Search and Hit Enter

Mengapa Buku Indonesia (yang Baik) Tidak Terjual (dengan Baik)

Oleh: M. Aan Mansyur

di medium.com, Jan 4, 2017.

Sejumlah media, termasuk blog pribadi, pada akhir dan awal tahun, rutin memilih buku Indonesia terbaik atau paling berpengaruh atau paling menyenangkan atau paling telolet sepanjang tahun. Lomba tahunan yang riuh. Aku, sebagai pecinta buku yang selalu butuh rekomendasi bacaan bermutu, senang mengikuti daftar buku-buku pilihan semacam itu.

Selain ulasan buku-buku pilihan, ada satu hal yang menarik perhatianku: mengapa banyak dari buku yang disebut terbaik tidak terjual dengan baik di pasar buku Indonesia? Kita mungkin menganggapnya biasa saja dan tidak berminat menjawabnya. Namun, jika betul begitu, pertanyaan itu menjadi kian penting. Kita selalu butuh banyak buku bermutu, tetapi alangkah menyedihkan ketika semakin banyak penerbit tidak mau menerbitkan buku-buku bermutu dengan alasan angka penjualan rendah.

Dari ulasan buku-buku pilihan yang kadang kita jumpai justru perihal lain: pembicaraan (sering kali berupa cibiran atau olok-olokan) tentang penulis yang buku-bukunya terjual lebih banyak.Kita tampaknya lebih tertarik menertawai dan menyalahkan para penulis itu ketimbang bertanya kenapa buku mereka bisa lebih laku daripada buku lainnya. Kita lebih senang bergosip mengenai penulis buku-buku tertentu daripada menggeser pandangan, misalnya, mencari penyebab kenapa buku-buku yang kita anggap bagus tidak terjual dengan bagus (dan karenanya kemungkinan tidak terbaca cukup luas).

Kita mudah saja berpikir apa salahnya menjadikan para penulis yang buku-bukunya laku sebagai candaan (dan sedikit mengolok-olok mereka) untuk membuat tulisan kita lebih segar. Namun, pada saat yang sama, kita kerap tidak menyadari bahwa dalam candaan kecil kadang bersembunyi perkara besar yang sanggup menghalangi upaya kita menyampaikan sesuatu yang lebih penting.

Sebelum terlalu jauh, aku ingin menekankan bahwa: 1) laris tidaknya satu buku tidak bisa kita pakai mengukur baik tidaknya mutu buku tersebut, 2) menulis dan menjual buku kerap kali tidak berada di satu arena yang sama dan hubungan antara keduanya tidak pernah sederhana.

Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang (40.000 judul), India (60.000 judul), dan China (140.000 judul), buku yang terbit di Indonesia, negara berpenduduk lebih 255 juta ini, tidaklah banyak, kurang dari 18.000 judul per tahun. Atau, kita sebut saja, setiap hari ada 2 hingga 3 buku baru beredar — yang masing-masing hanya dicetak 3.000 hingga 6.000 eksemplar. (Sejak dua dekade lalu, jumlah cetakan pertama, bahkan untuk buku yang diperkirakan laris di pasaran, belum jauh beranjak dari angka itu.)

Jika merujuk angka-angka di atas, bisa kita katakan tidak ada buku di Indonesia yang betul-betul laris. Terjual 50.000 eksemplar terlalu kecil untuk disebut laris di Indonesia. Dan, lagi pula, berapa sih buku berbahasa Indonesia yang terjual di atas 50 ribu eksemplar?

Persoalan kita, di titik ini, bisa lebih luas daripada sekadar menjawab: bagaimana cara meningkatkan angka penjualan buku-buku bagus? Kita tampaknya butuh energi lebih besar karena mesti menjawab: kenapa angka penjualan buku di Indonesia sangat rendah?

(Terlepas dari berbagai kritikan terhadap buku kami, Tidak Ada New York Hari Ini, yang terjual 50.000 eksemplar dalam dua bulan pertama, aku tidak pernah mendengar ada orang mengajukan pertanyaan ini: dibanding jumlah penonton AADC2 yang mencapai 3,6 juta, kenapa buku TANYHI hanya terjual 50.000 eksemplar? Tidak ada yang mau tahu kenapa ketimpangan besar itu terjadi.)


Jika penjualan bukuku yang kuanggap bagus tidak memuaskan, siapa yang salah? Jawaban atas pertanyaan yang terdengar sederhana ini bisa sangat beragam.

  1. Pembaca yang tidak tahu membedakan mana buku bagus dan mana buku buruk dan mana buku yang buruk saja belum.
  2. Penerbit dan staf pemasarannya yang cuma sibuk mempromosikan buku-buku yang mereka anggap akan atau sedang laris — dan mengabaikan bukuku.
  3. Aku, penulis, yang tidak membantu penerbit menjual — karena aku sibuk membicarakan para penulis dan buku-buku lain yang kuanggap buruk.
  4. Para kritikus yang lebih senang membicarakan para penulis daripada mengulas karya mereka untuk menunjukkan kekuatan dan kelemahannya.
  5. Media massa yang mengurangi atau menghilangkan ruang untuk kritik buku karena menganggap kabar mengenai artis siapa menjambak rambut artis siapa jauh lebih penting.
  6. Desainer buku (pewajah isi dan sampul) yang tidak memahami konsep buku karena tidak punya waktu membaca bukunya.
  7. Editorku yang, entah bagaimana, bisa memiliki dua sifat ini sekaligus: malas dan terburu-buru.
  8. Jaringan Toko Buku Gramedia yang tidak adil terhadap distributor dan penerbit-penerbit kecil.
  9. Pihak distributor mengambil jatah terlalu besar — dan kadang-kadang hanya mau mengedarkan buku-buku tertentu yang mereka anggap akan terjual dengan baik.
  10. Para pengusaha jasa pengiriman yang menaikkan tarif dan membuat pelanggan toko-toko buku online menyusut.
  11. Pemerintah yang tidak serius dalam menetapkan regulasi perbukuan di Indonesia yang lebih sehat.
  12. Aku, penulis, yang memilih judul kurang tepat dan tidak memiliki cukup follower di media sosial.
  13. Aku, penulis, yang berkarya demi mendapatkan pujian dari para kritikus dan decak kagum penulis lain — dan mengabaikan pembaca.
  14. Momen yang tidak tepat saat buku tersebut dikeluarkan.
  15. Penerbit yang membandrol harga jual terlalu mahal.
  16. Tuhan dan nasib baik yang berpihak kepada penulis lain — karena aku tidak pernah salat sejak jadi penulis.

Dari daftar yang masih bisa bertambah panjang itu, aku bisa dengan gampang meyakini dan menunjuk satu atau dua hidung pihak yang bersalah.

Bencana semacam inilah yang menimpa kita: ketika menghadapi masalah, kita cenderung untuk segera menunjuk pihak lain yang mesti bertanggung jawab (dan/untuk menyelamatkan diri dari persoalan). Masalah rendahnya angka penjualan buku bisa dengan mudah menciptakan siklus-panjang-tidak-putus: penerbit menyalahkan penulis, pembaca menyalahkan penulis dan penerbit, penulis menyalahkan penerbit dan pembaca dan penulis lain, dan sebagainya, dan seterusnya.

Sebetulnya, jika kita kembali melihat daftar di atas, semua pihak yang disebutkan bisa menyumbang peranan atas gagalnya satu buku mencapai angka penjualan memuaskan.

Tetapi, masalah apa pun tidak akan terpecahkan hanya dengan menjawab pertanyaan: siapa yang salah? Tidak ada satu persoalan betul-betul selesai dengan semata mendekatinya dari sudut pandang semacam itu. Pertanyaan siapa yang salah dengan mudah mengingatkan kita pada lelucon jadul ini: “Di bawah sistem kapitalisme, manusia mengeksploitasi manusia. Di bawah sistem sosialisme, yang terjadi adalah sebaliknya.”

Pendekatan siapa yang salah, tentu saja, bukan tidak memiliki faedah sama sekali, sebab bisa membantu kita mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat. Namun berfokus sekadar menemukan siapa yang salah bisa membuat kita buta pada relasi yang bekerja di antara pihak-pihak tersebut; kita akan cenderung luput melihat siapa memiliki kuasa sebesar apa dan menggunakannya untuk apa; kita akan mengabaikan ketimpangan-ketimpangan pada relasi antar-pihak dan karena itu tidak bisa menemukan bagaimana cara mengatasinya; kita mungkin akan alpa mengamati konteks yang bisa berubah dengan cepat. Berhenti setelah menemukan siapa berpotensi menjauhkan kita pula dari menjawab pertanyaan lain yang lebih penting: kenapa.

Kecenderungan untuk lebih senang mencari tahu dan berhenti di siapa daripada lebih jauh menulusuri bagaimana dan kenapa tidak semata ada di urusan pelik dunia perbukuan di Indonesia. Dalam skala lebih besar, urusan negara, kita lebih ribut bicara mengenai pemerintah daripada pemerintahan. Kita lebih senang dan puas, misalnya, semata misuh-misuh mengenai Jokowi salah atau benar ketimbang mencari tahu kenapa Jokowi salah atau tidak. Media acap kali lebih sibuk mengusut seluk-beluk kehidupan para koruptor (termasuk kehidupan keluarga mereka) daripada mencoba memahami bagaimana dan kenapa mereka bisa korupsi.

Kita, saat meyakini satu pihak bersalah, kerap enggan meragukan dan mengubah keyakinan yang terlanjur kita peluk. Pemandangan semacam ini menjadi kian akrab: dua pihak berdebat berhari-hari di Twitter atau Facebook dan posisi keduanya tidak berubah hingga perdebatan usai karena mereka lelah; pihak pertama tetap menganggap pihak kedua salah, dan sebaliknya. Pertanyaannya: kenapa bisa begitu?

Perkara rendahnya angka penjualan buku bagus adalah masalah yang rumit dan penting. Persoalan ini mungkin mengharuskan kita mundur jauh untuk menjawab sejumlah kenapa (dan bagaimana).

Dan, maaf, aku juga belum tahu jawabannya.


Ada, meskipun aku belum tahu, banyak penyebab mengapa buku bermutu tidak laku dan, dengan begitu, ada sejumlah cara untuk menyelesaikannya. Tetapi, sejauh ini, aku yakin sekadar mencibir penulis yang angka penjualan bukunya lebih tinggi bukan salah satu jalan untuk keluar dari urusan pelik ini.

Berikut beberapa alasan kenapa ‘membenci’ para penulis yang buku-bukunya laku bisa jadi adalah tindakan keliru.

Pertama, mencibir penulis yang bukunya laku (apalagi jika kita belum atau tidak membaca buku mereka) sama sekali tidak akan membantu penjualan buku lain. Perilaku semacam ini bahkan bisa dengan efektif membuat penjualan buku kita jauh lebih rendah dari target, sebab kita mungkin menginginkan pembeli buku-buku mereka juga membeli dan membaca buku kita. Mungkin ada di antara kita yang akan mengatakan bahwa aku tidak ingin pembaca buku [sebut satu nama penulis di sini] membaca bukuku. Tetapi, pendapat tersebut memiliki risiko sebab, sebagaimana aktivitas menulis, kegiatan membaca adalah proses. Sebagaimana penulis, pembaca bertumbuh; mereka bisa menyukai satu penulis hari ini, tetapi pada hari yang lain bisa tiba-tiba berhenti dan beralih ke penulis lain.

Kedua, terkait dengan hal pertama, mengolok-olok para penulis yang bukunya laku, meskipun tidak secara langsung, bisa dibaca sebagai cara lain mengatakan bahwa para pembaca yang membeli buku-buku mereka tolol. Pandangan semacam ini keliru sebab cenderung abai pada demografi pembaca. Dan, sekali lagi, pembaca bertumbuh — lagipula, motif mereka membaca juga beragam. Orang-orang yang pintar dan paham mana buku bagus mana buku buruk jarang sekali memulai ‘karir’ mereka sebagai pembaca dari buku-buku bagus.

Ketiga, jika kita mau berpikir sedikit lebih jauh, bahkan jika kualitasnya sangat rendah sekalipun, buku-buku yang penjualannya tinggi bukan tidak memiliki peranan selain memperkaya penulisnya sendiri (sebagaimana anggapan sejumlah orang — dan barangkali itu alasan kita sering ‘marah’ kepada para penulis buku berlabel best-seller). Sangat mungkin buku-buku lain (termasuk yang kita anggap bermutu) bisa terbit karena ada buku tertentu yang penjualannya bagus. Ini barangkali salah satu alasan kenapa sejumlah penerbit acap kali gila-gilaan mempromosikan buku-buku yang laku. Agar mereka bisa menerbitkan buku-buku lain di daftar tunggu yang, tentu saja, butuh biaya produksi. Dunia penerbitan bukan bisnis enteng. Bukan cuma urusan tingginya biaya produksi, bukan hanya urusan penulis dan pembaca, tapi juga perkara di luar itu — seperti banyaknya pihak lain yang menggantungkan dompet mereka di sana.

Keempat, hanya sedikit orang yang mau tahu perihal satu ini: obrolan adalah salah satu faktor amat menentukan mengapa ada buku mampu mencapai angka penjualan fantastis. Membuat buku yang terjual 1.000 kopi menjadi 1.500 jauh lebih sulit daripada mengubah angka 15.000 kopi menjadi 20.000. Kenapa? Obrolan.Jadi, begini, di titik ketika menyentuh angka penjualan tertentu buku yang kita sebut laris itu laris bisa jadi tidak lagi disebabkan oleh apa pun selain karena dibicarakan banyak orang — dan perlahan berhenti dibeli saat buku yang bersangkutan tidak dibicarakan. Jika kita mau buku tertentu laku, kita harus lebih sering merekomendasikan buku tersebut kepada orang lain di sekitar kita. Kita mesti lebih sering menggunakan waktu yang selama ini kita pakai memisuhi penulis/buku buruk untuk menyebarkan informasi perihal buku yang kita sebut bagus.

Kelima, terus-menerus mencibir penulis yang buku-bukunya laris (dan bukan membicarakan karya mereka), berarti mengabaikan satu pihak dalam relasi yang kita bicarakan di bagian kedua tulisan ini yang memiliki cukup kuasa untuk meningkatkan penjualan buku-buku bagus di Indonesia. Ini hanya satu hal: para penulis yang buku-bukunya laris umumnya memiliki pengikut yang besar di media sosial. Para penulis itu adalah orang-orang yang bisa membantu kita menyebarkan informasi tentang buku-buku bermutu. Dan, pada saat yang sama, kita kehilangan kesempatan untuk menjangkau para follower mereka yang barangkali butuh rekomendasi bacaan-bacaan bermutu.

Keenam, terlalu sering bicara tentang keburukan sosok penulis lain dengan mudah bisa dibaca sebagai teriakan di hadapan dunia bahwa diri kita lebih penting/pintar/jago/keren daripada orang lain. Hal demikan, tentu saja, bukan tindakan yang elok untuk mencari dan mempertontonkan kekuasaan — dan tidak menyelesaikan masalah ketimpangan kekuasaan. Selain tidak membantu meningkatkan penjualan buku, perilaku semacam ini juga bisa mengurangi kesehatan.

Hal-hal di atas terdengar mudah dan klise? Ya. Tetapi, kita tahu, orang yang menyebar ‘stop making stupid people famous’ di media sosial sering kali adalah orang yang sama yang membuat tulisan semacam itu ada.


(Catatan ini masih dalam proses pengembangan, masih mentah dan berisi poin-poin kasar, masih butuh data dan argumen yang lebih kuat untuk mendukungnya. Masih draft dan, tentu saja, kemungkinan terdapat sejumlah kekeliruan di dalamnya. Anda boleh menuliskan komentar atau masukan untuk membantuku merampungkannya — dan bersama-sama memikirkan urusan pelik dunia perbukuan Indonesia ini.)

No Comments

Leave a Reply