Search and Hit Enter

Ruang alternatif di toko buku indie

Bagaimana toko buku indie bertahan di tengah minat baca masyarakat Indonesia yang rendah?

Oleh: Fernando Avi Arrachman, Minggu, 31 Maret 2019.

Ruang berukuran 4×6 itu sarat dengan buku. Di sekeliling tembok rak buku berjejer dengan lampu gantung bercahaya kuning redup.

Di pojokan, terdapat mesin pembuat kopi sehingga membuat pengunjung betah di Kios Ojo Keos. Sesuai dengan slogannya yaitu ruang bersama untuk musik, buku, dan kopi.

Kios Ojo Keos merupakan toko buku indie yang digagas grup band Efek Rumah Kaca (ERK) Mei 2018 lalu. Lokasinya bergabung dengan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) milik Yayasan Paramadina di lantai dasar.

Pajangan di kios ini sangat bergizi bagi penikmat buku. Ketika datang ke kios ini, Rabu (6/3/2019), mata saya tertuju ke deretan buku karya Mochtar Lubis. Ada “Senja di Jakarta”, “Jalan Tak Ada Ujung”, dan “Harimau! Harimau!”

Tak gampang menemukan novel karya Mochtar Lubis yang ditulis pada era 70-an itu di toko buku biasa. Toko buku indie macam Kios Ojo Keos ini menjadi ruang alternatif bagi penikmat buku. Pengunjung bisa menikmati buku, musik, sambil menyesap kopi.

Ada sekitar sekitar 700-an judul buku yang dipajang di Ojo Keos. Jejeran buku bergizi itu sebagian besar dikurasi oleh Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca. Tak hanya buku, Kios Ojo Keos juga rutin menggelar pertunjukan musik dan diskusi.

Muhammad “Asra” Asranur, relawan Kios Ojo Keos mengatakan bahwa kios buku merupakan keinginan Efek Rumah Kaca sejak lama. Inspirasinya muncul melihat iklim toko buku di Amerika, tepat dekat apartemen Cholil Mahmud.

Di Amerika, toko buku indie menjadi pusat beragam kegiatan seperti diskusi. Toko buku indie terbuka terhadap semua pengunjungnya. Pemilik toko mempersilakan orang yang tak mampu beli buku masuk. Membuat mereka nyaman dan mempersilakan membaca di tempat.

Cholil dan rekannya di ERK, Poppie Airil (bass) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum) membangun Kios Ojo Keos. Nama itu diambil dari sebutan kru Efek Rumah Kaca di saat mereka manggung. Ojo Keos dipilih sebagai tanda terima kasih atas dedikasi mereka terhadap ERK.

Kata Asra, Kios Ojo Keos menekankan untuk tidak mengambil keuntungan terlalu banyak mulai dari harga buku, kopi dan merchandise.

“Mungkin ini terdengar klise ketika kita bisa membuat orang baca buku dan diskusi itu salah satu keuntungan buat kita,” tutur Asra. “Bahkan Ketua RT kita sering nongkong di sini, dateng ke sini untuk diskusi, itu salah satu keuntungan moril juga buat kita.”

Menjelang magrib, sembari membaca buku ditemani dengan es kopi keos seharga Rp17 ribu, pengunjung berdatangan. Saya pun larut dalam acara diskusi bedah album soundtrack film “Kucumbu Tubuh Indahku” karya Garin Nugroho.

Suasana di toko buku indie Post Santa, Jakarta Selatan, Jumat (8/3/2019). Fernando Avi Arrachman

Selama toko buku ada selama itu pustaka bisa dibentuk kembali, kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.

Kutipan ikonik dari Tan Malaka dalam buku Madilog itu terpampang di kaca sebuah kios di ujung pasar Santa lantai 2. Toko buku indie POST Santa. Di dalamnya, jejeran buku tersimpan rapi dalam rak.

Teddy W. Kusuma pendiri toko buku indie POST Santa melihat bahwa tidak ada persaingan antara toko buku indie. Menurutnya buku alternatif selalu punya pembaca barunya.

POST Santa menerbitkan 500 sampai 1.500 cetakan buku. “Kami terlalu kecil untuk bersaing sama major,” ujar Teddy.

Berdasarkan data yang diolah Lokadata Beritagar.id, Perpustakaan Nasional mencatat ada 690 penerbit di seluruh Indonesia. Sedangkan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mencatatkan ada 1.506 penerbit di seluruh Indonesia.

Teddy merasa penerimaan orang terhadap penerbit buku alternatif semakin tinggi dan sejauh ini tidak ada rasa bersaing. POST Santa berdiri pada 2014 karena Teddy suka membaca buku dan menulis.

Ia tak ingin muluk-muluk seperti ingin menyebarkan litetasi atau sebagainya. Tanpa ingin dicap heroik, Teddy hanya senang membaca dan berbagi bacaan serta bertemu dengan teman-teman baru.

“Kami takut energinya tidak sampai”. Itu jawaban Teddy mengenai kemungkinannya membuka cabang. Teddy hanya ingin menjadikan POST Santa menjadi satu tempat saja yang bisa dirawat.

Semua pengelola POST Santa memilih dan memilah buku yang akan dipajang. Pemilihan dan pemilahan itu pun dilakukan dengan cara berdiskusi.

Ia bercerita waktu awal-awal buka pada 2014 banyak yang mengira buku independen itu self publishing semua. Sampai pada akhirnya orang-orang perlahan melihat bahwa penerbit independen juga mengkurasinya dengan baik dan punya idealisme.

Teddy berharap bahwa ekosistemnya akan semakin meriah membicarakan tentang buku. Setiap orang pun dapat mendefinisikan buku bagus versinya sendiri sehingga sehingga menantang penulis.

“Itu yang mendorong ekosistem lebih terarah dan pembaca menjadi lebih senang,” kata Teddy.

POST Santa berkolaborasi dengan mengadakan diskusi maupun bedah buku. Diskusi buku, kata Teddy, merupakan strategi karena penulis pasti mempunyai massa

Teddy optimistis toko buku indie akan berkembang positif meski berada dalam gempuran digital. Apalagi, rasio antara jumlah buku dan penduduk sangat jauh.

Di Indonesia diketahui rata-rata hanya sekitar 50 ribu buku terbit tiap tahun. Bandingkan dengan jumlah penduduk sebesar 264 juta per 2017.

Berdasarkan data yang diolah Lokadata Beritagar.id direktori penerbit buku pada laman Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menunjukkan 90 persen dari seluruh penerbit (264 penerbit) berada di pulau Jawa.

Perpusnas mencatat ada 690 penerbit di seluruh Indonesia. Data ini berbeda dengan versi Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Dalam situsnya, IKAPI mencatatkan ada 1.506 penerbit di seluruh Indonesia.

Tak hanya gempuran produk digital, keberadaan toko buku indie pun harus menghadapi soal klasik, yaitu minat baca.

Penelitian Central Connecticut State University (CCSU) tentang ranking tingkat literasi negara-negara di dunia (World’s Most Literate Nations Ranked) yang dirilis tahun 2016, Indonesia berada pada ranking 60 dari 61 negara.

Minat baca masyarakat Indonesia yang rendah itu beriring dengan tren penjualan toko buku yang terus menurun. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mengunggah data riset 2015.

Jumlah eksemplar penjualan toko buku menurun dari tahun 2013 ke 2014. Pada 2013 ada 69,776 juta eksemplar yang terjual dan pada 2014 ada 62,656 juta eksemplar yang terjual.

Meski jumlah eksemplar menurun, ada yang cukup menggembirakan. Dari seluruh anggota IKAPI, yakni sebanyak 1.328 penerbit, nominal penjualan dari toko buku pada 2013 sebanyak Rp4 triliun. Pada 2014, nominal itu meningkat menjadi Rp5 triliun.

Galeh Pramudianto, pegiat literasi, mengatakan buku merupakan produk komunikasi. Selalu ada ada cara agar buku sampai ke pembacanya.

Untuk menghadapi berbagai kendala, toko buku indie harus melakukan inovasi dan berkolaborasi dengan komunitas agar nama dan ekosistem toko buku indie semakin memikat.

Galeh melihat tren anak muda datang ke toko buku indie merupakan pertanda bagus dan memperkaya perspektif. Ia berpendapat bahwa toko buku indie bukan hanya transaksi buku. Di sini, ada pola interaksi dan diskusi.

“Apabila melihat toko buku indie semangatnya adalah pertukaran gagasan dan distribusi pengetahuan,” ujar Galeh.

Galeh mengatakan, banyak anak muda pergi ke toko buku karena ada beberapa buku yang tidak di jual di toko buku biasa. Toko buku indie menjadi ruang alternatif yang mengisi kemunculan buku-buku langka

“Misalnya buku tentang filsafat, sejarah, atau film itu langka di toko buku biasa tapi ada di toko buku indie,” ujar Galeh.

No Comments

Leave a Reply