Search and Hit Enter

Bersama Pram, Hasyim dan Joesoef ZIARAH KE MAKAM TIRTO ADHI SOERJO (si Minke itu) – artikel Max Lane, 1992

Dari: Max Lane, di maxlaneonline.com, 26 Februari 2019.

ZIARAH KE MAKAM TIRTO ADHI SOERJO

berziarah bersama Pramoedya Ananta Toer, Hasyim Rachman dan Joesoef Isak.

Oleh Max Lane

(Ditulis 1992, dan terbit di majalah PROGRES.)

Max Lane, Joesoef Isak, Pramoedya Ananta Toer (bertopi), Hasyim Rachman (kaos hijau).
(Ditulis 1992, dan terbit di majalah PROGRES.)

Saya belum pernah berkunjung ke banyak tempat kuburan. Tentang kuburan, saya tidak mempunyai banyak perbandingan. Walaupun demikian perlu saya katakan, kuburan umum di Blender, Bogor, Jawa Barat, adalah tempat yang cocok untuk orang mencari perlindungan terakhir di bumi ini. Sejuk dalam naungan puluhan pohon kamboja, yang memberi perlindungan pada ratusan orang yang beristirahat disitu. Terik matahari tak pernah mendapat kesempatan penuh untuk memanggang tanah dan mengeringkan suasana. Sejuk, sepi, damai.

Tetapi seperti tempat-tempat lain di Indonesia, kuburan ini sekarang juga ramai. Dari masjid di kampung sekitar terdengar suara adzan seorang bilal mengingatkan umatnya tentang kewajibannya di bumi. Sedang orang-orang kampung sekitar memanfaatkan kuburan untuk aktivitas rumah tangga, pakaian dijemur di pagar makam keluarga.

Ada banyak anak-anak. Ada beberapa penjual bunga-bunga untuk taburan di makam. Ada para pembersih kuburan upahan, yang kerjanya adalah melawan rumput agar tak menduduki makam. (Memang sebagian kuburan sudah berhasil didudukinya sehingga bentuk makam pun telah hilang ditelannya bersama tetumbuhan lainnya).

Kami berlima, sang penulis Pramoedya Ananta Toer, penerbit Hasyim Rachman, editor karya-karya Pram Joesoef Isak, sutradara film Gil Scrine, dan saya, berziarah ke kuburan di Blender ini dalam rangka tugas.

“Dimana makam Tirto Adhi Soerjo?”, bertanya bung Joesoef kepada salah seorang anak diantara gerombolan yang menaruh perhatian kepada rombongan kami oleh karena diantaranya ada dua orang kulit putih.

Hasyim Rachman dan saya membeli lima bungkus bunga segar untuk melengkapi ziarah kami. “Ya dimana makam dia, orang terkenal itu?”, kemudian bertanya pula Hasyim.

“Djokomono Tirto Adhi Soerjo” tambah Joesoef.

Pramoedya Ananta Toer diam saja memandangi keadaan dan suasana ditempat kuburan sambil memperhatikan perkembangan pencarian.

“Disini, pak”, menyahut seorang anak. Dan rombongan dengan manutnya mengikuti dibelakangnya mengikuti ke tengah-tengah lapangan kuburan disertai anak-anak lain. Dalam berjalan, kami bertemu seorang tua, seorang tukang kebun disana. Bapak ini sebenarnya sudah pensiun jadi penjaga kuburan, tetapi karena kurang tersedianya tenaga untuk memelihara kuburan maka dia tetap datang untuk membantu-bantu membersihkan kuburan.

“Mereka cari makam Djokomono Tirto Adhi Soerjo?”, kata seorang remaja yang mengikuti rombongan kami yang sudah bertambah jumlah.

“Kalau nggak salah disitu”, bunyi bapak penjaga kuburan itu sambil menunjuk ke arah bagian tepi kuburan.

Seluruh rombangan kami yang terus bengkak jumlahnya bergeraklah kesitu. Joesoef dan Hasyim makin mantap karena mereka berdua sudah pernah ke sini ketika mempersiapkan penerbitan biografi “Sang Pemula” karangan Pramoedya. Mereka mulai ingat kembali kurang lebih letak makam yang dituju. Pramoedya, saya, dan temanku Gil, berjalan diam sambil bercakap suara bisikan. Maklum, kuburan.

“Disini, pak, disini”. Sudah ditemukan rupanya.

Kami berjalan melalui rerumputan yang setengah terpelihara. Didepan nampak ada sepetak kuburan dengan tujuh makam. Disini rumput memang agak merajalela. Tanpa diperintahkan para pemuda yang mengikuti kami langsung ramai-ramai mulai membabatinya, di luar dan di dalam petak berpagar. Ada juga yang mulai menyapu, baik di halaman maupun makamnya sendiri.

Jadi disini kiranya beristirahat Sang Pemula. Kuburan keluarga ini cukup baik, makam-makamnya dikijing dengan keramik walau tidak dari jenis mewah. Seperti yang diluar petak, juga disini makam-makam berjejer berderet, kecuali dua yang berjajar terpisah. Yang tertua adalah makam Sang Pemula.

Sebenarnya Djokomono Tirto Adhi Soerjo meninggal dan dikubur di Jakarta pada 1918, kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973, berkumpul dengan anggota-anggota keluarga yang juga sudah meninggal ke dalam satu makam keluarga.

Kami semua masuk kedalam petak makam keluarga tersebut. “Mana makam Tirto alias Minke ini?”. Joesoef, Pramoedya, dan Hasyim memperhatikan juga nama-nama pada batu nisan. Rupanya mereka tau silsilah keluarga besar ini. Begitulah orang Indonesia. Dan disitu ditengah-tengah jajaran orang-orang yang telah beristirahat dalam keabadian, terbujur makam Sang Pemula.

“R.M. DJOKOMONO TIRTO ADHI SOERJO

PERINTIS KEMERDEKAAN

PERINTIS PERS INDONESIA

DJAKARTA

WAFAT TAHUN 1918 – DJAKARTA

DIMAKAMKAN KEMBALI 30-12 TAHUN 1973 – BOGOR”

Sebenarnya saya cukup terharu. Memang ada teman pernah bilang saya agak sentimental. Tetapi saya cukup mengenal almarhum yang terbujur dalam makam itu, berkat kreatifitas Pramoedya. Saya sudah menerjemahkan kedalam bahasa Inggris keempat-empat buku Pramoedya yang menggambarkan kehidupan Tirto alias Minke ini, dan tetralogi besar itu diedarkan oleh Penguin Books Australia dan penerbit besar Amerika, William Morrow. Memang saya mengerti ada sebagian yang fiksi, artinya tidak semua tepat secara historis. Tetapi essensinya benar. Saya pun juga sudah baca tulisan-tulisan si Tirto sendiri yang diuat dimuat di buku terbitan Hasta Mitra, penerbitan buku kepunyaan tiga orang Indonesia yang sedang berziarah ini.

Apakah saya betul-betul kenal si Tirto ini, saya tidak tahu. Tetapi yang jelas ialah, bahwa saya merasa sudah mengenalnya, dan mengenalnya sebagai teman pula. Dan disitulah dia tidur dalam keabadian.

“Bung Pram, mengapa cat pada tulisan dibatu nisan Minke yang tidak jelas, sudah terhapus cuaca?”.

Pramoedya memperhatikannya dan kemudian membandingkannya dengan yang lain. “Ya, kenapa?”.

Tulisan pada batu-batu nisan lainnya utuh dan jelas dengan cat hitam dan tentu saja mudah dibaca. Pada nisan Tirto cat hitam yang tersisa hanya separuh pada salah satu huruf, O. Kalau tak ada guratan ukiran batu pualam niscaya tak terbaca sama sekali.

“Tolong, pak carikan arang”, Hasyim minta tolong pada rombongan yang berdiri diluar petak makam sebagai audiensi. Seseorang pergi mencarikan.

“Ada yang punya ballpoint?”, Pramoedya bertanya. Saya serahkan ballpoint saya yang kebetulan bertinta hitam dan cocok untuk memulihkan huruf-huruf yang terhapus.

Pramoedya berjongkok dan mulai menghitamkannya. Lama-kelamaan huruf demi huruf menjadi jelas dan munculah nama Sang Pemula. Pramoedya melakukannya dengan muka tegang penuh konsentrasi. Bibirnya tertarik datar tanpa gerak tercekam oleh konsentrasinya.

Kami berempat berdiri memperhatikan. Tetapi Hasyim mulai memperhatikan juga rombongan pengikut tanpa undangan yang kini makin membengkak, mungkin 15 atau 20 orang. Kebanyakan anak muda tetapi juga bapak penjaga dan dua atau tiga orang dewasa lainnya.

“Saudara-saudara betul-betul mendapat kehormatan bisa menjaga makam orang ini, orang besar dalam sejarah Indonesia. Tirto Adhi Soerjo. Jangan lupakan nama itu. Biarpun sudah dilupakan oleh sejarah, oleh bangsa Indonesia. Tetapi kami ini tidak lupa. Lihat, orang asing pun hadir menziarahi orang ini”, Hasyim membuka pidatonya.

Pram dengan telatennya masih mengisi pahatan huruf dengan tinta ballpoint. Namanya memang panjang dan ballpointnya kiris. Joesoef dan saya ngobrol dengan bapak penjaga. Sebentar, Gil mengambil foto. Hasyim masih bicara pada audiensinya.

“Ini baru”, katanya Joesoef kemudian, “tulisan Perintis Kemerdekaan. Dulu tidak ada itu. Yang ada cuma kata-kata Perintis Pers. Memang pernah kami usulkan pada keluarga ahli warisnya, seorang Jenderal. Rupanya memang mereka tambahkan”. Sang Jenderal, cucu Sang Pemula, kini juga terbaring di makam keluarga dekat sang kakek.

Arang yang dipinta sudah datang, tetapi nyatanya ballpoint lebih cocok.

“Sini, Max”, Hasyim memanggil saya, mengundang untuk menaburkan bunga pada makam Sang Pemula. Saya menghampiri makam itu dan menaburi bunga pada makamnya.

Apakah ini sekedar ikut-ikutan?. Tanya saya dalam hati. Supaya bisa difoto. Tidak, jawabannya datang langsung, saya kenal orang yang beristirahat abadi ini dan saya bangga bisa datang kesini bersama-sama orang-orang penuh dedikasi seperti Pram, Joesoef dan Hasyim.

Betapa hebatnya orang seperti Tirto Adhi Soerjo ini. Bisa mengerti bahwa akan ada sebuah bangsa terbentuk oleh sejarah sebelum bangsa itu sendiri menyadari. Dan tidak tinggal diam, si Tirto, Sang Pemula. Dia berjuang untuk mewujudkan visinya. Pendiri Serikat Dagang Islam, orang pribumi pertama yang menerbitkan Koran harian berwawasan nasional untuk bangsanya.

Menurut pendapat saya kalau sedang berkepala dingin, kebanggaan bangsa pada masa lalunya belum tentu merupakan sikap yang baik. Bisa terjerumus ke dalam kehidupan di masa lalu dan mengingkari masa sekarang. Dan juga prestasi orang dulu bukan prestasi kita. Tetapi bagaimanapun juga, pada saat menaburkan bunga itu, saya tidak bisa menahan pikiran yang muncul dalam otak saya: andaikan saya orang Indonesia betapa bangganya bangsa saya mempunyai seorang Tirto.

Hasyim dan Joesoef kemudian bergiliran menaburkan bunga, begitu juga Gil. Hasyim yang mempunyai kemampuan ustadz, kemudian membaca do’a secara islam. Kami semua menundukan kepala, diam.

Pram sudah selesai menghitamkan nama R.M. Djokomono Tirto Adhi Soerjo. Diganti Hasyim menyelesaikan kata-kata lainnya.

“Ada audiensi baru”, meluconnya Pram kepada si Gil yang sibuk mengambil foto. Pram sibuk menunjuk kepada beberapa ekor kambing yang sedang merumput disekitar petak kuburan keluarga ini. Semua tertawa kecil.

Pram juga menaburkan bunga. Diam dia, bukan saja dengan bibirnya, tetapi juga dengan air mukanya. Pasti ada renungan dalam kalbunya.

Sudah datang waktu berangkat. Betapapun mengharukan suatu peristiwa tak ada gunanya dilama-lamakan. Pram dan Hasyim minta dan memperingatkan pada penjaga agar makam itu dijaga dengan baik. Kami semua mulai meninggalkan tempat itu. Semua perlu sekali-kali menengok ke belakang. Para remaja rombongan pengiring ziarah masih tetap menyaksikan kami.

“Orang ini dilupakan oleh sejarah dan bangsanya sendiri”, Hasyim mengingatkan kembali kepada mereka.

“Baca nisannya. Meninggal tahun 1918. Soekarno sendiri masih remaja waktu itu. Bayangkan orang ini sudah memperjuangkan kemerdekaan, Soekarno masih remaja, 1918. Orang ini sama besarnya dengan Soekarno, mungkin lebih besar”.

Rombongan pengiring kekuburan, remaja dan dewasa mendengarkan, memperhatikan, juga kaget oleh semangat Hasyim. Hasyim sendiri memang gagah, dan kalau sedang semangat, serius komitmennya pada semangatnya.

“Siapa disini sudah SMA?”. Seorang lelaki, semua memang laki-laki, mengangkat tangan.

“Saudara, tanyalah pada guru saudara, siapa itu Tirto Adhi Soerjo. Dan tanyakan padanya mengapa tidak diajarkan tentang dia. Beritahu gurumu bahwa orang besar ini ada di kuburan Bogor ini”.

Hasyim keluar halaman perkuburan. Sambil berjalan untuk bergabung dengan kami, ia masih memerlukan berpaling ke belakang, mengulangi kata-katanya untuk memperkuat kesan yang hendak ditinggalkannya: bahwa di perkuburan Blender, Bogor, ini beristirahat abadi seorang besar dalam sejarah Indonesia, perintis kemerdekaan dan perintis pers.

Beberapa hari kemudian ketika saya menelpon Pram, dia bilang:

“Seharusnya peristiwa dan ucapan pak Hasyim di Bogor ditulis. Bagaimana?”.

“Baru-baru ini hari Pers Nasional, dan hanya kami yang kesana”.

Singapura, 1 Maret 1992

No Comments

Leave a Reply