Search and Hit Enter

Budi Darma: Menata Bangsa dengan Menulis

Published 10 months ago on February 5, 2019 di galeribukujakarta.com

By Sabiq Carebesth

“Tanpa tulisan, kebudayaan tidak akan maju. Kita bisa belajar karena ada tulisan. Oleh karena itu, menulislah. Supaya mampu menemukan inti persoalan, menata bangsa dan karenanya tak membuat kita menjadi (bangsa) pelupa.”—Budi Darma

Semangat dan keyakinan menulis itulah yang disebarkan oleh Sastrawan Budi Darma (76), novelis yang juga Guru Besar Universitas Negeri Surabaya. Ia mengajak orang-orang di sekitarnya untuk menulis dan dengan menulis turut menata bangsa.

Berikut adalah wawancara yang diolah dari berbagai sumber oleh editor Galeri Buku Jakarta dengan penulis “Olenka” dan “Orang-Orang Bloomington” yang melegenda itu:

Apa makna tulisan dan menulis buat Anda?

Tulisan (dokumen) adalah sumber pembelajaran generasi berikutnya. Tanpa tulisan, kebudayaan tidak akan maju. Kita bisa belajar karena ada tulisan. Oleh karena itu, menulislah.

Anda pernah dipercaya memberikan pengajaran meulis pada penulis berbakat dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei dalam program penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara, apa yang Anda pikirkan tentang pengajaran mengarang?

Mendorong orang menulis bukan dengan menggurui atau memerintah. Sebab, orang justru akan enggan kalau disuruh atau diperintah. Intinya disemangati menulis, tetapi pelan-pelan saja.

Menulis bukan sekadar menorehkan huruf dan kata. Menulis membiasakan seseorang dengan literasi khususnya membaca. Literasi tentang apa pun juga, baik tentang lingkungan, alam, manusia, atau hal lain. Literasi akan mengajarkan kita membuat rencana dengan baik. Sebab dengan menulis, itu mendorong kita merencanakan segala sesuatu. Bagaimana tulisan dibuat dengan ekonomisasi kata, bagaimana tulisan disusun dalam ruang yang ada, dan bagaimana tulisan itu akan diarahkan.

Lalu bagaimana kaitannya menulis dengan membaca?

Menulis akan mengajarkan kita membaca atau melihat masalah. Menemukan inti persoalan, membuat abstraksinya, lalu mencari solusi. Menulis beda dengan mendongeng. Yang dilakukan bangsa ini kebanyakan adalah mendongeng. Semua bicara dan bercerita, terkungkung dengan kemegahan masa lalu. Saling tumpang tindih, sahut-menyahut, hingga nyaris tidak bisa menemukan akar persoalan sesungguhnya.

Apa akibatnya?

Akibatnya, kita tidak bisa mengidentifikasi persoalan sebenarnya. Kita dengan mudah melupakan hal-hal lalu. Ujung-ujungnya kita jadi bangsa pelupa. Lupa akan kesalahan, kejahatan, dan penipuan yang merugikan bangsa. Lupa akan korupsi, kolusi, nepotisme, serta kekerasan yang terjadi berulang-ulang. Lama-lama kesalahan itu terlembaga dan sistematis. Celakanya, kekeliruan itu kemudian dimaklumi dan dianggap wajar.

Dengan menulis, kita mampu mengidentifikasi dan mengabstraksi masalah. Ini membuat kita bisa melacak kembali informasi pada masa lalu. Tidak melupakan yang telah berlalu. Menulis adalah juga kerja menolak lupa dengan hal-hal pada masa lalu.

Apa yang seharusnya kita tulis?

Semua hal di sekitar kita bisa jadi bahan tulisan. Saat masih kecil, saya bisa menulis situasi tentang malam hari. Saya menuliskannya saat diajak Ayah bertandang ke rumah temannya, yang memiliki mesin tik. Tahukah Anda bahwa karya itu mendapat penghargaan majalah Budaya di Yogyakarta.

Zaman berubah, segala hal jadi mudah, sarana dan alat, bagaimana menurut Anda?

Dahulu, masa penjajahan, sangat sulit mendapatkan sarana menulis. Harusnya, saat ini yang semua serba ada, bisa dijadikan jalan untuk menulis lebih matang dan produktif.

Terakhir, apa hal penting yang ingin Anda sampaikan khususnya pada generasi (penulis) muda zaman ini?

Seperti sudah saya katakana, menulis sepertinya sepele, tetapi bisa menggambarkan hal besar. Dengan menulis, kita belajar menata hidup dan kehidupan. Menata bangsa dari yang terbiasa ”mendongeng”, menjadi bangsa yang terbiasa menemukan inti persoalan, lalu menyelesaikannya. Jadi menulislah dan bantu bangsa ini menemukan inti persoalannya. Dengan begitu kita mungkin jadi bangsa maju. (SC)

No Comments

Leave a Reply