Search and Hit Enter

Catatan Kebudayaan dan Kebangsaan

Oleh: Dr. Nasir Tamara

KEBUDAYAAN INDONESIA DALAM DIMENSI KEKINIAN & PERSPEKTIF MASA DEPAN

Ada studi bahwa Indonesia merupakan sebuah negara namun belum terbentuk bangsanya. Tentunya bila dibandingkan dengan beberapa negara barat seperti Amerika, Prancis, Inggris, Spanyol. Betulkah? Saya kira perlu ada beberapa kajian ilmiah.
Menarik mengikuti seminar dua hari yang disponsori oleh Kemendikbud & Lemhanas-  guna membicarakan masalah kebangsaan & kaitannya dengan budaya. Seminar besar ini diadakan untuk mencari jawaban atas munculnya kekuatan transnasional  yang berusaha mengubah Pancasila padahal ideologi ini adalah azas kebangsaan Indonesia.Tema transnasional ini dibahas oleh Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo.
Gubernur Lemhanas Jenderal Agus Widjojo menegaskan bangsa Indonesia bersifat majemuk, terbuka dan memilih Pancasila berdasarkan kajian saintifik.
 Kepala Bekraf Triawan Munaf menyampaikan bahwa ekonomi kreatif adalah bagian dari kebudayaan bersifat kekinian dan memiliki perspektif masa depan. Baginya ekonomi kreatif tidak tumbuh di lahan intoleran.
Bagi Sukmawati Soekarno tidak mungkin kebudayaan akan maju bila tidak diberikan bantuan pendanaan dari pemerintah. Begitu juga pendapat dari seorang raja dari Cirebon di forum itu.
Sebab itu menurut Jenderal Sidarto Danusubroto sudah semestinya di Kabinet ada Kementerian Kebudayaan yang akan mengelola dana abadi untuk berbagai kegiatan kebudayaan sebesar Rp 5 triliun yang dijanjikan Presiden. 
Beliau juga menyarankan agar Presiden tidak lagi dipilih secara langsung tetapi oleh lembaga seperti MPR. Adapun Gubernur & Bupati dipilih oleh DPRD.  
Sistem yang sekarang membuat Indonesia terpecah, memungkinkan pemilik uang mengontrol partai dan membuat pasal-pasal yang menguntungkan pemilik modal.

MENDENGAR GENERASI MILLENIAL BICARA  DIMENSI KEKINIAN BUDAYA & MASA DEPAN 

BUDAYAWAN tradisional sering berdebat tentang definisi dan problem kebudayaan. 
Pada hari kedua Seminar Kebudayaan para peserta mendengar generasi milenial yang sukses dalam usia muda.
Pendiri Go-Jek Nadim Makarim bercerita tentang bagaimana ia mendirikan perusahaannya. Berbekal pengetahuan manajemen dan bisnis sebagai lulusan MBA dari Harvard University, ia berani mengambil resiko mendirikan perusahaan. Ia sukses membuat unicorn pertama di Indonesia (kini ada empat dengan valuasi triliunan USD) berbasis aplikasi karena memiliki critical thinking dan selalu melihat setiap masalah dari dua sisi. Selain itu karena di Indonesia ada budaya gotong royong yang mendukung. “Di USA, orang miskin kelaparan dan tanpa hunian dibiarkan hidup di jalanan. Di Indonesia selalu ada yang membantu memberi makan dan tempat tidur,” katanya.
Pembicara berikutnya Nadina Nasution yang berjilbab bicara tentang suksesnya menjadi perancang mode yang meskipun membuat modest fashion tidak melupakan kebutuhan fashion untuk non Muslim.
Diteruskan oleh Direktur NU Online yang merujuk pada riset lembaga PEW dari USA bahwa agama penting bagi orang Indonesia sehingga ia membuat situs untuk komunitas Islam berbasis NU, karena Indonesia tidak memiliki sejarah pemikiran dan karya-karya sastra seperti di Barat maka ia tidak percaya bahwa tradisi sekuler, pemisahan antar negara & agama, bisa diterapkan di Tanah Air.
Pembicara terakhir berbicara tentang tren pendidikan anak merdeka dan demokratis terinspirasi oleh KH Dewantara dan para pemikir Barat. Kurikulumnya berbasis pada art & science diajarkan dg memperhatikan kebutuhan anak didik dalam lingkungan sekolah yang mengajarkan creative thinking.
Anak-anak muda ini berani mengambil resiko berpikir out-of-the-box. Ketika berbicara mereka percaya diri dan optimis. Mereka ingin Indonesia yang maju, demokratis, plural, humanis dan religius juga.
Tatkala BEKRAF hanya sanggup menekuni enam sektor (kuliner, kriya, fashion, musik, film, dan games) dari 16 bidang ekonomi kreatif maka tampaknya keperluan memiliki sebuah Kementerian Kebudayaan yang bertaring menjadi mutlak. Tentunya dipimpin oleh menteri yang mumpuni. Di Prancis dulu ada penulis besar namanya Andre Malraux yang dekat Presiden de Gaulle. Ia mempunyai visi besar tentang kebudayaan sehingga menjadi kekuatan ekonomi di samping industri modern negeri itu.

No Comments

Leave a Reply