Search and Hit Enter

Menyita Buku-Buku Adalah Tindakan Barbar

Oleh: M. Fazwan Wasahua di qureta.com, 09 Agustus 2019.

“Perintah ayat itu membaca dan bukan sekaligus melarang membaca. Jadi jangan menolak Marxisme tapi berpikir Marxis.” (Arianto Achmad)

Dalam Al-‘Alaq ayat 1-5 berbunyi:

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
1. Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
4. yang mengajar (manusia) dengan pena,
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Manusia–tanpa terkecuali–memiliki perbedaan esensialitas dengan makhluk lain. Selain dapat meningkatkan kualitas fitrahnya (keberimanannya), juga dapat mengembangkan akalnya (pengetahuannya). Artinya, selain ia berpengetahuan, ia juga mampu mencari dan mengembangkan pengetahuannya.

Makhluk lain berpengetahuan, namun ia tidak mampu mengembangkan pengetahuannya. Mereka tidak mampu berinovasi untuk melahirkan sesuatu yang baru dan terbarukan. 

Oleh karena itu, kita tidak pernah melihat, atau setidaknya mendengar peradaban malaikat, peradaban jin, dan juga peradaban hewan. Yang ada hanyalah peradaban umat manusia.

Peradaban umat manusia hanya bisa tercipta dari aktivitas pengetahuan. Tahu, diketahui, sehingga mengetahui adalah proses yang tidak terjadi dengan sendirinya. Semua ini bermula dari kesadaran diri akan urgensitas berpengetahuan itu sendiri. Lalu dengan itu, maka manusia akan tergerak untuk membaca. 

Membaca di sini bermakna luas. Membaca tulisan, atau simbol-simbol, atau juga fenomena alam yang terjadi di sekitar kita. Tanpa membaca, maka manusia akan statis, berjalan di tempat, dan sudah pasti tidak akan mampu membangun peradabannya. Jadi membaca adalah tonggak suatu peradaban.

Oleh karena itu, maka wajar saja jika Allah memerintahkan Jibril menghadap kekasihNya, Nabi Muhammad, dengan membawa pesan pertamanya: bacalah, bacalah dengan nama Tuhanmu

Dalam perintah itu, tidak termuat perintah yang terbatas. Artinya, tidak ada perintah sekaligus larangan. Perintah tersebut tidak seperti ini: bacalah, bacalah dengan nama Tuhanmu, kecuali baca yang itu atau sana. Atau, bacalah dengan nama Tuhamu, dan janganlah kamu membaca hal ini atau itu. Perintahnya hanya bacalah. 

Sebagai contoh perintah terbatas yang saya maksud, misalnya dalam Al-Baqarah ayat 35: dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini (maksudnya jangan memakan buahnya, tafsir Jalalain), yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Kalimat ‘dan janganlah kamu‘ adalah sekaligus batasan pengecualian dalam isi perintah tersebut. Artinya, perintah itu secara otomatis termuat batasan atau pengecualian. Kamu boleh makan segala sesuatu, kecuali buah dari pohon yang dilarang.

Jadi, dalam urusan membaca, kita tidak dilarang, atau setidaknya dibatasi untuk membaca sesuatu. Bacalah segala sesuatu, apa pun itu, dengan nama Tuhanmu Yang Maha Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. 

Itu artinya, hikmah bahwa kita dianjurkan membaca adalah supaya kita dapat mengetahui, dan dengan pengetahuan itu kita dapat menimbang mana yang baik dan benar, dan mana pengetahuan yang buruk dan batil. 

Sebab, bagaimana kita dapat mengetahui kedudukan semua pengetahuan jika kita tidak membaca? Sementara firmannya dalam Al-Isra’ ayat 36: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.

Ayat di atas bermakna bahwa kita jangan mengikuti atau memercayai sesuatu bahwa sesuatu itu adalah kebenaran, sekalipun semua orang berkata itu adalah kebenaran, jika kita tidak punya pengetahuan tentangnya. 

Begitu pula kita dilarang untuk mengikuti atau memercayai sesuatu bahwa sesuatu itu kesalahan, sekalipun semua orang berkata itu kesalahan, jika kita tidak punya pengetahuan tentangnya. 

Sehingga Allah berfirman dalam Al-An’am ayat 143: Katakanlah: terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar.

Kemukakanlah Hujjah

Memercayai apalagi mengikuti pendapat orang mengenai suatu perkara yang disampaikan tanpa bukti-bukti yang jelas dan kuat adalah suatu kebodohan. Apalagi pendapat itu disampaikan hanya dengan emosi dan prasangka-prasangka. 

Allah berfirman: Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. (Al-Baqarah Ayat 111)

Artinya, apa pun itu, entah itu tentang kebenaran atau juga kesalahan, mestilah disampaikan dengan bukti-bukti yang jelas, kuat, dan objektif. Jika perkara itu adalah soal ilmu pengetahuan yang ditulis dalam sebuah buku atau semacamnya, maka bantahlah dengan ilmu pengetahuan dengan buku atau tulisan pula. 

Bukan dengan marah-marah apalagi melarang orang untuk tidak membaca atau sebagainya. Itu adalah perbuatan yang tidak beradab dan elegan. 

Sehingga, bisa jadi mereka yang mengatakan suatu perkara itu buruk, batil, dan salah adalah dilandasi oleh prasangka yang mereka tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Dan sikap semacam ini justru menjauhkan mereka dari kebenaran. 

Sebagaimana yang dijelaskan dalam An-Najm ayat 28: Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.

Jika kita yakin bahwa yang kita ikuti atau percayai adalah kebenaran, maka kemukakanlah hujjah, bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak, maka sebenarnya kita sedang berdusta atas nama kebenaran. 

Terkait hal ini, Al-An’am ayat 148 menantang kita: Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. 

Jadi, mengemukakan bukti akan klaim kebenaran itu sangatlah prinsipil. Karena itulah hakikat kebenaran itu sendiri. Ia harus mampu menjelaskan dan dijelaskan.

Di samping mengemukakan bukti atau hujjah terhadap klaim kebenaran, yang mesti diperhatikan adalah adab dalam menyampaikan. 

Jangan karena merasa diri benar lantas mengenyampingkan adab atau etika yang baik. Sebab itu sama saja menjauhkan kita dari usaha membuktikan kebenaran. Apalagi dengan cara menyesat-nyesatkan, hingga paling praktis, menyita buku-buku yang menurut kita tidak sepemahaman dengan kita. Itu tindakan yang sangat barbar. 

Jika dengan Firaun saja Nabi Musa diperintahkan untuk berbicara kepadanya dengan cara yang paling baik: maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (Ta ha Ayat 44), begitulah pula Rasulullah yang dianjurkan untuk berdebat dengan ahli kitab dengan cara yang palig baik: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik… (Al-‘Ankabut)

Lalu, mengapa kita dengan serampangan atas nama agama justru menggunakan cara-cara yang arogan lagi anarkis? Justru semestinya kita juga harus meneladani hal itu dari mereka para nabi yang mulia, dan bukan memilih cara sebaliknya.

Pengetahuan yang Sempit Adalah Akar Masalah

Persoalannya adalah sebagian besar manusia itu tidak sadar jika perbendaharaan dalam pikirannya sangatlah sempit. Pengetahuannya pun begitu terbatas. Mereka hanya fokus dan monoton mengonsumsi pengetahuan dari aliran dan paham mereka sendiri. Mereka tidak memiliki pengetahuan yang utuh tentang pemahaman di luar aliran mereka, sehingga mereka menilai hanya atas dasar prasangka-prasangka. 

Dianjurkan untuk membaca, mereka justru menolak, dengan alasan takut keimanannya goyang. Lantas, atas dasar pengetahuan apa mereka menilai kesalahan pihak lain? Padahal dijelaskan dalam Hud ayat 46: Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.

Artinya, agar kita tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan, maka sudah seharusnya kita membaca, mempelajari, dan memahami pemahaman dari semua aliran yang ada, baru kemudian dapat menilai kedudukannya dengan baik dan benar lagi objektif.

Jika tidak begitu, maka wajar saja jika mereka melihat pengetahuan yang datang dari aliran atau paham di luar mereka secara mutlak adalah batil, salah, sesat, dan bahkan kafir. Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan peradaban umat manusia. 

Ketika ada sebagian kalangan merasa benar, sementara yang lain salah, tanpa melakukan proses dialektika pemikiran dengan mengemukakan argumentasi atau bukti-bukti yang jelas, sehingga jelas pula mana yang benar dan batil.

Sebagai penutup, agar kita tidak terjerumus pada sikap yang demikian, maka sering-seringlah bertanya kepada yang ahli, yang memiliki pengetahuan di antara kita, yang banyak membaca, yang adil dan objektif dalam mendudukkan persoalan, lalu menilainya dengan arif dan bijaksana. Sebagaimana anjuran dalam An-Nahl ayat 43: maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui

Dan jangan ikuti mereka yang sukanya marah-marah, lalu dengan arogan bertindak seperti malaikat membedakan antara mana yang benar dan batil. Apalagi sampai seenaknya menyita dan membakar buku-buku yang dituduh sesat dan kafir, padahal mereka tidak punya pengetahuan.

Akhirnya, saya ingin berkata, membaca adalah tonggak peradaban, sementara menyita dan membakar buku-buku adalah tindakan barbar penuh kebiadaban!

M. Fazwan Wasahua seorang nasionalis, pluralis, religius.

No Comments

Leave a Reply