Search and Hit Enter

Papua dan Bumi Manusia

Oleh: Lea Pamungkas

Tak ada lagi yang romantisme atau idealisme dalam nasionalisme macam ini. Yang ada adalah pembudidayaan kebencian, cara berpolitik yang sinis dari orang-orang yang cuma mau mempertahankan kekuasaan.

Bertahun lalu, kenalan saya yang pengggiat kebudayaan hyperaktif, mengeluh tentang kekasihnya. Seorang penari Papua yang luarbiasa keren, “Rasa syukur saya tak ada habisnya bertemu seseorang seperti dia,” begitu buka kenalan saya dengan mata berkaca-kaca. “Kelembutan, pemahaman dan kasih sayang. Cuma…,” dia berhenti seolah tak yakin saya menyimak dengan baik. “Cuma,” ulangnya, “Dia tidak tahu karya-karya Pram: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa. Sementara bagi saya sebagai pekerja budaya itu syarat penting. Karena novel-novel itu’kan  berbicara tentang sejarah kita,” tandasnya.

Saya terkesiap. Kita. ‘Kita’, selalu adalah kata yang ruwet. Lalu bicara tentang ‘sejarah kita’, bakal lebih luarbiasa ruwet, karena gambaran tentang sejarah kerap dibentuk dan dipilih oleh sekelompok pemenang. Kemudian dibakukan. Padahal selalu ada tema-tema yang harus diperdebatkan, dikaji ulang dan harus terus menerus diperbaharui. 

Bisa jadi saja bahwa sebuah novel sejarah,  adalah bagian dari sejarah kita. Sejarah kemanusiaan kita. Saya merasakan sebagian dari sejarah kemanusiaan saya, saat membaca karya pengarang Afganistan, Khaled Hosseini, Kite Runner, misalnya.  Saat saya membaca tetralogi Pramoedya, saya sepenuhnya masuk dalam titian sejarah saya sendiri. Saya mengenali bau rumah Nyai Ontosoroh, suara binatang malam yang  di sekelilingnya, cara berpikir Darsam, si Carok Madura. Ketika kemudian saya tinggal di Belanda, saya mengenali keterasingan Annelies dan kegilaan Meneer Mellema.  Tetralogi Pramoedya, adalah karya dengan kekentalan sejarah orang-orang yang hidup di Jawa, atau tempat-tempat lain di Indonesia yang kurang lebih memiliki karakter yang sama.

Tetapi apakah orang-orang di Papua, bakal persis mempunyai perjalanan pengalaman dan pemahaman yang sama dengan saya atau kawan-kawan saya yang hidup di Jawa ? Tidak usah juga. Karena perjalanan sejarah  Papua memang jauh berbeda dengan kawasan lain. Bulan yang lalu, tepat 50 tahun Papua Barat atas nama ‘Act of Free Choice’ –yang kerap diplesetkan jadi ‘Act of No Choice’; bergabung dalam Negara Republik Indonesia.

Dengan berikrar menjadi bagian RI, jelas bukan berarti seketika  diharuskan muncul keseragaman pemahaman pengalaman sejarah. Kendati kita memang doyan dan merasa aman dengan keseragaman. Termasuk keseragaman memahami nasionalisme.

Akhirnya ketika muncul perbedaaan pendapat atau pemahaman,  sertamerta serentetan tuduhan diarahkan : makarlah  atau pengkhianatlah  atau separatislah. Tak ada lagi yang romantisme atau idealisme dalam nasionalisme macam ini. Yang ada adalah pembudidayaan kebencian, cara berpolitik yang sinis dari orang-orang yang cuma mau mempertahankan kekuasaan.

No Comments

Leave a Reply