Search and Hit Enter

Sains dan Hal-Hal Baiknya

– Catatan untuk Goenawan Mohamad

SEMUA yang hidup pasti mati; jika tidak sekarang besok, jika tidak besok lusa, pekan depan, bulan depan, tahun depan, atau sekian tahun lagi, tetapi kematian pasti tiba. Itu penemuan terbaik manusia tentang dirinya, kata Steve Jobs dalam ceramahnya di Stanford University, 12 Juni 2005. Dan itu masih penemuan terbaik, setidaknya sampai saat ini.

Cerita selanjutnya, berkenaan dengan apa yang terjadi setelah kematian, tergantung pada informasi yang anda yakini, atau, lebih tepat, yang diyakini oleh orang tua anda: Pada umumnya tiap-tiap orang meyakini apa yang diyakini oleh orang tua masing-masing. Jika orang tua anda meyakini informasi bahwa orang yang mati akan pergi ke surga atau neraka, anda akan cenderung meyakini pula kebenaran informasi itu. Dalam keyakinan ini, kematian hanyalah awal dari kehidupan yang sebenarnya di mana seseorang akan mendapatkan berkah sepanjang hidup atau siksa yang kekal.

Kita tahu itu bukan satu-satunya informasi tentang keadaan manusia setelah ajal. Adherents, sebuah lembaga independen dan non religius yang memantau jumlah dan skala agama-agama, mencatat ada sekitar 4.300 agama di muka bumi; dari mereka kita bisa mendapatkan beragam informasi tentang apa yang terjadi setelah orang meninggal. Dari pemeluk scientology kita mendapatkan informasi bahwa setelah meninggal manusia akan dijemput oleh piring terbang.

Apa pun informasi yang anda yakini, kemungkinan besar anda tidak memilih sendiri keyakinan itu. Setidaknya, itu yang terjadi dalam tradisi para pemeluk agama-agama besar, Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan Yahudi; anak-anak tidak memilih sendiri agama mereka. Orang tua yang memilihkan agama untuk mereka sejak mereka kanak-kanak atau bahkan sejak hari pertama kelahiran. Ada kasus-kasus orang memilih sendiri setelah dewasa, berpindah dari satu agama ke agama lain, tetapi itu hanya kasus individual dan jumlahnya tidak banyak. Perpindahan massal hanya terjadi karena penaklukan—sebuah tindakan suci di masa lalu, tetapi terkutuk jika dilakukan sekarang.

***

Sekalipun kita memiliki keyakinan bahwa manusia pasti mati, kebanyakan dari kita mencintai kehidupan. Kita memutuskan berdiam di rumah saja di masa korona, mengikuti informasi yang disampaikan oleh para saintis, karena kita masih ingin mempertahankan kehidupan.

Ada satu-dua perlawanan di masa-masa awal; beberapa muncul dalam bentuk celoteh serampangan (“Covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal.”), dan beberapa bersandar pada argumen keagamaan bahwa kita tidak perlu takut pada korona, kita hanya perlu takut pada Tuhan, bahwa Tuhan lebih besar dari korona, bahwa Tuhan punya kehendak baik dengan menurunkan wabah.

Mereka percaya diri karena tidak memiliki informasi tentang apa yang sedang mereka hadapi. Mereka membuat kelakar atau tindakan sembrono tanpa menyadari risikonya.

Pada masa lalu, ketika agama-agama menjadi penguasa semua informasi tentang kehidupan dan kematian, dan bersamaan dengan itu pemimpin agama memiliki kekuasaan tak terbendung untuk memerintah dan menghukum, seruan sekusut apa pun dari pemuka agama akan diterima sebagai kebenaran. Goenawan Mohamad, dalam salah satu catatan pinggirnya, menyampaikan bahwa di masa lalu, ketika sampar mewabah, salah satu ikhtiar religius untuk mengakhiri penderitaan akibat wabah tersebut adalah dengan membakar hidup-hidup orang Yahudi.

Hari ini kita menganggap itu tindakan gila.

Kegilaan yang sama tidak mungkin dilakukan lagi sekarang, di saat kita menghadapi wabah korona. Meski ada gejala-gejala serampangan yang disebabkan oleh ketidaktahuan yang keras kepala, tetapi jelas kita tidak mungkin membakar manusia, dari ras mana pun, dan meyakini dengan itu wabah akan berakhir. Kita bahkan tidak akan sudi melakukan pembakaran kalaupun unsur manusia diganti dengan tujuh ekor anak ayam.

Informasi-informasi saintifik membuat pengetahuan kita membaik dan momentum berjangkitnya wabah, disadari atau tidak, telah menjadi pendorong yang efektif bagi penerimaan kita terhadap sains. Tidak ada informasi yang bisa diandalkan kecuali yang datang dari kalangan sains, dan yang terjadi kali ini sungguh menakjubkan: Orang tidak mengamuk ketika mereka diminta menghentikan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bersifat kerumunan. Para pendakwah yang keras menjadi lebih pendiam. Mereka mematuhi keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan informasi saintifik.

Kepatuhan umum itu tampaknya membangkitkan rasa percaya diri di kalangan ilmuwan kita dan untuk kali pertama kita menyaksikan munculnya niat untuk memberi apresiasi tinggi dan terang-terangan kepada sains: Ikatan Dokter Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional, 20 Mei, dengan diskusi bertema “Berkhidmat pada Sains”, dengan pembicara Farid Anfasa Moeloek (bekas menteri kesehatan), Sangkot Marzuki (direktur lembaga Eijkman, 1992-2014), dan Goenawan Mohamad (penulis Catatan Pinggir).

Dibandingkan dua pembicara lainnya, Goenawan cenderung tidak sepakat pada tema diskusi sore itu. Dan kegundahannya sudah tampak sehari sebelum diskusi. Dalam poster pengumuman, ia mula-mula tercantum akan membawakan materi “Risalah Sains: Ikhtiar membangun peradaban.” Kemudian ia meralat dan mengganti materinya dengan judul “Sains dan Beberapa Masalahnya.”

Diskusi berjalan datar, dengan sopan-santun religius yang memakan waktu di antara orang-orang yang diminta berpendapat. Beberapa dari mereka, termasuk moderator diskusi, berbicara seolah dengan setelan otomatis: Mereka memulai pembicaraan dengan puji syukur ke hadirat Allah dan salawat dan salam kepada nabi—seperti dalam pengajian.

Ajakan untuk berkhidmat pada sains itu kemudian disanggah oleh Goenawan Mohamad, yang lebih memilih berkhidmat pada Hegel dan Heidegger dan para filsuf romantik Jerman, dengan menyampaikan anekdot tentang Einstein. Politik lebih rumit dibandingkan fisika, kata Einstein sebagaimana dituturkan oleh Goenawan. Mungkin ia ingin menyampaikan, dengan anekdot itu, bahwa sains tidak perlu dilebih-lebihkan, buktinya Einstein sendiri mengatakan politik lebih rumit.

Sebetulnya tidak mengejutkan bahwa Goenawan berpendapat seperti itu. Dalam beberapa kolom catatan pinggir sepanjang berkecamuknya wabah, ia telah beberapa kali menyatakan sikap skeptisnya, dan mungkin ketidakpercayaannya, terhadap sains. Ia, seperti biasa, rajin memberi kita rujukan ke masa lampau, membandingkan wabah berabad-abad lalu dengan wabah hari ini, dan menyimpulkan bahwa situasinya masih sama. “Kembali Entah yang menyembul ke depan,” tulisnya dalam kolom “Entah.”

Dalam kolom lainnya yang berjudul “Pasti” ia membuat pernyataan sewenang-wenang tentang ilmu pengetahuan: “Ilmu pengetahuan selalu menjanjikan jawab yang meyakinkan, tapi bersamaan dengan itu juga hidup dari pertanyaan dan perdebatan.  Apa yang kemarin  kita ketahui tentang Covid 19  hari ini tak sebulat sebelumnya.”

Ia melupakan karakteristik sains melalui pernyataan itu. Sains tidak pernah menjanjikan kepastian, tidak pula mengklaim “akulah jawabnya” sebagaimana yang ia tulis untuk menutup kolom “Entah.” Kebenaran dalam sains adalah kebenaran mutakhir, bukan kebenaran akhir, sebab tidak ada kebenaran final dalam sains. Dengan karakteristik sains yang seperti itu, pernyataan selalu ada entah tentu akan benar dengan sendirinya. Itu hampir sebuah truisme.

Dalam pandangannya yang muram dan sengit terhadap sains, ia seperti sengaja melupakan bahwa pengetahuan dan kecakapan manusia saat ini sudah sangat membaik, dalam banyak hal. Di masa lalu keputusan-keputusan krusial sering didasarkan pada informasi yang tidak akurat. Di masa sekarang, dengan sains yang selalu ia cibir, manusia mampu mendeteksi secara cepat apa penyebab wabah, seperti apa bentuk virusnya, dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah penularannya sementara solusi yang manjur diupayakan. Dan solusi paling manjur hanya bisa didapatkan ketika informasi yang dimiliki sudah memadai. Apa yang oleh Goenawan dikeluhkan sebagai ketidakpastian informasi—“Apa yang kemarin  kita ketahui tentang Covid 19  hari ini tak sebulat sebelumnya.”—sesungguhnya adalah proses yang wajar di kalangan saintis untuk mendapatkan informasi seakurat mungkin.

Dan bukankah perbaikan informasi dalam hitungan “kemarin” jauh lebih baik ketimbang ralat yang dilakukan ketika semuanya sudah terlambat? Kita bisa membandingkan kecepatan ini dengan kelambatan dalam kasus apa saja yang terjadi berabad-abad lalu. Dengan kasus Jeanne d’Arc di abad kelima belas, misalnya. Gadis 19 tahun itu dinyatakan bid’ah dan dibakar hidup-hidup di kayu salib dan vonis terhadapnya baru diralat oleh Paus dua puluh satu tahun kemudian melalui pengadilan ulang. Lima abad setelah kematiannya, di abad ke-20, ia ditahbiskan sebagai orang suci agama Katolik.

Saya pikir kesanggupan manusia untuk menangani urusan-urusan besar dan kecepatan menemukan informasi-informasi baru yang lebih akurat untuk pemecahan masalah adalah sebuah bukti kemajuan. Dalam urusan wabah, kita tidak bisa menyamakan respons ilmu pengetahuan hari ini dengan keputusasaan manusia di abad ke-14 menghadapi sampar yang berlangsung dua puluh tahun dan membunuh antara 75-200 juta orang, atau membandingkannya dengan cara orang menangani wabah cacar dan dua kali pes di Meksiko sepanjang abad ke-16 yang membunuh 22 juta orang di negeri itu.

Yang membedakan antara wabah-wabah di masa lalu dan wabah hari ini adalah kualitas informasi tentang cara menghadapinya. Di masa lalu informasi untuk menangani wabah datang dari kalangan agama dan tindakan yang dilakukan bisa di luar nalar. Waktu yang panjang dan jumlah orang yang mati menunjukkan bahwa mereka membuat keputusan dengan informasi yang meleset. Di masa sekarang informasi datang dari ilmuwan sains dan, berdasarkan itu, kita melakukan hal-hal yang relevan untuk mencegah penularannya.

Tentu masalah akan selalu ada; selama manusia hidup dan melakukan aktivitas, selalu akan terbuka kemungkinan munculnya masalah, dan itu bahkan bisa terjadi dalam situasi normal, tidak hanya ketika wabah.

Namun, lepas dari ketidaksukaan pribadi Goenawan Mohamad terhadap sains, pesannya tetap bisa disepakati bahwa sains harus dikritisi, terutama agar penerapannya tidak merusak kehidupan (bom atom, pemanasan global, penggundulan hutan adalah sedikit contoh dari efek buruk kemajuan teknologi, dan kemajuan teknologi adalah anak kandung sains). Yang terasa mengganggu dalam diskusi “Berkhidmat pada Sains” adalah cara ia merendahkan derajat sains dengan mengajukan anekdot tentang Einstein dan politik yang lebih rumit dibandingkan fisika. Itu sebuah simplifikasi, jika bukan falasi—dalam penalaran kita mengenalnya sebagai kekeliruan appeal to authority. Hanya karena Einstein berkata seperti itu, bukan berarti fisika, dan secara umum sains, adalah hal yang remeh-temeh. Ada banyak hal lain di luar politik yang bagi Einstein niscaya lebih rumit ketimbang fisika, misalnya merenda sweater musim dingin, membuat kruistik, atau mengarang novel.

Saya tidak tahu seserius apa ajakan untuk berkhidmat pada sains. Mungkin itu efek dari kepercayaan diri yang naik, atau semacam euforia, di kalangan saintis karena di masa pandemi ini orang betul-betul menaruh kepercayaan dan harapan kepada sains. Mungkin juga itu sekadar percakapan menunggu waktu buka puasa. Namun, serius atau tidak serius ajakan itu, ketika seseorang yang dianggap pemikir dihadirkan dalam diskusi, ia tentu dihadirkan tidak untuk menyodorkan falasi.

***

Sejarah manusia membuktikan bahwa informasi adalah sumber kekuatan, juga sumber kekuasaan. Di masa ketika seorang pemimpin dipilih dengan prinsip primus inter pares atau yang paling unggul di antara sesamanya, penguasa informasi selalu menempati posisi tinggi di dalam masyarakat. Manusia menghargai dukun dan shaman sebab mereka dianggap menguasai informasi dari sumber yang tak bisa dijangkau oleh kebanyakan orang. Mereka menguasai informasi dari langit atau dari makhluk-makhluk gaib.

Berkembangnya agama-agama besar makin memperkuat posisi pemilik informasi dari langit atau dari makhluk gaib ini. Kekuasaan mereka besar dan informasi yang mereka sampaikan menjadi kebenaran mutlak. Kita tahu bagaimana gereja di Eropa pernah begitu berkuasa, tak bisa dibantah, dan orang-orang yang menyampaikan informasi yang tak sejalan dengan informasi gereja adalah pendosa yang harus diluruskan atau dibasmi.

Para filsuf dan pemikir dan saintis generasi awal adalah orang-orang yang sering menjadi korban, sebab berpikir adalah tindakan yang membahayakan iman dan bisa menyesatkan orang banyak dan begitu pula temuan-temuan sains. Galileo Galilei, seorang filsuf, astronom, dan figur sentral dalam revolusi sains abad ke-17, harus mengakui dosanya kepada gereja karena menyatakan dukungan terhadap teori Copernicus bahwa matahari berada di pusat semesta dan bumi mengelilingi matahari, sementara gereja mengimani hal yang sebaliknya bahwa matahari mengelilingi bumi. Pada 22 Juni 1633, setelah empat kali dipanggil oleh lembaga inkuisisi, ia dipaksa berlutut untuk mendengarkan kesalahannya dibacakan. Selanjutnya ia harus mengucapkan dan menandatangani sumpah mengakui kesalahan, mengutuk ajaran sesat, dan memohon pengampunan:

“Saya telah diadili secara keras sebagai tersangka bid’ah, yaitu telah mempercayai bahwa matahari berada di pusat semesta dan tidak bergerak, dan bahwa bumi tidak berada di pusat dan ia bergerak. Namun, saya berharap sudilah kiranya Yang Mulia dan semua orang Kristen yang taat menghilangkan semua kecurigaan terhadap saya. Saya menyatakan dengan hati dan iman yang tulus bahwa saya mengutuk dan membenci kesalahan dan ajaran sesat yang disebutkan, dan semua kesalahan, bid’ah, dan sekte yang bertentangan dengan Gereja Katolik Suci.”

Itu adegan yang mencabik-cabik emosi untuk dibayangkan di masa sekarang.

Tetapi sains tak bisa dibendung, bahkan oleh iman yang gemar menghukum. Para saintis terus memproduksi informasi baru, dan banyak informasi yang mereka sampaikan telah menggugurkan informasi-informasi agama dan juga spekulasi filsafat. Apa boleh buat, itu tak terhindarkan. Agama adalah sistem tertutup yang informasi-informasinya tidak bisa direvisi. Filsafat, meski acapkali bertentangan dengan agama, kurang lebih serupa juga dalam pengertian bahwa tiap-tiap aliran filsafat berusaha menegakkan dirinya sendiri. Keduanya, baik agama maupun filsafat, sama-sama berupaya membangun monumen masing-masing. Bedanya, agama menyampaikan informasi-informasi yang sangat mudah dicerna dan menyandarkan kebenarannya pada iman para pemeluk, sementara filsafat menyodorkan informasi yang rumit dan membuktikan kebenaran falsafinya dengan penalaran yang ketat.

Dari jenis-jenis informasi yang disodorkan, filsafat jelas menawarkan formulasi yang lebih canggih dibandingkan agama. Tetapi dalam cara memproduksi informasi, keduanya masih serupa: masing-masing berdiri sendiri; masing-masing sempurna, atau merasa sempurna, dengan keadaan semula. Dalam perumpamaan yang paling dekat dengan situasi hari ini, keduannya ibarat komputer stand-alone.

Dibandingkan dengan mereka, sains adalah komputer jaringan. Dan memang kekuatan sains adalah kekuatan jaringan. Dalam situasi pandemi saat ini, ilmuwan satu dan ilmuwan lain saling terhubung seperti komputer yang terhubung dalam satu jaringan besar. Tetapi dalam situasi apa pun, mereka bekerja seperti itu. Temuan-temuan saat ini adalah kelanjutan, dan penyempurnaan, dari temuan-temuan sebelumnya. Informasi-informasi saintifik bersifat falsifiable—ia bisa didukung kebenarannya maupun diuji kesalahannya melalui penalaran, eksperimen, riset, maupun uji laboratorium. Karakteristik falsifiability itulah yang menyebabkan kebenaran dalam sains tidak pernah final. Ia, karenanya, tampak seperti sebuah proyek raksasa yang melibatkan banyak orang dari banyak tempat.

Yang mungkin mengecewakan bagi banyak orang adalah sains tidak memberi makna pada kematian dan tidak pula mengurusi hakikat keberadaan manusia di muka bumi. Ia tidak akan pernah menawarkan informasi-informasi spekulatif tentang kematian, sepuitik apa pun kedengarannya. Dan ia juga tidak menyediakan tempat bagi takhayul, sebuah gejala yang oleh Goethe dinyatakan sebagai “puisi bagi kehidupan sehari-hari.”

Goethe benar dengan perumpamaan itu. Pemujaan terhadap batu-batuan, misalnya, atau ritual menyambut roh nenek moyang yang datang tiap Rabu malam, atau arak-arakan besar untuk mengantarkan jenazah mengikuti tradisi kuno—anda bisa menambahkan contoh lain sampai tak terhingga—adalah perbuatan-perbuatan yang puitik. Para penggemar fotografi akan mendapatkan gambar-gambar indah dari ritual-ritual semacam itu.

Para ilmuwan sains memandang kematian, dan segala kelemahan ragawi manusia, sebagai tantangan. Mereka menganggap kematian adalah problem teknis, dan untuk setiap problem teknis niscaya ada solusi teknisnya—hal yang mudah dianggap sebagai sikap takabur dalam pandangan orang beriman. Cara pandang para saintis pun mungkin terasa merendahkan derajat kemanusiaan: mereka melihat manusia, makhluk dhaif yang mendefinisikan dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi, tidak lebih hanyalah mesin. Namun justru cara pandang seperti itulah yang memungkinkan sains mengembangkan prosedur dan teknologi pencangkokan hati, ginjal, jantung, dan sebagainya; kurang lebih sama dengan montir mengganti karburator, busi, atau knalpot yang sudah jebol.

Mereka belum berhasil dalam proyek ambisius untuk mewujudkan kehidupan yang abadi, dan, kalaupun berhasil, kita mungkin tidak akan mengalami masa itu. Untuk saat ini, kita tetap harus menerima kefanaan kita. Keberhasilan sains sejauh ini baru pada tahap memperpanjang harapan hidup manusia. Selama dua abad terakhir, harapan hidup rata-rata telah melonjak dari di bawah 40 menjadi 72 tahun di seluruh dunia, dan lebih dari 80 di beberapa negara maju. Tetapi ini pun sudah merupakan capaian yang patut disyukuri, termasuk oleh penggemar filsafat: Sains membuat mereka memiliki umur lebih panjang untuk menekuni pemikiran dan membaca buku-buku kesukaan.***

No Comments

Leave a Reply