Search and Hit Enter

Max Havelaar, Novel Legendaris yang Mengguncang Belanda

Jumat, 01 Nov 2019 14:42 WIB

Rep: Alkhaeledi Kurnia Alam/ Red: Muhammad Hafil

Novel ini diyakini mengguncang masyarakat di Belanda.

REPUBLIKA.CO.ID,LEBAK–Novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker yang mulai terbit pada 1860, merupakan karya yang banyak mengisahkan potret kondisi masyarakat Lebak pada masa kolonial Belanda. Sang penulis, dengan nama pena Multatuli ini menggambarkan kondisi Kabupaten lebak yang mengenaskan karena dicekik oleh penjajah Belanda ditambah penguasa feodal pribumi zalim masa itu.

Penerbitan novel ini diyakini mengguncang publik Belanda sendiri karena malah membuka pandangan rakyat Belanda tentang praktik kolonialisme di bumi nusantara. Saat itu, kolonialisme memang dianggap sebagai sistem yang wajar dan roman ini yang akhirnya menggugat praktik penyelewengan dalam kolonialisme yang orang-orang pada masa itu pikir bahwa situasi di wilayah Hindia-Belanda itu normal-normal saja.

Peneliti Karya Multatuli Ubaidillah Muchtar bahkan menyebut ‘Max Havelaar’ seperti sebuah bom yang menyadarkan kebobrokan kolonialisme Belanda. Terbitnya karya ini disebutkannya sebagai penyebab terjadinya ‘gonjang-ganjing’ di Belanda yang mengkritik perlakuan pemerintah Belanda pada rakyat di wilayah koloni.

“Setelah Novel ini terbit terjadi gonjang-ganjing di Belanda, akhirnya mereka sadar kalau melakukan ketidakadilan. Kisah kalau di wilayah Hindia-Belanda yang makmur, aman, damai dipatahkan oleh Multatuli yang menyebutkan kalau fakta sebenarnya adalah adanya penyelewengan kekuasaan, rakyat diperas untuk kekayaan Belanda sementara Pribumi disisakan sedikit agar tidak mati,” terang Ubadillah, Jumat (1/11).

Pemberitaan tentang wilayah jajahan yang makmur oleh kolonialisme Belanda saat itu yang justru dibongkar habis oleh Multatuli hingga akhirnya memunculkan politik etis pada periode 1900-an. 

Gerakan politik etis dari rakyat belanda sebagai dampak novel Max havelaar inilah yang memunculkan ide terkait perlunya membayar utang budi terhdap tanah jajahan wilayah Hindia-Belanda. 

Politik etis ini mempunyai tiga konsep, yaitu Irigasi untuk memperbaiki taraf kehidupan masyarakat pribumi dalam bidang pangan. Emigrasi dalam hal tenagakerja dan edukasi atau memberikan pendidikan bagi masyarakst pribumi.

Ide politik etis ini yang disebut menjadi awal kehancuran kolonialisme Belanda di nusantara. Khusus untuk program edukasi yang akhirnya diberikan pemerinth Belanda bagi pribumi ini yang diyakini berpengaruh pada lahirlah masyarakat terpelajar di wilayah Nusantara yang ‘melek’ untuk memerdekakan Indonesia sepeeti Soekarno, Moh. Hatta dan para pejuang terdidik lainnya..

Masih Relevan Untuk Dipelajari

Ubaidillah yang juga kepala Museum Multatuli, Lebak, Banten ini menyebut meskipun masa kolonial telah lewat, karya ini masih relevan untuk dipelajari pada masa kini. Diterjemahkannya novel ini kedalam lebih dari 40 bahasa di dunia menunjukkan masih banyaknya minat orang-orang untuk membaca karya Multatuli.

Semangat anti kolonialisme, anti penyelewengan kekuasaan, anti korupsi, kemanusiaan yang ada pada buku ini menurut Ubaidillah masih patut dibaca. Feodalisme dan kolonialisme di bumi Indonesia pada masa Multatuli yang dua-duanya korup dan menindas rakyat bisa terus dipelajari karena tidakan keji di atas masih juga terjadi saat ini.

Begitu pentingnya peran karya ini atas sejarah bangsa Indonesia, bahkan menjadi alasan seorang Sastrawan Indonesia, Pramoedia Ananta Toer mengatakan pentingnya mempelajari Max Havelaar.

“Seorang Pramoedia Ananta Toer bahkan berkata kalau politikus yang tidak mengenal Multatuli praktis tidak mengenal humanisme, humanitas secara modern. Karena politikus yang tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politisi kejam. Pertama, dia tidak mengenal sejarah Indonesia. Dua, tidak mengenal humanisme secara modern. Dan bisa menjadi kejam,” jelas Ubaidillah. 

No Comments

Leave a Reply