Search and Hit Enter

Heteroglossia dalam film Bumi Manusia

Oleh: Ulil

Kemaren saya sudah menulis catatan yang terlalu panjang untuk film Bumi Manusia (selanjutnya: BM) garapan Hanung Bramantyo. Tetapi “excitement”, kegembiraan dan keriaan saya karena film ini belum habis, dan karena itu saya masih mau “tanduk”, menambahkan beberapa catatan lagi. Apa yang saya tulis ini lebih saya niatkan sebagai catatan pribadi saja. Siapa tahu kelak catatan ini berguna untuk saya.

Seperti saya kemukakan dalam catatan yang lalu, banyak hal bisa dibicarakan mengenai film ini. Saya malah menganjurkan bahwa film ini dijadikan sebagai alat bantu bagi anak-anak di sekolah untuk belajar tentang sejarah kebangkitan nasional: bagaimana kemunculannya, bagaimana sikap para tokoh-tokohnya, bagaimana lanskap sosial yang ada zaman itu, bagaimana percaturan ide dan gagasan di sana, dsb.

Catatan berikut ini akan menyoroti fenomena yang menarik perhatian saya dalam film BM, yaitu hadirnya sejumlah bahasa asing dan daerah melalui tokoh-tokohnya. Jika kita baca karya aslinya, kehadiran banyak bahasa ini tak tampak sama sekali dalam novel Pram itu. Memang ada sejumlah percakapan dengan menggunakan bahasa asing di sana. Tetapi sangat sedikit. Dalam film BM, kita disuguhi “parade” beragam bahasa yang, menurut saya, memikat. Sebagai penikmat bahasa, saya menyukai parade “heteroglossia” atau percakapan dalam pelbagai bahasa ini.

Tentu saja bahasa Belanda sangat mendominasi film BM, selain bahasa Melayu. Tetapi, ada juga bahasa-bahasa lain: ada Jean Marais, sang penutur asli bahasa Perancis, misalnya. Minke sendiri bercakap dalam bahasa yang berbeda-beda: di sekolah, dia berbahasa Belanda; di rumah, dia berbahasa Jawa kromo; di dalam kehidupan sehari-hari di Surabaya, ia memakai bahasa Melayu. Adegan Annelies dan Nyai Ontosoroh yang meggunakan bahasa Jawa dan Belanda dengan derajat kefasihan yang nyaris sama, juga memikat sekali.

Tokoh Darsam, “centeng” yang menjadi kepala sekuriti di perkebunan Nyai Ontosoroh, juga sangat menarik. Darsam adalah “arek” Madura. Adegan Darsam menggunakan bahasa Madura menjadi daya tarik sendiri dalam film BM ini. Meskipun gambaran Darsam ini sangat “stereotypical”, tetapi bagi saya tetaplah menarik.

Soal bahasa ini bukanlah sederhana. Dalam film ini, bahasa bukanlah sekedar “cultural marker”, penanda budaya, melainkan juga penanda kelas: bahasa menunjukkan di mana kedudukan Anda dalam hirarki sosial yang sangat “pyramidal”. Masyarakat kolonial di zaman Belanda ditandai dengan stratifikasi sosial yang bertingkat-tingkat, dan sangat ketat. Kita sudah mengetahui hal ini dalam buku-buku sejarah. Tetapi ketika hal ini divisualisasikan dalam kehidupan kongkret melalui sebuah novel dan film, kita tersentuh luar biasa; kita ikut marah.

Bahasa Belanda hanya dikhususkan bagi masyarakat Eropa, dan hanya sesama orang Eropa yang diperbolehkan menggunakan bahasa ini. Seorang pribumi seperti Minke tidak diizinkan berbahasa Belanda jika bercakap-cakap dengan “Tuan Kolonial”. Seorang pribumi yang bercakap dalam bahasa Belanda dengan orang Eropa, akan dianggap melanggar batas-batas kelas yang sudah digariskan oleh Tuan Kolonial itu. Seorang pribumi haruslah tahu diri di mana letaknya dalam lokasi sosial.

Sebagai selingan: meskipun dalam konteks yang berbeda, saya mengalami sejumlah pengalaman yang agak mirip dengan situasi Minke ini. Beberapa kali saya berhadapan dengan situasi ini: Saya bertemu seorang bule; dia seperti enggan bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia dengan saya (orang bule kerap menyebut bahasa Indonesia hanya dengan istilah “bahasa” saja; “I speak bahasa.”). Mungkin bukanlah maksud dia untuk “mengejek” saya sebagai pribumi. Mungkin si bule itu sedang hendak melatih bahasa Indonesia dengan “native speaker” seperti saya. Tetapi, tak bisa saya hindari, pada momen itu saya merasakan sesuatu yang “aneh” saja – sebut saja “Minke moment”.

Salah satu perbedaan penting antara generasi Sukarno dan pasca-Sukarno adalah dalam hal “heteroglossia” ini, kemampuan bercakap-cakap dengan banyak bahasa. Generasi Sukarno dididik dalam sekolah Belanda, dan belajar minimal empat bahasa Eropa: Belanda, Perancis, Jerman, Inggris. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan mempelajari bahasa Latin dan Yunani. Fenomena “polyglossia” ini bukanlah hal yang aneh pada generasi Sukarno.

Di era pasca-Sukarno, ini nyaris hilang sama sekali. Generasi Indonesia yang tumbuh di zaman Suharto dan sesudahnya, mengalami penyempitan dan sekaligus penyeragaman bahasa. Mereka hanya mampu berbahasa Indonesia, plus Inggris. Bahasa daerah pun pelan-pelan merosot sebagai bahasa percakapan dalam rumah-rumah kita saat ini.

Selama ini, Bung Karno menjadi pusat kekaguman anak-anak muda, minimal pada generasi saya dan ayah saya, karena sejumlah banyak alasan. Selain karena penampilannya yang parlente, gelora pidatonya yang hebat, juga karena percikan banyak istilah dan kosa-kata asing, baik dalam pidato maupun tulisan-tulisan Bung Karno. Salah satu hal yang saya nikmati dalam esei-esei Bung Karno yang termuat dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” (kami dulu menyebutnya hanya dengan inisial: DBR), atau “Sarinah”, adalah parade kata-kata dan istilah asing: Belanda, Jerman, Perancis, Inggris. Kadang-kadang kita jumpai sejumlah kata dan istilah yang berasal dari bahasa daerah, terutama Jawa.

Sebagai penikmat bahasa, saya menyukai film BM ini, antara lain karena menyuguhkan pelbagai bahasa melalui tokoh-tokohnya yang berasal dari latar kebangsaan yang beragam (mutinasional) itu. Saya lahir sebagai generasi pasca-Sukarno. Tetapi saya mengagumi generasi Sukarno yang menguasai banyak bahasa dunia.

Di segi lain, saya juga meminati sosok Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies, dari sudut kebahasaan ini. Sosok-sosok ini mewakili manusia-manusia “modern” Indonesia yang sedang berada di zaman berubah (“zaman bergerak”). Mereka ini, dalam istilah yang populer pada tahun 50an, adalah manusia-manusia yang berada pada periode “belum sudah”. Mereka sudah dibangunkan dari kenyamanan alam tradisional yang feodal, dan mulai melihat masalah yang serius dalam dunia lama itu, tetapi mereka belum menemukan bentuk dunia baru yang mapan. Mereka ini adalah manusia-manusa “antara”. Keantaraan ini diwakili, antara lain, oleh fenomena “heteroglossia” ini.

Saat Minke dan Nyai Ontosoroh bercakap dalam bahasa Belanda, tak pelak lagi kita (atau minimal saya), menangkap kesan ini: Mereka tidak sekedar berbahasa dalam pengertian biasa; mereka sebetulnya sedang “bertarung” untuk memenangkan suatu posisi yang terhormat dalam peta kelas sosial di masyarakat kolonial. Saat berbahasa Belanda, mereka seperti hendak berteriak-keras: “Kami bukan pribumi yang bodoh; kami adalah manusia terhormat yang setara dengan kalian, wahai orang-orang Eropa!”

Minke berada dalam dua lokasi sosial yang berbeda. Saat ia pulang ke rumahnya di Bojonegoro dan berbahasa Jawa kromo dengan ayahnya yang seorang bupati, dia menempati posisi sosial sebagai “gus”. Saat ia berbahasa Belanda, ia mendadak menjadi “sinyo” – sebutan khas Eropa untuk remaja yang masih bujang. Baik di dua posisi ini, Minke menempati kelas yang istimewa: dia adalah bagian dari kelas atas yang menikmati banyak privilese sosial, antara lain, ia bisa sekolah di sekolah Belanda (HBS: Hogere Burgerschool).

Posisi Annelies, bagi saya, agak sedikit berbeda. Dia adalah gadis dengan darah campuran: ayahnya, Herman Mellema, adalah Belanda totok, sementara “emaknya” adalah Sanikem, perempuan desa yang kemudian bermutasi menjadi sosok-super bernama Nyai Ontosoroh. Pada Annelies, berbahasa Belanda tidak menandakan bahwa dia adalah bagian dari Eropa. Baginya, memakai bahasa Jawa justru mengisyaratkan bahwa ia memilih untuk menjadi pribumi saja, mendampingi Minke. Ia bahkan tidak memanggil Minke dengan sebutan “nyo”, melainkan “mas”.

Sementara indo yang lain, yaitu Robert Mellema, kakak kandung Annelies, mengambil jalur yang berbeda. Dia “emoh” menggunakan bahasa Melayu, apalagi Jawa, meskipun ada darah Jawa dalam dirinya melalui ibunya: Sanikem alias Nyai Ontosoroh. Dia memilih menjadi Eropa, karena itu, dalam seluruh film BM ini, Mellema muda digambarkan sebagai sosok angkuh yang hanya mau berbahasa Belanda. Bahasa Jawa adalah “najis” bagi dirinya.

Saat ini, kita memang sudah tidak lagi hidup di zaman kolonial, dengan penanda utama: kelas-kelas sosial yang hirarkis, ditandai dengan penggunaan ragam bahasa yang mencirikan tinggi-rendahnya seseorang dalam konstelasi kelas sosial itu. Tetapi harus kita akui, sisa-sisa “prasangka sosial” yang menyelip dalam penggunaan bahasa yang berbeda-beda, masih kita warisi hingga sekarang.

Seseorang yang menggunakan bahasa Jawa dengan dialek tertentu, akan membuatnya terjebak dalam sebuah “stereotype” yang bisa merendahkan. Pengguna bahasa Jawa dengan dialek Tegal, misalnya, akan dipandang dengan sedikit “merendahkan”. Begitu juga pengguna bahasa Arab; ia akan membawa beban stigma sosial tertentu. Sementara pengguna bahasa Indonesia yang menyisipkan beberapa kosa kata bahasa Inggris di dalam percakapannya, akan dikesankan sebagai bagian dari kelas sosial tertentu yang mendapatkan privilese lebih.

Politik bahasa yang kita lihat dalam film BM masih kita saksikan dalam kehidupan era “millennial” sekarang. Dengan kata lain, sindrom-sindrom sosial yang dikisahkan dalam film BM ini masih bertahan, walau dengan kadar dan bentuk yang berbeda, hingga saat ini. Film BM bukan hanya berbicara tentang masa lampau. Ia juga berbicara tentang banyak hal yang ada di zaman ini.

Sekian.

No Comments

Leave a Reply