Search and Hit Enter

Buku Bajakan di Shopee & Bukalapak: Asosiasi Penulis Ancam Boikot

Oleh: Zakki Amali – 10 Oktober 2019

Tirto.id – Pelapak di situs lokapasar atau marketplace terdeteksi telah menjual buku bajakan dalam jumlah besar. Mereka biasa memakai deskripsi di setiap buku yang dijual: “non-original atau ‘kw’, harga murah tapi tak wajar karena melebihi diskon, dan kertas buram atau book paper.” Penjual buku daring mencantumkan alamat pengiriman dari Yogyakarta hingga Jakarta. Setidaknya berdasarkan penelusuran Tirto, ada 6 pelapak di Shopee; 6 di Tokopedia; dan 5 di Bukalapak yang diduga berdagang buku bajakan. Jumlah ini bisa bertambah, karena masih ada penjual dengan ciri di atas. Buku bajakan yang dijual daring hasil amatan Tirto, Selasa (8/10/2019) di tiga lokapasar pada umumnya adalah karya para penulis tenar seperti Pramoedya Anantra Toer, Tere Liye hingga Sujiwo Tejo. Tiga marketplace mengklaim punya syarat dan ketentuan larangan penjualan buku bajakan, karena melanggar hak kekayaan intelektual dan UU Hak Cipta. Sanksi bagi pelapak, sesuai syarat itu, diblokir sampai dihapus. Namun, kenapa buku bajakan bisa lolos? Pendiri penerbit Media Pressindo Yogyakarta, Indra Ismawan menduga lokapasar tak memiliki kemauan kuat untuk membasmi pelapak nakal. Akibatnya, regulasi yang dibuat hanya berguna bagi lokapasar untuk menyelamatkan diri dari tuntutan hukum. “Penerbit atau pihak terkait dirugikan pembajakan buku. Mereka akan take down. Tapi berapa lama? Mereka bisa buka akun baru. Ini enggak begitu efektif,” kata Indra saat dihubungi reporter Tirto, Kamis (10/10/2019). Konsekuensi dari perang penjual buku bajakan, kata Indra, akan menurunkan jumlah pelapak. “Kami punya tawaran solusi bagi pelapak buku bajakan untuk bertaubat. Mereka bisa jadi dropshipper, tugasnya cari pembeli, kami beri komisi sesuai perjanjian. Selebihnya kami yang tangani seperti pengiriman dan bukunya,” kata Indra. “Ini sudah kami praktikkan dan tetap ada untungnya. Hitungan kasar kami, keuntungannya sama dengan jual buku bajakan,” kata dia. Indra menyebut, penerbit kecil yang berhimpun di Yogyakarta, tengah menyiapkan langkah hukum berupa somasi terhadap marketplace yang masih menjual buku bajakan.

Kampanye Boikot Marketplace

Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) mengancam akan bikin kampanye boikot marketplace bila mereka tak serius sikapi pembajakan buku. Ketua Umum Satupena, Nasir Tamara menyebut, sudah berkomunikasi dengan beberapa pengelola marketplace agar penjual buku bajakan tak dapat tempat. Namun, kenyataannya masih ada penjual buku bajakan di lokapasar itu. “Kami pikir penulis dan penerbit bisa kolaborasi untuk buat kampanye boikot marketplace bila penjual buku bajakan masih ada,” kata Nasir. Kampanye ini, kata Nasir, agar pengelola bertindak memerangi pembajakan buku agar tak kehilangan kepercayaan masyarakat. Bila tak juga bergeming, Nasir akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan marketplace ke polisi. “Hak penulis telah dilanggar. Ini kami tak bisa diam,” ujar penulis buku Revolusi Iran ini. Nasir berkata, dengan UU Hak Cipta saat ini yang mengkategorikan kasus pembajakan buku sebagai delik aduan, maka organisasi Satupena menyiapkan penasihat hukum. “Silakan teman-teman penulis kalau mau lapor, kami siap mendampingi. Saya imbau, penulis yang dirugikan juga turun [melapor ke polisi],” kata dia. Mendiang NH Dini, kata Nasir, pernah berencana melaporkan pembajak buku dia. Namun, belum terlaksana karena telah meninggal. Hingga saat ini, kata Nasir, belum ada satu pun, penulis yang gunakan hak melapor. Hal ini, kata dia, karena informasi delik aduan tak tersosialisasi ke seluruh penulis. “Negara juga harus hadir di dalam kasus pembajakan buku. Jangan hanya memungut pajak dari royalti penulis,” ungkap Nasir. Pemerintah tetapkan pajak royalti pekerja seni, termasuk penulis, sebanyak 15 persen, sesuai Pasal 23 UU 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. Jumlah ini, kata Nasir, masih berat, karena royalti penulis itu 10-20 persen dari penjualan buku. Itu pun, kata dia, pembayarannya tak tentu, bergantung jumlah buku yang terjual. Pembajakan buku yang marak, kata Nasir, otomatis bikin peluang penulis dapat royalti makin tipis.

Respons Bukalapak dan Shopee

Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono mengklaim secara rutin memantau jenis barang yang dijual melalui lokapasarnya. Apabila terdapat pelanggaran, kata Intan, pasti akan segera kami tindak. “Pengguna dan masyarakat dapat turut melaporkan ke Bukalapak apabila menemukan konten produk ilegal melalui BukaBantuan,” kata Intan saat dikonfirmasi reporter Tirto, Kamis (10/10/2019). Agar tak terulang, kata Intan, dibutuhkan kesadaran dari dua sisi, dari pengelola punya tim yang terus memantau unggahan produk dari pelapak dan keseluruhan transaksi demi memastikan kenyamanan pengguna. Di sisi lain, kata Intan, pelapak juga perlu mengetahui serta menyadari mana produk yang dilarang dan yang tidak. “Kami memberikan panduannya dalam syarat dan ketentuan kami,” kata Intan. Sementara Country Brand Manager Shopee, Rezki Yanuar mengatakan, ada tim internal yang selalu mengecek produk-produk yang ada dan memastikan semua produk yang dijual sesuai dengan syarat dan ketentuan. “Bagi produk-produk yang kami ketahui melakukan kecurangan akan kami tag out dan banned,” kata Rezki dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto, Kamis (10/10/2019). Rezki menambahkan “sesuai dengan prosedur SOP Shopee, tim kami langsung menindaklanjuti dengan mengunci akun penjual tersebut karena menyalahi aturan dan regulasi. Tetapi proses tersebut membutuhkan waktu.” Shopee, kata Rezki, juga mengedukasi pembeli dan penjual. Pengguna dapat melaporkan lewat fitur seperti live chat dan review customer service 24 jam melalui email, call centre, dan juga di media sosial.

Pembajakan buku tak hanya ada di marketplace. Beberapa waktu lalu, warganet memergoki bazar buku bajakan di Balai Desa Kedawung, Kecamatan Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Tak lama setelahnya, bazar ini tutup lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Mizan, penerbit besar yang produknya ikut dalam bazar, mengkonfirmasi buku di sana adalah bajakan. Dikutip dari Mizan.com, Koordinator Distributor Mizan Media Utama di Jogjakarta, Narti mengatakan lembanganya tidak memasok stok ke bazar. “Berdasarkan harga yang tertera di foto, misalnya buku Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata yang dijual dengan harga Rp40.000. Padahal bazar buku tersebut tidak terafiliasi dalam even-even diskon besar yang biasa diadakan oleh Mizan seperti Big Bad Wolf dan Out of The Boox. Sudah dipastikan buku tersebut bukan buku original,” kata Narti.

Baca juga artikel terkait BUKU BAJAKAN atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali (tirto.id – Sosial Budaya) Reporter: Zakki Amali Penulis: Zakki Amali Editor: Abdul Aziz

Baca selengkapnya di artikel “Buku Bajakan di Shopee & Bukalapak: Asosiasi Penulis Ancam Boikot”, https://tirto.id/ejvR

No Comments

Leave a Reply