Search and Hit Enter

MENGENANG VICTOR HUGO, SASTRAWAN BESAR DUNIA PEMBELA PROFESI PENULIS

Oleh: Dr. Nasir Tamara

HARI ini untuk merayakan revolusi Prancis yang menggoncang dunia (menginspirasi lahirnya Republik Batavia sebagai pengganti monarki Belanda -yang diteruskan dengan pencaplokan penjajah Indonesia ini oleh Napoleon) saya ingin mengenang penulis favorit saya, Victor Hugo sebagai anak kandungnya. 
Pencipta ‘Les Miserables’, ´Fantome de l’Opera’ & puluhan buku terkenal ini lahir tahun 1802 di ujung Revolusi Perancis di Besancon. Ayahnya seorang perwira tinggi pro Republik yang didirikan 1789 menggantikan sistem kerajaan. Victor Hugo penentang utama usaha penghapusan republik oleh pendukung monarki yang sempat bercokol lagi sebelum dikalahkan oleh kaum republikan.
Republik Prancis mempunyai ideologi ‘liberté, égalité, fraternité’ (kebebasan, persamaan & persaudaraan). Mirip-mirip Pancasila.
Tahun 1838 Victor Hugo yang sudah dikenal sebagai penulis besar bersama Balzac, Alexandre Dumas, Emile Zola & penulis perempuan George Sand serta 200-an penulis lainnya mendirikan persatuan penulis Perancis di Paris. Anggotanya terdiri dari penulis fiksi, non-fiksi & penyair. Salah seorang pendiri adalah ilmuwan Direktur Pusat Studi Astronomi Prancis. Mereka memberikan nama organisasi itu Société des Gens de Lettres, SDGL (Masyarakat Terdidik Penulis Buku).
Revolusi Perancis melahirkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang menjadi dasar kebijakan negara untuk membantu secara finansial warganegara yang tidak mempunyai penghasilan yang tetap seperti para penulis. Negara juga membela hak cipta para penulis & membantu melawan pembajakan. Keringanan pajak pun diberikan untuk profesi ini.
Semasa hidupnya Victor Hugo seorang politikus progresif yang berpengaruh sebagai anggota parlemen. Ia juga perupa yg berbakat selain pecinta musik sahabat banyak kompositor dunia.
Bukti kecintaan rakyat pada penulis itu adalah ketika dua juta orang sambil menangis mengantarnya ke pemakaman di Pantheon, tempat orang-orang paling berjasa dimakamkan. Pada zaman Yunani & Romawi hanya para dewa yang berhak tinggal di sana. 
Paris mengabadikan Victor Hugo dengan memberi nama sebuah avenue utama. Seperti di banyak kota lainnya. Pemerintah membuat mata uang dengan wajah Victor Hugo. Rusia membuat perangko memperingati dirinya.

Mata uang Prancis dengan sosok Victor Hugo.
Soviet Onion postage stamp.

Di langit-langit Library of Congress, USA, ditulis nama Victor Hugo. Di Roma, sebuah patung yg besar dibuat untuk mengenangnya. Ya, Victor Hugo memang milik dunia.
Karya-karyanya abadi: terus dibaca, dibikin film & dipentaskan di opera-opera, dideklamasikan puisi-puisinya.
Sampai sekarang organisasi penulis anak kandung Victor Hugo masih aktif membela kepentingan para pengarang buku. Anggotanya lebih dari 6000 orang yg masing-masing patuh membayar iuran tahunan sebesar 50 Euro (Rp750.000.—). 
Gedung tempat mereka berkantor yang saya kunjungi awal Juni ini tampak luas sekali & mempunyai taman yang indah pula. Koleksi mebel art-deco paling lengkap & indah yang ada di Paris terdapat di kantor ini terpelihara baik dan dipakai. Dindingnya dipasangi lukisan para penulis terkenal kebanggaan anak negeri. Ada patung di sana sini. Hôtel Massa adalah nama tempat berkumpul para penulis Prancis.
Terus terang saya sebagai penulis iri hati akan penghargaan yang diberikan oleh negara & masyarakat kepada para penulisnya.


No Comments

Leave a Reply