada aktivitas elektron yang berkelil¬ing memutari intinya berjuta-juta kali dalam sesaat.

Inilah contoh bahwa setiap saat, indrawi kita  “menggambarkan sesuatu,” tetapi indra kita telah dirancang sedemikian rupa sehingga  tidak memberitahukan  kepada  kita perkara yang  sebenarnya. Bayangkan saja, jika nenek moyang kita dulu melihat bukan beruang, tetapi elektron-elektron yang berputar, tentu saja ia sudah dimakan oleh beruang itu! Inilah yang dinamakan bahwa, “Sesuatu itu tidaklah seperti  apa yang kita lihat pada lahiriahnya.”

Dengan kesadaran ini, maka kita didorong kepada kesadaran suatu “kenyataan lain” dari kenyataan yang sehari-hari kita lihat dengan mata kepala kita. Sains menunjukkan bahwa indra kita telah memperdayakan kita. Ini mengingatkan kepada pandangan  tradision¬al-keagamaan, bahwa “yang lahiriah itu mengelirukan” (our sensibilities mislead). Agama mendakwah bahwa ia telah  memberitahu kita tentang suatu alam lain, tentang sesuatu yang tersembunyi di  balik  alam  ini, yang bisa kita pegang, lihat dan  sentuh.  Kita mungkin  berpikir  bahwa dakwahan agamaini palsu, tetapi jika ia  memang  benar, kemungkinannya ia adalah sukar atau sekurang-kurangnya sukar seperti fisika modern, atas sebab yang sama.

Keterangan ini, juga mengingatkan kita kepada pemikiran  Sufisme yang sering membuat dua lapisan bacaan: antara yang “terlihat” dan “tak terlihat.”  Atau dalam filsafat India yang menyatakan tentang maya. Apa yang disebut maya ini sebenarnya bukanlah bahwa, “dunia ini adalah khayalan,” tetapi bahwa “cara dunia memamerkan dirinya kepada kita adalah mengelirukan.” Perma¬dani yang dibentangkan di hadapan kita, dan mengundang kita untuk menai¬kinya  adalah  sebuah  permadani ajaib, tetapi ia menyihir;  ia menipu. Frithjof  Schuon, dalam Spiritual Perspectives  and  the Human Facts, h.169 mengatakan bahwa, “kehidupan ini adalah perjalanan satu mimpi, satu kesadaran, satu ego melalui mimpi kolektif dan kosmis.  Kematian  menarik mimpi tersebut  dari  mimpi  keseluru¬hannya,  dan mencabut akar yang telah diturunkan ke  mimpi  umum. Alam  ini  adalah satu olahan mimpi dari mimpi yang  banyak.  The Self alone is awake.” Dalam konteks ini, ada do’a yang “aneh” dari Kitab Suci Yahudi dan Kristen, “Maka didiklah kami menghitung hari-hari kami, semoga akan terbit kearifan di hati kami” (Mazmur 90:12).

Tesis 2: Selain dari yang kita lihat pada sisi  lahiriahnya, terdapat  “sesuatu  yang lebih” dari itu,  Dan “itu” menakjubkan.

Kita sudah melihat bahwa sifat sebenarnya dari  “sesuatu  itu,”  secara radikal “berbeda” dari  yang  tampak. Mereka, para saintis menyetujui bahwa “yang berbeda” itu, lebih tinggi tingkatannya dari segala yang  kita  alami dalam penglihatan sehari-hari.

Sains  adalah  ilmu yang berurusan  dengan  kuantitas.  Maka istilah “sesuatu yang melebihi” itu dalam sains selalu dinyatakan dalam  bentuk angka-angka. Misalnya, kita mendapatkan  bahwa  cahaya dari  sebuah galaksi yang agak besar, dan paling dekat dari  bumi memerlukan dua juta “tahun cahaya” untuk sampai ke bumi.  Jumlah molekul dalam 4 1/2 dram air (kira-kira 1/2 ons), dan sebagai  tetapan avogadro adalah 6,023 x 1023, atau kira-kira  600.000 milyar molekul. Kepada keajaiban angka-angka seperti itu, agama biasanya mengatakannya dengan cara kualitatif, misalnya “Penderitaan  yang kita alami pada masa kini tidak seberapa besar dibandingkan  dengan kemuliaan dan keindahan yang akan kita alami kelak.”
Dari fisika mikro, kita juga mengetahui bahwa adanya zat yang 100 milyar kali lebih kecil dari elektron. John Weller memberitahukan  kita bahwa cakrawala yang kita  ketahui  ini,  13 milyar  tahun umurnya, dan 26 milyar tahun cahaya  yang  terjauh, jauhnya dari bumi. Angka-angka ini mempunyai platform yang begitu besar, sehingga menjadikan sains berkata secara  mistis, sebagai tak terbatas atau tak tergambarkan, maka dianggap “infinite”.

Tesis 3: “Sesuatu yang lebih” itu,  tidak dapat diketahui dengan cara yang biasa dilakukan

Biasanya, para saintis (ilmuwan) menggambarkan atas besaran yang sukar dibayangkan di atas, dengan kata  “mengagumkan” (Siapa yang bisa membayangkan  angka  bermi¬lyar-milyar  di atas). Tetapi sebenarnya, ini baru permulaan, yang belum apa-apa. Karena, kajian sains belakangan ini mengemuka¬kan  sesuatu yang tidak dapat diterka oleh pikiran  kita.  Inilah yang terjadi pada teori relativitas dan mekanika kuantum.

Selama abad kedua puluh, penemuan-penemuan fisika modern telah meruntuhkan paradigma Newtonian. Runtuhnya paradigma ini, terjadi akibat perkembangan teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum. Teori relativitas, yang merupakan fisika kecepatan tinggi pada jarak-jarak yang besar, yang membantah asumsi Newton tentang ruang dan waktu absolut, telah menguasai pandangan sehari-hari kita tentang dunia. Ruang dan waktu direlatifkan oleh Einstein, ketika unsur kecepatan cahaya menjadi variabel dari gerak. Dengan demikian, panjang ruang dan panjang waktu adalah sesuatu yang relatif, tergantung keadaan pengukurnya.

Sementara itu, mekanika kuantum, yang merupakan fisika tentang dunia mikro subatomik, merombak total pandangan tentang materi. Asumsi lama bahwa, atom-atom dunia mikroskopik adalah versi berskala kecil dari dunia sehari-hari, harus segera ditinggalkan. Mesin deterministik Newton digantikan oleh alam yang diatur dengan hukum-hukum kemungkinan, bukan hukum sebab akibat yang memberikan kepastian. Perkembangan ini mengakibatkan terbukanya ruang “mistik” dalam penjelasan fisika, juga menjadi fenomena yang tak pernah terduga, karena fisika sebelumnya sangat bersifat materialistik dan sekular dalam melihat kenyataan alam.

Pernyataan paling revolusioner dari fisika kuantum  mengenai hakikat kenyataan alam adalah tentang sifat dualitas dunia  suba¬tomik.  Contoh paling terkenal tentang sifat ini adalah cahaya, yang bisa diamati sebagai gelombang elektro-magnetik atau partikel-partikel  foton, tergantung dari  rancangan percobaan  yang diterapkan padanya. Niels Bohr menjelaskan ini melalui prinsip komplementaritas. Prinsip ini mengatakan bahwa, gambaran dunia subatomik sebagai partikel dan gelombang merupakan dua penjelasan yang saling melengkapi  tentang satu kenyataan yang sama, kendati kita  tidak bisa memperolehnya secara sekaligus. Percobaan yang dirancang untuk mendeteksi gelombang hanya dapat mengukur aspek  gelombang dari elektron. Sedangkan percobaan yang dirancang untuk mendeteksi partikel,  hanya dapat mengukur aspek partikelnya. Sebuah percobaan tak mungkin mengukur kedua aspek itu secara serempak.

Prinsip ini mempunyai efek epistemologis berkaitan dengan objektivitas  yang selama ini dijunjung setinggi langit oleh fisika. “Tidak benar bahwa fisika adalah tentang alam sebagaimana adanya. Fisika adalah tentang alam sebagaimana yang kita ketahui,” begitu Bohr mengomentari implikasi dari prinsip komplementaritas ini.
Dualitas partikel-gelombang ini dilanjutkan oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg yang membicarakan dualitas posisi-momentum. Prinsip ini mengatakan bahwa, kita  hanya  dapat  mengamati secara teliti separuh dari kenyataan keadaan fisik suatu  sistem. Artinya, kalau kita dapat mengukur dengan teliti kecepatan  suatu partikel,  maka pengukuran posisinya menjadi tidak teliti.  Sebaliknya,  semakin  teliti  kita mengukur posisi suatu partikel, semakin tidak teliti pengukuran kecepatannya.

Kedua  prinsip ini, memperlihatkan kenyataan dunia  subatomik yang tidak bisa dilepaskan dari  kesadaran  pengamatnya.  Jika fisika  klasik mengasumsikan  adanya dunia di  luar  sana  dalam keadaan  pasti, dan tak tergantung pada tindakan  pengamat,  maka kedua prinsip ini menampilkan gambaran kenyataan yang sebaliknya: pengamat dan yang diamati saling berkaitan erat.

Objektivitas ilmiah seakan lenyap pada tingkat subatomik, digantikan dengan subjektivitas  pengamat. Apa yang dapat kita ketahui ditentukan oleh perangkat percobaan kita. Dengan demikian, keyakinan tentang objektivitas menjadi ilusi. Melalui pengamatan, ternyata kita menciptakan kenyataan, bukan mengeksplorasinya.

Ketidakpastian  ini,  menurut Heisenberg,  bukan  disebabkan oleh ketidakmampuan manusia atau keterbatasan alat, tetapi meru¬pakan sifat yang melekat pada alam semesta. Alam  pada  tingkat subatomik seakan mengelak untuk diketahui manusia (bandingkan  dengan apa yang disebut “maya” dalam filsafat India.

Keutuhan yang tak terbagi. Einstein  tidak bisa menerima kenyataan kuantum  yang  serba tidak  pasti  ini. Bagi Enstein, tidak mungkin alam diciptakan  dengan aturan  yang  tidak bisa diketahui. “Tuhan tidak  sedang bermain dadu,”  katanya. Keberatan utama Einstein terletak  pada  prinsip ketidakpastian. Berharap dapat membuktikan bahwa  di balik dunia kuantum yang ganjil ini, tersembunyi kenyataan yang selaras dengan tradisi deterministik  fisika klasik, maka pada  1935,  Einstein, Podolsky,  dan Rosen  merancang sebuah percobaan untuk  mem¬buktikan  bahwa  ketidakpastian kuantum tidak  bersifat  inheren, tetapi disebabkan oleh tidak memadainya alat yang digunakan.

Percobaan ini ingin memperlihatkan bahwa kita bisa  mengukur posisi dan kecepatan elektron secara serempak  pada  saat  yang sama.  Upaya ini gagal, tetapi justru memperkuat aspek lain  yang lebih menakjubkan dari dunia subatomik, yaitu prinsip non-lokali¬tas. Prinsip  ini mengatakan bahwa partikel-partikel subatomik, dapat  saling mempengaruhi secara seketika dari jarak yang  jauh, tanpa  ada penyebab lokal. Seakan-akan ada interaksi  yang lebih segera dari kecepatan cahaya antara partikel-partikel itu.

Prinsip ini mempunyai jangkauan implikasi yang sangat  jauh. Jika kita dapat membayangkan alam semesta sebagai sebuah jaringan  partikel-partikel  yang saling berinteraksi dalam  sebuah  sistem kuantum, maka prinsip ini mengungkapkan sifat kesalinghubungan di alam  semesta.  Ini merombak secara menyeluruh  pandangan  klasik  tentang kausalitas yang terbatas pada efek-efek lokal.
Pada tahun 1951, David Bohm melihat aspek lain dari percobaan Enstein, Podolsky dan Rosen. Sambil melanjutkan keraguan Enstein perihal prinsip ketidakpastian, David Bohm berpendapat bahwa prinsip ini muncul hanya karena ketidakmampuan kita untuk menjelaskan sesuatu yang lebih mendasar dari teori kuantum. Menurut Bohm, kenyataan bahwa partikel-partikel subatomik dapat berhubungan secara langsung, justru disebabkan karena adanya kesatuan di balik realitas kuantum. Apa yang kita persepsikan sebagai partikel-partikel yang terpisah dalam sebuah sistem subatomik, sebenarnya tidak terpisah, melainkan merupakan perluasan dari sesuatu yang lebih fundamental pada tingkat kenyataan yang lebih tinggi. Bohm menyebut tingkat kenyataan partikel-partikel itu sebagai “explicate order”, sementara realitas dasar yang merupakan sumber-sumber itu diistilahkan Bohm sebagai “implicate order”.

Huston  Smith menyebut, pandangan-pandangan yang dipaparkan di atas, memunculkan epistemologi,  yang menuntut cara baru dalam memahami alam, yang  dise¬butnya dengan “counterintuitive”, yang mengatasi kategori ruang dan waktu seperti lazimnya selama ini dipahami dalam sains. Persamaan filosofis bagi pengertian “counterintuitive” ini adalah “ineffable” (di luar kemampuan kata-kata) dan “apophatic”. Kenyataan ini, tentu saja telah menimbulkan skandal dalam  sains,  justru  karena terbukanya ruang paradoks dalam sains. Padahal selama ini, seper¬ti dikatakan W.T. Stace dalam The Teaching of the Mystics, “sifat paradoks  adalah  satu ciri lazim semua ajaran  mistik”. jadi bukan ciri sains, yang ”rigorous”.

Tesis 4: “Kelebihan” itu tidak bisa diketahui dengan cara biasa. Meskipun begitu, ia bisa diketahui dengan cara-cara yang luar biasa.

Apa yang  kita  lihat  dari perkembangan sains baru ini, menuntut kita “berjalan lebih jauh.” Pada  mekanika kuantum, sebagaimana dikatakan Schilling, dalam The New  Consciousness in Science and Religion, bahwa,  “Kesimpulan…akan paradoks materi-gelombang… dicapai… dengan memakai   simbol matema¬tika semata (tentang mekanika kuantum), dan pada umumnya dengan mengelakkan konsep yang mempunyai gambaran-gambaran.” Ini memunculkan semacam .”visi mistik,” dalam sains yaitu:

Pertama,  visi alam yang baru itu adalah sesuatu yang terlalu hebat untuk diung¬kapkan dengan kata-kata. Apa yang diketahui adalah terlalu   sedikit, atau  masih jauh dari pengetahuan biasa, dan  hampir  tidak  dapat dinyatakan atau  dikabarkan kepada mereka yang  tidak  terlibat dalam bidang itu.

Kedua, visi ini menunjukkan  bahwa  eksistensi itu  disifatkan  sebagai perpaduan yang tidak  langsung. Misalnya materi dan energi adalah satu. Ruang dan waktu adalah satu. Ruang dan gravitasi adalah satu.

Ketiga, penemuan  visi ini menghidupkan rasa bahagia. Dan,

Keempat,  rasa bahagia ini bukan suatu kebetulan, tetapi ia adalah akibat logis dari penyebab yang mengakibatkannya: yaitu  pencapaian kesatuan wujud dalam sains.  Ini  begitu penting ditekankan, karena  tanpa  pencapaian kesatuan wujud, visi ketakjuban akan direndahkan kepada  pengala¬man mistikal biasa, yang sering dianggap sebagai perasaan.  Pada¬hal  pengalaman mistik bukan perasaan, tetapi suatu “noetic”  (yang berkaitan  dengan pengetahuan dan visi). Mengambil ungkapan dalam mistisisme, “Manusia yang  mendekati Tuhan  tidak  pernah gembira, karena ia  adalah  kegembiraan  itu sendiri” begitu Master Eckhart.

Tesis 5: Cara-cara  mengetahui yang luar  biasa  itu, memerlukan penyuburan (“Cultivation”) atau Penyemaian.

Apa  yang penting dari realitas sains  adalah  perlunya kesungguhan dalam dedikasi. Untuk menjadi seorang  ahli  fisika, sekarang  ini memerlukan waktu yang lama. Teori relativitas bisa dihapal  dalam beberapa menit, tetapi kajian bertahun-tahun  tentang teori ini, belum juga menjamin penguasaan atas teori  tersebut.

Sehingga  kesungguhan di dalam sains,  menyerupai dedikasi para  wali dan orang yang bercinta Ilahi; setelah  mencapai  kebersihan diri, maka pengalaman mistikal menjadi mudah dan biasa.  Walaupun seperti dikatakan  Bayazid,  “pengetahuan tentang  Tuhan  tidak  bisa dicapai dengan usaha, tetapi hanya mereka yang benar-benar  beru¬saha untuk mendapatkannya saja, akan menemuinya.”

Tesis 6: Pengetahuan mendalam memerlukan alat.

Sains pasti memerlukan alat. Sains misalnya mempunyai teleskop, kamera, spektroskop, dan sebagainya. Mistik pun mempunyai alat, yang terdiri dari dua macam. Untuk masyarakat yang buta huruf, ada  dan dikenal mitos, sedangkan bagi penduduk yang  berperadaban lebih maju, ada dan dikenal Kitab Suci (Sacred Text). Pada masyarakat yang tidak didatangi nabi, ia bisa mencapai kebenaran dengan melalui kesadaran diri yang  mendalam,  karena “Sifat  ketuhanan  ada dalam diri manusia.”  Kata Huston Smith, “hukum, peraturan dan prinsip penghidupan yang diwahyukan adalah ibarat  membongkar  rahasia  langit,  dan  mengumumkan  keagungan Tuhan, tetapi di dalam agama, alat-alat khusus juga bisa dipakai”.. Atau seperti dikatakan penyair mistik Blake bahwa, “jika pintu  akal  budi dibuka dan dibersihkan, setiap sesuatu itu akan kelihatan seperti pada hakikatnya yang sebenarnya, karena ia adalah infinite.”

Pandangan  ini  sejalan dengan Paul  Dirac  yang  mengatakan bahwa, “segala materi tercipta dari substratum yang  tidak  bisa dicapai  atau ditanggapi, dan penciptaan materi ini  meninggalkan di  belakang  mereka sebuah “lubang” dalam  substratum yang kelihatan seperti anti-materi. Substratum itu sendiri  tidak dapat secara tepat dikatakan benda, memandanginya memenuhi  semua ruang,  dan tidak bisa diketahui dengan penelitian sains.  Dari segi lain, ia kelihatan seperti sesuatu  yang  kosong, tidak  merupakan benda, dan tidak pula dapat dikesani, tetapi  senantiasa ada. Ia adalah suatu bentuk benda  yang  tidak  bersifat benda, yang darinya semua benda diciptakan.”

Akhirnya

Sekarang makin  disadari bahwa sains bisa  menjadi jalan  memahami  realitas kosmos, mengikuti jalan  lain yang lebih tua, seperti mistik.  “Mystics  have  known about it for  thousands  of years. Science is now discovering it”. Sains tidak lagi mendominasi, tapi melengkapi jalan mistik yang banyak membicarakan tema-tema seperti kesadaran. “Consciousness and the physical universe  are  connected,” begitu kata Michael Talbot, seorang penulis buku-buku bertemakan fisika baru dan mistisisme. Melalui mistik dan sains, muncullah apa  yang sekarang disebut  “the cosmic connection”. Dan rupanya, ini hanyalah istilah untuk zaman sekarang. Padahal, dahulu kala sudah dikenal dan populer dengan istilah “kesatuan wujud”. Akhirnya, menarik,“The newphysics is offering us a scientific basis for religion” kata Michael Talbot lagi. Kalau saintisme menolak agama, sains malah bisa menjadi basis untuk agama, khususnya. agama dalam dimensi mistisismenya.

Ini perbedaan sains dan saintisme yang sangat jelas.

No Comments

Leave a Reply