Search and Hit Enter

Pajak

Oleh: Martin Aleida

Kemarin, Tuan kepala RT untuk pertama kali mampir ke rumah, dan menurut istri saya, di pagar, dia menyerahkan Pajak Bumi Bangunan yang harus dibayar paling telat September 2019, sebesar lebih dari Rp 1,6 juta. PBB atas nama istri saya. Seingat saya pada era Ahok istri saya tak pernah menyodorkan tagihan ini. Paling tidak sekali.

Baiklah, dengan menabung, tagihan itu akan saya bayar. Satu cerita pendek saya terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik KOMPAS 2019. Tradisinya ada honor Rp 2 juta. Hanya saya ingin diperkanankan bertanya kepada yang kuasa, faedah apa yang saya dapatkan dengan membayar pajak selama 13 tahun sebagai wartawan dan 13 tahun lagi sebagai staf Perserikan Bangsa-Bangsa (United Nations Information Centre). Wajib pajak (dalam hal ini kantor saya sebagai wartawan) saya yakin melunasi kewajibannya, tidak sebagaimana yang dilakukan tukang begal pajak. Gaji saya dari UNIC pajaknya langsung dipotong Perserikatan Bangsa-Bangsa, tak masuk ke kas negara, tapi dimasukkan ke dalam sumbangan wajib Indonesia sebagai Anggota PBB, yang besarnya nol koma sekian persen dari anggaran organisasi dunia itu. Dan ini berlaku untuk semua warganegara yang bekerja di organisasi yang bermarkas di New York itu.

Ke manakah pajak saya itu? Lingkungan dibiarkan membusuk karena tak dipedulikan yang kuasa. Memang, sampah itu tidak di depan rumah, sekitar 80 meter jauhnya. Tapi, sungguh mengganggu bagi mereka yang lewat. Ketika kepada RT yang menyerahkan pajak PBB itu saya laporkan dan ajak berembuk membersihkan lingkungan beberapa minggu lalu, dia cuma bilang, “Terima kasih untuk inputnya.” Tapi sampah tetap sampah. Inputnya tetap bau kalau didekati.

Pajak, ah pajak. Saya terkenang pada eksil Chalid Hamid di Amsterdam. Dia menerima pensiunan sebagai pekerja di satu restoran. Uang pensiunannya itu cuma cukup untuk membayar apartemen tempat tinggalnya, dengan satu kamar besar. Dia lapor kepada gemente, dan pemerintah memberikan bantuan supaya dia tak mati lapar kedinginan.

Pemerintah, bekas penjajah penista nenek moyang saya mengemong, memperhatikan rakyatnya. Sementara di sini kekayaan negeri ini selama 32 tahun jadi bancaan kekuasaan yang fasistis. Ya, kalau tak fasistis tak mungkin melarikan kekayaan bangsa ini.

Saya mengelus dada, mereka yang tertindas menahan napas dan lapar. Sementara yang menyulut amarah dengan ketidakadilan terus menari. Salam.

No Comments

Leave a Reply