Search and Hit Enter

SASTRA INDONESIA DAN DUNIA

Oleh: Goenawan Mohamad

April 1999, Pramoedya Ananta Toer di Kota New York.  Gedung Asia Society penuh.  Sastrawan Indonesia yang baru menerima Freedom to Write Award dari organisasi penulis PEN itu duduk  di panggung. Ia diapit John MacGlynn, yang menerjemahkan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang diluncurkn malam itu, dan Mary Zurbuchen, Direktur Ford Foundation yang juga menerjemahkan sastra Indonesia.  Ford Foundation membeayai kunjungan Pram ke AS, tapi malam itu  Mary lebib berperan sebagai penerjemah buat Pram. Saya juga di sana, untuk memberi pidato penyambutan.  Amitav Gosh, novelis terkemuka, membacakan fragmen The Mute’s Soliloquy versi Inggris buku catatan-catatan Pram dari Pulau Buru.

 Kursi-kursi Asia Society, tempat yang dikenal untuk acara-acara kebudayaan dari Asia, semua terisi. Saya lihat banyak warga Indonesia yang ada di New York. Di sana-sini tampak orang Amerika yang “kecanthol” Indonesia.  

Tapi saya tak melihat media cetak dan elektronik terkemuka di sana. Setahu saya, satu-satunya yang hadir seorang reporter The New York Times; dia keturunan Indonesia, dan memperkenalkan diri sebagai salah satu anggota keluarga Penyair Subagio Sastrowardojo.  

Saya sedih: esoknya, di koran dan televisi,   tak saya temukan berita tentang kunjungan tokoh yang disebut dalam selebaran Asia Society sebagai “pengarang terbesar Indonesia” itu —  orang   yang dengan teguh hati dan pikiran menanggungkan kesewenang-wenangan Orde Baru. 

Pelan-pepan saya pun sadar:  bagi media Amerika, mungkin juga bagi kalangan literati Amerika, Pramoedya Ananta Toer nyaris tak dikenal.   Agaknya riwayat hidupnya sebagai penulis yang tertindas tak mereka ianggap istimewa. Bagi mereka, ada sastrawan lain yang lebih menonjol dari Dunia Ketiga: misalnya sastrawan kiri Turki, Yasar Kamal, anak petani Kurdi yang miskin yang berkali-kali dipenjarakan pemerintah. Karyanya, Memed, Elangku, membuatnya dicalonkan sebagai pemenang Nobel. Kamal juga pernah menerima beberapa penghargaan yang juga diterima Octavio Paz dan Habermas.

Dibandingkan Kamal dari Turki  dan Assia Jebar dari Aljazair,  Pramoedya jauh tak terlihat. Sebagaimana sastra Indonesia seperti tak tercatat. Pernah saya ketemu sebuah jilid tebal kumpulan puisi dunia di satu toko buku di New York; di sana ada puisi dari Laos dan Vietnam, tapi tak ada dari Indonesia.  Untunglah, dalam antologi yang lebih prestisius, World poetry : an anthology of verse from antiquity to our time yang terbit di tahun 1998 saya temukan satu sajak Sapardi Djoko Damono, Mask. Saya berbahagia.

Mungkin rasa bahagia itu bagian dari perasaan “sebangsa dan setanahair” —  paralel dengan rasa kecewa ketika kehadiran dan karya Pram di Amerika tidak disambut sebagaimana kita  mengharapkannya.  

Menyasari itu, saya sering bertanya-tanya:  apa gerangan  yang membuat karya sastra Indonesia bisa dikenal dan dihargai di luar negeri? 

***

Ketika saya aktif dalam tim persiapan Indonesia untuk hadir sebagai “Guest of Honour” dalam Frankfurt Book Fair (FBF)  di tahun 2015, niat saya adalah memperkenalkan Indonesia dan karya-karya sastranya serentak di satu acara besar yang tersohor.  Apalagi kesempatan sebagai “Guest of Honour”  langksa sekali — posisi yang diperebutkan banyak negara, yang juga ingin secara besar-besaran menghadirkan diri:  Finlandia menunggu tampil konoi=n  selama 15 tahun, dan Prancis  mendapatkanna dua tahun setelah Indonesia.

Kami, tim Indonesia, menghadirkan “Indonesia” dalam pelbagai segi, di pelbagai kesemptan di Jerman tahun itu. Tak hanya buku, dan tak hanya sastra:  seni rupa, juga karya komik, musik kontemporer, musik gembira (termasuk dangdut di Festival Tepi Sungai Main), tari-tarian, film, diskusi dan seminar di perguruan tinggi, sajian dan ceramah   dunia kuliner. 

Kami sudah muncul  sejak setahun sebelumnya.  Kami datangkan ke Jerman beberapa puluh sastrawan,  pengarang non-sastra, musisi, perupa, pakar kuliner. Juga tokoh nasional Indonesia yang terkait dengan Jerman (a.l. B.J. Habibie, Franz Magnis Susesno).  Kami bikin acara  di Leipzig, Hamburg, Koln,  Berlin, Frankfurt. Kami memasang iklan dengan teks yang menarik di beberapa koran besar, mengundang sekitar 25 wartawan Jerman berkunjung ke Indonesia — juga memasang peragaan visual di arena publik di beberapa kota, bahkan membuat gerbong tram kota Frankfurt dicat besar-besaran:  “Indonesia: 17,000 Inseln der Imagination”.

Saya berpikir:  kesempatan ini harus jadi bagian dari ‘branding’ Indonesia sebagai sebuah negeri yang cerdas dan kreatif —dan sastranya patut diperhatikan dunia.

***

Dalam batas tertentu, ikhtiar itu berhasil.  Kini jauh lebih banyak karya Indonesia diterjemahkan ke pelbagai bahasa dunia; dan setelah FBF 2015,  di tahun 2019 Indonesia diundang sebagai negeri utama dalam London Book Fair (LBF).   

Tapi harus saya tambahkan:  FBF  2015 dan LBF 2019, dua kesempatan besar itu, pada dasarnya acara penerbit, bukan acara sastra. Para sastrawan, dengan ego yang menggelembung, jarang menyadari ini.  Mereka tak tahu lebih banyak buku masak disambut  ketimbang buku puisi.

Memproduksi puisi dan novel Indonesia  ke dalam bahasa asing membutuhkan penerjemah yang sangat langka. Juga dibutuhkan penerbit asing yang berani (atau nekad) berinvestasi, karena pasar sangat tipis.

Tak hanya itu. Dalam komite FBF 2015, kami punya problem besar,  karena di tahun  itu, honor untuk penerjemah asing sama sekali tak pantas — mengikuti ketentuan pemerintah yang tak pernah kenal sastra. Novel Laksmi Pamuntjak, Amba, beruntung.  Di luar usaha komite,  novel itu menarik perhatian sebuah penerbit besar yang siap membayar penerjemah yang baik dan mengadakan promosi yang meriah.   Untuk mengimbangi, atau melengkapi, Yayasan Lontar, dengan ikhtiar John MacGlynn dan kawan-kawan, banting tulang meluncurkan sejumlah judul karya terjemahan ke dalam bahasa Inggris, berupa  buku-buku kecil.

Setelah itu, apakah sastra Indonesia lebih dikenal?

Saya kira belum.  Keterkenalan internasional umumnya tak ditentukan mutu buku. Karya Pram, sebagaimana karya Mochtar Lubis sekian dasawarsa yang lalu, dicari penerbit dunia terutama karena dua sastrawan ini jadi berita,  sebagai korban pegulatan politik Perang Dingin. 

 Ada faktor sejarah politik yang lebih umum:   Indonesia tak pernah berada dalam jalan perang Amerika. Indonesia tak punya pengalaman   Korea, Vietnam, Laos, dan kini Afghanistan serta Timur Tengah; nama Indonesia  jauh dari ingatan kekuatan dunia yang membentuk “percakapan”.  

Indonesia juga tak pernah jadi koloni negara yang menggunakan bahasa dunia. Bahasa Belanda terbatas geografinya, tak seperti Inggris, Spanyol, Prancis. 

Indonesia bukan pula negeri yang sejak berabad-abad yang lalu mempesona (atau mencemaskan)  “Barat”, seperti Tiongkok, Jepang, India, Turki, Arab, dan sebab itu produk kebudayaannya dapat perhatian di Eropa dan Amerika.

Di samping semua itu,  Indonesia  tak punya diaspora yang besar di Amerika dan Eropa — diaspora yang mengenal karya sastra Indonesia dan menyukainya, dan bisa jadin konsumen yang memikat para penjual sastra dan gagasan.

Apa boleh buat: melihat semua faktor itu,  sastra Indonesia nyaris tak punya kans untuk dapat perhatian dunia.  

**

Dari pengalaman saya dapat pelajaran  untuk lebih tahu diri:  saya senang jika karya saya dibaca orang di luar Indonesia, tapi saya akan hanya frustrasi andaikata itu tujuan pokok saya. Saya tak menulis untuk diterjemahkan. Saya kira setiap penulis punya pembaca ‘imajiner’ yang ia kenal. ‘Pembaca’ yang saya bayangkan  adalah mereka yang berbahasa Indonesia dengan akrab dan punya pengalaman dalam kehidupan Indonesiab sehari-hari.  Tak lebih dari itu. 

Pembaca dunia adalah ilusi.  Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sekalipun,  karya saya tak akan dibaca orang yang hanya berbahasa Mongol, Uzbek, atau Swahili. Sastra “dunia” umumnya diukur dengan ukuran yang mencong tentang “dunia”.  Kita tak bisa menggugat jika juri Hadiah Nobel — yang konon punya wibawa sedunia  —tak bisa mengikuti karya nun jauh di Madura.

Maka tiap kali saya gundah gulana karena karya sastra saya tak masuk dalam buku atau acara “internasional”, saya punya penangkal:  saya toh sejak mula  tak menulis untuk itu…

Tapi mungkin ini hanya berlaku buat saya, atau orang sejenis saya, yang enggan berdesak-desakan ke gerbang untuk  ke luar dari wilayah sastra Indonesia —  sebab saya tak tahu “luar” itu mana, tak tahu gerbang itu menuju ke mana.  

Saya lebih baik menulis.  Seringkali tak jelas untuk siapa, tapi dengan senang hati.

No Comments

Leave a Reply