Search and Hit Enter

Perlukah Rene Descartes di Zaman Milenial yang Absurd?

Jumat 06 Mar 2020 18:02 WIB

Red: Muhammad Subarkah, dari republika.co.id

Oleh: Isti Nugroho, Akivis Demokrasi, Penulis dan Penggemar Filsafat

“Aku berpikir maka aku ada (COgito Ergo Sum), kalau aku tidak sedang berpikir apa aku kemudian tidak ada. Atau kalau orang lain tidak berpikir apa juga tidak ada.

Maka itulah soalnya. Soal pernyataan aku berpikir maka aku ada itu, di zaman melinial diserbu untuk dinegasikan.

Pernyataan yang dinyatakan oleh Rene Descartes dan disosialisasikan oleh para filsuf modern, sekarang dipertanyakan oleh para filsuf kontemporer. Subyek telah mati, sanggahnya. Kaum strukturalis dan poststrukturalis mematikan proposisi Descartes.

Struktur menelan subyek, aku tidak signifikan lagi. Fokusnya bukan pada subyek tapi pada struktur. Dalam konteks struktur, sekarang individu mengejar struktur. Berada dalam struktur, kalau kita turunkan dalam politik praktis. Aku tidak bisa lagi mewakili pikiran massa, komunitas atau organ tertentu.

Aku dalam realitas, aku dalam imajinasi dan aku dalam simbolik, lebur dalam struktur.

Inilah sebetulnya orang berebut dalam struktur, bergelut-berselisih dan bertengkar, ingin masuk dalam struktur.Karena Aku, subyek yang berpikir sudah lemah menghadapi raksasa masalah yang menginjaknya.

Dulu antara sistem dan subyek (Aku) ini masih bisa berdialog. Karena ada Aku yang besar, sekarang Aku yang besar itu telah mengecil.

Dulu subyek Cartesian menjadi hantu yang menakutkan bagi manusia sedemikian rupa, hingga semua kekuatan telah membentuk alienasi untuk mengusir hantu tersebut. Tetapi sekarang subyek Cartesian itu sudah tidak memadai lagi untuk konteks kekinian.

Sehingga subyektivisme semacam itu dianggap terlampau berpusat pada diri sendiri (self-centered) dan cenderung mengeksklusi yang lain. Jadi Aku versus Aku yang lain, bergeser pada kekuatan struktur.


No Comments

Leave a Reply