Search and Hit Enter

GERAKAN KOMUNITAS NEGERI POCI

Oleh: Maman S Mahayana

Di mana letak Negeri Poci dalam peta dunia? Atau, jika negeri itu berada di kawasan Nusantara, termasuk wilayah provinsi manakah?

Sia-sia kita mencari lokasi Negeri Poci pada peta mana pun. Ia cuma judul sebuah buku antologi puisi. Seperti dikatakan salah seorang penggagasnya, Kurniawan Junaedhie, “Dari Negeri Poci adalah sebuah serial buku antologi puisi yang mencoba merekam jejak kepenyairan para penyair Indonesia dari tahun ke tahun secara lintas generasi, lintas gender, dan lintas genre.” Sejak penerbitan pertamanya, tahun 1993, kelompok ini sudah mempublikasikan lima buku antologi puisi yang menghimpun 358 penyair dari berbagai usia, daerah, dan ideologi.[1]Para penggagasnya lalu menamakan diri sebagai Komunitas Negeri Poci (KNP).[2]Lalu, begitu pentingkah kita membicarakannya dan menempatkan buku itu beserta para penggagasnya dalam perjalanan kesusastraan Indonesia? Begitu besarkah pengaruh KNP, sehingga perlu diterakan dalam catatan sejarah kesusastraan Indonesia?

Kelalaian yang kerap terjadi dalam masyarakat kita adalah perkara pendokumentasian. Apa yang sudah dilakukan bersama, dianggap hal lumrah. Oleh karena itu, tak perlu dicatat, tak perlu didokumentasikan. Akibatnya, peristiwa itu menguap begitu saja, terkubur oleh waktu, ditelan perkembangan zaman. Dan nama-nama para penggagasnya berguguran, meski sangat mungkin komunitas itu melahirkan para penulis baru, memunculkan gerakan lain, dan ikut mewarnai konstelasi kehidupan kesusastraan—kebudayaan masyarakatnya. Nah, di situlah pentingnya pendokumentasian dan pencatatan. Suatu saat kelak, dokumentasi dan catatan kiprah komunitas itu, akan menjadi saksi bicara yang sedikit banyak telah ikut memainkan peranan dalam kehidupan bangsa ini.

Begitulah, pencatatan dan pendokumentasian sebuah gerakan, kecil atau besar, sempit atau luas pengaruhnya, tetaplah penting. Ia mesti mendapat tempat. Dengan demikian, namanya tidak melulu mengawang-awang dalam benak para penggagasnya, tidak cuma mendekam dalam pikiran para penyair yang terlibat dalam proses penerbitan buku itu. Tidak juga cuma mereka saja yang tahu. Tidak begitu! Kiprah dan gerakan Komunitas Negeri Poci mesti dicatat, mesti didokumentasikan, mesti menempati posisinya sendiri yang mungkin sejajar dengan gerakan komunitas lain, atau mungkin juga lebih rendah atau lebih tinggi. Tak mengapa, dan bukan itu tujuannya. Sebab, yang jauh lebih penting adalah tempatnya dalam perjalanan kehidupan kebudayaan kita. Maka, kiprah dan usaha KNP kelak akantercatat sebagai gerakan yang menghadirkan sebuah atau serangkaian peristiwa yang ikut menandai laju perjalanan kesusastraan dan kehidupan berkebudayaan bangsa Indonesia.

***

Siapakah yang membayangkan sebuah bungkus rokok yang tercecer atau tergeletak entah di mana jadi begitu penting? Tentu saja bungkus rokok itu akan lenyap begitu saja jadi tanah atau debu, ketika ia tidak berbeda dengan bungkus-bungkus rokok yang lain. Tetapi, ketika di bekas bungkus rokok itu ada tulisan tanganChairil Anwar, seketika ia punya nilai sejarah. Beginilah kisahnya: Dalam map arsip Chairil Anwar yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra, H.B. Jassin, terselip robekan kertas bekas bungkus rokok. Di situ tertera tulisan tangan Chairil Anwar. Isinya begini: “Sin, aku sikat makananmu. Jugakupinjam dulu buku Zarathustra …”[3]

Apa yang dilakukan H.B. Jassin ketika itu tentu saja seperti tidak penting. Apalagi tulisan itu tertera di robekan kertas bekas bungkus rokok. Tetapi, karena ketelatenan Pak Jassin, maka ketika para pelakunya sudah meninggal dunia, kertas itu menjadi bukti sejarah yang penting. Jadi, hal sekecil apa pun, ketika ia berkaitan dengan perkara kebudayaan, sangat mungkin suatu saat ia menjadi catatan berharga, punya nilai sejarah, bahkan mungkin juga jadi sebuah monumen. Nah, di situlah pentingnya pencatatan dan pendokumentasian.

Kini, bagaimana dengan kiprah yang dilakukan KNP? Tanpa bermaksud membesarkan atau mengecilkan gerakan yang dilakukan KNP, catatan ini sekadar hendak menegaskan kembali, betapa peranan sebuah komunitas, kadang kala dampaknya tidak terduga. Jika ia hadir: “sekali tidak berarti, sesudah itu mati,” sangat mungkin ia tenggelam begitu saja. Tetapi, jika ia dilakukan terus-menerus dengan segala kesungguhannya, tidak mustahil gerakan itu menjadi sebuah gelombang yang pengaruhnya tak dapat diabaikan dalam kehidupan bangsanya. Jadi, sebuah gerakan perlu dilakukan secara berkelanjutan, kontinu, dengan wilayah dan cakupannya yang makin meluas. Juga, di sana ada kesungguhan sikap dan idealisme dari diri mereka yang terlibat di dalamnya, ada semangat memberikan kontribusi, ada elan yang ingin diperjuangkan.

Nah, gerakan KNP memperlihatkan syarat-syarat dan semangat itu. Maka, sepatutnya gerakan KNP mendapat catatan khusus, sebab bagaimanapun, ia telah secara aktif mengambil bagian dalam usaha menyemarakkan kehidupan kesusastraan dan kebudayaan bangsanya. KNP telah menjadi gelombang lain yang mendorong perpuisian Indonesia menjadi lebih hidup, bergerak semarak, dengan melibatkan para penyair yang lebih beragam yang berasal dari wilayah yang lebih luas. Gerakan KNP telah membuktikan sendiri klaimnya: “lintas generasi, lintas gender, dan lintas genre.”

Jangan anggap sebuah komunitas yang lahir dari kesadaran ikut berkiprah dalam membangun masyarakatnya tidak punya makna bagi kehidupan bangsa. Sekadar memberi gambaran selintasan, bagaimana peran yang dimainkan sebuah komunitas, berikut kita coba menelusuri masa lalu beberapa komunitas yang berkaitan dengan kiprah mereka.

***

Di lembaran suratkabar Poetri Hindia (1908),[4]ada berita kecil tentang undangan bagi nyonya-nyonya Tionghoa untuk berkumpul di rumah Kwee Tek Hoay[5]di daerah Tanah Sareal, Bogor. Rupanya, dalam sebulan sekali, para nyonya Tionghoa itu berkumpul untuk acara membacakan dan mendengarkan pantun. Pada zamannya, undangan itu tidaklah penting. Tetapi kini, ia punya nilai sejarah. Dari berita itu kita tahu, ada tradisi membaca dan mendengarkan pantun di kalangan nyonya-nyonya Tionghoa.[6]Kolompok perkawanan Kwee Tek Hoay itu, telah berhasil membangun tradisi berdiskusi di kalangan para penulis peranakan Tionghoa.[7]Dari sana tumbuh semangat untuk terus berkarya dan menciptakan karya yang lebih baik lagi. Di situlah peranan komunitas penting artinya dalam melahirkan dan menumbuhkan tradisi berkesenian dan berkebudayaan. Langsung atau tidak, komunitas itu juga sekaligus membangun gerakan intelektual yang tidak terpisah dari masyarakatnya. Sangat boleh jadi tumbuhnya para penulis perempuan Tionghoa lahir dari komunitas ini.[8]

***

Kenanglah sebuah komunitas di Riau yang bernama Rusydiah Kelab (1895); sebuah kelompok diskusi yang syarat keanggotaannya ditentukan oleh minimal telah menghasilkan sebuah karya. Tanpa karya, seseorang tak berhak menjadi anggota Rusydiah Kelab. Oleh karena itu, karya-karya anggotanya itulah yang mempertemukan komunitas ini dalam serangkaian diskusi, dalam lalu lintas pemikiran. Penyair Gurindam Dua Belas—Raja Ali Haji, Perintis Novel Modern dan jurnalis Melayu—Syed Syeikh Al-Hadi, dan Pujangga Sunda yang awal—Hasan Mustapa, tercatat pernah menjadi anggota komunitas ini.[9]

Dalam kesusastraan Sunda, pembentukan komunitas model itu, juga bukanlah hal yang baru. Pada tahun tahun 1930-an ketika majalah Parahiangan begitu berpengaruh, lewat prakarsa M.A. Salmun, dibentuklah komunitas sastrawan Sunda yang benama “Angkatan Parahiangan.”[10]Pada awal tahun 1958, Rukasah S.W., juga melakukan hal yang sama dengan membentuk komunitas peneliti sastra Sunda, bernama Badan Pangulik Budaya Kiwari dengan Achdiat Karta Mihardja sebagai Ketuanya. Tercatat sejumlah anggotanya, antara lain, Ajip Rosidi, Ayatrohaedi, Dodong Jiwapraja, Ramadhan KH, Toto S. Bachtiar, Utuy Tatang Sontani.[11]

***

Sebuah komunitas terbentuk seringkali dipicu oleh adanya kesadaran yang sama dalam memandang problem yang melatarbelakanginya dan harapan yang melatardepaninya. Terbentuknya komunitas itu, boleh jadi juga didasari oleh hasrat besar memancarkan kreativitas, dan bukan sekadar membentuk kumpulan orang yang segagasan, sekegelisahan dan sepengharapan. Di sana ada sesuatu yang hendak disumbangkan, ada keinginan untuk memberi kontribusi bagi kemajuan, ada desakan kuat untuk melakukan perubahan. Jadi, ada peristiwa kultural di belakangnya dan di depannya, terbentang harapan-harapan perubahan. Itulah hakikat dan peran sebuah komunitas.

Cermatilah langkah yang digerakkan Gelanggang Seniman Merdeka, 19 November 1946. Semangat untuk menguak (: menolak) Takdir (: Pujangga Baru) dan menawarkan perubahan, dimanifestasikan melalui “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Mereka berhasil mengusung sebuah nama. Atas nama itu pula mereka melakukan gerakan. Jadilah ia sebuah angkatan yang bernama “Angkatan 45”. Dalam konteks kultural, kembali, nama itu bukan sekadar label. Ia menjadi identitas, kepribadian, dan sekaligus gerakan kultural.

Di negara tetangga kita, Malaysia, sekelompok sastrawan yang waktu itu bermukim di Singapura, juga memproklamasikan komunitas yang bernama Sastrawan Asas 50. Komunitas inilah yang lalu melempangkan jalan bagi begitu banyak perubahan. Bahkan, lebih dari itu, slogan yang diusungnya, “Sastra untuk Masyarakat” telah menggiring sastra menjadi alat perjuangan. Sastrawan sungguh telah memainkan peran sosialnya secara signifikan. Sastrawan dan pers, bahu-membahu membangun sebuah kebudayaan bangsa. Lewat peranan Angkatan 50 itu pula, kesadaran masyarakat Melayu di Semenanjung (: Malaysia) untuk mencapai kemerdekaan makin matang dan menjadi gelombang yang tidak dapat dibendung.[12]

Di berbagai negara mana pun, kelahiran dan peranan sebuah komunitas, sering kali menjadi pioner dan sekaligus sebagai agen perubahan. Tak sedikit pula yang pengaruhnya justru mengubah paradigma, pola berpikir, dan membuka berbagai kemungkinan yang lebih luas bagi kemajuan kebudayaan dan kemanusiaan. Periksa saja tindak yang dilakukan kelompok Opojaz dan Golongan Linguistik Moskow yang menyebut diri kaum Formalis Rusia tahun 1914. Lewat peranan kedua komunitas inilah konsep tentang sastra berikut metode kritiknya, yang tadinya sangat subjektif, dirombak—dibangun menjadi lebih objektif. Ketika pada tahun 1926, sebuah komunitas di Praha lewat tokoh pentingnya, Roman Jakobson, meneruskan dan merumuskan kembali gagasan kaum Formalis Rusia itu, sastra berikut perangkat analisisnya secara meyakinkan menjelma menjadi sebuah paradigma baru. Sastra pun menjadi sebuah artefak penuh makna dan kritik sastra mempunyai harga ilmiah. Pengaruhnya pun merambah disiplin ilmu lain dan bergentayangan ke belahan benua lain.[13]Itulah peran penting sebuah komunitas!

Dalam dunia kesusastraan Jepang yang mempunyai sejarah panjang tentang peran komunitas sastra, eksperimentasi, pembelotan pada tradisi, dan gerakan pembaharuan, justru datang dari sastrawan yang punya atau yang tergabung dalam komunitas-komunitas. Di sana, komunitas memainkan peran sebagai bengkel penggodokan. Proses belajar dan pematangan terjadi dalam komunitas-komunitas, meski tentu saja karier kesastrawanannya sangat ditentukan oleh kreativitas sastrawan yang bersangkutan. Sebut saja, misalnya, Mori Ogai, Tayama Katai, Natsume Shoseki, Mishima Yukio atau Yasunari Kawabata. Mereka sengaja bergabung atau membentuk komunitas dengan kesadaran membangun sebuah genre, aliran, atau berbagai aktivitas olah pikir untuk mematangkan profesi dan sekaligus memantapkan peranan kesastrawanannya. Untuk mencapai tujuan itulah, mereka lalu menerbitkan jurnal, majalah, atau buku-buku antologi karya anggota komunitas itu.

***

Bagaimana dengan Komunitas Negeri Poci (KNP)? Menurut keterangan penyair Adri Darmadji Woko dan Kurniawan Junaedhie, sejumlah penyair yang kiprah kepenyairannya dimulai sejak awal tahun 1980-an, bahkan juga ada yang dimulai sebelum itu, merasakan perlunya menjalin komunikasi yang baik dengan penyair-penyair senior. Paling tidak, beberapa penyair yang datang belakangan, perlu mendapat sokongan yang baik dari para seniornya. Tujuannya, agar gap antara junior—senior tidak terjadi. Begitu juga, penting artinya para penyair senior turun gunung dan meninggalkan singgasananya, merangkul dan berdialog dengan penyair mana pun sebagai sesama penyair. Itulah salah satu alasan, gagasan mereka dikomunikasikan dengan salah seorang penyair Angkatan 66, Piek Ardijanto Soeprijadi.

Gagasan itu disambut baik, dan rumah Piek Ardijanto Soeprijadi di Tegal menjadi salah satu tempat berkumpul untuk mendiskusikan rencana membentuk sebuah komunitas dengan semangat lintas generasi, lintas gender, dan lintas genre. Tercatat 13 penyair penggagasnya coba mewujudkan ide-ide itu. Dengan dana seadanya, keguyuban mereka diwujudkan lewat penerbitan sebuah buku berjudul berjudul Dari Negeri Poci(Jakarta: Majalah Tiara, 1993) yang memuat puisi-puisi karya 12 penyair. Judul Dari Negeri Poci sesungguhnya merupakan metafora kota Tegal yang terkenal dengan teh pocinya. Maka, melekatlah nama poci sebagai penanda sejarah awal mula gagasan pembentukan Komunitas Negeri Poci.

Penerbitan buku antologi puisi itu rupanya ditanggapi secara positif oleh penyair-penyair lain. Untuk menunjukkan bahwa KNP, bergerak bukan melulu untuk kepentingan mereka sendiri, dilibatkanlah sejumlah penyair lain dengan tetap mempertahankan semangat: lintas generasi, lintas gender, dan lintas genre. Terhimpunlah sejumlah puisi karya 45 penyair yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Setahun kemudian, terbitlah buku antologi puisi Dari Negeri Poci 2 (Jakarta: Puspa Warna, 1994). Dua tahun berikutnya, terbit lagi Dari Negeri Poci 3 (Jakarta: Majalah Tiara, 1996) yang menghimpun sejumlah puisi karya 49 penyair.

Rencana awal, penerbitan Dari Negeri Poci 4 dilakukan tahun 1998. Tetapi terjadinya krisis moneter dan situasi politik yang tak menentu, rencana penerbitan itu, terpaksa ditunda dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Ketiga belas penggagas KNP pun masuk dalam lingkaran situasi politik yang tak menentu itu. Mengingat sebagian besar dari para penggagas itu boleh dikatakan orang-orang yang mapan yang bekerja di berbagai bidang, maka kesibukan mereka dalam pekerjaannya masing-masing menyebabkan rencana penerbitan Dari Negeri Poci 4 kerap tertunda lagi, tertunda lagi.

Meskipun demikian, kegelisahan mereka untuk menghimpun kembali puisi-puisi karya para penyair Indonesia dengan semangat “lintas generasi, lintas gender, dan lintas genre” tidak serta-merta tenggelam ke dasar bumi. Kehidupan sosial politik boleh berubah, tetapi idealismeuntuk membangun martabat kesusastraan dan kebudayaan bagi kemanusiaan, tak mudah tunduk mengikuti kondisi sosial-politik. Itulah yang disebut sikap. Harga manusia sesungguhnya sangat bergantung pada kualitas sikapnya. Ketika seorang seniman melacurkan karyanya untuk kepentingan politik atau uang, nilai, sikap, dan martabat dirinya sebagai manusia, telah ia gadaikan untuk tujuan politik dan uang, dan bukan lagi untuk kepentingan kemanusiaan. Dalam kehidupan kesusastraan atau kebudayaan di negeri ini, bahkan juga di belahan dunia mana pun, tarik-menarik antara sikap dan melacurkan idealisme, bukanlah hal yang asing.[14]

Begitulah, perjalanan waktu adalah sebuah keniscayaan. Tetapi idealisme tak bakal lekang ditelan zaman. Itulah sikap yang menunjukkan harga Manusia. Lantaran idealisme itu pula, meski dengan segala keterbatasan, di tengah berbagai macam kesibukan, para perintis KNP, seperti mendapat panggilan untuk melanjutkan kembali penerbitan antologi Dari Negeri Poci berikutnya. Setelah 17 tahun berlalu sejak penerbitan Dari Negeri Poci 3 (1996), pada tahun 2013, terbitlah Dari Negeri Poci 4 (Jakarta: Komunitas Radja Ketjil, 2013) yang menghimpun sejumlah karya 99 penyair.

Berbeda dengan peristiwa yang mengikuti penerbitan Dari Negeri Poci 3, penerbitan Dari Negeri Poci 4: Negeri Abal-Abal, dapat dikatakan, menghebohkan. Komentar di jejaring social menunjukkan kehebohan itu. Para penyair lain pun merasa terpanggil untuk ikut terlibat dalam penerbitan itu. Maka, tahun berikutnya (2014), terbit lagi antologi puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit yang menghimpun sejumlah puisi dari 153 penyair.

Secara kuantitas, ada peningkatan signifikan: jumlah penyair, puisi, dan asal daerah penyair mencakupi wilayah yang lebih luas menjangkau hampir seluruh kota di Indonesia. Secara kualitas, puisi-puisi yang terhimpun di sana juga menunjukkan keberagaman tema dan pengucapan (style). Dengan begitu, makin memperkaya peta perpuisian Indonesia. Bahkan, meski nama-nama penyair senior yang sudah mapan dengan singgasananya, tidak ada di sana, keseluruhan masih boleh dianggap merepresentasikan perpuisian Indonesia.

Kini, KNP menerbitkan lagi antologi puisi Dari NegeriPoci 6: Negeri Laut. Kehadirannya di tengah gelanggang perpuisian Indonesia, tidak hanya menunjukkan adanya sambutan dan atusiasme para penyair kita dari belahan mana pun asalnya, tetapi juga sebagai wujud komitmen para penggagasnya yang hendak “merekam jejak kepenyairan para penyairIndonesia dari tahun ke tahun secara lintas generasi, lintas gender, dan lintas genre.”Secara kualitas, Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut tampil lebih keren, lebih beragam, lebih kaya pengucapan, lebih berkualitas, dan tentu juga bisa lebih heboh. Kita percaya, KNP tidak main-main dengan gerakannya, sebab di sana ada kesadaran pada panggilan kehidupan berkebudayaan. Dan mereka berbuat semata-mata sebagai usaha melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan bangsa ini!

***

Begitulah, puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Dari Negeri Poci 1—6, memperlihatkan, bahwa para penyairnya menulis puisi semata-mata untuk memartabatkan kesusastraan dan kebudayaan bangsanya. Meski di belakang nama-nama penyairnya melekat berbagai profesi dan pekerjaan, puisi-puisinya tidak menjelma pamflet dan propaganda. Mereka tetap menjaga puisinya sebagaimana seorang penyair menghargai nilai-nilai kreativitas.

Lihatlah sejumlah besar puisi yang terhimpun dalam antologi Dari Negeri Poci 1—6. Kita berjumpa dengan sikap kepenyairan yang menjaga harga dirinya sebagai Manusia (dengan M kapital). Ada kesadaran, bahwa puisi bukanlah sekadar curahan jiwa, sebagaimana diyakini para penyair Pujangga Baru, bukan juga sekadar katarsis yang berfungsi sebagai saluran ‘unek-unek,’ melainkan wujud sebagai pewartaan yang mengungkapkan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan persekitaran di negeri ini. Puisi bisa menjadi catatan peristiwa, sikap dan pernyataan batin dalam hubungannya dengan sesama manusia atau tuhan, bisa juga sebagai kritik sosial yang disampaikan lewat bahasa metaforis. Itulah hebatnya puisi. Ia bisa memanggil-manggil penyair untuk kembali melahirkan puisi.

Di tengah bermunculannya komunitas-komunitas (sastra) yang sering kali asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, dengan para pendukungnya sendiri, dengan gerak mereka yang cenderung ‘menolak’ masuknya nama lain yang tidak termasuk kelompok atau pengikutnya, Komunitas Negeri Poci coba menawarkan gerakan lain yang inklusif, terbuka segala usia, bebas kepentingan, tak memperkarakan gender, dan tak pandang urusan genre atau gaya pengucapan. Para penggagas gerakan ini sengaja mencampakkan singgasananya sebagai penyair senior semata-mata agar tidak terjadi sekat senior—junior, dan sekaligus membuka jalan lempang yang wajar bagi proses regenerasi dunia kepenyairan kita. Peranan yang seperti itulah yang bakal menyemarakkan dinamika perpuisian Indonesia lebih hidup sehidup-hidupnya. KNP telah menggelindingkan gelombang besar yang dalam proses perjalanannya kelak akan terus melahirkan penyair-penyair baru, dari berbagai pelosok tanah air, dengan kualitas karyanya yang semakin meningkat dan terus meningkat!

Jadi, jika ada anggapan, bahwa puisi Indonesia terpencil dari masyarakatnya, anggapan itu harus buru-buru ditelan kembali atau dikubur sedalam-dalamnya. Jika masih juga tak percaya, cermati saja sebaik-baiknya gerakan yang dilakukan KNP lewat antologi puisinya: Dari Negeri Poci 1-6. Dari sana, bolehlah kita optimis: bakal terus lahir dan berlahiran penyair Indonesia sampai entah kapan. Merekalah yang kelak akan melanjutkan proses regenerasi secara alamiah sesuai perkembangan zaman.

Akhirnya, perlulah dikutip pernyataan menurut agama saya: “Sebaik-baiknya manusia, ia yang bermanfaat bagi sesama manusia (dan makhluk hidup lainnya)?” Jadi, terus lajulah Komunitas Negeri Poci, semoga tiada henti menyebarkan puisi, membangun bangsa ini lewat puisi!

Bojonggede, 2 November 2015

*) Maman S. Mahayana, kritikus, dan pengamat sastra, staf pengajar di FB-UI, tinggal di Bojonggede, Bogor.

[1]Pernyataan “lintas generasi” penting artinya dalam usaha melakukan regenerasi. Artinya, sekat dan perbedaan junior—senior, ditanggalkan. Tujuannya, untuk mendorong para penyair muda ikut terlibat dan melibatkan diri dengan para penyair yang lebih dulu berkiprah dalam dunia kepenyairan Indonesia. Kecenderungan yang banyak terjadi selama ini di kalangan sastrawan kita adalah semangat mempertahankan singgasana senioritas. Seolah-olah singgasana itu begitu suci, sehingga harus dipertahankan sampai mati.Para penyair senior, seolah-olah lagi, manusia setengah dewa yang wajib dihormati para penyair muda. Kondisi itu tentu tidak sehat, sebab reputasi seorang penyair atau seniman ditentukan oleh kualitas karyanya dan bukan lantaran senioritas. Dengan cara menghancurkan sekat itu, kompetisi terjadi secara fair.Penghormatan itu tanpa perlu diminta. Ia disematkan lantaran karya dan kiprahnya. Jika karyanya buruk, ia akan tergusur. Jika kiprahnya sengak, norak, dan menyebalkan, ia akan ditinggalkan. Cara itu juga efektif untuk mendorong para penyair senior terus-menerus meningkatkan kualitasnya. Sementara itu, pelibatan penyair dari berbagai daerah akan berdampak positif dalam usaha menyemarakkan kehidupan perpuisian di berbagai daerah. Bagaimanapun, penempatan Jakarta sebagai pusat dan dominasi penyair (sastrawan) Pulau Jawa dalam berbagai aktivitas sastra di Indonesia, telah menafikan hakikat keindonesiaan. Dalam konteks itu pula, kontribusi Komunitas Negeri Poci penting artinya bagi usaha membangun kesusastraan dan kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, semangat KNP: “secara lintas generasi, lintas gender, dan lintas genre,” sebenarnya juga menghancurkan sekat ideologis –agama, etnis, aliran, paham politik. Jadi, secara tegas KNP telah ikut menyemaikan dan menyemarakkan semangat Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

[2]Dapat dicatat di sini para penggagas Komunitas Negeri Poci (disusun secara alfabetis): Adri Darmadji Woko, B. Priyono Soediono, Dharnoto, Eka Budianta, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, Oei Sien Tjwan, Piek Ardijanto Soeprijadi, Prijono Tjiptoherijanto, Widjati, Rahadi Zakaria, Rita Oetoro, Syarifuddin A.Ch.

[3]Saya menemukan tulisan tangan Chairil Anwar di bekas bungkus rokok itu ketika saya membantu Darsjaf Rahman menyusun buku biografi H.B. Jassin (Antara Imajinasi dan Hukum, Jakarta: Gunung Agung, 1986). Ketika saya mewawancarai Pak Jassin dan menanyakan tulisan itu,ia menjelaskan sebagai berikut: Setiap kali Chairil atau sastrawan lain perlu buku, mereka datang ke rumah Pak Jassin. Jika Pak Jassin sedang tidak di rumah, biasanya mereka menunggu. Jadi, tak ada seorang pun yang berani meminjam buku tanpa sepengetahuannya. Suatu hari, sepulang kerja, Pak Jassin mendapati lemari makannya kosong, piring kotor tergeletak di meja makan. Tentu saja Pak Jassin marah, sebab selain ia sendiri belum makan, pada zaman Jepang, makanan sulit dicari. Bahkan banyak orang yang mati kelaparan. Di bawah piring kotor itu, ada kertas bekas bungkus rokok bertuliskan: “Sin, aku sikat makananmu. Juga kupinjam dulu buku Zarathustra ….” Membaca tulisan itu, surutlah kemarahan Pak Jassin, sebab ia tahu, itu tulisan Chairil Anwar. Peristiwa itu menunjukkan betapa dekatnya hubungan H.B. Jassin dan Chairil Anwar. Lebih dari itu, ia sangat memahami gaya hidup Chairil yang bebas, individualis (karena makanan itu betul-betul habis tak bersisa), dan hanya Chairil Anwar berani pinjam buku seenaknya. Pak Jassin kemudian menyimpan bekas bungkus rokok itu. Dengan begitu, kertas itu punya nilai historis sebagai bukti otentik yang menggambarkan satu sisi kebiasaan Chairil Anwar dan sikap Pak Jassin sendiri dalam memperlakukan para sastrawan.

[4]Poetri Hindia(terbit pertama kali, 1 Juli 1908) merupakan suratkabar pertama yang dikelola pribumi (Raden Mas Tirto Adhisoerjo) yang isinya khusus mengangkat dunia perempuan.

[5] Salah seorang sastrawan besar Indonesia peranakan Tionghoa yang karya-karya menyuarakan semangat pembauran. Ia mengkritik orang-orang Tionghoa yang tidak mau bergaul dengan pribumi. Undangan untuk para nyonya Tionghoa itu datangnya dari istri Kwee Tek Hoay.

[6]Claudine Salmon, Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), hlm. 30.

[7]Periksa penelitian Komunitas Sastra Indonesia, Pemetaan Komunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tengerang, dan Bekasi, (Jakarta: Komunitas Sastra Indonesia, 1998), hlm. 8.

[8] Peranan masyarakat Tionghoa dalam ikut menyemarakkan kehidupan dunia pers Indonesia sesungguhnya sangat besar. Mula-mula mereka terlibat dalam keredaksian pers putih, yaitu suratkabar (dan majalah) yang dikelola Belanda atau Indo-Belanda. Sejalan dengan usaha mereka di bidang percetakan dan penerbitan, mereka kemudian menerbitkan surat kabar atau majalah yang sasaran pembacanya masyarakat Tionghoa. Selama empat tahun (1856—1860), tercatat empat suratkabar dan majalah yang dikelola masyarkat Tionghoa, sebagaimana dicatat Claudine Salmon (Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu, Jakarta: Balai Pustaka, 1985; hlm. 15), yaitu Soerat Kabar Malaijoe(1856), Soerat Chabar Betawie(1858), Selompret Melajoe (1860) dan Bintang Soerabaya (1860). Sampai memasuki abad ke-18, suratkabar dan majalah Tionghoa terus bermunculan. Pada tahun 1928, terbit majalah bulanan DoeniaIstri, Mei 1928. Inilah majalah wanita Tionghoa pertama yang terbit di Indonesia.

[9] Lihat Maman S. Mahayana, Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia (Magelang: Indonesia tera, 2001).

[10]Lihat Ajip Rosidi, Kesusastraan Sunda Dewasa ini (Jatiwangi: Cupumanik, 1966).

[11]Ajip Rosidi, dkk.,Ensiklopedi Sunda (Jakarta: Pustaka Jaya, 2000), hlm. 352.

[12] Mengenai kontribusi Sastrawan Asas 50 bagi masyarakat Malaysia, periksa Maman S. Mahayana, Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia(Magelang: Indonesia tera, 2001).

[13] Hampir semua buku yang membincangkan teori dan kritik sastra, sejauh pengamatan, tak pernah luput menyinggung peranan kaum Formalis ini. Sosiologi, linguistik, Kritik Baru (The New Criticism) Amerika dan ilmu sastra secara keseluruhan, telah berutang budi pada komunitas ini.

[14]Contoh klasik yang berkaitan dengan perkara ini adalah “piala Socrates”. Filsuf itu memilih minum racun daripada menarik sikapnya tentang konsep kebenaran yang diyakininya.

*) Sumber Negeri Awan: Dari Negeri Poci jilid 7, 2017)

No Comments

Leave a Reply