Search and Hit Enter

Shakespeare and Co: Toko buku terpopuler di dunia yang kini menginjak satu abad

Cath Pound, BBC Culture, 22 November 2019

“Cintaku adalah Adrienne Monnier dan James Joyce dan Shakespeare and Company,” tulis Sylvia Beach, pemilik toko buku legendaris di Paris yang pertama kali membuka pintunya 100 tahun yang lalu bulan ini.

Bersama dengan Monnier, mitra pribadi dan profesional seumur hidupnya yang tokonya sendiri, La Maison des Amis des Livres, menjadi tempat pertemuan para pemimpin sastra Prancis, Beach kemudian bersahabat dan memelihara dua generasi penulis Amerika, Anglo-Irlandia dan Prancis termasuk André Gide, Paul Valéry, TS Eliot, Ezra Pound, Ernest Hemingway dan, tentu saja, James Joyce.

Toko buku bahasa Inggris sekaligus perpustakaan itu merupakan yang pertama di Paris, menyediakan akses terhadap literatur Anglo-Amerika pada masa pascaperang, ketika kebanyakan orang kekurangan uang untuk membeli buku.

Toko itu juga menjadi sumber utama distribusi ‘majalah kecil’ avant-garde, yang kemudian berkembang menjadi tempat publikasi pertama bagi beberapa penyair, novelis dan kritikus paling penting dalam dekade awal abad ke-20, termasuk Harriet Weaver’s Egoist, yang merupakan karya pertama yang diterbitkan oleh Joyce.

“Modernisme seharusnya sulit dan berjarak tetapi Beach tidak pernah menerima hal itu,” kata Keri Walsh, editor surat-suratnya.

Apresiasi Beach terhadap kesusastraan dan sifatnya yang suka mengasuh membuatnya bisa mengajak para pengunjung untuk melihat-lihat dan membaca selama berjam-jam tanpa kewajiban untuk membeli.

Itu membuat tokonya sebagai tempat panggilan alami bagi penulis sastra aliran Inggris-Irlandia dan Amerika Serikat yang terlena dengan ibukota Prancis di tahun-tahun selama perang berlangsung.

Hemingway akan menjadi teman seumur hidup Sylvia Beach. “Tidak ada yang pernah saya kenal yang lebih baik kepada saya,” katanya tentang dia

Joyce tiba di Shakespeare and Co bersama penggemar beratnya, Pound, pada musim panas 1920, diikuti oleh TS Eliot dan Wyndham Lewis.

Ernest Hemingway, Thornton Wilder, dan Robert McAlmon muncul tahun berikutnya ketika toko pindah ke tempat baru di seberang toko buku milik Monnier di rue de l’Odéon.

Beberapa pengunjung lebih permanen daripada yang lain, tetapi bagi banyak orang, toko buku ini menjadi tempat pertemuan, ruang baca, kantor pos dan pertukaran uang.

Pound, yang melihat dirinya sebagai penemu bakat baru, mendorong minat Beach pada majalah-majalah kecil. Dia meneruskan naskah-naskah penulis muda kepada editor mereka dan dengan antusias mempromosikan yang baru yang muncul, termasuk Criterion karya TS Eliot.

Beach mengagumi Eliot bahkan sebelum mereka bertemu, dan karya-karyanya yang dipajang di etalase membantu mendorong penjualan.

Sylvia Beach di luar toko bukunya di Paris yang menjadi surga bagi penulis-penulis modern.
Image captionSylvia Beach di luar toko bukunya di Paris yang menjadi surga bagi penulis-penulis modern.

Hemingway akhirnya menjadi teman seumur hidup. “Tidak ada yang pernah saya kenal yang bersikap baik terhadap saya,” kata Hemingway tentang Beach yang membiarkannya meminjam buku secara gratis ketika dia terlalu miskin untuk membayar ongkos langganan.

Melalui toko buku ini dia kemudian berteman baik dengan Pound, yang berjalan santai ke perpustakaan tempat dia membaca. Keduanya bertemu dan berbicara tentang sastra.

“Melalui waktunya bersama Sylvia Beach, dia benar-benar mulai menemukan siapa dia sebagai seorang penulis,” kata Walsh tentang Hemingway.

Ulysses membawa ketenaran di seluruh dunia tetapi hampir menyeret toko buku itu ke dalam proses, paling tidak karena Joyce punya kebiasaan membantu dirinya sendiri untuk maju dari kasir

Tetapi tentu saja Joyce yang akan selamanya dikaitkan paling dekat dengan Shakespeare dan Co.

Ketika US Little Review, yang menerbitkan Ulysses secara bertahap diadili karena dianggap menerbitkan buku yang cabul dan dilarang menerbitkan apa pun lebih lanjut, Beach menawarkan untuk menerbitkan keseluruhan novel itu sendiri.

“Dia melihat peluang profesional. Dia tahu pekerjaan itu dan berpikir itu bagus untuk toko bukunya dan bagus untuk dunia,” kata Walsh.

Tapi mungkin dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Beach akhirnya mencari langganan, merekrut juru ketik, mengoreksi, mengurus kebutuhan keluarga Joyce dan membujuk sang pencetak, Maurice Darantière, untuk menambah naskah berkali-kali.

James Joyce bersama dengan pendiri Shakespeare and Co, Sylvia Beach di dalam toko buku yang membesarkannya.
Image captionJames Joyce bersama dengan pendiri Shakespeare and Co, Sylvia Beach di dalam toko buku yang membesarkannya.

Penerbitannya membawa ketenaran bagi Joyce, Beach, and Shakespeare and Company di seluruh dunia tetapi hampir membuat toko buku itu bangkrut. Salah satunya karena Joyce punya kebiasaan mengambil ‘bayaran awal’-nya dari kasir.

Kiblat kaum modernis

Penampilan buku itu mengubah toko menjadi kiblat bagi kaum modernis dan pembaca mereka. Eliot, Pound dan McAlmon sekarang sama larisnya, jika tidak lebih baik, dengan James, Whitman dan Conrad.

Berbagai penerbitan inovatif terjadi di dalam dan sekitar toko. Kedatangan Ford Maddox Ford di Paris membuatnya mulai bekerja dengan Pound pada majalah sastra Transatlantic Review yang berumur pendek namun berpengaruh.

Mengangkat karya-karya penulis AS, majalah itu menerbitkan tulisan-tulisan EE cummings, Pound, Hemingway dan McAlmon.

Pendiri Shakespeare and Co, Sylvia Beach, dipotret ketika sedang asyik membaca buku di dalam tokonya.
Image captionPendiri Shakespeare and Co, Sylvia Beach, dipotret ketika sedang asyik membaca buku di dalam tokonya.

Monnier memperkenalkan karya mereka kepada para pembaca berbahasa Prancis dalam jurnalnya sendiri, Le Navire d’Argent, yang memuat karya Eliot hasil terjemahan dirinya dan Beach.

Setelah diberi kontrak bahasa Prancis untuk Ulysses, ia juga menerbitkan terjemahan bahasa Prancis pertama di majalah kecil lainnya, Commerce.

Namun, pertengkaran di antara para penerjemah membuat tegang hubungan antara pasangan tersebut dengan Joyce. Masalah-masalah kemudian memburuk secara signifikan pada tahun 1932 ketika, meskipun telah meneken kontrak dengan Beach yang memberinya hak distribusi di seluruh dunia untuk Ulysses, ia kemudian mendesaknya untuk melepas hak-hak tersebut, sebelum menandatangani kontrak dengan Random House.

“Ia hidup dalam dunianya sendiri,” kata Beach kemudian sambil menghela nafas.

Hilangnya pendapatan dari penjualan Ulysses dalam banyak hal diimbangi oleh tidak adanya tuntutan keuangan konstan dari Joyce, tetapi bagaimanapun depresi tahun 1930-an memberi dampak mendalam pada Shakespeare and Company.

Teman-teman yang loyal Gide dan Valéry mengorganisasi sekelompok teman untuk mendukung toko, mengumpulkan langganan, dan mengadakan pembacaan karya-karya Eliot dan Hemingway yang pada saat itu sudah terkenal.

Langganan menyelamatkan mereka, tetapi kemudian perang datang. Ketika Beach, yang masih mengabdikan diri pada karya Joyce terlepas dari segalanya, menolak untuk menjual salinan Finnegan’s Wake yang terakhir kepada seorang petugas Jerman pada tahun 1941, ia mengancam untuk kembali dan menyita semua buku-bukunya.

Dalam waktu cepat, Beach berhasil menyembunyikan seluruh persediaannya di sebuah apartemen empat lantai dan melarikan diri.

Namun Beach terus meminjamkan buku kepada teman-teman lama seperti Gide dan Simone De Beauvoir, yang mulai mengunjungi toko itu pada 1930-an, dan beberapa yang baru termasuk penulis buku Native Son, Richard Wright.

Sylvia Whitman menyambut generasi penulis baru termasuk Henry Miller, Anaïs Nin, Lawrence Durrell dan William Burroughs

Beach akan menghadiri penandatanganan oleh Wright di toko buku baru, Le Mistral, yang telah didirikan oleh seorang rekan Amerika yang eksentrik, George Whitman.

Dia telah “sepenuhnya terinspirasi olehnya dan ingin melanjutkan apa yang telah dia lakukan,” kata putrinya, Sylvia Whitman, yang namanya diambil dari nama Beach.

Whitman menyambut generasi penulis baru termasuk Henry Miller, Anaïs Nin, Lawrence Durrell dan William Burroughs, yang melakukan riset untuk bukunya Naked Lunch di perpustakaan medis toko.

Pada jamuan makan malam yang diadakan untuk James Jones, penulis buku From Here to Eternity, pada tahun 1958, di mana Whitman mengundang Beach, Beach mengatakan kepada Whitman bahwa dia ingin Whitman menamai tokonya Shakespeare and Company.

Senang, Whitman mengganti nama tokonya untuk menghormati Beach pada tahun 1964, dua tahun setelah kematiannya dan pada peringatan 400 tahun kelahiran Shakespeare.

Beberapa tahun kemudian, pada ulang tahun putrinya yang ke-20, ia menyerahkan Ulysses edisi pertamanya, halaman-halamannya masih belum dipotong.

Jika ini adalah upaya untuk menyerahkan tongkat estafet, Sylvia butuh beberapa tahun untuk merasa yakin. Tapi dia sekarang menjalankan Shakespeare and Company dengan nada pengasuhan yang sama seperti Beach dan ayahnya.

Setelah mendirikan festival sastra dan hadiah novella baru, ia bahkan merambah ke penerbitan.

Ketika Whitman berbicara dengan BBC Culture dia sedang dalam proses menyelenggarakn sebuah pameran yang didedikasikan untuk Beach untuk perayaan seratus tahun toko buku itu.

“Saya cukup terkejut dengan betapa saya tersentuh olehnya,” katanya. “Kurasa aku menyadari betapa dia hadir untuk kita di sini.”

Dengan karya-karya penulis yang diangkat oleh Beach hingga kini masih terpajang dengan bangga di rak-rak Shakespeare and Company, bagaimana mungkin dia tidak merasa demikian?


No Comments

Leave a Reply