Search and Hit Enter

Film dan Movie

Oleh: Richard Oh

Dulu, Graham Greene membagikan karya2nya menjadi dua kategori: sastra dan hiburan. Sekarang, kuperhatikan sutradara seperti Spielberg merasa perlu menegaskan bahwa Ready, Player One bukan sebuah ‘film’ tapi sebuah ‘movie’. 

Greene saat itu menjelaskan bahwa karya2 hiburannya merupakan sejenis pelarian (escapism) baginya. Sekarang, nada Spielberg juga mencondong ke arah yg sama.

Di era moderen, banyak penulis dan kritikus sastra mempertanyakan kenapa karya2 John Le Carré dan Philip K Dick tidak dianggap karya2 sastra. Dan kenapa sejak era Victoria karya2 tertentu dianggap literary fiction dan yg lain masuk kategori bergenre?

Ini bias2 yg sebenarnya berkaitan dengan pemasaran. Contohnya, kenapa pasar anggur di dunia dibikin demikian rupa sehingga anggur Romanné Conti thn 1945 bisa berharga 123 ribu dolar, sedangkan Gaja bisa berharga 60 an dolar hingga ratusan dolar? Lucunya, sommelier (ahli anggur, sekitar 15 ahli di dunia) yg terhebat pun sebenarnya tidak bisa membedakan satu anggur dari anggur yg lain.

Ternyata, itulah sejenis strategi produsen anggur menciptakan hierarki nilai pada anggur. Setiap tahun ada ajang2 penilaian anggur dan anggur2 tertentu dinyatakan sebagai pemenang dan hargapun ikut melambung. Hal yg sama juga dilakukan sastra dan film lewat festival perlombaan dan penilaian. Sedangkan, kita semua tahu tidak semua yg menang itu menjadi yg terbaik ataupun yg paling bernilai. Karena tentunya kita paham, dari sastra, film hingga anggur banyak sekali yg tidak memenangkan apapun tapi hingga hari ini sangat diapresiasi: Joyce tidak pernah menang Nobel, Nicolas Roeg (The Man Who Fell To Earth) bertahun2 setelah dia berhenti berkarya baru diakui kehebatan karya2nya, Libertas dari Afrika Selatan dulu beredar di Indonesia dari harga Rp 150 ribu disebut seorang wine connoisseur sebagai anggur yg super rate.

Alexander Dumas dan Charles Dickens di zamannya adalah penulis serial koran. Dan mestinya mereka sekarang disebut sebagai hack, tetapi masuk dalam list sastra dunia. Bukan di kategori genre. (Shakespeare? Penulis drama pesanan?) Arthur Conan Doyle dan Edgar Allan Poe? Genre detektif dan gothic? Padahal mereka raksasa penulisan penerobos dalam bidang masing2.

Terus ada apa dengan respectability yg diberikan pada Film dan escapism kepada Movie masih seakan perlu ditegaskan? 

Padahal dikategorikan seperti apapun sebuah karya tetap mesti punya nilai2nya sendiri yg menjadikannya berdiri terpisah dari sekian banyak lainnya. Keunikan dan perbedaannya hanya termatup/terkuak dalam dirinya sendiri.

Tahukah sebelum ia menjadi sutradara film Ex Machina, Alex Garland adalah seorang novelis (The Beach, The Tesseract) yg dipuji sebagai penerus Graham Greene ( oh ya, Greene yg sangat kukagumi ini tidak menang Nobel. Mungkin kesalahannya membagi karya2nya jadi dua kategori)? Hari ini mungkin karya2 film Garland masuk kategori…hmm…movie? 

Oh untuk yg tidak tahu, perbedaan film dan movie ini berawal dari Amerika. Para pembuat film Amerika yg intinya lebih menganut pragmatisme, tidak ingin dianggap high brow, lebih senang disebut movie director daripada film director. Bisa jadi ini sebagai reaksi mereka terhadap hegemoni kebudayaan Eropa. Di Eropa, film director adalah sebutan utk semua pembuat film. Nah kepada pembuat film tertentu disebut auteur, ini biasanya kepada pembuat film yg lebih personal dan sangat berbeda, seperti Godard dan Truffaut.

No Comments

Leave a Reply