Search and Hit Enter

Agama dan Budaya Dalam Konteks Evolusi Manusia

Oleh: Satrio Arismunandar

Robert N. Bellah (2011). Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age. Cambridge/London: The Belknap Press of Harvard University Press. xxvii + 777 hlm.

Agama adalah fenomena yang kompleks, yang tidak mudah didefinisikan. Definisi terkenal dari antropolog Clifford Geertz menyatakan: Agama adalah sistem simbol yang — ketika diberlakukan oleh manusia — membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, meresap, dan tahan lama, yang masuk akal terkait gagasan tentang tatanan eksistensi secara umum.

Geertz tidak menyebutkan “kepercayaan pada makhluk gaib” atau “kepercayaan pada tuhan (Tuhan),” yang oleh banyak pembuat definisi agama saat ini dianggap esensial. Hal ini bukan karena Geertz beranggapan bahwa keyakinan seperti itu tidak ada dalam agama. Namun, Geertz hanya menganggap bahwa itu bukan aspek yang menentukan.

Simbol-simbol adalah dasar bagi agama, seperti halnya dengan banyak bidang tindakan manusia lainnya, termasuk sains. Artinya, keberadaan agama menjadi mungkin hanya dengan munculnya bahasa, yang adalah bagian dari budaya. Maka, agama adalah juga bagian dari budaya manusia, yang terbentuk melalui proses sejarah.

Namun, bicara tentang sejarah dalam konteks evolusi manusia, bukanlah hal yang mudah untuk diterima oleh kalangan ilmuwan. Hal ini karena yang paling mengkhawatirkan tentang penggabungan evolusi dan sejarah, adalah keyakinan dari banyak kalangan bahwa keduanya didasarkan pada metodologi yang berbeda. Yakni, dua metodologi yang tidak cocok satu sama lain.

Evolusi adalah ilmu alam, dengan ciri deterministik dan reduksionis yang kaku, yang tidak memungkinkan kebebasan atau kreativitas. Sedangkan sejarah adalah studi humanistik, di mana kebebasan manusia berada di titik pusat. Kebebasan itu bisa menciptakan kreativitas luar biasa, tetapi juga bisa melakukan kekerasan yang mengerikan. Kebebasan bisa menghasilkan kreasi arsitektur seperti Candi Borobudur, tetapi juga bisa menciptakan bom nuklir, yang bahkan bisa melenyapkan umat manusia itu sendiri.

Dalam bukunya, sosiolog Robert N. Bellah berusaha menyarankan bahwa evolusi jauh lebih kompleks daripada apa yang dipikirkan oleh beberapa ahli biologi dan banyak kaum humanis. Bahwa ada tempat di dalamnya untuk makna dan tujuan, dan bahwa makna dan tujuan itu memang berkembang. Ketertarikan khusus Bellah pada evolusi adalah pada evolusi kapasitas dari spesies bersangkutan.

Berpartisipasi dalam Evolusi

Ada elaborasi yang sangat sugestif tentang sejauh mana organisme berpartisipasi dalam evolusi mereka sendiri, yakni sejenis evolusi perilaku yang penting. Kita tidak dapat memahami evolusi, kecuali jika kita melihat seberapa aktif suatu organisme menciptakan kondisi bagi evolusi mereka sendiri. Seleksi alam memang buta, namun secara paradoks itu mengarah pada tindakan dengan tujuan tertentu.

Buku ini merupakan karya ambisius yang luar biasa dari Robert N. Bellah, salah satu sosiolog terkemuka di zaman kita. Bellah melakukan penyelidikan yang luas dan bernuansa tentang masa lalu biologis kita, untuk menemukan jenis kehidupan yang paling sering dibayangkan oleh manusia sebagai layak untuk dijalani. Buku ini menawarkan apa yang sering dilihat sebagai teori terlarang tentang asal-usul agama, yang masuk jauh ke dalam evolusi, khususnya evolusi budaya.

Bagaimana nenek moyang awal kita melampaui tuntutan kuota dari kehidupan sehari-hari, untuk merangkul realitas alternatif yang mempertanyakan makna perjuangan sehari-hari mereka? Bellah mengidentifikasi sejumlah kapasitas budaya, seperti tarian komunal, tradisi bercerita, dan berteori, yang kemunculannya memungkinkan kelahiran agama.

Bellah mengungkapkan temuan-temuan terbaru dalam biologi, ilmu kognitif, dan psikologi evolusioner. Dengan sarana tersebut, ia melacak perluasan kapasitas budaya ini dari zaman Paleolitik ke Zaman Aksial (kira-kira, milenium pertama Sebelum Masehi). Yakni, ketika individu dan kelompok-kelompok di Dunia Lama menantang norma-norma dan kepercayaan masyarakat kelas, yang diperintah oleh para raja dan kaum aristokrat.

Para nabi religius dan penyangkal ini tidak pernah berhasil menemukan utopia alternatif mereka. Tetapi lewat aksinya, mereka telah meninggalkan warisan kritisisme yang tidak akan padam.

Dalam bukunya, Bellah mengulas empat peradaban besar Zaman Aksial, yakni di Israel kuno, Yunani, China, dan India. Dari ulasan itu, ia menunjukkan bahwa semua agama yang ada –baik yang bersifat profetik maupun mistik– berakar pada kisah evolusi yang diceritakannya. Buku ini menjawab seruan untuk munculnya sejarah kritis agama, yang didasarkan pada cakupan penuh dari kendala-kendala dan kemungkinan-kemungkinan manusia.

Religion in Human Evolution tidak seperti banyak buku “sains dan agama” lainnya, yang cenderung menjelaskan kepercayaan agama sebagai sekadar noda pada hasil pemindaian otak, atau hasil kebetulan dari organisasi sosial hominid awal. Sebaliknya, ini adalah upaya yang berani untuk memahami agama sebagai bagian dari gambaran besar yang terdahsyat: kehidupan, alam semesta, dan segalanya.

Seperti dikatakan penulis dan pakar agama, Peter Manseau, orang tidak perlu percaya pada teori desain cerdas untuk mencari jejak embrionik perilaku manusia pada anak tangga terbawah dari tangga evolusi. Upaya Bellah untuk melakukan hal itu, dengan bantuan penelitian terbaru dalam zoologi dan antropologi, menghasilkan serangkaian studi kasus yang memberikan inovasi nyata dalam buku ini.

Tidak hanya simpanse dan monyet, yang dimunculkan oleh kata “evolusi” dalam judul buku ini. Tetapi serigala, burung, serta iguana, semua juga muncul di halaman-halaman bukunya. Dalam jajaran seperti itu, Bellah mencari kesamaan yang dapat memberikan indikasi, di mana dan kapan aktivitas agama manusia yang unik itu lahir.

Pemisahan Tradisional

Bellah tidak begitu peduli apakah agama itu benar atau salah, baik atau buruk. Yang dikejar Bellah adalah upaya memahami, apa itu agama dan dari mana asalnya. Bellah menelusuri jalan setapak menuju pemahaman itu, ke mana pun ia mengarah. Di dunia yang sempurna, keingintahuan yang tak berujung –yang ditunjukkan di seluruh isi halaman buku ini– akan menetapkan nada untuk semua diskusi tentang agama di arena publik.

Buku Bellah adalah keberangkatan yang menarik dari pemisahan tradisional antara sains dan agama. Bellah berpendapat, pandangan dunia yang berkembang sekarang adalah berusaha untuk menyatukan, daripada memecah belah orang. Yang menarik, berdasarkan prinsip-prinsip inilah masyarakat modern Barat dan Timur sekarang ditegakkan. Yang paling menarik adalah bagaimana Bellah berhasil menghubungkan perkembangan budaya dan agama dalam konteks evolusi.

Padahal sejak era Darwin, teori evolusi telah dianggap sebagai musuh mematikan bagi kepercayaan agama. Kisah penciptaan Adam dan Hawa dan proses seleksi alam tidak bisa berjalan seiring. Dalam hal ini, Bellah menawarkan cara baru dan tak terduga untuk mendamaikan lawan-lawan sengit tersebut. Yakni, dengan menggunakan psikologi evolusioner, untuk menyatakan bahwa penemuan kepercayaan agama memainkan peran penting dalam perkembangan manusia modern.

Tak heran jika ada pengamat yang beranggapan, karya monumental Bellah ini adalah perlakuan sistematis dan historis terpenting terhadap agama sejak era Hegel, Durkheim, dan Weber. Ini adalah sebuah bacaan tentang spirit manusia pada skala yang benar-benar global, dan layak menjadi koleksi kepustakaan para akademisi.

Bellah menghembuskan kehidupan baru ke dalam sejarah universal yang kritis, dengan membuat Cina kuno dan India menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi besar evolusi agama manusia. Luasnya empati dan keingintahuannya dalam kemanusiaan ditampilkan pada setiap halaman buku yang luar biasa ini. Singkatnya, buku ini sangat layak dibaca dan dikaji. ***

Satrio Arismunandar adalah lulusan S3 Filsafat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Serta mantan wartawan Kompas dan Trans TV.

No Comments

Leave a Reply