Search and Hit Enter

Anakronisme bahasa dalam film Bumi Manusia

Oleh: Holy Adib 13:58 WIB – Sabtu, 24 Agustus 2019 di beritagar.id

Apa yang Anda rasakan ketika mengetahui ada properti modern dalam film fantasi yang latar belakangnya bukan zaman modern? Jika Anda merasa bahwa hal tersebut merupakan kejanggalan, itu pula yang dirasakan penonton film serial Game of Thrones musim ke-8.

Ada gelas Starbucks di atas meja dalam sebuah adegan pada episode 4 musim tersebut. Kejanggalan seperti itulah yang saya rasakan saat menonton film Bumi Manusia. Namun, kejanggalannya bukanlah pada pemakaian properti, melainkan pada penggunaan kata yang tidak sesuai dengan zaman dalam cerita tersebut. Dalam cerita kejanggalan yang demikian disebut anakronisme.

Cerita dalam film Bumi Manusia terjadi pada 1898—1918 di Surabaya pada masa Hindia Belanda. Namun, ada beberapa kata yang dipakai dalam film tersebut yang tidak sesuai dengan latar belakang zamannya. Kata-kata tersebut, antara lain, anda dan sih.

Kata anda digunakan tiga kali, yakni dua kali oleh Nyai Ontosoroh di pengadilan dan satu kali oleh seorang anggota marsose ketika menjemput Annelies di rumah Ontosoroh untuk dibawa ke Belanda. Padahal, kata anda baru muncul pada 28 Februari 1957 dalam koran Pedoman—lihat artikel saya yang berjudul “Sejarah Anda” (Beritagar.id, 24 November 2018).

Kedua, kata sih dalam film Bumi Manusia digunakan dua kali, yakni oleh Ontosoroh ketika bertanya kepada Annelies, “Kenapa sih, An?”, dan oleh Minke ketika mengobrol dengan Annelies, “Masa sih?” Partikel sih hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari yang lazim dipakai oleh penutur bahasa Indonesia di Jakarta dan sekitarnya.

Penutur bahasa Jawa meminjam sih, misalnya dalam percakapan bahasa Jawa atau percakapan bahasa Indonesia. Peminjaman tersebut bisa terjadi apabila si penutur pernah mendengar kata tersebut, misalnya ketika merantau ke tempat kata sih diucapkan atau mendengarnya dari orang lain di kampungnya, baik dari pendatang maupun dari orang yang pernah merantau. Logiskah kata sih dipakai orang Jawa yang hidup kurang lebih pada 1900?

Perihal pemakaian bahasa dalam film, Asrul Sani dalam artikel berjudul “Bahasa Indonesia dalam Film dan Teater Modern” (majalah Budaya Jaya edisi 128 tahun ke-12, Januari 1979) mengatakan bahwa film merupakan bentuk kesenian yang sangat terpaut pada zamannya. Oleh karena itu, penggunaan bahasa dalam film sangat bergantung pada kebiasaan berbahasa yang terdapat dalam suatu zaman (halaman 3).

Fungsi bahasa dalam film bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai penanda identitas zaman yang menjadi latar belakang film dan penanda identitas tokoh, baik identitas kultural maupun identitas sosial lainnya, seperti pekerjaan, pendidikan, dan derajat di tengah masyarakat.

Jika tokoh dalam sebuah film merupakan petani di pedalaman Sumatra, kosakata yang ia gunakan tentu berbeda dengan tokoh yang merupakan pejabat di Jakarta sesuai dengan intelektualitas tokoh tersebut.

Hal itu disinggung oleh Asrul Sani (1979). Ia mengatakan bahwa tokoh-tokoh dalam film memiliki latar belakang dan lingkungan yang membentuk pribadi dan bahasanya. Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam film harus merupakan individu yang hidup, yang punya latar belakang yang dilahirkan dan dibesarkan di tumpak bumi tertentu dengan kebiasaan tertentu, yang punya kedudukan sosial tinggi atau rendah.

Demikian juga dengan logat yang diucapkan oleh pemeran dalam film. Asrul Sani (1979) menuding bahwa umumnya para bintang-bintang film pada zaman itu tidak menguasai teknik pengucapan bahasa dengan baik dan tidak memiliki kesadaran bahasa.

Ia mengamati bahwa banyak film Indonesia yang ceritanya bermain, misalnya, di Jawa Timur memperdengarkan ucapan-ucapan langgam Jakarta. Seorang pemain yang menurut cerita berasal dari Sumatera mengucapkan dialog-dialognya dengan lidah Jawa yang tebal.

Struktur-struktur kalimat yang dituliskan oleh penulis skenarionya pun menunjukkan struktur kalimat yang sangat dipengaruhi oleh bahasa Jawa. Ia menyebut hal-hal itu sebagai hal-hal yang tidak disengaja dan merupakan cacat yang menganggu dalam film-film Indonesia.

Hal-hal seperti itu merupakan hal detail yang sebaiknya diperhatikan pembuat fillm. Pembuat film Bumi Manusia sudah berusaha untuk detail dalam soal bahasa, misalnya logat. Tokoh Jawa, seperti Minke, berlogat Jawa bahkan ketika berbicara dalam bahasa Melayu dengan tokoh Jawa lainnya, misalnya Ontosoroh.

Detail lainnya ialah penggunaan ejaan lama dalam surat kabar dan pada surat yang ditulis oleh beberapa tokoh. Selain itu, usaha untuk memperlihatkan detail tampak pada pemakaian bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan Madura yang diucapkan oleh tokoh-tokoh sesuai dengan latar belakang kelompk etnis dan bangsa mereka.

Namun, ada detail yang luput, yakni pemakaian kata, seperti yang telah saya kupas. Detail lain yang kurang diperhatikan ialah pemakaian logat. Misalnya, Minke tidak berbicara dengan logat Jawa saat mengobrol dengan Annelies. Annelies memang orang Belanda, tetapi ibunya orang Jawa tulen dan dia hidup di lingkungan Jawa dalam keseharian.

Kalau mau lebih detail, penulis skenario film Bumi Manusia juga bisa memperhatikan stuktur dan gaya bahasa dalam bahasa Melayu pada 1900-an yang dipakai dalam dialog. Apakah hal itu tidak menyulitkan penonton mencerna dialog?

Pembuat film bisa memanfaatkan takarir (subtitle) untuk membuat penonton paham. Hal itu sudah dilakukan dalam film Bumi Manusia: takarir bahasa Indonesia muncul ketika ada dialog dalam bahasa Jawa, Madura, dan Belanda.

Mengapa dialog dalam film Bumi Manusia perlu disesuaikan dengan bahasa pada zamannya dari segi kata, struktur kalimat, gaya bahasa, dan logat, padahal bahasa dalam film hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dengan penonton?

Kalau alasannya cuma itu, semua dialog cukup dibuat dalam bahasa Indonesia. Namun, bukan begitu kenyataannya. Pembuat film Bumi Manusia telah berusaha menyesuaikan bahasa dalam dialog dengan zaman cerita tersebut, tetapi ada beberapa bagian yang luput dari perhatian.

Apakah tidak susah membuat film yang dialognya sesuai dengan zaman, baik dari segi kata, struktur kalimat, gaya bahasa, dan logat? Mungkin susah. Akan tetapi, pembuat film bisa bekerja sama dengan ahli bahasa di perguruan tinggi untuk meriset pemakaian kata, struktur kalimat, gaya bahasa, dan logat dalam sebuah bahasa pada zaman tertentu.

Kerja sama pembuat film dengan ahli bahasa sering dilakukan di Barat. Sebagai contoh, HBO meminta David J. Peterson, ahli bahasa asal Amerika Serikat, untuk membuat bahasa Valyrian dalam film Game of Thrones.

Begitulah kalau mau sungguh-sungguh memperkuat karakter tokoh dengan memakai bahasa sebagai identitas tokoh tersebut. Pemakaian bahasa artifisial bisa dikatakan cukup banyak dalam film, antara lain, bahasa Sindarin dan Quenya (The Lord of The Rings), bahasa Klingon (Star Trek), Bahasa Na’vi (Avatar), dan bahasa Mondoshawan (The Fifth Element).

Membuat film yang bahasa dialognya sesuai dengan zaman cerita tersebut mungkin susah. Namun, sejumlah pembuat film berusaha melakukannya, misalnya film The Passion of The Christ. Bahasa yang digunakan dalam film itu ialah bahasa Latin dan Aram (cabang bahasa Semitik yang terancam punah). Agar penonton memahami dialog itu, dibuatlah takarir dalam bahasa Inggris.

Semua harapan saya perihal penggunaan bahasa terhadap film berlatar sejarah, seperti yang saya sampaikan tadi, hanyalah harapan saya sebagai penonton film yang berlatar belakang bahasa.

Penonton dengan latar belakang lain, misalnya rancangan busana, mungkin juga punya harapan lain terhadap pemakaian busana dalam film berlatar tahun-tahun lama. Harapan itu mungkin bisa menjadi masukan terhadap pembuat film. Namun, jika harapan dari penonton dipahami sebagai risakan (bully-an) dan ditanggapi secara ofensif, rasa-rasanya kok aneh. He-he-he.

No Comments

Leave a Reply