Search and Hit Enter

Bicara Olen: Melebur Puisi dalam Musik

            Bagi sebagian orang musik dan lagu tak ubahnya sarana hiburan semata. Namun, di luar itu, musik bisa membawa dampak perubahan yang besar dalam peradaban umat manusia. Musik bisa mewakili segala macam bentuk perasaan seseorang, ketika sedih, gembira, bimbang, bahkan berduka, dalam banyak kesempatan musik bisa mewakili itu semua. Bahkan, dalam beberapa kejadian, musik dan lagu yang ditembangkan seorang penyanyi bisa membawa keajaiban untuk seseorang.

            Beberapa tahun lalu, seorang gadis kecil bernama Charlotte Neve membuktikan keajaiban musik dan lagu. Ia, di usia yang masih relatif sangat muda harus menjalani operasi otak dan menyebabkannya jatuh koma. Ibunya, Leila diminta dokter untuk merelakan putri kecilnya. Sampai suatu hari, suara Adele penyanyi dari Inggris itu terdengar dari radio. ‘Rolling in the Deep’ yang sedang diputar. Leila yang saat itu menunggui Charlotte ikut menembangkan lagu itu dengan suara lirih. Lagu inilah yang kerap dinyanyikan Leila dan Charlotte sebelum si anak sakit. Keajaiban terjadi, Charlotte tampak tersenyum meski mata masih terpejam, dan tak lama ia pun terbangun koma.

            Jika musik bisa mempengaruhi begitu banyak kehidupan, lalu bagaimana dengan puisi. Puisi bagi sebagian orang hanya untuk mengungkapkan isi hati. Kegelisahan menyoal hidup, kesepian, namun bagi banyak penyair, puisi tak ubahnya perlawanan atas ketidak adilan, pembelaan atas sesuatu yang menodai nilai kemanusiaan.

            Acara ‘Bicara Olen’ yang diadakan di nDalem Natan Royal Heritage pada tanggal 5 Mei 2019 kemarin, mengusung keduanya. Puisi yang melebur bersama musik. Tak hanya membawakan musik dan puisi saja, namun di acara siang itu juga membedah buku puisi milik penyair muda asal Blitar yang bernama Olen Saddha yang berjudul ‘Memandikan Harapan’.

            Untuk membuka acara hari itu, penulis novel yang juga anggota Satupena dari Karanganyar, Yuditeha membawakan musikalisasi puisi yang dinukil dari puisi Olen Saddha yang termaktub dalam buku puisi berjudul ‘Memandikan Harapan’. Diiringi gitar akustik, Yuditeha membawakan musikalisasi itu dengan demikian apiknya.

Yuditeha membawakan musikalisasi puisi.

            Selepas Yuditeha membawakan musikalisasi sebuah puisi, acara dibuka oleh Ketua Umum Satupena, Dr. Nasir Tamara. Dalam kesempatan ini, Dr. Nasir Tamara tak sekadar menyampaikan makna puisi, namun beliau juga membawakan dua puisi dari Jalaluddin Rumi yang diambil dari Kitab Mastnawi.

            “Puisi adalah perahu, makna adalah lautan.” Ujar Dr. Nasir Tamara, menukil sebuah pengertian yang diucapkan Jalaluddin Rumi yakni Mukadimah dalam kitab Matsnawi selepas membacakan puisi.

Dr. Nasir Tamara memberikan sambutan.

            Simbol perahu memanglah sangat dikenal dalam dunia sufi. Dr. Nasir Tamara juga memperlihatkan beberapa simbol-simbol sufi yang ada di bingkai ventilasi pintu dan jendela  nDalem Natan. Di mana, teralis-teralis tersebut memang dirancang khusus, bahkan perancangnya seorang sufi termahsyur dari Arab.

            Lebih lanjut Dr. Nasir Tamara menerangkan bahwa selama hidupnya, Rumi seorang sufi dari Iran itu telah menulis kurang lebih 60 ribu puisi semasa hidupnya. Karya-karya Rumi adalah sesuatu yang teramat penting dalam peradaban umat manusia. Bagi pembelajar Islam, Mukadimah dari kitab Matsnawi milik Rumi adalah bacaan wajib selain kitab suci Al-Quran.

Dr. Nasir Tamara memberikan sambutan.

            Selain Jalaluddin Rumi, tokoh sufisme yang paling berpengaruh dan misterius adalah Shams Tabrizi. Sultan Walat mengibaratkan bahwa Shams adalah Khidr sedang Rumi adalah Musa. Bagi yang mengenal Shams, sosok ini tak lebih dari sosok ghaib dari pada seorang manusia. Adanya jalan spiritual tatkala ia kanak-kanak, membuat Shams menarik diri dari anak-anak lain. Shams Tabrizi memang demikian dekat dengan Rumi. Dr. Nasir Tamara juga membawakan sebuah puisi dari Jalaluddin Rumi yang menceritakan perpisahan keduanya. Shams Tabrizi dan Maulana Jalal ad-Din Muhammad Balkhi atau yang dikenal dengan Rumi, dalam hubungan persahabatan mereka mengalami transformasi kepada ilahi.

            Setelah Dr. Nasir Tamara menutup sambutannya, acara diteruskan untuk membedah buku puisi milik Olen Saddha yang berjudul ‘Memandikan Harapan’. Untuk bedah buku ini dimoderatori oleh Dyah Merta dan dibedah oleh Yuditeha dan Halimah Garnasih.

Bedah buku ‘Memandikan Harapan’ dimoderatori Dyah Merta.

            Yuditeha, sebagai pembedah pertama mengatakan bahwa judul yang diberikan Olen untuk bukunya adalah suatu hal yang tepat. Menurut Yuditeha, isi dalam buku sangat mencerminkan garis beras judul buku tersebut. Ia kemudian menukil ucapan seorang Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dan teoritikus berpengaruh dari Brazil. “Harapan, yakni sebuah sikap yang memiliki nuansa kritis dan rasa tidak puas.”

            Harapan berbeda dengan optimisme. Lebih lanjut Yuditeha menjelaskan puisi-puisi mana saja yang dirasakannya memiliki nuansa kritis dan ketidak puasan pada sesuatu. Ia mengambil contoh puisi yang berjudul ‘Panti Muda’. Yuditeha mengatakan bahwa selepas ia membaca kumpulan puisi milik Olen itu, ia menemukan tentang kegelisahan-kegelisahan yang sebenarnya dirasakan oleh banyak orang. Meski bagi Yuditeha, Olen membawakan puisi-puisinya dengan kecenderungan seolah tertahan, tenang dan tidak meledak-ledak.

            Pembedah kedua, Halimah Garnasih memiliki pandangan yang lain mengenai buku puisi milik Olen. ‘Memandikan Harapan’ seolah adalah cerminan dirinya. Puisi-puisi di dalam buku itu memiliki irisan-irisan pengalaman yang juga dirasakan oleh Halimah sendiri. Pada satu kesempatan sebelum mengisi acara hari Minggu itu, Halimah bahkan sampai mengajak suaminya, yang kebetulan seorang penerjemah Kitab Futuhat Al Makkiyah untuk membaca puisi-puisi milik Olen di tengah hutan pinus guna merasakan kedekatakan dengan alam ketika menyelami puisi-puisi tersebut.

            Kemudian Halimah menambahkan. “Dalam Kitab Futuhat Al Makkiyah, puisi adalah bagian atau bentuk dari isyarat. Ia berfungsi untuk menyeru orang yang jauh, juga kepada yang tuli, juga kepada orang yang segolongan atau sepehaman. Puisi juga membantu mengungkapkan hal rumit menjadi gampang dan mudah dimengerti dengan bahasa yang lebih gamblang dan sederhana.”

            Halimah sendiri berharap bahwa Olen sendiri dapat mengemukakan arti puisi untuk dirinya sendiri.

Bedah buku ‘Memandikan Harapan’.

            Olen Saddha sendiri menambahkan di kesempatan itu mengenai proses kreatifnya dalam menulis puisi. Awalnya, beberapa tahun yang lalu ia berkesempatan bekerja di sebuah kedai kopi di kota Solo. Di sanalah ia melihat begitu banyak orang yang seolah menyimpan kegelisahan-kegelisahan. Tentu saja, ia merasa tak asing dengan kegelisaha yang dilihatnya lantaran ia sendiri memiliki kegelisahan yang serupa. Melihat hal itu, timbul niat untuk menuangkan memori-memorinya dari kesehariannya itu dalam bentuk puisi.

            Bagi Olen, melalui puisi ia mengupayakan menguraikan hal yang sebelumnya sulit menjadi mudah dimengerti.

            Tak lama setelah bedah buku ditutup oleh moderator, acara dilanjutkan. Beri Hanna, mahasiswa ISI Surakarta membawakan sebuah pantomim art yang masih menyentil buku puisi milik Olen Saddha. Selepas pantomim art, Panji Sukma salah seorang anak komunitas Kamar Kata membawakan dua lagu. Sebuah lagu penutup sengaja ia dedikasikan untuk almarhum Ali Malibu yang berpulang tahun lalu. Acara ‘Bicara Olen’ kemudian ditutup oleh penampilan pamungkas dari Suarasa.[]

ArtieA./Satupena

No Comments

Leave a Reply