Search and Hit Enter

Menyoal Perihal Sastra Islami

Oleh: M. Fakhru Riza  3 September 2019 di iqra.id

Islam kini tak hanya menjadi agama privat yang dihayati oleh pemeluknya masing-masing dalam ruang-ruang perjumpaan spiritualnya dengan Tuhannya. Tak cukup hanya sebagai lelaku peribadatan individual, kini Islam menjadi semacam budaya populer.

Dalam dunia bisnis fashion dan kosmetik misalnya, terjadi trend pakaian islami dan kosmetik yang halal. Dalam panggung sinema ditandai misalnya melalui banyak film islami yang diproduksi dan diminati oleh banyak penonton. Ada film 99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-ayat Cinta 1 & 2, dan masih banyak judul lain yang bisa disebutkan.

Dalam dunia musik, muncul juga banyak penyanyi dengan lagu yang bergenre islami, Sabyan Gambus dan Maher Zain misalnya. Dalam ranah politik juga misalnya ada trend meningkatnya aspirasi pembuatan undang-undang berlabelkan syariat.

Kebudayaan islami juga merambah dunia sastra. Film-film islami yang sebelumnya disebut tersebut juga diangkat dari sebuah novel islami karya Hanum Salsabila Rais dan Habiburrahman El-Shirezy. Dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa menampilkan sepasang keluarga muslim dari Indonesia yang berkuliah di Barat. Di novel tersebut diangkat juga konteks gelombang anti-islam yang sedang menyeruak di Eropa.

Sayangnya, alih-alih hendak menampilkan dua sosok muslim dan muslimah yang progresif dan toleran terhadap orang-orang Barat, novel tersebut masih jatuh pada kecenderungan melihat orang-orang Barat sebagai sosok yang negatif dan kemudian menjadikan dua tokoh utama novel yang notabene adalah muslim sebagai hero, sangat toleran dengan orang Barat yang dicitrakan secara negatif.

Perspektif yang diangkat oleh novel tersebut bagi penulis masih sangat problematis. Di mana penggambaran Barat sebagai yang selalu negatif dan muslim sebagai yang selalu positif adalah masih terjebak dalam simplifikasi identitas yang primordialis dan chauvinis. Apakah benar semua orang Barat adalah negatif dan semua muslim adalah positif dan baik? Tentu saja tidak demikian.

Yang benar adalah ada orang Barat yang baik dan ada juga orang Barat yang tidak baik. Begitu pula berlaku bagi orang muslim, ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Hal itu kembali kepada kepribadian masing-masing orang. Selain itu, pengandaian dalam perspektif novel yang menjadikan orang muslim sebagai satu-satunya hero (pahlawan) adalah sangat tidak tepat.

Narasi tersebut alih-alih hendak membunuh atau mengkritik bentuk rasisme/primordialnya kubu konservatif orang Eropa yang anti-islam, justru novel tersebut masih jatuh dalam cara pandang yang primordialis pula. Novel tersebut masih jatuh kepada cara pandang orang-orang Eropa yang anti-islam yang sedang ia kritik.

Hal yang kurang lebih serupa juga yang terjadi dalam novel Ayat-ayat Cinta 2 misalnya. Novel yang menceritakan kisah Fahri, seorang muslim yang taat dan cerdas menjadi dosen di Eropa. Hampir serupa dengan cara pandang yang diangkat 99 Cahaya di Langit Eropa, novel Ayat-ayat Cinta 2 juga masih terjebak dengan logika yang sama. Ia mengulangi kesalahan obyek rasis yang hendak ia kritik.

Penggambaran yang berlebihan atas sosok Fahri yang muslim taat, pintar, dan mendapat panggung akademik yang tinggi di Eropa dan penggambaran atas orang-orang Eropa yang terlampau negatif tersebut menjadikan novel tersebut masih gagal memberikan kritik yang membuka kemungkinan baru yang lebih progresif dalam memberikan tawaran dialog antara muslim dan Barat.

Perspektif yang diangkat oleh novel-novel di atas berupaya memberikan kritik terhadap kebudayaan Barat. Baginya, Barat selama ini menjadi biang kehancuran peradaban kaum muslim. Tapi benarkah demikian?

Bagi penulis, term kehancuran peradaban Islam juga masih sangat problematis. Benar memang, negeri-negeri Barat menyumbang kehancuran dunia bagian selatan melalui penjajahan. Kita menolak bahkan melawan praktik-praktik penjajahan Barat di negeri kita, buktinya adalah perjuangan kemerdekaan Indoensia era kolonialisme Belanda.

Jika praktik kolonialisme Barat oleh pengusung genre novel islami dianggap sebagai penghancuran peradaban Islam, tentu kurang tepat. Sebab, hal itu hanya akan jatuh kepada simplifikasi yang rasis dan primordialis. Karena apa? Yang menjadi korban dari kolonialisme bukanlah hanya kaum muslim saja, tetapi semua orang dengan agama yang bermacam-macam.

Di Amerika Selatan misalnya, di sana juga terjadi kolonialisme di bawah Spanyol dan Portugis. Apakah lantas jika kolonialisme disimplifikasi hanya sebagai penghancuran peradaban kaum muslim, lantas di Amerika Selatan tidak dianggap sebagai sebuah penindasan, hanya karena semata bukan masyarakat muslim? Tentu saja tidak. Penindasan kolonialisme tersebut menindas siapa saja, tanpa memandang agamanya apa.

Dari sini, terlihat betapa bermasalahnya genre novel islami tersebut. Ia masih jatuh kedalam lubang yang sama seperti objek yang hendak ia kritik. Ia hendak mengkritik objek yang rasis dan primordialis dengan cara yang rasis dan primordialis pula. Alih-alih hendak menyelesaikan persoalan, justru menambah persoalan yang baru.


No Comments

Leave a Reply