Search and Hit Enter

Galerikertas Studiohanafi Buka Ruang Penciptaan Komik Zine di Indonesia

Ruang Penciptaan itu khusus dibuat bagi anak-anak muda melalui lokakarya yang digelar pada Sabtu (19/8).

Oleh: Daniel Deha, 12 Agustus 2019

Tayang di portalteater.com

Portal Teater – Galerikertas studiohanafi Depok lagi-lagi menggelar lokakarya bertemakan komik untuk membuka ruang penciptaan bagi anak muda Indonesia dalam menyuarakan kepentingan politiknya. Sebab sebagai karya sastra, komik tidak semata-mata memuat nilai estetik, tetapi juga mengandung seperangkat ideologi dan politik tertentu.

Itulah pendasaran paling rasional yang membuat komik tidak sekedar menjadi bahan bacaan biasa yang kerap diasosiasikan sebagai bahan bacaan anak-anak, murah dan rendahan.

Menurut Humas studiohanafi Tiara Sasmita, lokakarya komik yang melibatkan puluhan anak muda Indonesia tersebut mengusung tema “Komik dan Sastra dan Zine” dengan menghadirkan para pakar komik Indonesia, yaitu Heru Joni Putra dan Putut Pramudiko serta Hikmat Darmawan sebagai penanggap.

Lokakarya tersebut diadakan pada Sabtu (10/8) di studiohanafi Depok, persis setelah bulan Juni lalu menggelar lokakarya dengan tema “Menggali Bahasa Visual-Sekuensial Komik” bersama pakar komik Indonesia, Hikmat Darmawan.

Heru Joni Putra adalah sastrawan, lulusan Cultural Studies, Universitas Indonesia. Heru juga merupakan kurator di galerikertas studiohanafi. Dalam lokakarya tersebut, ia menjabarkan beberapa isu seputar sastra dengan komik.

Sementara Putut Pramudiko adalah seorang komikus dan freelanceryang pernah menempuh pendidikan D3 di STSI Bandung, jurusan Desain Pentas. Di lokakarya tersebut, ia membahas penciptaan komik dan zine.

Hikmat Darmawan adalah peneliti komik dan pendiri PABRIKULTUR (pabrikultur.com), sebuah kolektif yang didirikan pada tahun 2014. Kini ia merampungkan Ruang Baca Pabrikultur untuk 10 ribu koleksi komik dan bukunya. Hikmat Darmawan juga adalah Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Menurut Tiara, para peserta yang hadir dalam lokakarya dan diskusi komik kali ini terdiri dari pelajar, mahasiswa dan beberapa seniman muda. Semuanya berjumlah 21 orang dan datang dari berbagai kota yang jauh dari Jakarta, seperti Medan dan Malang. Yang lainnya masih berasal dari sekitaran Jakarta dan Depok.

Lokakarya tersebut sedikit berbeda dengan peserta lokakarya sebelumnya yang tidak dihadiri oleh para pelajar dan hanya dihadiri oleh seniman-seniman dari pinggiran Jakarta, seperti Depok, Bekasi, Tangerang dan Bogor.

“Kalau jumlah peserta yang terdata kemarin ada 21 peserta, ada yg dari Medan, Malang, Jakarta, Depok, dan ada anak sekolah dari SMK Yadika Depok juga. Ada mahasiswa, seniman muda dan anak SMA,” katanya, Senin (12/8).

Tiara menjelaskan, dalam lokakarya tersebut, seluruh peserta pun diajak untuk membuat zine sederhana dengan berbagai material yang sudah disediakan oleh penyelenggara, seperti kertas HVS, kertas koran, alat tulis, lem, dan gunting.

Hasil karya ke-21 peserta lokakarya itu bakal dipamerkan pada perayaan kemerdekaan RI ke-74 (17 Agustus) mendatang di galerikertas studiohanafi Depok.

Komik sebagai Karya Sastra

Dalam lokakarya tersebut, Heru menjelaskan, untuk bisa dikategorikan sebagai karya sastra, karya komik tidak hanya menyuguhkan cerita biasa tetapi mesti mengandung unsur kritis ataupun politis di dalamnya. Seperti komik “Maus” karangan Spiegelman, yang mengangkat isu-isu sosial yang terjadi di Jerman pada saat itu.

“Maus”, kata Heru, merupakan rujukan penting dalam melahirkan karya yang melampaui perdebatan kategori komik, karena karya tersebut dapat dikatakan masuk dalam kategori sastra, tetapi juga genre karya hiburan. Karya Spiegelman tersebut merupakan arsiran dari sastra, komik, dan zine.

“Maus” disebut novel grafis karena memanfaatkan metode penciptaan sastra. Di samping itu, Spiegelman mewawancarai ayahnya sebagai penyintas tragedi pembantaian Yahudi oleh Nazi Jerman, serta membenturkannya dengan berbagai sumber sejarah yang valid, dan pada akhirnya menggambarkannya dalam sajian komik yang kreatif.

Menurut Marcell Bonnef (1998), komik juga termasuk ke dalam karya sastra, yaitu sastra bergambar untuk memberikan informasi. Adapun komik termasuk ke dalam jenis sastra dikarenakan terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik, seperti tema dan penokohan yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan ideologi sekitar, yang juga ada di karya sastra seperti novel dan lainnya.

Saat ini, komik menjadi hal yang digandrungi pemuda Indonesia dari berbagai kalangan. Banyak ditemukan penyedia-penyedia layanan membaca komik digital, baik yang legal mau pun illegal.

Komik-komik tersebut misalnya “Si Juki” (Faza Meonk), Ghosty’s Comic (Raden Fajar Hadria Putra), Tahilalats (Nurfadli Mursyid), Sekotengs (Lifina) dan juga tema-tema romantis misalnya Pasutri Gaje (Annisa Nisifhani), Study Room 304(Felicia Huang) juga Eggnoid (Archie The RedCat). Total ada 36 judul komik Indonesia dirilis di Webtoon, dengan lima judul komik Indonesia merupakan terfavorit sedunia per tahun 2016.

Namun, kerap sebagai salah satu bentuk jenis bacaan, komik masih terperangkap dalam asumsi sebagian besar publik yang menganggap bahwa komik adalah bacaan ringan sekadar sebagai hiburan, sehingga dipandang sebagai hal yang rendah dan sepele, bahkan menganggap sebagai bacaan yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak. Padahal dengan bentuk cerita yang menarik, komik jelas memukau perhatian anak.

Scott McCloud (2008:10-11) memetakan potensi-potensi komik dalam sembilan arah, yaitu: 1) komik sebagai karya sastra, 2) komik sebagai seni, 3) komik sebagai kendali atas hak-hak komikus, 4) komik sebagai industri bisnis yang selalu berinovasi, 5) komik sebagai alat membentuk persepsi masyarakat, 6) pengawasan institusional, 7) komik sebagai bukti keseimbangan gender, 8) komik sebagai representasi kaum moniritas, dan 9) komik mampu menampilkan beraneka ragam genre.

Menurut McCloud, potensi komik sebagai karya sastra, sebagaimana bentuk karya sastra yang lainnya, dapat menghasilkan sekumpulan karya yang layak dipelajari, yang menampilkan makna hidup, waktu, dan cara pandang terhadap dunia lewat sang pengarang. Komik menawarkan medium dengan keleluasaan dan kendali yang besar bagi sang pengarang, hubungan yang akrab dan unik dengan pembacanya, dan potensi yang amat besar.

Penciptaan Komik Zine

Putut Pramudiko dan Hikmat Darmawan dalam lokakarya itu menjabarkan bagaimana penciptaan komik zine yang sederhana. Zine merupakan singkatan dari magazine (artinya: majalah), yang diciptakan bukan untuk diperjualbelikan, melainkan sekadar publikasi karya pribadi.

Putut memperlihatkan beberapa contoh komik zine yang bisa dijadikan referensi untuk berkarya. Sementara Hikmat membuat definisi tegas mengapa komik dimasukkan sebagai karya sastra. Baginya, karya Spiegelman merupakan pelajaran berharga bagi mereka yang hendak berkarya. Karena untuk melahirkan karyanya, Spiegelman tidak menunggu sampai mahir menggambar.

“Cukup ada kertas dan pulpen. Dengan kertas dan pulpen, kita bisa mempropagandakan entah asmara atau isu politis. Itulah yang membedakan, apakah komik termasuk sastra atau bukan, karena ada ideologi (yang diusung),” ujar Hikmat seperti dikutip dari Alinea.id.

Di Indonesia, kata Hikmat, komik pernah hadir sebagai model subkultur zine yang kuat dan populer pada tahun 1990-an, terutama setelah Reformasi dalam model fotokopi. Saat itu, kelekatan eksplorasi terhadap mesin fotokopi sangat kuat. Kejayaan ini persis hidup sezaman dengan era kelahiran “Maus” karya Spiegelman.

Selain itu, Indonesia juga memiliki tradisi grafik novel yang kuat pada masa lalu, tetapi grafik novel tersebut masih bersifat genre, misalnya roman sejarah, silat, hikayat, dan lain-lain. Ini yang membedakannya dengan “Maus” yang kaya akan khazanah kesusastraan sehingga pengarangnya mendapat penghargaan sastra internasional.

“Model grafik novel seperti “Maus” belum ada dan kuat. Kalau eksperimen sih kita ada, tapi yang sekuat “Maus” belum banyak yang muncul, meski gagasan sudah mulai muncul,” katanya.

Akar permasalahan mengapa Indonesia belum cukup memiliki tradisi komik zine yang kuat adalah soal ekosistem yang mendukung ruang penciptaan karya kesenian menjadi lebih mungkin dan aksesibel. Bukan perihal keterbatasan sumber daya manusia, karena Indonesia bergelimangan seniman yang memiliki potensi untuk melahirkan karya-karya sekuat “Maus”.

Bagi Hikmat, di Indonesia masih cukup gap atau kesenjangan tebal antargenerasi atau antar komunitas seni itu sendiri. Di mana masih ada pertarungan gagasan yang tidak berujung antar pelaku kesenian, terutama seniman tradisionalis dengan seniman kontemporer yang umumnya diwakili oleh generasi muda.

Bukan hanya perbedaan generasi, tetapi perbedaan gagasan penciptaan pun turut memperkeruh ekosistem kesenian, khususnya seni rupa, untuk melahirkan konsep-konsep baru yang lebih segar dengan pendekatan dan modus penciptaan yang juga lebih baru.

“Ekosistem kita menghalangi kita untuk mencapai kesetaraan dalam memproduksi gagasan penciptaan karya seni,” tandasnya.

Karena itu, yang terpenting saat ini adalah, seniman Indonesia mesti menemukan pertanyaan soal bagaimana mendudukkan persoalan kesepadanan gagasan agar tidak ada lagi celah yang cukup longgar antargagasan dalam memproduksi karya seni (komik), termasuk perihal biaya produksi, modus penciptaan, estetika/nilai dan moralitas kesenian itu sendiri.

Menurut Hikmat, ini yang membedakan Indonesia dengan perkembangan karya seni, khususnya komik di negara-negara maju. Di sana para seniman sudah duduk berbicara mengenai gagasan-gagasan baru tentang penciptaan karya seni, sehingga tidak ada kesenjangan yang tak terjembatani antarseniman.

Sementara di Indonesia, masih banyak seniman yang masih berkutat dengan mahalnya biaya produksi untuk sebuah penciptaan, moralitas kesenian, dan persoalan-persoalan substansial yang menghambat mekarnya gagasan-gagasan baru.

Historisitas (Komik) Zine

Mengutip tulisan Gus Noy di Kompasiana, revolusi mesin cetak pada 1970-an, yaitu munculnya mesin fotokopi, berdampak besar pada kelahiran zine dari era sebelumnya yang mengandalkan mesin cetak yang masih cukup langka dan harga cukup mahal. Era kelahiran mesin fotokopi membuat proses penggandaan zine menjadi lebih mudah, cepat dan rapi.

Zine dapat berupa hasil fotokopi atau dicetak dengan mesin cetak; hitam putih atau berwarna. Ukurannya kecil atau besar. Zine memuat gambar dan tulisan, atau cukup salah satunya. Zine berisi catatan-catatan, ide-ide, atau topik apa pun yang diinginkan pembuatnya. Kemudian ditata (lay out) secara manual (cukup menggunakan gunting, lem, pena dan kertas bekas ), atau digital (menggunakan komputer).

Zine sendiri berasal dari kata “fanzine” atau “fan magazine”, yang dipakai untuk membedakannya dari majalah komersial: magazine. Magazine cenderung dipandang negatif oleh kaum zineis, yaitu sebagai komoditas (komersial, konsumerisme, dan kapitalisme), sedangkan “fanzine” lebih berhubungan dengan hal-hal yang positif seperti informasi.

Secara historis tercatat, bahwa mula-mula zine ditulis menggunakan tanda apostrof (‘zine) untuk menunjukkan bahwa “fan” telah ditinggalkan, tetapi terus berevolusi menjadi sesuatu yang berbeda dari fanzine, dengan menghilangkan apostrof, sehingga disingkat menjadi “zine”.

Zine pada mulanya lahir dari kelompok fiksi ilmiah yang tidak berbicara tentang masalah-masalah politik, budaya, ataupun musik, tetapi berbicara soal tema-tema fiksi ilmiah.

Zine pertama dilahirkan oleh the Science Correspondence Club di Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1930 yang digarap oleh Raymond A. Palmer dan Walter Dennis. Nama zine itu adalah The Comet. Kelahiran The Comet ini diteruskan dengan kelahiran zine-zine baru dari komunitas fiksi ilmiah.

Di akhir 1930-an, komunitas fiksi ilmiah mulai banyak berdiskusi tentang komik. Salah satunya adalah zine komik pertama, The Comic Collector’s News, yang dilahirkan oleh Malcolm Willits dan Jim Bradley pada Oktober 1947. Kemudian di awal 1960-an zine jenis baru lagi, yaitu zine film horor bernama Trumpet oleh Tom Reamy dari salah satu komunitas fiksi ilmiah di San Fransisco.

Berlanjut pada pertengahan 1960-an dengan zine musik rock, semisal Crawdaddy di California pada 1966 yang dibidani oleh Paul William dari California, tetapi kemudian menjadi sebuah majalah musik yang profesional. Di kota dan tahun yang sama, lahir zine “Mojo Navigator” yang digarap oleh Greg Shaw, dan Greg juga membidani kelahiran “Who Put The Bomp?” pada 1970.

Pada 1970 ini pula muncul subkultur “punk”, di mana “punk” menyumbangkan banyak hal kepada dunia fanzine, seperti jenis estetika baru, penuh dengan seni potong-tempel yang tidak mengindahkan hak cipta dan orisinalitas — dengan mengambil berbagai macam gambar atau tulisan dari berbagai sumber, menggabungkan-gabungkannya, terkadang mengubah atau merusak sama sekali makna aslinya.

Pada tahun 1982, Factsheet Five Zine terbit untuk pertama kalinya. Ini adalah sebuah zine yang membahas tentang zine, yang dieditori oleh Mike Gunderloy sampai ke edisi 44 (tahun 1991), yang kemudian dilanjutkan oleh Hudson Luce. Sistem manajemen dan sirkulasi distribusi yang baik membuat zine ini dijadikan sumber informasi bagi orang-orang yang ingin men- cari bacaan alternatif di luar media-media mainstream.

Sekarang zine semakin berkembang dengan pesatnya. Bentuk-bentuk yang ada tidak lagi seperti diawal kelahiranya. Banyak juga zine yang kini lebih mirip majalah-mini dengan sentuhan personal. Banyak juga yang bersirkulasi lebih luas dan mulai dikelola secara profesional. Tapi hal yang tetap dipertahankan dari perkembangan yang ada adalah semangat diawal kelahirannya, sebagai media alternatif.

Dan kini zine telah berada di hampir setiap belahan dunia, termasuk Indonesia. Di Bandung, misalnya, sudah ada Bandung Zine Fest yang terbentuk sejak tahun 2012. Partisipan festival ini sudah menjangkau seluruh wilayah Indonesia, seperti Surabaya, Yogyakarta, bahkan dari Pontianak, Kalimantan Barat. Di festival tersebut, karya-karya yang dihadirkan, antara lain: karya foto, puisi, kartu pos, cerpen, poster, komik, artikel, dan sebagainya.

*Daniel Deha


No Comments

Leave a Reply