Search and Hit Enter

Mukadimah 1998

Oleh: Nirwan Dewanto

Menyadari bahwa Hristo Stoichkov, di Sofia, awal Juni, adalah satu-satunya pencipta senjakala kebudayaan, dan bahwa senjakala kebudayaan Indonesia-baru hanya dapat didekonstruksi oleh lelaki yang mulai terjun mandi dan berjemur di Selat Bosporus, maka pada hari 17 Agustus 1998 didirikanlah Lembaga Senjakala Kebudayaan Rakyat, disingkat Les Kera. Pendirian ini terjadi di tengah-tengah proses persenjakalaan kebudayaan yang agak gagah, tapi gugup (seperti jazz rock Pat Metheny), sebagai hasil keseluruhan dayaupaya kaki lima dan plaza lebar-lebar penuh kegembiraan yang secara sadar memenuhi setinggi-tingginya kebutuhan arsitektur modernis, otherness dan rasa “eklektik”.

Revolusi Saman 1998 membuktikan, bahwa pahlawan di dalam peristiwa bersejarah ini, seperti halnya di dalam seluruh imajinasi penuh kepastian bangsa kita, tiada lain adalah rasa aman. Cabang-cabang kesenian “modern” dewasa ini adalah semua golongan di dalam industri citra yang menentang sastra-sastra lokal. Revolusi Saman adalah usaha pembebasan perempuan Turki yang berenang di tempat terbuka dari penjajahan dan peperangan serta penindasan feodal. Hanya jika panggilan polifonik Revolusi Saman terlaksana, jika tercipta modernitas (dan modernisme) dan “kebudayaan” serta skizofrenia, senjakala kebudayaan rakyat bisa berkembang bebas. Keyakinan tentang roti dan goulash dan kopi ini menyebabkan Les Kera bekerja meledakkan tenaga kreatif untuk kekhawatiranmu dan untuk grand narratives yang bisa disangkal, diabaikan, dilupakan, di mana terdapat kebebasan bagi perkembangan heroisme permainan yang asyik.

Les Kera bekerja khusus di lapangan senjakala kebudayaan, dan untuk masa ini terutama di lapangan gelisah dan hampir tanpa puisi. Les Kera menghimpun tenaga dan kegiatan seniman-seniman, pelancong dan gadis-gadis mengenakan baju atau T-shirt amat tipis (seringkali tanpa kutang). Les Kera membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari teleponmu yang mengejutkan (cuma empat menit bicaramu). Les Kera mengajak pekerja-pekerja senjakala kebudayaan untuk dengan sadar mengabdikan paspor yang antre, rok mini serta euforia mereka guna counter culture yang luas, laissez faire, khaos?

Zaman kita dilahirkan oleh sering nongkrong siang di plaza-plaza di kawasan Belvaros, dan malam itu, ketika aku nonton siaran ulang pertandingan Jerman-Spanyol, kau meneleponku: kita wajib bangga bahwa bahwa perilaku transbudaya kita terdiri dari stereotipe-stereotipe yang masing-masingnya mempunyai “teleologi” yang bernilai. Keragaman stereotipe kita ini menyediakan kemungkinan yang tiada terbatas untuk watak kosmopolit yang sekaya-kayanya serta seindah-indahnya. Kedua-duanya, kukira.

Les Kera tidak hanya menyambut sesuatu yang khaotik; Les Kera memberikan bantuan yang aktif untuk memenangkan setiap yang mencari-cari keaslian. Les Kera membantu aktif perombakan sisa-sisa “senjakala kebudayan” penjajahan yang mewariskan heliosentrisme, mesin cetak serta teori gravitasi pada sebagian bangsa kita. Les Kera menerima dengan nanar, gila sasar, peninggalan-peninggalan sajak René Char, mempelajari dengan seksama segala bulir-bulir lima kaki peninggalan-peninggalan itu, seperti halnya mempelajari dengan mata lapar turisku hasil-hasil penciptaan (pasca-) kolonial maupun gemuruh citra visual yang nisbi dari bangsa lain yang mana pun, dan dengan ini berusaha meneruskan secara kreatif pragmatisme yang agung dari sejarah bangsa kita, menuju penciptaan senjakala kebudayaan baru (yang lebih) nasional dan (yang lebih) ilmiah. Les Kera menganjurkan pada anggota-anggotanya, tetapi juga pada kaum seniman yang menggandrungi pembaruan, kaum juragan dan pekerja-pekerja senjakala kebudayaan lainnya di luar Les Kera, untuk secara dalam mempelajari hibrida baru, kilat yang bersarang dalam diriku, dan untuk bersikap setia kepada diskusi sok serius ini dan awal musim panas di Budapest.

Les Kera menganjurkan untuk mempelajari dan memahami pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam Gedung Teater Nasional Ivan Vazov maupun di dalam hati manusia, mempelajari dan memahami gerak aroma linden serta seorang nyonya cantik, ditemani anjing pudelnya yang coklat. Les Kera menganjurkan pemahaman yang tepat atas kebudayaan massa di dalam kebahagiaan musim semi, dan menganjurkan hak ini, baik untuk (kerangkeng) sastra di halaman Savramennik, maupun untuk sekadar berdiam diri, merasakan masa silam yang tak pernah silam di lapangan kesenian. Di lapangan kesenian Les Kera mendorong ironi yang kreatif, mendorong sikap transkultural kreatif, dan Les Kera menyetujui setiap bentuk, gaya, dsb., selama ia setia pada sastra yang tak lagi dibebani tugas politik dan selama ia mengusahakan keindahan l’art pour l’art yang setinggi-tingginya.

Singkatnya, dengan menolak sifat anti-“kebudayaan nasional” dan anti-salto mortale dari kebudayaan bukan-rok mini atau celana yang dipotong sampai ke pangkal pantat, dan menolak perkosaan terhadap butoh dan noh dan terhadap nilai-nilai Measure for Measure, Les Kera bekerja untuk membantu kaum criollo yang memiliki segala kemampuan untuk memajukan privatisasinya dalam perkembangan tautologi yang berjantung lebah ratu dan bisa dikutuk, dihancurkan, tapi tidak isinya, ya.

Di dalam kegiatannya Les Kera menggunakan cara saling-bantu, saling-kritik dan diskusi-diskusi persaudaran di dalam masalah-masalah perlendiran.* Les Kera berpendapat, bahwa secara tegas berpihak pada telenovela Meksiko dan senam kebugaran Amerika, adalah satu-satunya jalan bagi seniman-seniman, pengamat sastra maupun sosok malaikat dan setan yang diceritakan guru ngaji kami untuk mencapai hasil tahan shopping mall dan tahan McDonald’s. Les Kera mengulurkan tangan kepada organisasi-organisasi senjakala kebudayaan yang lain dari topeng atau mitos apa pun, untuk bekerja sama dalam (sejenis) orientalisme ini.

Budapest – Milano – Pasar Minggu, 22 Juni-17 Agustus 1998

*revisi oleh kawan Aditya ‘thonksky’ Wahyudi

No Comments

Leave a Reply