Search and Hit Enter

Saintisme dan Momok-Momok Lain: Interupsi untuk Goenawan Mohamad dan A.S. Laksana

Goenawan Mohamad (selanjutnya GM) dan A.S. Laksana (selanjutnya ASL) berdebat di Facebook. Dibanding perdebatan politis di TV yang kerap tidak lebih dari hembus angin, perdebatan tertulis mereka punya mutu yang merangsang nalar. Belum banyak yang mereka gali. Mereka berselisih sikap atas sains. Tapi sayang sekali, mereka bertarung tanpa membedakan kancah mereka. Kedua penulis berdebat dalam area-area yang berbeda dalam diskusi sains. ASL sibuk dengan aksiologi, tentang bagaimana sains berdampak secara historis pada masyarakat. Sementara itu, untuk klarifikasi sikapnya GM malah melantur ke epistemologi, tentang bagaimana sains meraih hasilnya (Husserl dan Popper), atau bahkan ontologi (Heidegger), tentang realitas yang didekati sains. Kancah itu tumpang tindih. Tapi mereka terlanjur saling senggol.

Jika ini arena tinju, yang mereka tampilkan belum pertandingan yang ditunggu. Mereka baru ada di “babak adu mulut” untuk menunjukkan siapa mereka. ASL tampil antusias pada sains, sementara GM bersikap hati-hati dengan antusiasme itu. ASL bilang GM memuja atau – istilah dia – “berkhitmad pada” Hegel, tapi GM membantah dengan menyatakan dirinya anti-Hegelian.

Kalaupun melangkah lebih jauh dari adu mulut, keduanya paling-paling baru berjalan berkeliling ring tinju sambil memamerkan kehebatan mereka mengingat nama dan peristiwa. ASL mengacungkan tinjunya dengan tesis kemajuan yang dibawa sains. Di seberangnya, GM memanggil nama-nama besar yang menurutnya kurang familiar bagi ASL, seperti Husserl, Heidegger dan tentu saja Popper. Penonton sudah tidak sabar melihat bogem mendarat ke muka.

Debat memang belum menukik. Meski begitu, debat tulisan mereka sangat menjanjikan untuk berkembang menjadi silang gagasan bermutu yang mendidik publik kita agar tidak hanya haus sensasi, tapi juga lapar nalar. Untuk itu saya minta izin untuk masuk ke dalam kancah mereka. Bukan untuk memenangkan, melainkan untuk sekadar memanaskan. “Panasnya pertarungan,”kata Bob Marley,”adalah semanis kemenangan”.


ASL dan GM jelas berbeda sikap. Namun mereka sebenarnya berada dalam perahu sama yang berbendera kritisisme. Mereka alergis terhadap dogmatisme jenis manapun. Seperti para antusias Pencerahan Eropa – semoga saya salah –  ASL kelihatannya lega, kalau sains akhirnya bisa mendepak agama, karena dogmatisme bercokol di sana. Tapi di seberang sana, seperti kritikus Pencerahan GM melihat ASL bergerak baru setengah jalan. Itulah yang membuatnya gundah. Bukankah kepongahan yang muncul dari kemajuan sains bisa bergulir menjadi dogmatisme baru? Pisau kritis jangan diarahkan hanya kepada agama, tetapi juga kepada sains. Dalam hal ini GM sepakat dengan Popper, Heidegger dan – jika mau lebih afdol semestinya juga – dengan Kuhn dan mungkin juga Feyerabend. Sains tetap hipotetis dan  falsifiable. Bukanlah keyakinan yang diberikannya kepada sains, melainkan kewaspadaan. Ada roh pasca-Pencerahan yang hinggap di benaknya.

Ada distingsi subtil yang sayangnya tidak muncul dalam silang gagasan mereka. Padahal jika dimunculkan, kesalahpahaman bisa dihindarkan. Distingsi itu adalah antara sains dan saintisme (scientism), antara agama dan fideisme, dan antara filsafat dan ideologi. Yang di sisi kiri berkata:”Aku sedang mencari jawaban” dan tidak terlalu dini merasa menemukannya. Yang di kanan tidak tahan dengan ketidakpastian pencarian, maka sejak subuh berkata:”Akulah jawaban”.
Hal-hal yang di kanan itu jelas tidak disukai GM, bukan karena dia tidak suka jawaban. Dia tidak suka jawaban yang memasung kebebasan dan menyeragamkan yang majemuk. Logis juga kalau dia lalu juga waspada terhadap kekuasaan yang nongkrong di belakang keyakinan itu, entah itu di belakang sains, agama atau bahkan di belakang filsafat. Sikap ASL lurus saja seperti bapak positivisme, Auguste Comte yang mengira mitos diusir filsafat, dan filsafat diatasi sains. Jelas dia menyambut sains sebagai pembebas, lalu menengok ke masa silam untuk memaklumkan bahwa “iman yang gemar menghukum” akhirnya digilas sains.

Sains memang menjadi digdaya. Kalau terlalu yakin dengan jawabannya, sains berhenti bertanya dan dilantik sebagai jawaban akhir yang tidak lagi perlu dipersoalkan. Fundamentalisme sains itu disebut saintisme. Wiener Kreis dengan positivisme logisnya mewakili keyakinan itu. Bahkan para fisikawan, logikus dan matematikus yang terhimpun di situ punya proyek Einheitswissenschaft untuk menyatukan semua ilmu di bawah metode fisika dan matematika. Syukur bahwa proyek itu berantakan. Tapi entah kenapa, impian mereka tidak segera tamat di benak mereka yang antusias pada sains. Wujud historisnya adalah laboratorium-laboratorium Nazi. Di bawah sorot mata Joseph Mengele, sang malaikat maut, wanita-wanita Yahudi Polandia yang disterilisasi tanpa bius hanyalah preparat risetnya. Tidak lebih. Silau oleh cahaya dingin kebenaran sains, manusia bisa kehilangan hati nurani dan empatinya.

Bagaimana dengan agama? Mereka yang antusias dengan kemajuan sains pasti heran dengan penempatan agama sebagai pencari jawaban. Bukankah agama, khususnya doktrin-doktrinnya, sudah memberikan jawaban baku dan tidak perlu mencari kebenaran lagi? Seperti dengan sains, di sinipun kita perlu membedakannya dengan fideisme. Wahyu memang diyakini sebagai kebenaran final, tapi pemahaman manusia atasnya tidak pernah final. Jadi, agama sebetulnya juga terus bertanya tentang pemahaman yang benar atas wahyu, maka dihasilkan banyak tafsir, mazhab, sekte, dst. Mereka yang tidak tahan dengan ketidakpastian akan mengalami ‘korsleiting’ di otaknya. Fideisme lalu menjadi pegangan. Sekonyong-konyong dari sudut mata yang saleh itu sains tampak sebagai karya iblis.

Filsafat tidak terprivilegi. Dia pun bisa tergoda untuk menepuk dada dan berujar “Akulah jawaban”.  Di saat itu dia berubah menjadi doktriner yang intimidatif. Rousseau di tangan Robespierre, algojo Revolusi Prancis, menjelma menjadi doktrin teror. Di bawah Stalinisme Plato juga bisa mengintimidasi seni dan sastra. Schopenhauer di tangan Musolini menjadi dogma gerakan. Namun filsafat itu sendiri tidak ingin “membangun monument”, seperti dikira ASL. Kalaupun betul, monument pikiran menunggu untuk diruntuhkan. Aliran-aliran di dalamnya mengalir, bukan pikiran beku. Filsafat hidup dari bertanya. Tentu bertanya adalah untuk mendapat jawaban. Tapi begitu jawaban diperoleh, pertanyaan diubah. Kalau tidak begitu, dia bukan filsafat, melainkan ideologi.

Pandemi Covid-19 menjadi alasan kuat untuk mewaspadai saintisme, fideisme dan ideologi. Mereka bisa saja menjadi tuntunan praktis bagi rezim biopolitis global yang mulai mengawasi tubuh dan mengobok-obok privasi warga. Berkat sains kita memang lebih siap menghadapi pandemi ini, tetapi konyol jika bersikap naif terhadap der Wille zur Macht di balik sains. Sains itu politis, seperti dicurigai Feyerabend. Politik lebih sering menikung ke labirin dunia makna daripada bertahan di dunia fakta. Tidak mengherankan jika sains juga diperumit oleh politik, seperti di saat pandemi ini.


Sejak tadi saya gatal untuk menggiring debat masuk lebih dalam. Entah, apakah ada yang tertarik. Ada tiga persoalan. Pertama, agama dan sains kerap dihadap-hadapkan. Itu tidak realistis. Sains tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari peran agama, sekurangnya secara historis. Max Weber pernah bertanya, kenapa sains modern berkembang di Barat dan tidak di India. Karena monteisme menyumbang untuk menghadapi alam bukan sebagai hal gaib, melainkan sebagai materi yang bisa ditangani. Menolak berhala adalah awal materialisasi alam dalam monoteisme. Materialisasi alam memungkinkan sikap obyektif dalam sains. Tentu borjuasi Eropa dengan sikap berjaraknya juga andil dalam hal itu. Betul bahwa akhirnya sains otonom dari agama. Namun apakah wahyu religius tidak ikut melahirkan sains, sekurangnya secara tidak langsung? Jika ya, mestinya ibu dan anak bisa saling mengerti, dan anak tidak perlu durhaka.

Kedua, perkembangan New Sciences, seperti teori chaos, geometri faktal, mekanika kuantum dll. telah berpisah dari mechanical worldview a la Newton. Ilmu-ilmu sosial ikut dipengaruhi tentu saja. Ketidakpastian dan kontingensi makin mendapat tempat penting dalam sains. Dalam epidemologi yang mencoba mengantisipasi pola penyebaran infeksi SAR-CoV-2 juga harus betatapan dengan ketidakpastian. Tidakkah realitas yang ditangkap oleh New Sciences ini jauh lebih kompleks dan jauh lebih tidak pasti lagi, sehingga sains – juga agama dan filsafat – seperti dikatakan Rorty bukan mirror of nature, melainkan hanyalah upaya rasional untuk mengurangi kerumitan saja? Konstruksi-konstruksi rasional seperti itu tidak bisa permanen. Jadi, ya, mengapa harus “berkhidmat kepada” mereka?

Yang ketiga adalah tentang hubungan antara sains dan dunia makna. Realitas terdiri atas benda dan makna. Sains berhasil mengetahui benda. Tetapi bisakah makna didekati oleh sains (ilmu alam)? Bagaimana mungkin dari benda muncul kehidupan, dan dari kehidupan muncul kesadaran? Neurosains pun belum bisa menjelaskan mengapa otak bisa menghasilkan neorosains, jika kesadaran tidak lebih dari otak saja. Dugaan saya, untuk menjawab pertanyaan macam ini sains tidak bisa sendirian tanpa melibatkan agama dan filsafat.

Masih ada lusinan pertanyaan lain yang berkecamuk di kepala saya. Tentu bukan ‘ sang Entah’ yang diundang pertanyaan, melainkan suatu yang menghalaunya. Karena itulah kita berdiskusi.

No Comments

Leave a Reply