Search and Hit Enter

Wabah Muerte

Suara musik gramofon tua itu terdengar dari ruang tengah rumah Miguel Villefort. Suara yang sudah agak sumbang lantaran gerak piringan di atas gramofon sudah tak sesempurna dulu lagi. Tapi seolah tak menjadikan hal itu masalah, Dug Dantes dan Catelaire Burry tetap menikmati simfoni nomor lima dari Beethoven. Bahkan sesekali kepala Burry mengikuti alunan irama musik sembari tangannya yang kokoh begitu kuat menggenggam sekop dan menggali tanah di halaman rumah Miguel Villefort. Dug Dantes pun sama, dengan tekun lelaki berbadan tambun itu menggali tanah di halaman rumah Miguel Villefort. Lubang untuk mengubur jasad Miguel yang baru saja turut tewas seperti penghuni Kota Muerte lainnya.

            Enam bulan yang lalu seorang gypsi perempuan bernama Aednat mendatangi kota. Perempuan yang memiliki wajah tak bahagia itu sampai di Kota Muerte ketika matahari hanya tinggal sepenggalan di ufuk barat. Wajahnya yang tirus dengan anting besar membuat beberapa anak-anak di Muerte merasa ketakutan. Dari balik jendela rumahnya, Dug Dantes hanya mengamati kedatangan perempuan gypsi itu secara diam-diam, namun tak lama kemudian dia bersiap tatkala dilihatnya perempuan gypsi berjalan ke arah rumahnya.

            “Tak adakah tuan rumah?” Suara tamu tak diundang terdengar di halaman rumah Dantes.

            Mendengar sapaan tak lumrah itu, Dug Dantes hanya diam di tempat duduknya. Dia sama sekali tak memiliki keinginan untuk membuka pintu. Sekali lagi panggilan dari luar terdengar, dan Dug Dantes tetap memilih diam. Sebelum akhirnya ada suara orang lain yang juga terdengar, Dug Dantes baru beringsut bangun. Dia melihat Franco Debray, seorang pelukis muda yang rumahnya hanya berjarak lima kaki dari rumah Dantes.

            “Nyonya mencari siapa?” Tanya Franco sembari menghampiri perempuan gypsi yang masih memukul-mukul pagar rumah Dug Dantes.

            “Tuan pemilik rumah ini. Ada yang ingin kubicarakan dengannya,” sahut perempuan itu tanpa menoleh ke arah Franco.

            “Mungkin Tuan Dantes sedang pergi. Titipkan saja pesan untuknya kepada saya, nanti akan saya sampaikan jika sudah bersua dengannya.” Kata Franco ketika menoleh ke arah pintu rumah Dug Dantes dan tak ada tanda-tanda jika pintu rumah itu akan terbuka.

            “Aku tak ingin meninggalkan pesan kepada siapa pun. Terutama dengan mayat hidup sepertimu!”

            Mendengar jawaban perempuan gypsi itu, bukan hanya Franco Debray saja yang terkejut, melainkan juga Dug Dantes yang masih berdiri diam di balik pintu rumahnya. Dia mengembuskan napas kesal, lalu dengan cepat dibukanya pintu.

            “Ah, Tuan Dantes! Ternyata Anda di rumah. Lihat, Anda kedatangan tamu yang cukup aneh dan menakutkan ini,” kata Franco sembari tersenyum masam saat melihat Dug Dantes berdiri di depan pintu.

            “Terima kasih, Franco. Aku sendiri tak mengenalnya. Tapi terima kasih, kau telah membantuku.” Ujar Dug Dantes tersenyum ke arah Franco Debray yang masih berdiri di depan pagar rumahnya.

            Franco Debray mengangguk ke arah Dug Dantes, kemudian mengangkat tangan kanannya yang masih berlumuran cat minyak sebelum berlalu. Untuk beberapa saat Dug Dantes hanya memandangi perempuan gypsi yang begitu asing di matanya. Dia mencoba menerka-nerka, di manakah ia pernah bertemu dengan perempuan paruh baya yang kini berdiri tepat di pintu gerbang rumahnya.

            “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Dug Dantes berjalan menuruni tangga serambi menuju pintu gerbang.

            “Kau tentu tak mengenalku, tetapi aku mengenalmu. Namamu muncul di kuntum bunga violet kayu di musim semi yang lalu,” sahut perempuan gypsi itu dengan misterius.

            “Ah, aku tersanjung karena itu. Tapi mana mungkin namaku tertulis di kuntum bunga violet kayu?” Dug Dantes mengernyit.

            “Semua manusia tak mudah percaya denganku. Mereka kerap mengatakan Aednat seorang pembohong. Tapi percayalah Dug Dantes, kau akan berterima kasih jika kuberi tahu sesuatu tentang Muerte.” Aednat berbisik di dekat telinga Dug Dantes.

            “Menyoal apa?”

            “Menyoal hal penting. Tapi sebelumnya, aku melihat di dapurmu ada satu teko teh camomile dan stoples lebkuchen. Aku sangat menyukai kue jahe itu, Dantes. Boleh aku mencicipinya?” Mata Aednat membelalak.

            Dengan kesal Dug Dantes menyilakan Aednat masuk ke dalam. Dengan rasa malas dia mengambil teh camomile dan stoples lebkuchen di dapur. Tanpa  merasa canggung, Aednat memakan lebkuchen itu dengan lahap.

            “Jadi, ceritakanlah apa yang kau lihat tentang Muerte. Aku tak sabar ingin tahu,” ujar Dug Dantes sembari mengamati Aednat yang masih asyik menikmati kudapan.

            “Kota ini akan habis penghuninya. Dan tinggal kau seorang yang akan hidup. Wabah akan menyebar seperti udara, dan malaikat-malaikat maut beterbangan di atas kota ini. Muerte akan menjadi kuburan massal. Kau akan kesulitan  mengubur orang-orang yang mati. Tanah makam yang luas itu bahkan tak lagi bisa menampung mayat-mayat bergelimpangan. Tuhan telah memilih kota ini untuk dijadikan contoh tentang kota yang dibinasakan. Kota ini telah dikutuk. Dikutuk!” Aednat menjentikkan jarinya.

            “Omong kosong seperti apa ini? Aku tak percaya kutukan!” Dantes membelalak.

            “Biarlah kau tak percaya, tapi kota ini akan mati. Dan kau Dug Dantes, kau akan menjadi saksi tentang binasanya manusia-manusia di Muerte! Aku telah melihat semuanya dan ramalanku tak pernah keliru.”

            Dug Dantes begitu marahnya mendengar ucapan Aednat. Ditariknya perempuan paruh baya itu keluar rumah. Ditinggalkannya Aednat yang masih berdiri di luar pagar begitu saja. Tapi tak berselang lama, Aednat beranjak pergi setelah mengendikkan bahu dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Dug Dantes yang tak percaya dengannya.

            Semalaman Dug Dantes tak memperdulikan ucapan Aednat. Perempuan tua itu mungkin mabuk berat atau dia hanya sebatas penipu. Tapi ketika pagi tiba, dia seolah kehilangan kata-kata. Kabar yang didapatkan sebelum ayam berkokok itu membuat tubuhnya menggigil. Sepuluh warga Muerte ditemukan mati secara misterius. Salah satunya Franco Debray, pelukis muda itu ditemukan mati kaku di ranjangnya dengan mata melotot dan mulut menganga. Sembilan yang lain pun begitu, wabah mematikan itu benar-benar ada, bukan sekadar ramalan dari perempuan paruh baya yang melantur lantaran mabuk.

O__O

            Muerte mencekam. Wabah mematikan itu tak hentinya memakan korban. Malaikat maut seolah menunggangi udara yang dihirup semua warga Muerte. Kota kecil yang sebelumnya baik-baik saja menjadi demikian gempar. Sebagian warga memilih mengungsi. Menggunakan tiga truk besar milik militer yang dipinjamkan untuk mereka, berbondong-bondong sebagian warga Muerte mengungsi ke kota atas. Namun, malaikat maut menyaru di roda truk paling belakang. Salah satu roda truk paling belakang meletus. Letusan itu membuat truk oleng dan menabrak truk di depannya. Kecelakaan karambol tak bisa dihindarkan, truk paling depan pun terkena hantaman truk kedua. Ketiga truk yang berjalan beriringan terguling kemudian masuk ke dalam jurang. Segalanya seperti sebuah cerita rekaan dan mimpi buruk yang nyata.

            Selepasnya kematian demi kematian tak pernah terputus. Tanah pemakaman di Muerte tak lagi bisa menampung jasad-jasad yang telah mati. Maka pemakaman dilakukan di depan rumah-rumah warga Muerte. Halaman rumah yang dulu kerap disemaki beraneka bunga-bunga digantikan gundukan-gundukan tanah berisi jasad-jasad manusia.

            Dalam banyak kesempatan Dug Dantes ingin sekali bertemu dengan Aednat. Perempuan gypsi paruh baya itu mungkin tahu hal apa yang bisa dilakukannya untuk melepas kutukan yang menimpa Muerte. Tapi sampai lebih dari separuh warga Kota Muerte habis, Dug Dantes tak pernah berkesempatan bertemu dengan Aednat.

            Semua pub dan bar di Muerte ditutup. Sejak wabah datang, bahkan lokalisasi telah bubar. Semua perempuan malam di lokalisasi itu ditemukan tewas secara massal, bahkan beberapa pelanggan juga ditemukan tewas di lokalisasi hari itu. Semua orang di Muerte ketakutan. Saban hari mereka hanya menebak-nebak, siapakah yang akan dipilih untuk mati esok hari. Betapa tersiksanya menunggu kematian sembari bermain tebak-tebakkan tentang siapa yang mungkin akan mati terlebih dulu.

O__O

            Semua yang diucapkan Aednat tak meleset. Semua warga Kota Muerte nyaris habis. Di bulan keenam, hanya tinggal tiga orang saja, Dug Dantes, Miguel Villefort dan Catelaire Burry. Mereka bertiga saling berjaga satu sama lain. Mungkin jika mereka beruntung, mereka bisa memergoki malaikat maut yang hendak bertandang, dan mungkin ada harapan untuk mengusirnya guna menyelamatkan nyawa mereka bertiga. Namun nyatanya mereka tak kuasa menahan datangnya malaikat maut. Menjelang pagi, tubuh Miguel Villefort ditemukan terlentang di kamar kecil. Celana panjangnya masih terbuka, namun jasad Miguel sudah tak bernyawa.

            Dengan sepatu bootsnya, Dug Dantes menginjak-injak makam Miguel guna memadatkan liang kubur sahabatnya itu. Tak ada upacara kematian untuk Miguel. Dantes dan Burry sudah sangat bosan dengan upacara kematian. Dulu, Dantes tak pernah mengira jika ia akan bisa mengingat requiem kematian dengan sangat baik tanpa membaca sontekan. Tapi kini kalimat-kalimat requiem begitu melekat benar di kepalanya, bahkan tanpa diminta terkadang requiem itu terdengar begitu saja di telinganya. Maka selepas membacakan requiem untuk Miguel, secepatnya ia menimbun tubuh Miguel dengan tanah. Seperti warga Muerte lainnya, Miguel harus dimakamkan di halaman rumahnya sendiri lantaran pemakaman umum kota sudah penuh sesak dengan jasad warga Muerte yang terlebih dahulu tewas. Suara musik dari gromofon habis tepat dengan selesainya pemakaman Miguel. Meski begitu Dug Dantes masih memukul-mukulkan kepala sekop ke gundukan tanah makam Miguel untuk memastikan

bahwa tanah makam itu sudah padat. Tapi di tengah pekerjaannya, Dug Dantes dibuat terkejut dengan suara tubuh yang jatuh berdebam. Tubuh Burry menggelepar di tanah. Napasnya sempat tersengal sekali sebelum matanya membelalak dengan mulut ternganga.

            Dug Dantes sempat terkejut, namun kemudian ia bisa mengendalikan perasaannya. Keringat di tubuhnya mengalir deras. Digenggamnya gagang sekop di tangannya erat-erat. Lalu dengan sedikit rasa kesal ditepuknya pipi jasad Burry.

            “Sialan kau, Burry. Jika kau mati terlebih dulu, tinggalah aku sendiri. Lalu siapakah nanti yang menguburkan jasadku jika aku mati, Burry?”

            Namun tak lama kemudian Dantes menggali lubang baru untuk Burry di samping makam Miguel. Selepas menguburkan Burry, Dantes berjalan cepat ke rumahnya. Dia menggali sebuah lubang baru di halaman rumah. Lubang baru yang dipersiapkan untuk dirinya sendiri. Dia telah benar-benar bersiap untuk mati.[]

Jogja, Maret 2019.

            Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994. Beberapa cerpennya dimuat di media massa. Selain menulis cerita pendek dia juga menulis novel. Buku terbarunya ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018 dan kumpulan cerita pendek ‘Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri’ Penerbit Buku Mojok, Januari 2019.

No Comments

Leave a Reply