Search and Hit Enter

CAPUNG KERTAS

Cerpen: A. Warits Rovi

Aku Marisa Aprilia. Orang-orang memanggilku Ica, termasuk Mama dan Papa. Aku tidak tahu kenapa Mama dan Papa memanggilku hanya “Ica” saja, padahal teman-temanku di TK Al-Huda oleh mamanya dipanggil “Nak!’. Kadang sambil dicium, dibelai atau dicubit manja. Aku ingin seperti mereka, ingin dipanggil “Nak!” sambil dicium dan dibelai. Tapi itu keinginan yang tak semudah aku membeli permen.
Mama dan Papa sejak pukul tujuh sudah berangkat kerja, dan pulang ketika matahari agak temaram di ufuk barat, katanya mencari uang, mungkin Papa dan Mama mencari uang ke tempat yang jauh. Aku dipasrahkan pada Mak Sum, perempuan tua yang kalau kupinta untuk memanggilku “Nak” ia menolak sambil tersenyum. Katanya, dia sangat tak pantas kalau memanggil anak kepada kepada anak majikannya. Aku tidak tahu kenapa.
Ada kalanya tangan kasar Mak Sum kutempel lama di pipi, berharap ia mencubitku, atau kadang kutuntun meraba rambutku yang tipis kemerahan berkepang dua, ingin tangan itu membelai rambutku. Tapi semuanya gagal. Aku tak mendapatkan apa-apa, sebagaimana yang teman-teman dapatkan dari ibu mereka. Meski aku tak mengelak bahwa Mak Sum sangat menyayangiku, tapi ia tak berani mencubit, membelai dan hal lain yang oleh Mak Sum dianggap tidak pantas dilakukan pada anak majikan.
Sepulang sekolah, Mak Sum akan ke dapur membersihkan perabot, memasak atau memotong sayur dan selebihnya memberi makan burung-burung ayah di bagian timur teras. Ketika Mak Sum sibuk dengan pekerjaannya, biasanya aku akan keluar ke pekarangan, duduk di tepi kolam, seraya berbicara pada ikan-ikan yang mengambang atau pada lesat terbang capung-capung yang kadang mencelupkan ujung ekornya ke air kolam, sebelum akhirnya hinggap di sepincuk daun.
Di tepi kolam, aku merasakan sisiran lembut angin yang kadang menjatuhkan kelopak bunga ke dalam air. Aku merasakan harum yang menusuk dari beberapa jenis bunga yang berbaris di sampingku. Dan yang baru-baru ini kusadari, aku merasakan kesendirian, seperti boneka barbieku yang kusimpan sendirian dalam lemari.
Ketika aku ingin menangkap capung, kupanggil Mak Sum dengan suara nyaring disertai rengek pura-pura. Ia akan datang tergopoh kepadaku. Selanjutnya ia coba menangkap capung-capung itu dengan bantuan galah yang ujungnya berjaring bundar, alat kakek saat menjolok mangga. Tapi ia tak berhasil, dan ia akan berlari kepadaku, mengabaikan capung-capung itu begitu saja. Mak Sum pamit untuk ke dapur lagi. Katanya ia takut dimarahi Papa dan Mama jika pekerjaannya tak selesai.
Setelah Mak Sum balik ke dapur, aku hanya diam mengamati puluhan capung berekor merah yang terbang meliuk-liuk, bagai helikopter mungil yang memenuhi udara, lalu menukik ke permukaan air, sebelum akhirnya hinggap di batu-batu atau di secabang rumput. Andai saja Papa atau Mama bisa menangkap seekor capung untukku, aku pasti lebih bahagia daripada diberi uang yang banyak.
Mungkin hanya Mak Sum yang tahu bahwa Mama dan Papa selalu memberiku uang yang banyak. Di empat saku tas selalu dipenuhi uang warna biru bergambar orang berkaca mata, uang itu dilipat hingga tebal karena sangat banyak. Selembar uang itu jika kubayarkan saat membeli permen, aku akan mendapat kembalian yang lebih banyak lagi, hingga saku tasku sesak. Dengan uang saku yang banyak, semua kue dan snack yang dijual di sek

olah, seluruhnya telah bisa kubeli, jika bicara soal makanan, lidahku boleh dikatakan lidah paling beruntung karena sudah merasakan puluhan jenis kue.
Suatu hari, saat berjalan kaki sepulang sekolah, aku pernah mengutarakan keinginanku kepada Mak Sum.
“Mak! Uangku kan banyak, aku ingin membeli capung dengan uang itu, ya,” pintaku sambil menarik pelan ujung telunjuk Mak Sum demi mendapat persetujuan. Tapi ia hanya memandangku sambil tertawa, aku terkejut, mungkin aku hanyalah anak yang pantas jadi bahan tawa orang-orang karena belum sempat bertanya banyak hal kepada Mama dan Papa.
“Tak ada orang yang menjual capung, Ica.”
“Tapi aku ingin memegang capung dan melepaskannya lagi di tepi kolam. Aku ingin membelinya, Mak.”
Mak Sum membisu, bola matanya lirik ke atas, tepat mengarah ke garis-garis dahinya yang bertumpuk, seperti aku ketika memikirkan sesuatu yang susah dimengerti.
“Gampang. Nanti saja ya,” jawabnya kemudian, dan aku mulai sedikit mengerti bahwa jawaban seperti itu adalah janji orang tua yang jarang ditepati.
Matahari mulai terasa menggigit kulit bagai semut-semut hitam di tepi kolam. Beberapa temanku yang dibonceng mamanya dengan motor menyalip sambil melambai, aku ingin seperti mereka, ke sekolah diantar Mama dengan motor. Tapi, ah..
Mak Sum memintaku berjalan lebih cepat agar segera tiba di rumah, padahal langkahku sangatlah cepat untuk ukuran anak seusiaku, lagi pula, untuk apa segera tiba di rumah, sementara di rumah, aku kerap merasakan kecemasan dan kesendirian yang jahatnya melebihi monster seperti yang ada di film-film kartun yang sering kutonton.
#
Kesempatanku bertemu Mama dan Papa hanya beberapa saat setelah salat Isya, sepulang aku dari surau. Sebab beberapa saat setelah itu, mereka akan tidur mendengkur, sedangkan ketika mereka baru pulang kerja, aku sudah berangkat ke surau bersama teman-teman.
Kesempatan bersama Mama dan Papa itu pun tak selamanya menguntungkanku, ada kalanya, setiap aku curhat, Papa dan Mama hanya menyahut sekenanya, jawabannya singkat-singkat tanpa menoleh ke arahku, mereka lebih terpaku melihat HP besar yang layarnya digeser-geser dengan jari. Bahkan mereka lebih sering tersenyum saat melihat sesuatu di HP itu, dan seolah tak ada kelucuan atau hal lain dariku yang perlu mereka hadiahi senyuman.
Yang paling membuat dadaku renyuh, tepat ketika aku minta capung kepada Mama dan Papa. Mereka sama-sama memarahiku dengan wajah bengis mirip singa sebagaimana yang kulihat pada gambar-gambar yang dipajang di gedung sekolahku.
Malam-malam berikutnya, aku sadar, bahwa kemarahan mereka bukan semata karena aku. Setelah aku pura-pura tidur di sofa, keduanya adu mulut dan saling menuding, berseling suara-suara kasar dan bentakan.
“Ma, siapa lelaki yang berfoto denganmu di HPmu itu?”
“Papa tak perlu bertanya itu, yang jelas aku melakukan itu karena dendam kepada Papa setelah mata ini melihat langsung; Papa sedang duduk mesra dengan perempuan berkaca mata di taman kota.”
“Ah, kalau itu urusanku, Mama tak boleh ikut campur.”
“Sama!. Papa juga tak boleh ikut campur urusanku.”
Keduanya lalu pergi ke kamar yang berbeda, menutup pintu dengan keras, suaranya serasa jauh hingga menampar jantung. Aku dibiarkan tidur sendirian di sofa. Malam itu juga aku pindah ke kamar pribadiku yang sempit. Di sanalah aku menyobek kertas buku bekas milik Mama, dan setiap lembar kertas itu kulipat-lipat jadi capung-capungan, tak peduli larut malam, aku terus membuat capung-capungan, bahkan hingga subuh. Capung-capung kertas itu kutaruh bercecer, mulai dari jendela, lemari, ranjang, kursi dan hamparan lantai. Kamarku bagai dibanjiri capung tiruan. Bersama capung-capung kertas itu baru kurasakan sebuah kebahagiaan.
#
Papa dan Mama tak pernah bercakap sejak cekcok di meja makan, bahkan bila berpapasan, keduanya sengaja tak saling tatap. Peristiwa itu membuat daftar pahit hidupku kian menumpuk.
Hari-hari berikutnya, keduanya sama-sama saling memperlihatkan foto padaku. Papa memperlihatkan seorang perempuan berkaca mata, katanya calon mama baruku. Demikian juga dengan Mama, ia memperlihatkan sosok lelaki tinggi yang sering foto bareng dengan Mama. Kata Mama, dia calon Papaku. Tapi bukannya aku semakin bahagia, kepalaku tambah sakit, kecemasanku kian bertambah. Aku lebih memilih tinggal di kamar, membuat capung kertas sebanyak-banyaknya, dan aku sangat bahagia ketika bisa curhat kepada capung mainan itu meski ia tak menjawab apa-apa.
Aku keluar rumah hanya pada saat jam sekolah, dari pukul 07.00 sampai pukul 10.00. selama perjalanan pergi dan pulang sekolah, aku lebih suka bercerita tentang capung-capung kertas kepada Mak Sum daripada bercerita tentang Papa dan Mama.
Setelah kertas buku bekas milik Mama habis, entah ini perbuatan buruk atau tidak, tiba-tiba aku mengeluarkan uang saku dari tas, jumlahnya sangat banyak, jika kutebar secara rapi, sangatlah cukup untuk menutup seluruh permukaan tempat tidurku. Uang kertas itu selalu bertambah setiap pagi, pemberian Papa dan Mama sebelum mereka berangkat kerja. Kata Mak Sum, uang saku yang kusimpan dalam tas itu sangat cukup jika dibuat membeli sapi dewasa.
Kini uang kertas itu kubuat capung-capungan. Kulipat-lipat dan kutaruh di jendela, kursi, meja, kasur dan lantai, menyesaki capung-capung kertas yang sudah ada sebelumnya.
“Lho? Kenapa uangmu kau jadikan capung-capungan, Ica?” suara Mama meninggi, ia terkejut saat membuka pintu kamarku pada suatu minggu pagi yang gerimis.
“Uang yang banyak ini tak bisa juga untuk digunakan membeli kebahagiaan, Ma. Hanya dengan dijadikan capung-capungan semacam ini kebahagiaan bisa datang kepadaku, Ma,” jawabku jujur.


Rumah Ibel, 2019

A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal antara lain: Kompas, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Bali Post, basabasi.co, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Riau Pos, Banjarmasin Post, Haluan Padang , Minggu Pagi, Suara NTB, Koran Merapi, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Bong-ang, Radar Banyuwangi, Radar Madura Jawa Pos Group, Buletin Jejak dan beberapa media on line. Juara II Lomba Cipta Puisi tingkat nasional FAM 2015. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura.

No Comments

Leave a Reply