Search and Hit Enter

(Politik) Ilustrasi Bacaan Anak

Esai: Setyaningsih

Perayaan tiga tahun kemerdekaan RI, di Taman Siswa Kemayoran Jakarta diadakan pameran lukisan Affandi serta kawan-kawan dan para muridnya. Di sana, di bawah pimpinan pelukis Baharudin, diadakan juga pameran ilustrasi dan sampul buku. Kemerdekaan telah membawa Indonesia menemukan kedirian, termasuk lewat politik seni. Ilustrasi tidak hanya tentang seni niaga, tapi harus mengandung nilai-nilai revolusi. Ilustrasi turut membentuk mental baru dalam kebangsaan dan kebudayaan berlandaskan Pancasila (Djauhar Arifin dalam Himpunan Ceramah: Penataran Penulis, Penterjemah, dan Ilustrator: 1975)

Tak mudah melupakan mental budak ciptaan para ilustrator Belanda pada abad ke-19 dan ke-20. Mata pribumi “dipaksa” menerima diskriminasi rupa lewat buku-buku ajar yang tercetak oleh mesin modern. Para pribumi lumrah digambarkan bertelanjang kaki, tidak berbaju, menjadi kuli, babu/pembantu. Mereka duduk di lantai dengan tuan majikan kulit putih yang memamerkan perangkat kemodernan, dari sepatu sampai kendaraan. C. Jetses dan W.K. de Bruin, dua ilustrator Belanda ini paling menentukan bagaimana kaum kulit warna dilihat.

Politik etis pun melahirkan kesadaran rupa sebagai kesadaran nasional. Sekalipun bernaung di Volkslectuur atau Balai Pustaka di bawah legitimasi pemerintah kolonial, para ilustrator bumiputera semakin kentara menggantikan para ilustrator Belanda, di antaranya: Moh. Sjafei, Sueb Sastradiwirja, atau Sajuti Karim sebagai ilustrator buku bacaan terbitan J.B. Wolters. B. Margono, Ardi Somalah, Abdul Salam, Karyono menggambari buku terbitan Balai Pustaka. Seperti menempati kebebasan setelah masa lalu terjajah, para ilustator Indonesia tertuntut menemukan identitas rupa (keindonesiaan).

Namun yang cukup berani dan revolusioner, akan tetapi ganjil terjadi pada abad ke-19. Kita diingatkan pada seseorang yang disebut Werner Kraus (Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya, 2018) sebagai “manusia modern pertama” di masa pramodern Hindia Belanda, Raden Saleh. Dalam hidup kecewa pada tatanan masyarakat kolonial, Raden Saleh turut dalam pengajaran rupa bagi anak-anak di Hindia Belanda. Laporan pengajaran di Hindia tahun 1867 merekam bahwa pelajaran menggambar di 12 sekolah menggunakan teekenvoorbeelden (cetakan contoh untuk belajar menggambar) ciptaan Raden Saleh. Mulai dari batang pohon, dahan, batu, menunjukkan tahapan sederhana ke rumit untuk menciptakan pemandangan alam Jawa.

Dikatakan, “Teekenvoorbeelden menyangkut koleksi lembaran lepas. Sebanyak 26 lembaran itu tetap ada sebagai bagian dari Koleksi Varia Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Beberapa tahun lalu, semua itu dipugar oleh para ahli di Rijksmuseum Amsterdam dan membuktikan tingginya kualitas bahan pelajaran menggambar karya Raden Saleh untuk dipergunakan murid-murid di Jawa.” Di akhir abad ke-19, anak-anak pribumi telah belajar menggambar sebagai entitas kebebasan dari seorang Raden Saleh yang melanglang ke Eropa pada usia 16 tahun dan berjejaring dengan para pelukis serta kaum birokrat. Pelanglangan menciptakan keberadaan diri yang jauh dari kesan diskriminasi seorang berkulit cokelat. Raden Saleh berjalan selaras di antara kebudayaan Jawa dan modernitas a la  Eropa, ingin membangkang dari politik kepatuhan atau kebodohan mutlak yang dilancarkan pihak terjajah kepada kaum pribumi.

Membaca dengan Melihat

Seperti permulaan gambar-gambar dipergunakan para misionaris di Hindia Belanda untuk menjelaskan kejadian-kejadian di Alkitab, cerita gambar pertama pun lahir dari sosok gerejawi. Jan Amos Comenius, seorang pendeta dan pendidik Cekoslovakia, lahir pada 1552 dan hidup di masa Kaisar Ferdinand II. Dekrit kekaisaran saat itu mengusir para penganut Protestan. Comenius lantas mengembara ke Inggris, Swedia, Hongaria, dan Belanda. Ia menciptakan orbis pictus (dunia dalam gambar) dengan keyakinan bahwa, “Gambar lebih banjak berbitjara kepada anak² daripada kata²”(Intisari edisi November 1969).

Tahapan pertumbuhan anak turut dipengaruhi oleh biografi visual. Pertemuan awal anak-anak dengan cerita dimulai dari ilustrasi. Yang menyerap adalah mata dan telinga yang “membaca” dengan melihat dan mendengar. Di lain peristiwa, anak-anak biasanya akan mengontruksi cerita mereka sendiri, tidak sama dengan isian buku meski tetap diawali lewat pembacaan mulut orangtua.

Di Eropa pada abad ke-18, penerbit komersial semakin sadar peran bacaan anak di wilayah kehidupan anak-anak. Yang cukup solid dan berhasil adalah John Newbery yang menggarap buku-buku anak, termasuk dalam bentuk chapbook (buku kecil 8 sampai 24 halaman) yang mulai dicetak pada masa Eropa modern (Maria Nikolajeva, 1995). Antara penulis dan ilustrator, teks dan ilustrasi, dengan sadar mengambil peran dalam peletakan nilai-nilai lewat garapan mereka. Keduanya memiliki kuasa mengenalkan entitas kultural dan moral-sosial.

Di Indonesia, kita bisa mengingat apa yang dilakukan oleh pakar sastra anak Murti Bunanta dengan para perupa yang memiliki latar belakang pendidikan seni. Murti Bunanta menulis ulang beberapa seri folklor Nusantara berkolaborasi secara megah dengan para perupa, seperti Handiyono (Bujang Permai, 2012), Denny A. Djoenaid (Senggutru, 2012),GM Sudarta(Si Molek, 2012), Isnaeni MH (Putri Mandalika, 2010). Ilustarasi menjejak di antara gaya realis dan imajinatif. Ilustrasi tidak cuma apik, tapi secara tidak langsung belajar tentang perkakas masa lampau, tata sosial kehidupan pedesaan, makanan tradisional, flora, dan juga fauna. Ilustrasi benar-benar digarap serius setaraf lukisan, bukan asal gores dan tempel tanpa warna.

Jika kita melihat kondisi perbukuan anak Indonesia mutakhir lewat sebuah tempat bernama toko buku, tidak hanya cerita garapan penulis dalam negeri yang harus bertarung dengan karya terjemahan. Kita semacam diserbu, tidak lagi oleh ilustrator Eropa atau Amerika, tapi terutama Jepang dan Korea yang cukup menawan. Goresan mereka sama sekali tidak asal. Mereka sanggup menghadirkan cerita-cerita bernilai edukasi seharian yang mudah diterima khalayak Indonesia tanpa meninggalkan identitas sosial dan geografis. Dua negara Asia Timur ini, jelas akan membentuk selera baru penikmat bacaan anak.         Permulaan membaca sangat bisa terjadi lewat mata yang menghayati ilustrasi. Peranan ilustrasi tidak lebih tinggi atau rendah dengan teks. Ia menjadi perangkat instingtual yang kuat menautkan apa yang tertulis dalam bacaan itu sendiri.

Setyaningsih asal Boyolali. Aktivitasnya menjadi seorang esais, pengajar ekstra menulis di SDIT Djam’atul Ichwan Solo. Ia menulis cerita anak berjudul ‘Koki Petualang dari Desa Orke‘ (2018).

No Comments

Leave a Reply