Search and Hit Enter

Kisah Cinta Seorang Aktivis di Malaysia

Oleh: Okky Madasari

Di detik.com, Sabtu 27 Juli 2019

Faisal Tehrani adalah nama besar di Malaysia, tapi masih cukup asing di Indonesia. Pun ketika pada 2017 ia hadir di Jakarta dalam perhelatan ASEAN Literary Festival untuk memberikan pidato pembukaan, tak banyak publik yang mengenalnya apalagi membaca karyanya. 

Ia seorang penulis peraih penghargaan dari pemerintah Malaysia, tapi ironisnya pemerintah juga yang kemudian memberangus buku-bukunya. Tujuh karyanya dinyatakan haram dan selama bertahun-tahun ia berjuang melawan stigma yang dilekatkan padanya. Faisal, baik karya maupun sosoknya, adalah simbol gugatan, kritik, dan pertanyaan terhadap segala bentuk kekuasaan, baik itu kekuasaan politik, agama, maupun ekonomi. 

Semangat gugatan akan kental kita rasakan dalam salah satu karyanya yang kini telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan salah satu penerbit utama di Indonesia. Lelaki yang Membunuh Kenangan (2019) merupakan terjemahan Bahasa Indonesia dari karya Faisal yang berjudul Cinta di Hari-Hari Rusuhan (2000).

Tokoh utama dalam novel ini adalah Basri, seorang pemuda dari kelas bawah, anak keluarga petani kampung yang berhasil mendapat kesempatan menikmati pendidikan tinggi di universitas terbaik negeri itu. Tentu saja Basri kemudian bertemu dengan kawan-kawan dari berbagai kalangan, dari pedagang hingga bangsawan, dari orang Melayu hingga orang Cina dan India. 

Pergaulan di kampus membawa Basri ke dunia pergerakan. Ia bergabung bersama mahasiswa-mahasiswa lain yang peduli pada situasi negara mereka. Dimulai dari berbagai diskusi, berlanjut ke berbagai aksi demonstrasi yang menggugat segala kebijakan pemerintah yang penuh ketidakadilan. 

Dalam kobaran idealisme dan semangat perlawanan itu, cinta bersemi. Basri merajut kasih dengan Tengku Valizah, seorang mahasiswa yang juga aktif dalam pergerakan seperti dirinya. Masalahnya adalah Valizah anak keluarga bangsawan, bagian dari keluarga kerajaan yang kaya raya. Tentu saja hubungan Basri dan Valizah tak akan mendapat dukungan dari keluarga Valizah. 

Klise? Bisa jadi. Apalagi yang mau diharapkan dari kisah cinta beda strata sosial yang tak disetujui oleh keluarga yang lebih kaya? Sudah tak terhitung kisah yang mengangkat konflik macam ini, baik dalam karya sastra hingga sinetron-sinetron picisan. 

Tapi memang Faisal tak punya pilihan lain untuk bisa lugas menggambarkan relasi dalam masyarakat di negeri jiran tersebut tanpa memasukkannya dalam konflik yang senyata mungkin bisa dibayangkan oleh setiap orang: romansa; kisah cinta.

Keberadaan kerajaan dan seluruh anggota keluarganya adalah bagian dari realitas sosial masyarakat Malaysia hingga hari ini. Hak-hak istimewa yang melekat pada mereka, kekayaan turun-temurun yang mereka miliki, adalah bagian yang tak terhindarkan ketika membicarakan tentang ketimpangan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Faisal hanya hendak masuk ke dalam satu realitas melalui pintu yang bisa dengan mudah dimasuki oleh semua orang.

Meski demikian, Faisal tak serampangan untuk menghadirkan wajah keluarga kerajaan hanya sebagai wajah antagonis saja. Ia memunculkan manusia sebagai wajah-wajah individual yang bisa sangat berbeda antara yang satu dengan yang lainnya meski berada dalam satu kelas sosial. Maka ada Valizah yang tulus peduli pada nasib rakyat dan jatuh cinta pada Basri, ada ibu Valizah yang tegas menolak Basri, ada ayah Valizah yang sebenarnya tak ingin memaksa anaknya tapi juga tak kuasa untuk bersuara. 

Kemudian ada Raja Hisyamudin, tipikal seorang pangeran bergelimang harta, bagian dari penguasa yang tak peduli sedikit pun pada nasib rakyatnya. Raja digambarkan sebagai anak muda yang bersekolah di luar negeri, pulang ke Malaysia hanya untuk berpesta, yang merasa tak akan ada gadis manapun yang bisa menolaknya. Tapi Valizah menolaknya. Bagian terbaik dari penggambaran karakter Raja adalah ketika dua puluh tahun kemudian ia menjelma sebagai laki-laki yang menanggung rasa berdosa dan penyesalan. Lagi-lagi Faisal memainkan dinamika manusia yang tak bisa dengan mudah diberi label sebagai penjahat atau pahlawan.

Tak hanya soal feodalisme dan ketimpangan ekonomi, novel ini adalah catatan atas satu periode dalam sejarah Malaysia yang penuh dengan isu rasial –sesuatu yang hingga kini juga masih menjadi masalah di negeri tersebut. Keberpihakan Faisal jelas terlihat melalui dialog-dialog yang menunjukkan bahwa semestinya tak ada perbedaan antara Melayu dan non-Melayu, bahwa isu korupsi dan ketidakadilan juga harus dilawan oleh semua ras yang hidup di Malaysia.

Kelemahan utama novel yang mengangkat kisah aktivis adalah kecenderungan untuk meromantisasi, untuk mengelu-elukan para aktivis dan pergerakan mereka. Faisal tampaknya tanggap terhadap hal ini. Ia membawa pembaca untuk tak berlama-lama mempahlawankan para aktivis dalam novelnya.

Dua puluh tahun setelah demonstrasi, di mana para aktivis-aktivis kampus yang berjuang bersama Basri itu? Farid sudah punya kedudukan tinggi di kabinet dan terkena kasus korupsi. Ikram sudah menjadi pengusaha yang menangani proyek-proyek pemerintah. Sementara Basri, ia memilih selamanya lari dan bersembunyi. 

Sungguh tak asing, bukan?

Okky Madasari novelis dan kandidat PhD di National University of Singapore.

No Comments

Leave a Reply