Search and Hit Enter

Curhat Penulis Optimis

Oleh: Kanti W. Janis

Sebelum lulus SH saya sudah menerbitkan novel, berjudul Saraswati. Novel itu mendapat sambutan baik. Cetakan pertama habis dalam hitungan minggu. Di luar sukses penjualan, melalui Saraswati saya juga masuk daftar pendek Khatulistiwa Literary Award—sekarang Kusala Literary Award— kategori Penulis  Muda Berbakat 2007. 
Di dalam dunia sastra, penghargaan Kusala yang diprakarsai oleh Richard Oh adalah salah satu yang tertinggi. Boleh dibilang setara dengan penghargaan FFI di bidang perfilman. Jadi tak terlukiskan kebanggaannya, baru buku pertama masuk nominasi.
Tetapi yang lebih menyentuh, beberapa pembaca menjadikan karya itu sebagai bahan makalah sekolah, sampai skripsi. Tak tertandingi rasanya. Sebuah cerita sederhana, ditulis menyepi dalam malam selama 6 bulan bisa memasuki benak orang lain. 
Belum lagi teman-teman mengirimi berbagai link katalog perpustakaan luar negeri yang mengoleksi Saraswati. 
Rasanya saat itu karir panjang sebagai penulis terbentang panjang, sudah di atas awan tak mau turun.
Tetapi rupanya saya terlalu cepat bahagia. Baru melesat sebentar langsung kebanting berkeping. 
Di dalam lingkaran terdekat tidak ada yang memandang prestasi saya sebagai awal karir sukses. Tidak ada yang turut berbahagia atas pencapaian itu. Paling sekedar ucapan selamat di bibir. 
Memasuki paska lulus kuliah selalu ditanya kerja apa sekarang, saya jawab penulis. Tapi tidak ada yang menganggap serius. Tetap saja dianggap pengangguran.

Hampir seragam, mereka semua bilang menjadi penulis itu cukup sekadar hobi, apalagi menulis novel.  Lupakan bisa hidup layak. Pendapatan kecil dan tidak tentu. Tak mau kalah saya sebut nama-nama penulis yang hidup mapan, baik dalam maupun luar negeri. “Ya, tapi merekakan cuma 1% yang berhasil,” begitu tanggapan mereka. 

Kemudian perkataan mereka mulai terasa benarnya saat menanti royalti buku. Sebagai penulis buku royalti kami rata-rata 10% dari total harga buku eceran. Semisal harga Rp 35.000,- maka perbuku Rp 3500,- untuk penulis, dipotong pajak 15%. Dibayarkan setiap 3-6 bulan sekali. Udahlah enggak usah dihitung rata2 perbulannya, bikin sedih. 
Perkataan-perkataan itu semakin menampar keras saat buku kedua terbit, Frans dan Sang Balerina. Dicetak lebih banyak dari buku pertama, habisnya lebih cepat, langsung cetakan kedua. Tetap saja hasilnya enggak akan mendekati UMP. 

Awalnya saya pikir ini ketidakadilan penerbit. Karena penasaran buku ketiga (Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos) dan keempat (The Other Door) saya terbitkan sendiri. Supaya semangat saya namakan diri Penulis Optimis, jadi kalau pesimis saya malu dengan nama itu. Akhirnya saya makin paham persoalan hulu ke hilir. Tidak melulu salah penerbit. Harus ada perbaikan sistem yang menyeluruh.

Penulis—> penerbit (setara produser, beda dengan percetakan) —> distributor —-> toko buku

Para pelaku dunia penulisan di atas masing-masing terkena pajak. Mau tak mau mereka membagi kue dari harga jual perbuku. Belum lagi PPN 10% untuk buku. 

O ya pada bagan di atas saya lupa menambahkan: Pembajak buku, tukang scanner pdf, tukang minjem buku. Kalau mereka nggak kena pajak 

😁
😁

Menaikan harga buku tentu bukan solusi. Mengingat minat baca kita termasuk 3 terendah di dunia, juga salah satu terendah dalam jumlah penerbitan judul buku/tahun. Tingkat literasi kita kalah dengan Vietnam, negara yang belakangan merdeka.

Selain itu pekerjaan penulis memang dianggap remeh. Karena dianggap mudah, keliatannya enak hanya duduk di muka laptop sembari ngopi. Ucapan itu pernah saya terima dari orang penerbitan besar. Menurutnya penulis memang layak hanya mendapat 10% royalti, karena cuma duduk manis.
Kalau menulis buku harian mungkin benar. Tapi coba bayangkan masa-masa putus asa menyelesaikan skripsi dulu? Menulis skripsi yang kurang dari 100 halaman saja sudah menjadi momok sebagian besar mahasiswa. Tak sedikit yang kandas meraih gelar sarjana karena gagal skripsi. 

Menulis buku jenis apapun butuh proses panjang, sekalipun fiksi tetap ada riset dan analisa. Jadi bukan sekedar khayalan belaka.

Kiranya bukan suatu kebetulan belaka apabila sekarang kita mudah terjangkit berita fitnah, berbanding lurus dengan rendahnya bacaan berkualitas diikuti rendahnya minat baca. Saat membaca buku kita fokus pada satu bahasan, sehingga informasinya lengkap. Selanjutnya jadi terbiasa berpikir kritis, menganalisa, sehingga dapat mengambil kesimpulan berimbang. 

Oleh karena itu harapan saya, di era paska kebenaran yang membabi buta pemerintah bisa segera mengambil kebijakan yang berpihak pada penulis. Mulai dari keringanan pajak.

Terima kasih Mas Robert Adhi KSP untuk artikelnya: 
https://kompas.id/baca/utama/2018/08/12/pemerintah-diminta-turunkan-pajak-royalti-penulis-buku/

No Comments

Leave a Reply