Search and Hit Enter

Derau Hujan dan Muslihat di Angkasa

Cerpen: D. Hardi

Dari selimut awan ini aku terbang untuk kembali. Atau pergi. Entah apa yang dapat diteroka dari tanah air lama yang sudah bukan lagi rumah. Jarum di arloji bergeser pelan, mengusut waktu sang pemilik mata kala merekam batas samudera. Tidak banyak warna selain jingga, putih dan biru. Selain itu cuma ada derau.

Nanarku berkelana ke luar jendela. Menerobos waktu, kilas balik ingatan menjejal. Di dunia belantara yang menyepakati hukum dengan kekuatan, aku adalah imago muda lepas dari pupa. Jelmaan Danaus plexippus. Sulur-sulur perona menjuntai di sela warna kulit, tatahan lekuk badan, kepirauan kisah di bantalan bibir yang terpugar adalah anomali.

Di atas ribuan kaki ini, gradasi cahaya meluruh, kanvas biru langit yang cantik bisa lenyap dalam sekejap bila takdir buru-buru memanggil. Jika jatuh, apakah nyawa yang tercerabut lebih dulu atau serempak ajal menjemput bersama puing? Mimpi buruk yang kerap muncul sewaktu belia itu bagai nubuat kematian; tubuhku melayang pasrah di ketinggian, renyutnya masih terasa di telapak kaki. Tetapi apa itu kematian? Bukankah di setiap pagi yang rutin kita sering luput pada keajaiban? Aku tak merasa rugi dengan masa lalu. Tidak pernah sekali pun begitu.

Kau bilang cantik itu kutukan. Aku cukup percaya. Lihatlah sekelilingku. Mata-mata liar menjamah serupa kail, berangan majal memburu sejak tiba di bandara itu. Aku tak rugi dengan apa-apa yang dimaknai. Tak mengindahkan laku resiprokal selain perintilan-perintilan dangkal. Mereka adalah tipe makhluk yang tak ingin percaya pada indeks kebahagiaan atau harapan hidup selain angka-angka makro yang kuno. Mereka hanya pura-pura peduli. Lantas berilusi dengan pikiran-pikiran logisnya sendiri. Selalu takluk pada muslihat kimiawi.

Ah! kepedulian lelaki semacam modus purba yang menguak kotak Pandora.

Beberapa jam setelah transit di Doha, perjalanan ini belum juga berakhir sejauh mata memandang. Gugusan putih bergumpal, terkadang pecah berhelai-helai.

Aku membayangkan imaji kanak yang polos. Angkasa riuh bagai taman bermain, derap langkahnya berkejaran di antara horizon. Jemari-jemari mungil saling melempar bola yang terbentuk dari mega. Tubuh yang lain tiduran di atasnya. Di sebagian sisi barat, sinar matahari mengintip celah-celah langit bersemu kemerahan. Terlihat sepetak awan kelabu menggenang, seperti genangan di jalan sehabis hujan. Melankolia. Kerlipnya lentik membilas ufuk. Semua girang menceburkan diri berkecipuk dengan gelaknya, semua raut yang pernah singgah di usia-usia yang tak tercela itu.

Lamat-lamat kemudian, terbit sebuah rangkaian warna-warni menggelar panjang ke bumi. Jembatan pelangi meluncurkan kita dengan bebasnya sampai di muka pintu rumah.

Kita menenangkan hati orang tua yang resah, “Habis main-main di langit, Bu.”

Setengah perjalanan telah lewat dari perkiraan jarak tempuh sekitar empat belas jam lamanya. Di kursi sempit ini, nasib tak berbagi ruang kecuali kenangan. Menanti harap pertemuan di pintu kedatangan. Para penumpang asyik membaca kisahnya sendiri. Meraba sejarah dan harapan di balik lanskap—yang kuanggap sekadar perasaan sentimentil biasa. Mungkin mengingat sesuatu di luar sana. Orang-orang tidur, membaca majalah, berjalan ke toilet, melahap camilan, sedang aku sudah tak sabar lagi untuk menunggu. Aku tak terlalu suka berada di sebuah kapsul raksasa, atau sebuah lift, di taksi seorang diri, segala yang tertutup dan terkunci.

Dengung suara mesin berdeham ditingkahi getaran kecil. Lalu tenang. Bergetar lagi. Lantas lengang. Mataku menatap angkasa bagai cemas. Aih! Aku teringat sesuatu. Diorama empat dimensi di sekujur lazuardi bak Sonet, 3 sajak Sapardi:

Awan yang di bawah bergumpal melata tampaknya tak siap lagi menjadi lambang cinta kita, “Apakah ia akan tetap ada sehabis hujan?”

“Wah, pemandangannya..” Pria di sebelahku sengaja bergumam. Nadanya begitu dalam seperti suara senar bas.

Aku tersenyum kecil. Simpati ringan saja. Ia balas lagi dengan senyuman. Kepalanya mendekat ke batasan kursi (beberapa senti saja dariku), melihat arah langit yang magenta. Aromanya wangi. Mungkin ia berharap percakapan basa-basi. Mungkin setelah ini kami akan bertukar nomor ponsel, lalu menyapa di suatu kesempatan menanyakan kabar; apa masih ingat; aku pura-pura lupa; komunikasi semakin intens, akhirnya janjian ketemu.

“Pulang atau pergi?”

“Pulang.” Lebih tepatnya kembali. Kata pulang rasanya terlalu mendramatisasi.

“Kangen rumah ya,”

Aku tersenyum lagi. Bertolak memalingkan pandang ke luar jendela. Prolog setiap obrolan memang lebih banyak hambarnya. Namun sepertinya ia tak tersinggung. Dan aku tak cukup peduli.

“Menurut Anda, itu warna apa?” tunjuknya sekali waktu berselang dengan gerakan wajah ke luar jendela. Cahaya kian segaris, sisakan rona membias di antara kepekatan pirus, sian, dan magenta. Yang jelas kemerah-merahan. Entahlah. Apa pentingnya ketepatan nama. Manusia senang sekali menciptakan konsep untuk kemudian diperdebatkan.

“Warna senja?”          

“Haha. Senja. Anda cukup melankolis rupanya.”

Hey, belum apa-apa sudah menilai. Lelaki, kelemahannya sungguh di bola mata.

Saat kau bersitatap pandang kali pertama dengan suatu obyek, yang sudah barang tentu tiada obyek selain lampai kemolekan berkilah keindahan, seketika itu pula guncangan biologis yang lazim memproduksi hormon membuat pupil berdilatasi. Mengendap beberapa waktu. Pelan-pelan berkecambah. Bertumbuh di sudut-sudut naluri purba. Tenang bagaikan Sang Pemburu yang kenyang. Maka percik momentum yang terbakar kemudian bukan lagi ultimatum selain nasib yang bergantung arah pendulum. Tak ada lagi ampun. Kobaran berahi merambat ruah ke sel-sel ekstase di luar akal budi. Sensasi denyar kemabukan inderawi serupa badai yang mengamuk di antara selat, meluapi air pasang, memancung nyiur pepohonan, rumah kayu, sarang-sarang binatang, batu karang pertahanan. Memuncaki simulakrum bangsat tubuh yang ranum. Tinggalkan jejak hampa, sisa-sisa angus puntung.  

Tak perlu kompendium, teori, atau kegenitan filsafat untuk membaca itu semua.

Ini sesuatu yang sudah lama. Tapi aku tak kembali dengan tubuh yang lama. Dia, perempuan yang sebelumnya hanya mengurung diri seharian di kamar dan hampir mengakhiri hidup—yang sudah tak terlihat hidup sebagaimana kehidupan lain berjalan sewajarnya—dengan satu irisan belati, tak lagi menganggap air mata yang tumpah sebagai anestesi.

“Kamu sudah diperingatkan. Tapi kamu tetap membandel,” katamu dulu seolah memenangi kebenaran.

Tapi bukankah jalan menuju kebenaran bisa ditempuh lewat konklusi dari sekian percobaan-percobaan banal, aposteriori, yang mungkin saja diawali dengan ketidaksengajaan dan kegagalan demi kegagalan? Ketidaksengajaan John Walker saat menggesek gumpalan (cairan kimia) di ujung tongkat pengaduk yang menyulut api adalah muasal ditemukannya korek api. Ketidaksengajaan Nobel menumpahkan nitroglycerin ke atas bubuk gergaji berujung terciptanya dinamit pertama di dunia, dan gelembung-gelembung yang ada di minuman anggur putih itu awalnya dianggap cacat produksi!

Lalu kebenaran itu meledakkanmu dari mimpi indah ala negeri dongeng, katamu lagi-lagi menampar. Kukira, waktu itu aku sanggup menanggung segala resikonya. Saat Ray beberapa kali sudi kuajak ke rumah, kau sendiri yang menilainya dengan kesan berbeda (sesungguhnya kalian sudah lama tak bertemu sejak perpisahan SMU). Mengenal Ray lebih dalam, membuatku sangsi akan semua ceritamu sebelumnya. Ia sering membantuku menyelesaikan tesis. Mengurus segala urusan kampus bersama tetek-bengek tugas sebagai kekasih. Dia selalu ada di sisiku. Di sebuah kesempatan sepulang reuni, ia berlutut menunjukkan sebuah cincin. Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu? tak terkalimatkan rasanya. Kau dan Ibu lalu merencanakan tanggal baik. Kau merestui. Rela kulangkahi.

Sampai akhirnya sore itu, dalam janji yang terpaksa dibatalkan akibat hujan tak hentinya menggerojok, aku datangi kontrakan Ray. Dia tahu aku benci sekali hujan. Tapi ini sebuah kejutan. Karena terkunci, aku melongok ke arah jendela kamar di sebelah ujung yang hampir tertutup. Bersaru suara rerintik, desahan binal menguar dari dalam kamar; Ray dan perempuan laknat yang tak kukenal. Menjijikkan. Aku benci kota ini.

“Apakah itu halilintar?” gumamnya mengenyah lamunan.

Kilatan cahaya melempang. Serupai akar rimpang. Dari dalam kabin terbaca tampak meraung-raung. Serupa amukan. Jejaknya hanya kepekatan, bagai tiada lagi gelap yang kau tahu selain gulita yang segalanya tumpat.

“Saya benci hujan.”

“Anda benci hujan?” kataku mengulangi.

“Saya punya pengalaman buruk dengan hujan,” ujarnya dengan tampang polos.

Belum sempat aku menimpali, pesawat tiba-tiba terhentak. Apakah turbulensi? Beberapa detik diam, sekejap kemudian segenap ruangan langsung terhempas ke bawah dengan lekasnya bagai terjun bebas. Jantung seperti copot. Penumpang berteriak. Kalut. Menyebut-nyebut nama Tuhan. Tak beberapa lama kembali lengang. Kami saling bertatapan. Sebentar saja. Pesawat kembali terbanting ke arah kiri dengan kerasnya. Tubuh kami terdorong ke samping. Mesin seperti mati. Semua lampu padam. Sungguh mengerikan. Mimpi buruk yang kerap muncul sewaktu belia itu benar-benar bagai nubuat kematian sekarang.

Jika terjatuh, apakah nyawa ini tercerabut lebih dulu atau serempak ajal menjemput bersama puing? Aku bakal mati dua kali.

Masih dalam posisi menghujam, tiba-tiba lampu kembali menyala meski hanya kedap-kedip. Badan pesawat bagai didorong balik ke atas. Turun naik deras. Tak berapa lama, derau mesin akhirnya terdengar lagi. Jantungku berdegup tak karuan.

Tanpa sadar, tangan kami saling mencengkeram satu sama lain.

“Anda baik-baik saja?” Ia berlagak menenangkan meski raut setengah pasi.

Dalam cemas, semua orang menunggu. Cukup lama menghening sampai kemudian suara dari speaker memberitahukan jika beberapa menit lagi pesawat akan mendarat. Kami kembali bersitatap pandang. Cukup dalam.

“Saya juga punya pengalaman buruk tentang hujan,” kataku melega. Ia tersenyum.

Mungkin setelah ini semua terlewati, kami akan saling bercerita tentang hujan, di sebuah kedai kopi.

(Bojongsoang, Maret 2019)

D. Hardi, menulis cerpen dan puisi, menetap di Bandung. Karya terbaru, buku: Antologi puisi tunggal ‘Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari’-Jejak Publisher (2019), antologi cerpen bersama ‘Masa Depan Negara Masa Depan’-Surya Pustaka Ilmu (2019).

No Comments

Leave a Reply