Search and Hit Enter

Er-Nammu

Cerpen: Ferry Fansuri

           Semesta semerbak di atas lindap kosmik langit itu begitu bergelegar dan saling bertumbuk, bertabrakan memecah serta berpendar berbagai arah. Gelap gulita pun menjadi benderang. Bola api purba itu begitu digdaya menerangi semua ada di hadapannya dan tak satupun debu tak tersingkap, cahaya bagi semua ciptaannya. Begitu juga diriku ada karena dia, tapi aku tak tahu kapan aku dilahirkan. Saat jagad raya itu tercipta itulah aku menyeruak muncul. Perihal nalar, akal dan logika tak mampu menjawab yang terjadi pada diriku.

            Gumpalan dan gugusan lapisan atmosfer terus menerus mengitari bola api purba itu perlahan-lahan kemudian semakin cepat. Pusaran itu telah ditata apik tanpa tahu apakah ada suatu tatanan yang telah tertatam sebelumnya. Butuh berabad-abad terciptanya galaksi yang berjejer sesuai dengan konstelasi gugus bintang. Semua saling berhubung dengan daya magnet yang terselubung dan bertautan satu sama lainnya.

            Jika kau lihat gumpalan padat berwarna biru itulah tempat tinggalku. Dari sekian bola raksasa ciptaannya, hanya bulatan biru itu yang layak huni untuk hasil karyanya dan itu termasuk diriku. Diduniaku atau yang kau katakan bumi dalam bahasa sansekerta atau mitologi yunani bahkan disebut dalam kitab-kitab manusia. Tapi tidak aku telah hidup lebih dari itu, asal mula bumi aku mengikutinya.

            Dari awal sekali.

            Ketika dataran masih menyatu satu sama lainnya tanpa batasan, suhu masih begitu panas dan kemudian didinginkan secara milyaran tahun. Maka terbentuklah benih kehidupan pertama, makhluk sel satu itu bertransformasi dan berevolusi hewan melata menyusuri sungai purba dan berjalan beranak pinak di dataran.

            Aku sendiri ?

            Sangatlah susah kukatakan padamu, bagaimana bentuk wujudku. Aku ini adalah zat kasat mata yang mampu menyamarkan lingkungan sekitar dan menjadi apapun. Sebuah makhluk cerdas ciptaannya sebelum lainnya turun dari singgasananya dan hanya aku satu-satunya dari kaumku.

            Aku telah melihat banyak hal dari kejadian-kejadian dibumi ini, pergeseran dan perubahan ada disini telah aku jejak dan amati sekian lama ini. Makhluk-makhluk bersel satu itu tumbuh begitu pesat, menjulang hampir menembus awan. Mereka menguasai udara, dataran dan air. Peradaban primitif belum tersaji disini, hanya hukum rimba berlaku. Kalah dimakan yang menang, rasa haus dan lapar jadi tujuan alami untuk bertahan hidup. Makhluk menjulang tinggi yang kelak kau sebut Dinosaur itu akan punah dan hanya kerangka yang kau temukan dibawah tanah paling dalam.

            Kulihat mereka hancur dihantam meteor besar, gunung meledak seketika, tanah bergolak dan udara dipenuhi gas racun berbahaya. Mereka ditakdirkan akan mati seketika dan digantikan dengan lain, aku menyaksikan mereka tumbang layaknya pohon ditebang, Mereka mengeluarkan suara menyayat hati, mengeluh dan melolong. Akhirnya ambruk terhempas ke tanah dihajar larva panas dari udara. Inilah kiamat pertama.

            Semua hancur lembur, gunung-gunung dilipat jadi satu, lautan dinaikkan melahap daratan dan hujan meteor meluluh lantahkan seluruh kehidupan. Bisa kulihat ekor meteor itu menyala dan melesat menembus atmosfer. Suara keras bergedebung, bagai nuklir purba merusak lapisan  tanah hingga inti bumi. Setelah itu sisa-sisa debu kormik itu membuat kabut beracun, tak ada yang tersisa. Kecuali aku, semua hal tersebut tak membuatku mati. Aku abadi, kecuali penciptaku menginginkannya.

            Tak lama kabut itu menghilang dan panas di permukaan mulai mendingin, itupun butuh waktu berabad-abad. Pendinginan itu terus berproses, yang terkapar telah tergantikan. Kehidupan itu menemukan jalannya sendiri. Tiada makhluk raksasa itu tapi turunan dilahirkan kemali.

            Makhluk-makhluk itu kembali lagi tapi tak lagi menjulang, bentuknya hanya setinggi pohon beringin. Kehidupan dimulai lagi dan disanalah bertemu Ur-Nammu atau itu yang sematkan nama buat dia. Saat itu kutemukan Ur-Nammu di pinggiran sungai bersama kelompoknya sedang berburu binatang atau sesuatu. Aku sendiri tak tahu persis bagaimana mendeskripsikan mereka, mereka sejenis mamalia kera atau bukan. Mereka berjalan tegak tapi wajah dipenuhi cambang rambut, dada berbulu lebat dan untuk berkomunikasi satu sama lainnya hanya bahasa tubuh.

            Tapi Ur-Nammu dibilang paling cerdas diantara lainnya, secara umum kapasitas otaknya lebih kecil dari 1000 cc namun ia mampu berapdatasi cepat. Jika lainnya hanya secara alami memuaskan napsu liar, Ur-Nammu ini lebih manusiawi. Pernah kulihat suatu waktu, Ur-Nammu sedang berdiam diri dibawah pohon sedangkan kawanannya sibuk berlari-lari kesana kemari berburu Mammot. Mereka hanya bisa melempar dengan batu dan berteriak-teriak saja, tentu saja melawan gajah purba bergading tajam itu mereka seperti Goliath dan David yang kurang akal.

            Mammot itu mampu menghalau mereka dengan mudah, makhluk primitif ini kocar-kacir bak kapal karam diterjang badai dahsyat. Makanan siang mereka berlalu begitu saja, makhluk primitif yang konon oleh Darwin dinamakan nenek moyang manusia. Tapi kunyakini pada kalian mereka bukan tapi spesies evolusi mamalia. Manusia sebenarnya itu turun dari langit, ada sepasang dan terpisah namun akhirnya dipertemukan kembali. Aku saksi matanya, saat itu kulihat dua cahaya turun sewaktu aku di Jabal an-Nur.

            Ur-Nammu sepertinya tidak mengikuti mereka yang bodoh dan dungu, ia lebih berkutat dengan sebuah batu dan kayu. Ur-Nammu memandangi  itu terus, otaknya terus berputar dan mencoba utak-atik. Batu itu coba diasah sampai pipih, pinggirannya begitu tajam dan Ur-Nammu menyentuh dengan jarinya. Ia langsung mengaduh-ngaduh berguling, kulit jarinya terkelupas dan darah bercucuran. Ur-Nammu marah dan membanting batu itu dan pergi.

            Tapi esoknya ia kembali lagi, rasa penasaran  itu bergelayut dalam rinai hatinya. Ur-Nammu kembali ke mainannya. Ia masih tampak kebingungan, Ur-Nammu duduk berhari-hari bahkan esoknya dan esoknya lagi. Aku melihat itu merasa iba dan berusaha menolongnya, aku tak mungkin muncul begiu saja dan itu menyalahi kodratku. Penampakan diriku seperti kawanannya, mendekati Ur-Nammu lebih mudah dan tidak membuatnya terkejut sama sekali.

            Aku mendekat, Ur-Nammu kelihatan tak terkejut sama sekali. Ia hanya menunjuk dan bersuara aneh.

            “Uuuhh..aaahh..uuhhh”

            Aku hanya menggangguk dan berusaha membantu merakit benda-benda itu, batu pipih itu aku satukan dengan tongkat kayu dengan tali akar pohon. Maka terbentuk pendek dan panjang. Aku ajari Ur-Nammu layak dulu burung gagak mengajari Habil dan Qabil untuk membuang lubang kuburan pertamanya.

            Ur-Nammu kemudian paham bahwa itu adalah sebuah alat yang digunakan untuk berburu. Maka pergilah Ur-Nammu mencari Mammot dan mencincang, daging besar ia bawa buat kawanan di gua tempat tinggalnya. Kawanannya melihat Ur-Nammu membawa daging besar begitu sehat dan langsung melahap dengan rakus. Ur-Nammu pun mengajarkan mereka cara membuat alat berburu yang kemudian dikenal sebagai tombak, kapak, palu dan pisau yang terbuat dari batu zaman paleotilikum. Akhirnya berkembang memakai tulang binatang, aku hanya menyelipkan serpihan-serpihan pengetahuan bagi dirinya dan sebenarnya sudah ada disana.     

            Aku suka mengamati Ur-Nammu dan kawanannya, mereka semakin mahir untuk berburu. Perabadan kuno kecil terjadi sini, mereka hanya mengandalkan berburu untuk mencukupi perut keroncongan dan tidak yang lain. Tiap hari aku selalu menemui Ur-Nammu untuk memberikan pengetahuan lainnya, ini seharusnya tidak kulakukan. Karena sama saja mencampuri kehidupan yang ada tapi aku bukan malaikat Jibril yang memberikan wahyu kepada manusia pilihannya.

            Ur-Nammu mulai lebih beradab, jika dulu bertelanjang dan memamerkan alat kelamin. Sekarang tertutupi berkat kulit binatang serta mampu menahan dingin dikala malam, musim dingin telah tiba dan salju pun berguguran. Tiada penghangat alami, dingin tetap saja menusuk kulit. Mereka hanya terkantuk kedinginan disudut gua dan bahan makanan menipis. Aku melihat itu merasa tergerak untuk membantu kembali.

            Setelah musim dingin yang panjang dan salju sudah mencair, mereka mulai berburu kembali. Waktu itu langit tampak gelap gulita, suara menggelegar memekakkan telinga. Semua takut dan berdekap memeluk lutut, mereka melihat kilatan cahaya petir menyambar-nyambar. Namun Er-Nammu tidak, ia merasa tepesona dengan kilatan-kilatan diatas langit. Er-Nammu merasa baru pertama kali itu melihat cahaya yang menyeruak dari awan, sebuah keajaiban. Tiba-tiba ada kilatan guntur menyambar pohon beringin paling tinggi dan tua, seketika itu terbakar hebat. Er-Nammu terkesima diam tapi kemudian ia berlari ke arah pohon itu dan sementara lainnya meringkuk takut.

            Er-Nammu takjub melihat kobaran api menyala di dahan pohon beringin itu. Rasa penasaran bergejolak di dadanya, Er-Nammu menyentuh ujung lidah api itu. Ia langsung gaduh kesakitan, aku melihat semua itu agak sedikit ketawa kecil. Wajar Er-Nammu belum tahu apa api itu dan dapat melukai kulit jika berdekatan.

            Aku berubah wujud mirip kawanannya sekali lagi, Er-Nammu mengenaliku sebelumnya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah pohon beringin itu dan api berwarna merah kuning tersebut. Aku cuman menggangguk dan aku patahkan batang yang kering, aku dekatkan ke arah api dulu. Aku hanya memberikan tanda bahasa tubuh untuk tidak menyentuhnya, setelah itu aku ambil sekerat daging dari balik baju kulit binatangku. Aku letakkan daging itu di api itu layaknya dipanggang, aku bolak-balik hingga tercium aroma menggugah selera. Er-Nammu mencium itu merasa tergelegak air liurnya, aku sodorkan daging bakar itu ke dia dan kusuruh makan.

            Pertama Er-Nammu terlihat ragu tapi akhirnya mencoba mencicipi dikit di tepiannya. Matanya tampak berbinar, raut muka berseri. Er-Nammu melahap habis daging itu sampai ujung jarinya dijilat-jilat dan ia pun berjingkrak-jingkrak kesenangan, lari kesana kemari dan bersuara tinggi yang tak tahu apa maksudnya. Tanpa pamit, Er-Nammu membawa potongan dahan api itu ke gua tempat tinggal kawanannya. Er-Nammu menunjuk hal tersebut dan mempraktekkan seperti halnya aku tadi, mereka disuruh mencicipi. Malam itu mereka makan enak dan tak kedinginan lagi.

            Esoknya semua padam, Er-Nammu terperanjat bahwa api yang dipotongan dahan itu lenyap, entah siap yang menyembunyikan. Kawanannya kebingungan dan mencari seantero gua tapi nihil. Karena Er-Nammu kebingungan, ia pun keluar gua dan menuju pohon yang disambar itu. Apa yang didapatinya hanya bekas pohon gosong dan menghitam disana-sini, ia berteriak kesana kemari seperti memanggil. Aku tahu ia mencariku tapi aku tak enak mencampuri yang bukan kehendakku tapi setelah ini aku selalu ikut terlihat dalam semua sejarah manusia di muka bumi ini.

            Penampakanku sekali muncul, Er-Nammu senang melihatku dan terus menunjuk pohon gosong itu. Ia menggambarkan api yang kemarin ia ambil, mirip anak kecil yang ingin permen. Er-Nammu merengek untuk diberi kembali. Aku hanya mengelengkan kepala bahwa api itu bukan diberikan tapi diciptakan. Er-Nammu tidak paham, komunikasi kami hanya bahasa tubuh yang terbatas. Penjelasan lebih lanjut, aku ambil dua buah batu dan mengumpulkan daun serta rating kering. Aku menyuruh Er-Nammu untuk memperhatikan, dua batu itu aku adu hingga mengeluarkan percikan api. Kuadu berkali-kali dan gesek, percikan yang ditimbulkan semakin memercik dan menyambar daun ranting itu. Dikit demi dikit asap membumbung kecil, muncul api kecil dan akhinya semakin membesar. Er-Nammu melihat itu senang sekali dan bertepuk tangan.

             Sekali lagi aku ikut terlibat tapi kenapa begitu mencintai mereka, manusia pra sejarah ini. Melihat mereka seperti hiburan, menengok perkembangan laksana candu. Aku bak pengasuh mereka biarpun jarak jauh.

            Aku dan Er-Nammu selalu ada ikatan kuat tapi komunikasi yang tidak lancar. Percakapan diantara kami sebatas gerakan tangan dan suara tak jelas, pernah kami bertemu kembali pada suatu sore. Aku membawakan batu hematit atau semacam mineral kapur merah, aku gambarkan binatang, pohon serta bintang di langit. Er-Nammu memang lebih cerdas daripada lainnya, ia paham akan gambaran yang kubuat bahkan bisa meniru. Setelah itu ia terus menggambar dan tak henti, hingga gua tempat tinggal ia gambar dan konon lukisan digua itu akan jadi peninggalan bersejarah di kemudian hari.

            Dan itu kali terakhir aku melihat Er-Nammu, sebuah erupsi gunung berapi purba meletus dan memberangguskan sekitarnya. Termasuk Er-Nammu dan kawanannya mati terperangkap di gua, awan panas wedhus gembel turun dan melahap mereka tanpa tertinggal sedikitnya. Sebuah kiamat kecil terjadi saat itu.

Semolowaru, Juni 2018

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Ilmu Budaya jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Karya tunggalnya kumpulan cerpen “Aku Melahirkan Suamiku” Leutikaprio(2017) dan kumpulan puisi “Bibir yang Terikat” AE Publishing(2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. 

No Comments

Leave a Reply