Search and Hit Enter

Kiat mengatasi kemalasan bekerja ala Ernest Hemingway

Zaria Gorvett, BBC Worklife

  • 18 Desember 2019

Ernest Hemingway ternyata bukan hanya penulis novel tersohor. Ia juga merupakan penemu satu trik produktivitas yang cerdik: “interupsi berguna”.

Pada tahun 1935, Hemingway menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pembaca dalam sebuah artikel di majalah Esquire. Seorang penulis muda bertanya, “Berapa banyak sebaiknya saya menulis dalam sehari?”

Hemingway menjawab: “Cara terbaik adalah berhenti ketika Anda sedang bagus-bagusnya dan ketika Anda tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika Anda melakukan itu setiap hari saat menulis novel, Anda tidak akan pernah macet.”

Ia meminta si penulis pemula untuk mengingat ini — dan bahkan menyebutnya nasihat paling berharga yang bisa ia berikan.

Tapi apakah nasihat ini manjur?

Sekarang, nasihat Hemingway telah dilupakan banyak orang — setidaknya sampai Yoshinori Oyama mendengar tentang strategi Hemingway pada 2017.

Peneliti dari Universitas Chiba, Jepang itu sedang duduk-duduk di kafe, mengobrol dengan kawan, ketika ia kepikiran: sepanjang hidupnya, ia jauh lebih termotivasi untuk kembali bekerja jika ia meninggalkan pekerjaan saat sedang bagus-bagusnya.

“Seorang kawan saya bilang ‘Oh Hemingway suka melakukan ini!’,” ujarnya.

Oyama membayangkan apakah strategi ini bisa berguna untuk orang lain juga. Sekitar setahun kemudian, ia mengajak Emmanuel Manalo dari Universitas Kyoto untuk mencari tahu jawabannya.

Menumbuhkan optimisme

Premis di balik studi tersebut ialah bahwa tidak menyelesaikan tugas pun ada manfaatnya. Bagaimanapun, para peneliti memutuskan bahwa tidak perlu membatasi nasihat dari Hemingway ini hanya kepada para penulis — dan karena itu mencoba memperluas aturannya.

Mereka menambah dua prinsip lagi selain mengetahui arah pekerjaan Anda — orang harus merasa mereka hampir menyelesaikan tugasnya, dan tugas tersebut harus cukup menantang sehingga Anda peduli untuk menyelesaikannya.

Studi ini dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, Oyama meminta 260 mahasiswa program sarjana di kelasnya untuk menyelesaikan tugas yang cukup berat, meliputi menyalin teks dari kolom di sebuah surat kabar ke selembar kertas dengan tulisan tangan. Sebelum dimulai, mereka ditanya seberapa besar motivasi mereka.

Siswa belajar
Image captionPenelitian Oyama dan Manalo menemukan bahwa siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan suatu tugas saat mereka hampir menyelesaikannya.

Segera setelah beberapa mahasiswa mulai mengangkat tangan mereka tanda telah selesai, Oyama meminta mahasiswa lainnya untuk berhenti. Kemudian para mahasiswa diminta untuk menghitung berapa sisa tulisan yang belum tersalin dan ditanya seberapa besar keinginan mereka untuk menyelesaikan tugas ini.

Seperti diduga para peneliti, para mahasiswa dengan sisa tulisan lebih sedikit secara signifikan lebih termotivasi untuk kembali bekerja dibandingkan mereka yang masih punya lebih banyak pekerjaan atau, anehnya, bahkan mereka yang sudah selesai. Kenapa?

Manalo percaya optimisme adalah faktor kunci. “Kita harus percaya pada diri sendiri — semacam ekspektasi bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Dan ketika semakin dekat kita untuk menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya gagal kita capai, maka optimisme itu bertambah.”

Gestaltisme

Faktor lainnya didasari oleh mazhab yang dianut beberapa psikolog Austria dan Jerman pada awal Abad 20, “gestaltisme”. Mereka percaya bahwa manusia memahami dunia dengan mencari pola, sehingga gambaran utuh lebih penting bagi kita daripada bagian-bagiannya.

“Ketika kita memiliki bagian-bagian dari sesuatu, kita selalu ingin menciptakan gambaran utuhnya,” kata Manalo.

Sebagai contoh, jika Anda menunjukkan seseorang gambar segitiga yang terdiri dari garis-garis putus, otak kita akan langsung berasumsi itu adalah segitiga alih-alih sekadar kumpulan garis putus.

Hal yang sama terjadi di sini, bahwa kita cenderung ingin menyelesaikan sesuatu, terutama ketika hampir mencapai pemahaman atau semacam tujuan,” kata Manalo.

Seorang anak bermain puzzle.
Image caption”Gestaltisme” adalah sebuah mazhab dalam ilmu psikologi yang menyatakan bahwa manusia memahami dunia dalam pola serta lebih menghargai gambaran utuh daripada potongan-potongan.

Meskipun bagian pertama dari penelitian ini tampaknya mendukung teori Hemingway, menyalin tulisan dari surat kabar bukan jenis tugas yang dilakukan kebanyakan orang secara teratur, sehingga para peneliti memutuskan untuk memeriksa apakah hasilnya juga akan terlihat dalam tugas yang lebih umum dilakukan sehari-hari.

Mereka ingin melihat apakah teknik ini bekerja dengan baik jika Anda sudah merencanakan tugas di depan Anda sehingga dapat mengukur berapa banyak pekerjaan yang tersisa.

Para peneliti membagi 131 mahasiswa menjadi dua kelompok, dan meminta mereka untuk menulis tentang memori mereka dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah — tugas yang sangat berat.

Di kelompok pertama, mereka dibantu menyusun jawaban mereka; mereka disuruh membagi memori menjadi dua bagian, taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas. Yang lain tidak diberi bantuan seperti itu. Sebelum mereka mulai, para siswa ditanya seberapa besar motivasi mereka.

Sekali lagi, begitu sebagian besar siswa hampir menyelesaikan tugas, semua orang diminta untuk berhenti. Mereka ditanya seberapa dekat mereka untuk menyelesaikannya dan bagaimana motivasi mereka untuk melanjutkan.

Seperti sebelumnya, siswa yang hampir menyelesaikan tugas mereka merasa paling termotivasi. Tetapi kali ini efek lain muncul — mereka yang diminta untuk membagi tugas menjadi dua bagian, dan karena itu lebih mudah untuk mengukur berapa banyak waktu yang tersisa, juga lebih tertarik untuk kembali bekerja.

Interupsi

Temuan ini cocok dengan penelitian Daniella Kupor dari Boston University pada 2014, yang mengamati efek interupsi.

Pada satu penelitian, Kupor beserta rekan-rekannya dari Universitas Stanford dan Yale meminta sekelompok orang untuk menonton klip pendek yang menunjukkan seorang komedian menceritakan sebuah kisah dari masa kecilnya. Setengahnya diizinkan untuk menonton lawakan itu sampai klimaks, sementara yang lain tidak.

Selanjutnya para peserta diminta untuk berpura-pura melakukan belanja online, untuk penelitian lain yang tampaknya tidak berhubungan. Mereka diberi tahu apa yang harus dicari, dan kemudian ditawarkan dua kemungkinan barang, yang mungkin sesuai atau tidak sesuai.

Ketika ditanya, mereka yang telah diinterupsi dalam penelitian sebelumnya secara signifikan lebih cenderung berkomitmen untuk membeli sesuatu, daripada terus mencari.

“Ketika suatu gangguan mencegah seseorang mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas tertentu, kami menemukan bahwa mereka membuat keputusan yang lebih cepat dan kurang bijaksana di bidang yang sama sekali tidak terkait,” kata Kupor.

“Mereka merasa ada yang belum tuntas, dan ketidakpuasan itu bisa meluas ke keputusan yang tidak terkait — dan mereka berusaha mendapatkan perasaan tuntas dengan keputusan yang tidak terkait itu.”

Ernest Hemingway
Image caption”Cara terbaik adalah berhenti ketika Anda sedang bagus-bagusnya dan ketika Anda tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika Anda melakukan itu setiap hari saat menulis novel, Anda tidak akan pernah macet,” kata Hemingway.

Penelitian Kupor menunjukkan bahwa gangguan dapat memberikan dorongan motivasi, tetapi mengisyaratkan bahwa dorongan itu tidak selalu bermanfaat. Kita semua tahu bahwa menurut penelitian – dan akal sehat – kita cenderung lebih menyesali suatu keputusan jika kita belum memikirkannya dengan baik.

Namun, bisa jadi efek Hemingway membutuhkan kondisi yang berbeda supaya bisa bermanfaat. Lagipula, gangguan dalam penelitian Kupor berada di tengah tugas, dan fenomena itu adalah soal waktu; diganggu 10 kali sehari oleh seorang rekan kerja Anda yang terlalu supel jelas tidak akan membantu Anda.

Untuk memanfaatkan efek ini sebaik-baiknya, interupsi harus dijadwalkan ketika Anda merasa sudah memahami arah pekerjaan Anda.

Bagaimanapun, mungkin strategi ini harus dikerjakan dengan hati-hati sampai kita betul-betul memahami dampak interupsi terhadap psikologi kita.

Oyama dan Manalo lebih optimistis. Mereka berpikir efek Hemingway dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan apa pun, tidak peduli seberapa besar atau kecil, dan menyarankan itu bisa sangat berguna di tempat kerja dan dalam pendidikan.

Oyama sudah menggunakan strategi ini ketika ia mengerjakan makalah ilmiah, dan para peneliti saat ini sedang meneliti apakah efek Hemingway dapat membantu siswa menyelesaikan gelar PhD mereka; saat ini hampir sepertiga mahasiswa program doktorat di Eropa masih belum selesai menulis laporan penelitian mereka setelah bekerja selama enam tahun.

Idenya adalah bahwa dengan membantu siswa untuk membagi pekerjaan mereka, efek Hemingway akan muncul ketika mereka mendekati akhir setiap bagian.

Mereka juga menduga penelitian mereka dapat membantu orang dengan tugas sehari-hari, seperti memahami konsep baru di sekolah.

“Di ruang kelas, misalnya, kadang-kadang guru menghentikan siswa ketika mereka sedang berkutat dengan sesuatu — mereka akan berkata, Oke sudah cukup, mari kita lanjutkan besok. Tapi itu ide yang buruk,” kata Manalo.

Meskipun Hemingway menyarankan bahwa interupsi yang berguna harus dilakukan dengan sengaja, para peneliti lebih peduli dengan fakta bahwa tugas itu dibiarkan belum selesai daripada sumber interupsi tersebut. Mereka tidak melihat alasan kenapa interupsi yang dilakukan oleh orang lain kepada kita akan jadi kurang efektif.

No Comments

Leave a Reply